Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 11.4


__ADS_3

Puk


Seseorang menepuk pundak Azira dari belakang. Azira sangat terkejut reflek menoleh ke belakang. Saat melihat ke belakang, dia langsung menghela nafas lega.


"Kak Azira ngapain bengong di sini?" Tanya Sasa heran.


Dia tadinya mau masuk gerbang komplek, tapi tidak sengaja melihat Azira bengong sendirian di pinggir jalan.


"Oh... Aku sedang berbelanja dengan Umi." Kata Azira gelagapan.


Sasa tidak melihat ada Umi di sini.


"Di mana Umi, kak?"


Azira menoleh ke samping tepatnya di depan pedagang daging, Umi bersama ibu-ibu yang lain masih mengantri untuk memilih daging. Sasa secara alami mengikuti ke arah mana Azira memandang. Saat melihat Umi ada di sana, dia tidak bertanya lagi.


"Ayo temui, Umi. Jangan bengong terus di pinggir jalanan. Hati-hati loh kak, soalnya di sini banyak pencopet." Kata Sasa memperingatkan.


Azira langsung mengamankan dompetnya. Takut kalau dia teledor, pencopet akan mengambil dompetnya. Untuk Azira, ini adalah satu-satunya harta yang paling berharga di tubuhnya.


"Ayo." Dengan ragu-ragu Azira pergi bersama Sasa.


Dia membiarkan Sasa berjalan di depan, lalu sesekali menoleh ke belakang. Nyonya Bara dan preman itu sudah tidak ada di sana lagi. Melihat ini, dia langsung menjadi tenang. Setidaknya tidak akan bertemu dengan wanita pembawa sial itu.


Selesai berbelanja, mereka semua pulang bersama-sama ke rumah. Di sepanjang jalan Umi tidak henti-hentinya menasihati Sasa agar jangan mengulangi lagi. Umi nggak suka kalau Sasa pergi menginap ke tempat orang lain. Daripada Sasa yang pergi lebih baik orang-orang itu yang datang ke rumah. Selama itu perempuan, Umi tidak akan masalah. Tapi kalau itu laki-laki, Umi nggak akan membukakannya pintu rumah.


Masuk ke dalam rumah, Azira meminta izin kembali ke dalam untuk beristirahat sejenak. Di dalam kamar dia langsung menjatuhkan dirinya ke atas kasur. Matanya yang jernih memandang langit-langit di atas kamar. Mau sampai kapan pikirnya?


Dia tidak punya hutang ataupun balas budi kepada Nyonya Bara, tapi mengapa dirinya selalu dikejar-kejar?


Azira bingung sekaligus pusing. Hal yang paling ditakutkan adalah nyonya Bara sampai menghubungi keluarga suaminya. Jika nyonya Bara berbicara dengan Umi ataupun yang lain, dia takut kalau pekerjaan ibunya sebagai wanita malam terungkap. Tapi, ah?


"Mungkinkah semua orang sudah tahu apa pekerjaan ibuku?"


Azira masih ingat kata-kata yang Frida lontarkan kepada hari itu di taman. Kotor?


Dibesarkan dengan cara yang kotor?


"Ya Allah, lantas apa yang harus aku lakukan sekarang? Mungkinkah mas Kenzie juga sudah mengetahuinya? Jika dia tahu, lalu kenapa dia tidak pernah bertanya?" Azira merasa rumit memikirkannya.

__ADS_1


"Apakah aku... Harus bertanya langsung kepadanya?" Azira bimbang.


"Tapi bagaimana bila dia belum tahu?" Dan dia semakin pusing memikirkannya.


Tanpa sadar Azira memiliki pemikiran bahwa dia ingin terlihat bersih di depan Kenzie. Apakah karena ketergantungannya akhir-akhir ini kepada Kenzie membuatnya tidak ingin meninggalkan kesan buruk kepada Kenzie?


"Hatiku tidak tenang ya Allah." Dia mengusap wajahnya gelisah.


Lama termenung dalam kegelisahan. Azira akhirnya memutuskan untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat sunnah Dhuha.


Dia berpikir bahwa dengan melaksanakan shalat mungkin bisa menjernihkan pikirannya dan melepaskannya dari kegelisahan.


