
Azira sekali lagi melihat ke arah suaminya yang sedang sibuk bekerja. Mulutnya bergerak beberapa kali ingin mengatakan sesuatu namun dia ragu. Di samping tidak mau mengganggu pekerjaan suaminya dia juga takut kalau suaminya menolak.
Berpikir lagi. Dia akhirnya memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa.
Ini juga masalah sepele. Batin Azira mencari pembenaran.
Dia ingin menceritakan latarbelakang kehidupannya kepada Kenzie tapi dia punya banyak keraguan di dalam hati. Berbicara dengan Kenzie tidak semudah berbicara dengan Sasa.
Sasa ibaratnya sudah menjadi sahabat dekat tapi Kenzie adalah objek pdkt. Hubungan mereka masih jauh dari 'bersama' selayaknya pasangan suami istri yang berbagi kehidupan bersama. Mungkin akan ke sana tapi untuk saat ini masih belum.
"Mau kemana?" Kenzie bertanya tanpa mengangkat kepalanya.
Azira menggigit bibirnya.
"Mau mencari Umi di bawah." Jawab Azira.
Kenzie terdiam. Wajah datarnya tidak menunjukkan riak apapun.
"Hem."
__ADS_1
Setelah diizinkan pergi Azira langsung keluar dari kamar dan turun ke bawah untuk mencari Umi. Abah dan Umi ada di ruang depan sedang mengobrol kan sesuatu. Pastinya sesuatu yang menyenangkan karena dari jauh Azira bisa mendengar suara tawa Umi yang renyah.
"Umi, Abah." Azira menyela di waktu yang tepat.
"Oh, Azira. Kemari, Nak." Umi menepuk sisi di sampingnya.
Azira dengan patuh duduk di sana.
"Umi, Abah, aku ingin meminta izin kepada kalian." Azira berbicara dengan hati-hati.
Umi dan Abah sekarang fokus menatap menantu mereka. Merasa sangat gugup diperhatikan oleh mereka berdua, Azira memilin-milin bajunya.
Ragu-ragu, Azira memberanikan dirinya untuk berbicara kepada mertuanya.
"Aku mau ke tempat Ibuku, Umi. Kebetulan hari ini adalah hari ke 40 Ibuku pergi. Aku... merindukannya dan aku ingin pergi menemuinya. Apakah aku boleh pergi nanti sore?"
Ketika mendengar permintaan sederhana Azira, baik Umi dan Abah saling memandang, mereka merasa kasihan kepadanya. Mereka tahu bahwa Azira baru saja kehilangan orang terpenting dalam hidupnya di dunia ini.
"Tentu saja boleh, Nak. Tapi kamu pergi dengan siapa?"
__ADS_1
Azira tadinya mau menjawab sendirian saja tapi suara berat Kenzie lebih dulu menginterupsinya.
"Kami akan pergi berdua, Umi. Aku sengaja tidak masuk kerja hari ini biar bisa menemaninya ke tempat Ibu. Kebetulan aku juga ingin berkenalan dengan Ibu dan bersilaturahmi kepadanya. Benar kan Azira?"
Kenzie datang dari belakang. Dia duduk di samping Azira dan meraih pinggang rampingnya dengan sikap yang sangat alami. Ketika merasakan tubuh di pelukannya menegang, sebuah garis tipis terbentuk di bibir Kenzie.
"Azira?" Kenzie merendahkan kepalanya menatap Azira.
Azira tertegun. Panik, dia langsung mengalihkan matanya ke arah lain sambil mengatur suara detak jantungnya yang kembali berpacu kuat.
"Ya-ya, mas Kenzie benar. Kami berdua akan pergi menemui Ibu nanti sore. Syukurlah kalian mengizinkan kami pergi. Apa...apa Abah dan Umi mau menitip sesuatu di luar? Nanti kami akan menyempatkan diri untuk membelinya saat pulang." Kata Azira dengan suara terbata-bata karena gugup.
Umi melihat menantunya terlihat salah tingkah gara-gara sikap tak terduga Kenzie. Sama seperti Azira, dia pun agaknya kaget melihat tindakan tiba-tiba Kenzie.
Hubungan mereka ternyata sangat baik. Batin Umi bersyukur.
"Tidak, Umi tidak mau apa-apa. Semuanya sudah ada di rumah. Intinya kalian harus hati-hati di luar dan jangan pulang terlalu malam." Kata Umi berpesan.
Biasanya pasangan suami-isteri tidak langsung pulang ke rumah kalau keluar. Mereka pasti main-main dulu di luar dan pulang setelah puas main-main di luar. Umi tidak heran karena pasangan muda biasanya begini.
__ADS_1