Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 23.2


__ADS_3

Sasa menghela nafas. Dia menundukkan kepalanya berpikir. Meredam kegelisahan di dalam dada. Dia percaya kalau Azira tidak memiliki apa-apa kepada dosen killer nya, tapi melihat reaksi dosen killer nya hari ini saat melihat Azira, dia memiliki keraguan jika dosen killer nya mungkin memiliki sesuatu terhadap Azira.


"Kamu lagi mikirin apa sih, dek? Umi amati dari sore kamu suka banget linglung. Ada masalah apa? Cerita sama Umi dan jangan dipendam sendiri. Enggak baik buat diri sendiri." Umi bertanya hangat kepada putrinya dengan nada lembut khas seorang Ibu.


Umi melepas pekerjaannya. Berjalan beberapa langkah hingga berdiri di samping putrinya. Tangan tuanya yang keriput menyentuh pundak putrinya, lalu mengusapnya pelan.


Mungkin kelemahan Umi yang paling besar terletak kepada Sasa, putrinya tercinta. Hatinya mudah keras karena tanggung jawabnya sebagai seorang guru pertama Sasa di muka bumi ini, tapi sebagai seorang Ibu hatinya mudah dilembutkan. Jangankan melihatnya menangis sedikit saja, melihat wajahnya kehilangan senyum sebentar saja membuat hatinya tidak tenang. Mungkin terkesan lebay, Umi tidak mempermasalahkannya karena menurutnya pribadi Ibu manapun di dunia ini akan memiliki rasa ini, apalagi terhadap satu-satunya putri tercinta.


"Umi, aku baik-baik saja. Hari ini cukup melelahkan buat aku karena bekerja di halaman depan. Belum lagi ada tugas kuliah malam ini, aku ngerasa tiba-tiba enggak betah aja tinggal di bumi." Ucap Sasa berlebihan. Takut membuat Umi semakin banyak berpikir, dia sengaja berbohong.


Dia sengaja bercanda untuk menghapus kekhawatiran Umi terhadapnya.


Umi langsung mencubit pipi putih Sasa tidak senang.


"Kalau enggak tinggal di bumi terus maunya kemana? Ke alam baka? Ngomong tuh disaring dulu, Nak."

__ADS_1


Sasa langsung mundur siaga satu langkah ke belakang sambil mengamankan pipinya yang dicubit Umi. Ini persis seperti orang-orang bilang, sakit tapi tak berdarah.


"Kan bercanda, Umi." Sasa mengelak.


"Bercanda juga ada batasnya." Umi membantah.


Dia menggelengkan kepalanya perihatin. Kuliah memang melelahkan. Belum lagi ditambah dengan aktivitas rumah, Umi tahu energi Sasa mudah terkuras.


"Kalau kamu capek, langsung balik ke kamar aja. Tidur lebih awal biar badan kamu lebih fit setelah bangun pagi besok." Umi kembali melembutkan nada suaranya.


"Okay, Umi juga, yah. Jangan begadang sama Abah."


Umi tersenyum, menepuk puncak kepala putrinya penuh kasih.


"Pasti. Udah, pergi sana. Umi juga mau balik ke kamar." Desak Umi.

__ADS_1


Sasa mengecup kedua pipi Umi manja sebelum pergi ke arah kamarnya.


Kamar orang tuanya dan dia ada di lantai bawah, sementara Kenzie di lantai atas. Bisa dibilang lantai dua adalah wilayah pribadi Kenzie karena semua orang di rumah kecuali Azira tinggal di lantai bawah. Bahkan kamar tamu pun ada di bawah dan tidak ada di lantai atas.


Cklak


Dia masuk ke dalam kamar. Menutup pintu dengan asal-asalan, lalu melepaskan jilbabnya dari kepala dan menaruhnya di gantungan pintu.


Puk


Badannya yang kelelahan menyentuh permukaan kasur yang lembut dan hangat. Matanya terpejam merasakan kenyamanan setelah menyentuh tempat tidur.


"Kak Azira," membuka matanya, dia masih terjerat dengan hal ini.


"Sepertinya cukup dekat dengan pak Al." Lalu terdiam.

__ADS_1


Berpikir sebentar, dia kembali berbicara,"Bila memang seperti yang aku pikirkan, maka saingan kak Kenzie agak berat." Gumamnya sayu.


__ADS_2