Saat Azira sedang melaksanakan shalat, Sasa masuk ke dalam kamarnya. Dia bermaksud ingin mengajak Azira ke bawah untuk nongkrong daripada bengong sendirian di rumah. Tapi saat masuk ke dalam kamar, dia segera terdiam mendengar isak tangis tertahan dari kakak iparnya itu.


Ragu, dengan hati-hati dia menutup pintu kamar dan berjalan masuk ke dalam kamar tanpa menimbulkan suara. Dia lalu duduk di atas kasur. Menatap Azira yang tengah bersujud tenggelam dalam tangisan menyakitkannya.


Sasa tidak tahu apa yang dia pikirkan sekarang. Dulu dia selalu memandang remeh kakak iparnya. Tapi ketika melihat perubahan Kenzie ketika bersama kakak iparnya, dia langsung memutuskan bahwa selama Kenzie bahagia maka semuanya tidak masalah.


Dia pikir Azira tidak memiliki ketakutan ataupun kesedihan karena berhasil menikah dengan keluarga kaya. Seperti yang dikatakan oleh bibi Safa, Azira adalah anak yang dibesarkan dengan cara yang salah dan dari orang yang salah pula.


Tapi mendengar isak tangis menyakitkan Azira sekarang, dia langsung merasa sangat bersalah. Bagaimanapun juga Azira adalah manusia. Dia memiliki kesedihan dan tekanan batin yang tidak mudah untuk diceritakan.


Azira terkejut melihat keberadaan Sasa di kamar ini.


"Sejak kapan kamu di sini, dek?" Azira buru-buru menghapus air mata di wajahnya.


Dia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan adik iparnya.


Sasa menatap wajah basah Azira, ragu-ragu, tangannya terangkat memegang tangan Azira dan menggenggamnya lembut.


"Baru saja. Aku ingin mengajak kakak turun ke bawah untuk nongkrong, tapi saat melihat kakak sedang shalat, aku mengurungkannya." Jawab Sasa tidak berbohong.


"Nongkrong? Ayo, kebetulan kakak tidak punya pekerjaan lagi." Azira langsung membuka kain mukena nya.


Dia bersedia pergi nongkrong bersama adik iparnya.


"Kak Azira, jangan memaksakan diri. Apakah kak Azira sedang bersedih?" Tahan Sasa.


Memang saat melihat Azira di pinggir jalan bengong sendirian, Sasa merasa aneh. Dia merasa kalau ada yang sedang Azira sembunyikan darinya. Itu terlihat jelas dari wajah panik dan murung yang tak mungkin disembunyikan dari raut wajahnya.

__ADS_1


"Kakak nggak sedih, dek. Kakak baik-baik aja." Kata Azira berbohong sembari berusaha membentuk senyuman selebar mungkin.


Dia ingin terlihat baik-baik saja di depan Sasa. Tapi percuma, Sasa sudah melihat semuanya.


"Tapi aku mendengar kakak menangis di dalam shalat. Suara tangisan kakak menyentuhku dan ikut membuatku sedih. Kak Azira, aku minta maaf pernah berbuat salah kepada kakak. Aku minta maaf pernah menyakiti hati kakak dengan kata-kata kasar dan caraku memperlakukan kakak yang buruk. Aku sungguh minta maaf, kak. Karena amarah, aku sampai lupa bawa kakak juga manusia. Kakak memiliki hati dan perasaan, kakak pasti terluka dengan kekasaranku kepada kakak sebelumnya." Sasa meminta maaf dengan tulus kepada kakak iparnya.


Sungguh sangat memalukan, orang yang pernah direndahkan dan dianggap kotor hari ini menangis tersedu-sedu dihadapan Sang Pencipta dengan tangisan mengiris hati. Rasanya Sasa langsung tertampar, karena dirinya yang merasa suci tidak pernah menangis seperti ini dihadapan Sang Pencipta. Dia malu amat sangat malu. Melihat kesedihan Azira, dia tergerak untuk meminta maaf dan berbagi kesedihan.


"Apa yang kamu katakan, dek? Aku sudah lama melupakan masalah itu. Bagiku itu adalah reaksi yang wajar dan aku sangat bersyukur kamu mau menerima aku. Jangan dipikirkan lagi, dek. Masa lalu sudah lama ku lupakan dan aku hanya ingin fokus di masa sekarang." Hati Azira menghangat ketika mendengar permintaan maaf adik iparnya yang tulus.


Beginilah keluarga yang seharusnya pikirnya.


