Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 25.4


__ADS_3

Kenzie mendengus tidak senang mendengarnya.


"Istriku, perbaiki apa yang kamu katakan. Kamu tidak pernah menghancurkan pernikahanku dengan dia, tapi kamu malah menyelamatkanku dari dia. Jika bukan karena sebuah perjodohan, aku tidak mungkin berniat menikahinya. Tapi syukurlah Allah menyelamatkanku melewati kamu, tunanganku yang sebenarnya dan kini menjadi istriku terkasih. Lalu kabar baiknya beberapa bulan lagi kamu akan memiliki gelar seorang Ibu, bukankah ini anugerah dari Allah subhanahu wa ta'ala untuk kita berdua?"


Kenzie tidak bisa menjelaskannya, mungkin semuanya karena takdir Allah. Di saat Kenzie bertemu dengan wanita lain, dia merasa sangat bertentangan dan tidak tergoda untuk mendekati wanita-wanita itu, secantik apapun mereka atau sebaik apapun latar belakang keluarga mereka. Bahkan pernah seorang wanita lulusan pondok pesantren yang tidak diragukan lagi ilmunya datang mendekati. Tapi Kenzie tidak pernah tergerak hatinya untuk mendekati wanita itu. Dan pada saat itu dia selalu berpikir bahwa mungkin dia tidak akan pernah merasakan cinta di dunia ini, jadi pasrah saja dipaksa menikah dengan Humairah atas nama perjodohan.


Akan tetapi ketika dia bertemu dengan Azira untuk pertama kalinya, yaitu saat hari di mana Azira hampir saja diculik, hatinya merasakan getaran dan dia memiliki sedikit ketertarikan kepada Azira. Dan tidak salah bila Kenzie mengatakan bahwa Azira adalah wanita pertama yang mampu menggerakkan hatinya.


Jika direnungi sekarang, mungkin semua penolakan Kenzie terhadap wanita-wanita itu adalah bentuk pertolongan Allah kepadanya. Allah menjaga hatinya agar tidak tergoda dengan wanita manapun sampai akhirnya dipertemukan dengan belahan jiwanya yaitu Azira Humaira, istri sekaligus calon Ibu dari anak-anaknya.


"Ini adalah anugerah Allah, tapi aku lebih suka menyebutnya sebagai buah manis dari kesabaranku, mas."


Kenzie tersenyum lebar. Hatinya selalu menghangat bercampur rasa manis setiap kali melihat senyuman indah istrinya. Um, tidak lagi disebut cantik tapi lebih tepatnya indah. Kenzie lebih suka menyebut segala sesuatu yang berhubungan dengan istrinya sebagai bentuk keindahan.


"Apapun itu, ini adalah pertolongan Allah untuk kita berdua. Kita berdua harus selalu bersyukur, mengerti?"


Azira mengangguk patuh.


"Aku mengerti, mas. Bisakah kita masuk sekarang? Aku ingin melihat kantor di dunia nyata apakah sama dengan kantor-kantor yang ada di TV." Azira sudah tidak sabar dan ingin segera masuk ke dalam.


Karena terlalu bersemangat tanpa sadar dia melupakan topik tentang ayahnya. Ah, atau mungkin lebih tepatnya dia sama sekali tidak peduli lagi. Lagipula dia sekarang sudah hidup bahagia bersama suami dan keluarga suaminya, kebahagiaan yang jarang ditemui oleh orang-orang di luar sana, karena itulah dia sangat mensyukuri apa yang dia miliki saat ini.


Kenzie terkekeh. Tangan kanannya secara alami melingkari pinggang ramping istrinya.


"Okay, ayo pergi. Suami akan memuaskan rasa ingin tahu istrinya." Goda Kenzie.


Azira tertawa.


"Yah...yah... Suami sangat patuh."


Lalu mereka berdua berjalan menuju pintu masuk perusahaan. Sebelum benar-benar masuk ke dalam, Kenzie menyapu pandangannya menatap perusahaan Hitam putih mungil di sana, lalu menarik pandangannya tanpa menunjukkan kelainan.


...*****...


Kenzie mengajak Azira berkeliling beberapa ruangan di perusahaan. Dia tidak berani membawanya ke seluruh lantai karena itu sangat melelahkan. Jadi dia memperkenalkannya ke tempat umum para karyawan berkumpul, lalu ke tempat karyawan bekerja dan beristirahat, kemudian terakhir membawanya ke kantin perusahaan.


