Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 29.1


__ADS_3

Langit sore sangat cerah. Tidak panas namun meneduhkan. Anginnya yang berterbangan tidak membuat gerah, sentuhannya di kulit sangat menyejukkan. Daun-daunan yang jatuh di tanah berterbangan dengan bebas tertiup angin sore. Pemandangan ini terpantau damai di mata seorang wanita cantik yang tengah berdiri di balkon sambil mengelus permukaan perutnya yang besar. Bibirnya tersenyum lembut, ada ketidakberdayaan di dalam matanya. Dulu dia tidak bisa melihat dedaunan berjatuhan di sana. Karena kebiasaan dia akan meluangkan waktunya untuk membersihkan halaman ini dari sampah-sampah daun itu agar terlihat bersih dan tidak mengganggu pemandangan. Tapi hari ini...ah, mungkin dari dua atau tiga bulan yang lalu dia sudah tidak diizinkan lagi untuk menyentuh hal-hal menyusahkan ini. Bukan karena lebay, tapi memang kondisinya tidak memungkinkan. Mual dan muntahnya sangat parah hingga tidak bisa memasukkan asupan makanan ke dalam tubuh, membuat banyak orang khawatir. Selain itu perutnya juga sudah mulai membesar, sangat-sangat besar seperti orang yang sudah hamil tua. Dia tidak bisa menunduk terlalu lama dan kesulitan bangun. Pergerakannya dibatasi oleh perut ini. Karena ukuran yang besar dia pernah khawatir bahwa ada sesuatu yang buruk di dalam perutnya, tapi alhamdulillah suaminya telah menekankan berkali-kali bahwa anak mereka sehat yang tidak ada yang salah di dalam. Dengan penegasan suaminya, dia akhirnya melepaskan kecemasannya.


"Istriku," suaminya datang menghampiri.


Berjalan pelan namun tidak lambat. Saat jarak menipis, suaminya merentang tangan dan membawa dia sepenuhnya ke dalam pelukan yang sangat hangat juga menenangkan jiwa.


"Mas Kenzie?" Dia menutup matanya, meresapi kehangatan yang dari pelukan hangat suaminya.


Bug


Bug

__ADS_1


Bug


Suara jantung suaminya bertalu indah dan cepat, terdengar menggebu-gebu di dalam dada, membuat saraf-saraf nya rileks seiring detik demi detik yang terlewati.


"Aku mencari kamu. Kupikir kamu sudah turun ke bawah. Jika aku tidak melihat sosok cantik kamu dari balik jendela balkon, maka aku pasti akan melewatkan pemandangan indah tadi. Istriku, hari ini kamu sangat indah."


Dia sontak membuka matanya kaget. Melirik suaminya dari sudut mata, pipi gembul nya langsung bersinar terang mengembangkan rona merah yang menawan.


"Aku sedang menunggu mas Kenzie selesai mandi." Katanya mencicit, tiba-tiba dia mengalihkan topik pembicaraan.


Bahunya yang tegap dan lebar tampak mencolok dengan setelan ini, belum lagi melihat wajah suaminya yang tampan tanpa ada sedikitpun bulu di wajah, hatinya langsung berdebar kencang.

__ADS_1


Suaminya selalu terlihat tampan dan memiliki pesona yang sangat sulit ditolak.


"Sudah, lihat betapa tampannya aku." Suaminya tidak malu menyanjung dirinya sendiri. Meskipun faktanya dia memang benar-benar tampan.


Wajahnya semakin panas.


"Um, tampan." Aku sangat menyukainya. Bisiknya di dalam hati.


Jari jemarinya menyentuh pakaian suaminya, menelusuri keliman pakaian suaminya yang dijahit rapi tanpa ada cela yang masuk ke dalam mata.


"Wajah kamu memerah, pasti kamu sangat senang melihat betapa menawannya aku hari ini." Bisik suaminya menggoda. Tangan kanannya yang tadi melingkari perut Azira kini berpindah menyentuh kulit wajah Azira yang gembul dan mulus.

__ADS_1


Rasanya begitu lembut, suaminya enggan menyingkir.


Azira semakin merasa malu. Seperti yang suaminya katakan, dia sangat memang menyukai penampilan suaminya. Itu terbukti dari perubahan warna merah di wajahnya yang sangat panas.


__ADS_2