"Lalu apa yang membuat kakak menangis tersedu-sedu di hadapan sang Pencipta? Berbagilah cerita denganku. Aku berjanji tidak akan mengungkapkannya kepada orang lain tak terkecuali kak Kenzie." Sasa membujuk agar Azira mau berbagi cerita dengannya.


Sebab dia pernah mendengar dari dosen salah satu mata kuliahnya di kampus. Bahwa ketika seseorang memilih menceritakan masalahnya atau meluapkan masalahnya lewat jalur langit, maka orang tersebut sudah berada di titik terendah dalam hidupnya. Dia tidak bisa mengandalkan siapapun kecuali Sang Pencipta. Terdengar menyedihkan namun faktanya itu sangat luar biasa sebab mengandalkan Allah dalam segala hal tidak akan pernah membuat kecewa.


Sasa tidak mau ketinggalan. Dia juga ingin berbagi dengan kakak iparnya. Berharap dengan berbagi cerita, hubungan mereka berdua bisa lebih dekat.


"Aku..." Azira ragu dan malu pada saat yang sama.


Sasa menekan,"Ceritakan saja kepadaku, kak."


Setelah berpikir sebentar, Azira pikir tidak masalah menceritakan keluhan hatinya kepada Sasa. Selain itu dia ingin memanfaatkan situasi ini untuk memperbaiki nama ibunya.


"Mungkin kamu sudah tahu tentang latar belakang ku, dek."


Sasa diam menyimak.


"Aku berasal dari kampung, datang ke kota bersama ibuku saat aku berusia 12 tahun. Tujuan kami datang ke kota adalah mencari ayahku. Ayah yang belum pernah kulihat sejak pertama kali aku lahir di dunia. Orang-orang di kampung bilang kalau ayahku tidak menyayangi ku, makanya dia pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi ke kampung untuk mencari kami. Semua orang mengatakan itu, termasuk bibi, paman, ataupun kerabat yang lain. Mereka mengatakan kalau ibuku gila masih mengharapkan laki-laki yang tak akan pernah kembali. Tetapi apapun yang mereka katakan tentang ayahku, ibu selalu membantah dan mengatakan kalau ayahku adalah laki-laki terbaik di dunia ini. Mungkin saja alasan kenapa dia tidak kembali ke kampung untuk mencari mereka adalah karena keterbatasan ekonomi ataupun kesulitan yang tidak bisa diselesaikan. Jadi begitu aku menyelesaikan pendidikan sekolah dasar, Ibu membawaku datang ke kota ini. Berhari-hari kami lewati dengan tantangan yang sangat sulit selama tinggal di kota, kami akhirnya bertemu dengan ayah. Tapi tahukah kamu, dek? Saat pertama kali Ayah melihat kami, dia mengatakan kalau kami adalah pengemis dan segera mengusir kami. Tapi ibuku segera membantah dan menjelaskan kepada ayahku siapa kami. Dan lagi, ayahku tidak mau mengakui kami. Dia bilang kalau dia sudah menceraikan Ibu sejak dia pergi dari kampung. Lalu bagaimana dengan diriku? Dia bilang dia hanya memiliki satu anak perempuan, yaitu Humairah. Adikku dari Ibu yang berbeda. Saat itu aku melihat dengan kedua mata kepalaku sendiri, dek, betapa terluka ibuku. Air mata di pelupuknya sudah terkumpul, tapi dia berusaha untuk menahan tangisannya. Aku saat itu masih belum terlalu mengerti bagaimana kinerja dunia, tapi ketika melihat betapa tersakiti nya ibuku, aku juga merasakan sakit, dek, dan mulai membenci ayah. Oh, masih belum membenci. Tapi kecewa." Saat bercerita, Azira tak kuasa menahan isak tangisnya.


Sekuat apapun dia menahan air mata itu untuk tidak turun, dia tidak mampu. Rasanya terlalu menyakitkan. Setiap kali mengingat hari itu, hatinya pasti sangat sakit. Bagaikan diiris-iris, lukanya tak bisa sembuh.


"Jangan menangis..." Sasa meminta Azira untuk berhenti menangis, namun dia sendiri menangis.


Sekarang dia tahu mengapa Azira sangat membenci keluarga Humairah. Jika Umi yang ada di posisi ibunya Azira, maka Sasa pasti akan merasakan hal yang sama. Dia pasti akan sangat membenci Abah dan memikirkan berbagai macam cara untuk membalas dendam kepada Abah.