Selama berkeliling mata Azira berbinar terang menatap sana-sini seolah dia telah menemukan dunia yang berbeda. Tampilannya sangat lucu dan sering membuat Kenzie tertawa. Ah... Salahkan istrinya yang terlalu imut, Kenzie tidak sabar ingin mencubit pipinya tapi Azira pasti marah jika dia melakukan itu di depan banyak orang. Hah... Istrinya terlalu pemalu.


"Wah... Jadi ini istri Pak Kenzie, dia sangat cantik dan memiliki senyum yang manis, bolehkah aku mengidolakannya?" Suara-suara beberapa karyawan berdiskusi di belakang mereka.


Saat mendengar kabar kedatangan Kenzie bersama istrinya, semua karyawan diliputi ketegangan. Ekspektasi mereka bila Kenzie orangnya datar maka istrinya mungkin galak. Tapi siapa yang mengira istri bos mereka justru tampak sangat manis dan murni pada saat yang sama. Mau nggak mau mereka heran dan bertanya-tanya, bagaimana bisa istri semanis ini disandingkan dengan laki-laki datar minim emosi itu?


"Ini sangat aneh. Lihat deh, Pak Kenzie terlihat sangat patuh di sisi istrinya. Dan apakah kalian menyadarinya, pak Kenzie beberapa kali tersenyum. Kenapa aku merasa jika pak Kenzie agak konyol hari ini?"


"Hus... jaga bicara kamu. Kalau sampai didengar oleh pak Kenzie habislah kamu." Seseorang menegur.


Orang yang berbicara tadi sontak menutup mulutnya takut, tapi beberapa detik kemudian dia tertawa konyol. Sebenarnya dia tidak takut karena dia yakin Kenzie tidak akan melakukan hal-hal aneh kepada mereka karena ada Azira di sini.


"Tapi ngomong-ngomong, aku mendengar kalau pak Kenzie seharusnya menikah dengan wanita lain. Tapi karena ada kecelakaan, dia terpaksa menikah dengan istrinya yang sekarang." Seseorang mulai bergosip.


Ada yang ragu,"Terpaksa? Benarkah? Kenapa yang aku lihat justru Pak Kenzie sepertinya tergila-gila dengan istrinya?"


"Iya, ini tuh terpaksa. Aku dengar calon istrinya bernama-"


"Bergosip lagi?" Suara seseorang menginterupsi pembicaraan mereka.


Saat mereka melihat siapa yang berbicara tadi, wajah mereka langsung menegang dan tidak berani mengeluarkan sepatah katapun.


Orang itu melirik wanita yang berani mengangkat gosip masa lalu dan mengawasinya dengan mata penilaian,"Jangan menyebarkan gosip yang tidak benar jika kamu masih ingin bekerja di sini. Perusahaan kami tidak membutuhkan pegawai yang tidak setia, bahkan sampai berani menggosipkan bosnya sendiri, kami tidak membutuhkan karyawan yang tidak memiliki etika." Kata orang itu dingin.


Wanita yang berbicara tadi sangat malu dan takut. Pasalnya orang ini adalah salah satu kepercayaan Kenzie di perusahaan ini. Bisa dibilang sebagai sekretaris luar. Tugasnya menyelesaikan urusan yang ada di luar perusahaan. Karena jabatannya sebagai orang kepercayaan Kenzie, para karyawan sangat segan kepadanya. Selain itu dia juga tidak ramah dan tidak suka tersenyum sama halnya seperti Kenzie. Sehingga kesan mereka kepada orang ini bertambah tinggi menjadi orang yang tidak mudah didekati.


"Kalau minta maaf, Pak. Kami tidak bermaksud menggosipkan kehidupan pribadi Pak Kenzie." Satu demi satu mulai meminta maaf kepada orang itu.


Orang itu mendengus.


"Perlu kalian ketahui bahwa bos dan nyonya sudah bertunangan sejak mereka masih kecil, dan pernikahan sebelumnya yang kamu sebut sebagai kecelakaan memang benar kecelakaan, tapi kebenarannya pengantin yang seharusnya menikah dengan Pak Kenzie adalah nyonya dan bukan wanita lain. Kamu," orang itu menunjuk salah satu wanita yang memiliki kesan baik terhadap Azira.


"Saya, pak?"


"Bila tersebar rumor yang tidak jelas lagi di perusahaan, tugas kamu adalah menyebarkan apa yang kukatakan. Tenang saja, tugas ini juga memberikan kamu sebuah bonus jadi kerjakan dengan hati-hati. Tapi jika sampai suatu hari aku masih mendengar rumor yang tidak jelas, aku akan mencari kamu untuk meminta penjelasan langsung. Mengerti?" Orang itu tiba-tiba memberikan tugas yang sangat tidak masuk akal.


Menyebarkan gosip?

__ADS_1


Ini sangat aneh di sebuah perusahaan. Tapi berhubung orang ini adalah atasannya dan sekaligus orang kepercayaan bos mereka, dia tidak berani menolak. Malah diam-diam bersukacita karena dia akan memiliki bonus tambahan. Gajinya akan lebih banyak.


"Mengerti, saya mengerti Pak. Bapak tenang saja karena saya akan menyelesaikan tugas ini dengan bersih dan penuh hati-hati." Yakin wanita itu berjanji.


Orang itu menganggukkan kepalanya puas. Kemudian melirik wanita yang menyebarkan gosip buruk, matanya jelas menunjukkan sebuah peringatan.


Wanita yang ditatap merasa sangat tidak nyaman. Dia meremas kedua tangan yang gugup, diam-diam menyalahkan dirinya karena banyak bicara.


"Permisi." Setelah cukup berbicara orang itu pergi.


"Ya Allah tadi sangat menakutkan!" Mereka semua langsung menghela nafas lega ketika melihat kepergian orang itu.


"Yuni, kamu sangat beruntung memiliki pekerjaan tambahan. Apalagi pekerjaan ini sangat ringan dan mendapatkan sebuah bonus tambahan, aku sangat iri dengan keberuntungan kamu hari ini." Ternyata wanita yang ditugaskan menyebarkan gosip itu adalah Yuni.


Yuni sejak pertama kali melihat Azira memiliki kesan yang sangat baik dan sempat berkata dia ingin mengidolakannya. Mungkin karena perkataannya ini, orang kepercayaan Kenzie memiliki kesan yang baik kepadanya.


"Aku juga sangat terkejut dengan tugas ini." Kata Yuni sambil mengelus dadanya berdebar.


"Yah, kamu sangat beruntung." Kata wanita yang memulai gosip buruk tadi.


"Jadikan saja ini pelajaran untuk kamu agar jangan asal berbicara lagi di masa depan." Kata Yuni menasehati dengan niat baik.


Wanita itu marah dinasehati tapi ketika mengingat tatapan pengawasan dari orang itu, dia langsung menelan kembali kemarahannya mentah-mentah. Tidak lagi, dia tidak mau menghancurkan karirnya gara-gara gosip asal-asalan yang dia dengar dari orang lain.


"Terima kasih atas nasihatmu, lain kali aku akan mengontrol mulutku agar jangan asal berbicara lagi."


Sementara mereka asik berbicara, Azira juga tenggelam dalam kekagumannya.


"Hehehe.."


Azira melirik suaminya.


"Apa yang sedang mas Kenzie tertawakan?"


Kenzie tersenyum dalam.


"Bukan apa-apa, anak buahku hari ini telah bekerja keras." Kata Kenzie samar.


Azira mengangguk tidak bertanya lagi. Soal pekerjaan bukan bidangnya jadi dia tidak tertarik untuk bertanya lebih jauh.


"Kamu pasti diajarin nonton drama Korea oleh Mona dan Sasa, iyakan?" Kenzie tidak senang.


Azira dengan polosnya menganggukkan kepala. Tidak ada yang salah dengan menonton drama Korea, toh, dia menonton untuk menghibur dirinya sendiri di waktu bosan.


"Iya, mas. Drama Korea sama drama China bagus-bagus, cukup menghibur." Kata Azira menambah bahan bakar api ke dalam hati Kenzie.


Kenzie menghela nafas panjang.


"Mas Kenzie kenapa?"


Kenzie menggelengkan kepalanya tak berdaya.