Rasanya tidak berdamai jika dia hanya diam saja melihat Umi tersakiti.


"Hari itu memang membuatku kecewa, dan aku belum sampai ke titik aku sangat membenci keluarga Ayah. Dek, kami di kota tidak punya pekerjaan apapun, tidak punya tempat tinggal, dan tidak punya rumah untuk ditinggali. Kami tidak punya apapun, dek. Ibu ingin membawa aku kembali ke kampung, tapi kami tidak punya uang sepeserpun. Jangankan uang untuk biaya transportasi, untuk makan saja kami tidak punya. Pergi dari rumah Ayah, aku dan ibu terlunta-lunta di jalanan. Kami mencari sisa makanan di tempat sampah, di warung makan, dan di belakang restoran. Kami memakan semua yang bisa kami dapatkan. Tak jarang pula..." Azira tertawa dalam kesakitan,"Kami akan bertengkar dengan pemulung yang lain. Demi makanan bekas, kami akan bertengkar dan saling menyakiti. Tapi tiba-tiba seseorang menawarkan ibuku sebuah pekerjaan. Ibuku tidak tahu pekerjaan apa itu, tetapi selama menghasilkan uang untuk menghidupiku, ibuku bersedia melakukannya. Lalu ibuku menandatangani kontrak kerja seumur hidup. Artinya ibuku tidak akan bisa berhenti dari pekerjaan itu kecuali bosnya sendiri yang memberhentikannya. Kami diberikan uang untuk menyewa rumah dan membeli bahan makanan. Rasanya kami merasa hidup lagi. Tapi suatu hari ibuku pulang-pulang menangis. Dia mengurung diri di dalam kamar dan tak mau keluar. Aku tidak tahu apa yang membuatnya menangis. Aku tidak tahu... Sampai orang-orang di kawasan kumuh tempat kami tinggal memberitahuku bahwa ibuku bekerja sebagai seorang wanita malam. Dia bertugas melayani para laki-laki hidung belang, tak peduli apakah mereka tua ataupun muda, kaya ataupun miskin, menikah ataupun tidak, selama memiliki uang, ibuku akan melayani mereka. Aku hancur mendengarnya. Tapi lama-lama aku jadi mati rasa seiring perubahan emosi ibuku yang mulai terasing kepadaku. Lalu penderitaan kami tidak sampai di sana saja karena bibi Safa, adik dari ayahku sesekali datang mencari kami untuk menyiksa ibuku. Dia meluapkan semua kemarahannya kepada ibuku hingga akhirnya dia mengakui sendiri kalau dia sendiri lah yang mengatur agar ibuku bekerja di sana. Aku semakin terpukul, lelah, sedih, sakit dan kecewa, semuanya bercampur aduk di dalam hatiku hingga membuat aku jadi mati rasa. Mati rasa... Tak bisa merasakan emosi apapun, bahkan yang paling parah aku tidak bereaksi ketika melihat ibuku di siksa di depan mata kepalaku sendiri. Aku sehancur itu, dek. Tapi suatu malam hujan datang begitu lebat, dan rumah kami menjadi sangat dingin. Aku kira dia tidak akan datang ke rumah kami lagi untuk memulai ronda penyiksaan yang lain, tapi nyatanya aku salah, karena bibi safa masih datang. Ibuku yang kurus tak berdaging dia injak-injak tepat di depan mataku sendiri, aku merasa goyah dan tiba-tiba merasakan sebuah ketakutan. Aku memohon kepadanya agar melepaskan ibuku, tapi dia tidak mau menyerah hingga dia benar-benar puas. Setelah puas melampiaskan amarah kepada kami, dia langsung pergi dengan wajah masam. Sementara aku... Aku tiba-tiba mulai menangis karena tubuh ringkih yang ada di dalam pelukan ku mulai menjadi dingin dan kehilangan nafas...siapa... Siapa yang tidak merasa hancur di posisiku, dek? Mereka tidak hanya menghancurkan masa depan ibuku, namun mereka juga merampas nyawa ibuku. Lalu salahkah jika aku marah kepada mereka? Salahkah aku melepaskan semua dendamku kepada mereka? Apakah aku salah?" Tanya Azira dengan suara sangau karena terlalu banyak menangis.

__ADS_1


__ADS_2