"Aku tidak akan melarang kamu menonton drama Korea ataupun drama China selama kamu tidak mengidolakan mereka. Jika sampai suatu hari aku tahu kamu mengidolakan aktor laki-laki mereka, maka kalian bertiga akan selesai olehku." Kata Kenzie dengan senyum yang bukan lagi disebut sebagai senyuman.


Azira meringis melihat tatapan dendam suaminya.


"Ini hanya untuk hiburan... Nggak lebih kok, mas." Azira berjanji.


Kenzie tersenyum, dia tidak mengatakan apa-apa.


Canggung,"Mau... langsung ke kantor?"


"Memangnya kamu sudah puas melihat-lihat di sini?" Kenzie bertanya.


Azira sudah puas.


"Sudah, mas."


Kenzie beralih menggenggam tangan kiri istrinya lembut.


"Okay, ayo pergi. Di kantor aku sudah menyiapkan beberapa makanan lezat untuk kamu."


...*****...

__ADS_1


Berdiri di depan cermin, Mona memandang wajahnya yang sayu karena terlalu banyak menangis. Dia mengambil nafas panjang sembari menghipnotis dirinya bahwa hari ini akan berjalan lebih baik dari hari-hari sebelumnya.


"Jangan sedih Mona, semuanya sudah berlalu. Kamu harus menjadi wanita yang kuat. Jadilah seperti Kak Azira. Dia berani dan tak kenal lelah, kamu harus seperti dia. Insya Allah, suatu hari nanti mentari yang kamu tunggu-tunggu akan datang menyinari hari-harimu. Tidak peduli apakah cinta kamu bertepuk sebelah tangan, keluarga yang belum bisa memahami kamu, dan hari-hari kesepian yang kamu jalani, ingatlah bahwa semuanya tidak akan bertahan. Ada masanya kamu akan tertawa terbahak-bahak dengan jujur tanpa menggunakan wajah kedua untuk menutupi suasana hati kamu yang tidak baik. Okay, Mona! Ayo semangat!" Setelah menghipnotis dirinya dengan kata-kata positif, Mona kembali menampilkan sisi cerianya.


Dia menepuk-nepuk wajahnya agar lebih bersemangat.


"Hari ini aku hanya punya satu mata kuliah, yaitu antropologi budaya. Habis itu aku nggak punya kegiatan apapun di kampus. Um, aku akan ke toko buku pulang dari kampus. Oh..tugas...tugas.." Mona mencari makalah yang kemarin dia buat di atas tumpukan dokumen tugas-tugas yang belum jadi.


Hari ini dia akan mengumpulkan tugas antropologi budaya. Tugasnya tidak terlalu sulit karena berhubungan dengan budaya di sekelilingnya.


"Nah... Akhirnya ketemu." Makalah itu lalu dia masukkan ke dalam map.


Setelah mengamankan tugas, dia mengambil tas selempangnya di atas meja. Sekali lagi berdiri di depan cermin untuk mengamati penampilannya. Tidak ada yang salah dari penampilannya. Semuanya tampak oke-oke aja, tapi entah kenapa dia selalu merasa bahwa ada sesuatu yang kurang.


"Pakai sepatu udah, kaos kaki udah, gamis lebar udah, jilbab juga udah. Terus apa yang kurang? Tugas, tugas baru aja aku masukin ke map. Ah... Astagfirullah. Aku lupa pakai masker!" Katanya sambil menepuk jidatnya.


Dia mengambil masker dari dalam laci. Masker biasa dengan warna cream, tidak terlalu mencolok juga tidak terlalu norak, Mona merasa bahwa masker ini pas. Setelah mendapatkan masker dia menaruhnya ke dalam tas. Sewaktu-waktu bila dibutuhkan dia tidak perlu membeli keluar.


"Okay, sekarang berangkat!"


Cklak


Kebetulan sekali ketika dia membuka pintu kamar, Yana juga baru saja keluar dari kamarnya dengan penampilan yang bersih dan cantik. Mona hanya meliriknya singkat tidak mau mengatakan apa-apa. Alasannya dia masih marah kepada Yana dan Tio, karena gara-gara mereka berdua dia bertengkar dengan kedua orang tuanya.


Mona kecewa kepada orang tuanya tapi di saat yang sama dia juga menyalahkan dirinya sendiri karena memiliki sikap yang agak buruk kepada kedua orang tuanya.


"Pagi, kak Mona." Siapa Yana dengan senyum manis di wajahnya.


Mona mengangguk singkat. Dia langsung pergi setelah menutup pintu tanpa berbasa-basi kepada Yana.


Yana melihat kepergian kakaknya. Dia cemberut, berpikir sampai kapan Mona akan memiliki sikap ini kepadanya. Apakah dia tidak lelah dikritik oleh orang lain?


"Sampai kapan kak Mona gini terus sama aku? Apa Kak Mona tidak kasihan sama mama dan ayah? Mereka lelah menghadapi sifat kakak yang seperti ini." Yana menggelengkan kepalanya tidak tahu harus berkata apa melihat sikap keras kepala Mona.


Padahal dia tidak mengambil apapun dari kehidupan Mona, tapi kenapa Mona sangat membencinya?


Mendesah tak berdaya, dia kemudian menyusul Mona ke bawah.


Mana sudah turun ke bawah. Di bawah Mama sudah menyiapkan sarapan. Awalnya Mona nggak mau ikut sarapan, tapi dia lapar karena semalam cuma makan sedikit dan di sisi lain dia tidak ingin perang dingin bersama orang tuanya, Mona merasa bersalah.


"Assalamualaikum, ma." Salam Mona canggung.


Dia masuk ruang makan. Ayah dan mama sudah menunggu di meja makan bersiap untuk mulai sarapan.


Mendengar salamnya, mama hanya melirik singkat sebelum sibuk kembali mengatur makanan yang ada di atas meja. Sementara ayah dari awal sampai akhir sibuk membaca koran. Mana tidak tahu apakah ayah sengaja mengabaikannya atau karena memang terlalu tenggelam saat sedang membaca koran.


"Waalaikumsalam. Adik kamu mana, Mona?"


Mana baru saja duduk di kursinya, Mama sudah menanyakan tentang Yana.


Mona menundukkan kepalanya, menyembunyikan kecemburuan yang tersirat di matanya.


"Sebentar lagi dia turun." Jawab Mona kalem.


Tak berselang lama Yana akhirnya masuk ke ruang makan dan menyapa semua orang dengan salam yang manis. Sikapnya yang santun dipadukan dengan wajahnya yang cantik dan polos membuat orang-orang merasa nyaman di dekatnya. Mungkin beginilah aura orang-orang yang telah menuntut ilmu di pondok pesantren. Mereka dipenuhi oleh kesejukan dan kedamaian sehingga orang sulit berpaling darinya.


"Assalamualaikum, semuanya!" Mengucapkan salam, dia datang menghampiri mama untuk mencium punggung tangannya.


"Waalaikumsalam." Mama dan ayah kompak menjawab.


Sejak Yana datang ke ruang makan, Mona memperhatikan bila ayah langsung menyingkirkan koran yang ada di depannya dan menunggu Yana datang menghampirinya.


"Selamat pagi, sayang? Gimana, perut kamu udah baikan?" Tanya Mama lembut sembari mengusap puncak kepala Yana.


Semalam perut Yana tiba-tiba sakit setelah pulang dari rumah Abah. Setelah dicek ternyata dia sedang datang bulan dan kebetulan hari pertama, itulah alasan kenapa perutnya mules.


"Pagi, ma. Alhamdulillah perut Yana udah baikan. Air kunyit yang mama buatin aku semalam ampuh banget, ma. Setelah minum aku langsung mengantuk dan bisa tidur nyenyak. Terima kasih ya, ma." Cerita Yana sambil menyanjung mama.


Memang faktanya setelah minum air kunyit yang dibuat oleh mama, sakit perutnya mulai berkurang hingga dia akhirnya bisa tertidur. Kalau nggak minum air kunyit, Yana nggak tahu apakah tadi malam bisa tidur atau tidak, makanya dia sangat berterima kasih kepada mamanya.


Mama sangat lega mendengarnya.


"Alhamdulillah, tahu nggak mama lega mendengarnya. Nanti habis sarapan kamu minum air kunyit lagi, ya? Biar datang bulannya lancar." Kebetulan masih ada air punya sisa semalam.

__ADS_1


Mama sengaja menyimpannya di kulkas untuk jaga-jaga bila sakit perut Yana tidak kunjung baikan.


__ADS_2