
Selesai shalat subuh dia langsung turun ke bawah. Niatnya mau membantu Umi memasak di dapur untuk sarapan hari ini. Tapi Umi melarang karena khusus hari ini mereka tidak memasak. Untuk sarapan Umi telah meminta Abah untuk membeli bubur yang ada di samping masjid. Bubur di sana memang terkenal enak dan selalu menjadi langganan untuk orang-orang di komplek sini, terutama keluarga ini.
Tidak hanya mereka saja yang suka, tapi Azira juga suka memakannya.
Karena suka sesekali dia akan meminta suaminya membeli bubur ketika turun dari masjid.
"Nak, kamu kenapa?"
Dari jauh Umi tidak memperhatikan ada yang salah dengan menantunya. Tapi setelah mendekat, dia melihat wajah menantunya agak sembab karena menangis.
"Kenzie habis mukul kamu? Atau kalian berdua bertengkar lagi?" Pertanyaan Umi lantas menarik perhatian Sasa juga.
Mulut Sasa berkedut tertahan. Dia heran sekaligus bertanya-tanya, bagaimana mungkin kakaknya bermain tangan kepada Azira? Dia sama sekali tidak percaya. Selain itu dia juga melihat betapa kuat pengaruh Azira bagi Kenzie. Jadi rasanya tidak mungkin Kenzie bermain kasar dengan Azira, bukankah ini sesuatu yang mustahil?
Lihat saja kemarin. Kenzie tidak bisa menjaga jarak dari Azira apalagi sampai membuatnya marah dan sekarang menangis?
Sasa tahu Kenzie pasti tidak tahan jika sampai membuat Azira berakhir menangis atau marah. Sebab dia mengenal seperti apa kakaknya. Dan dia juga melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri bagaimana sikap Kenzie kepada Azira.
"Enggak... enggak, Umi." Azira tersenyum malu.
Umi heran.
"Kalau kamu sama Kenzie nggak bertengkar, terus kenapa kamu tiba-tiba menangis?" Keresahan Umi akhirnya surut.
Dia lega karena putranya tidak bertindak kasar kepada menantunya.
Azira ragu memberitahu Umi kalau dia sedang hamil. Bukannya dia tidak mau, lebih tepatnya dia canggung. Ini adalah kabar yang sangat menggembirakan, dan dia bingung bagaimana menyampaikannya kepada mertua dan iparnya.
"Aku.."
"Assalamualaikum..." Sebelum Azira menyelesaikan ucapannya, Kenzie dan Abah masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam.
Sontak saja perhatian mereka langsung teralihkan.
Mereka bertiga segera pergi ke ruang tamu dan kebetulan Kenzie serta Abah baru saja masuk ke dalam. Tangan masing-masing memegang kantong plastik hitam. Tentu saja itu adalah pesanan Umi dan Azira. Selain membeli bubur, mereka berdua juga membeli beberapa gorengan dan kue lupis serta kue serabi.
Makan yang manis-manis di pagi hari memang tidak baik, tapi tidak masalah bila sesekali.
"Sarapan datang." Abah menaruh belanjaannya di atas meja dan diikuti oleh Kenzie.
"Azira, muka kamu kenapa?" Abah melihat wajah menantunya.
Azira sangat malu ditanya dua kali berturut-turut oleh mertuanya. Senang sekali memiliki mertua yang sangat baik, mereka berdua menganggapnya sama seperti anak sendiri.
"Sayang, kamu habis nangis, ya?" Kenzie langsung menghampiri istrinya.
Melihat wajah Azira, dia menebak jika Azira pasti terlalu lelah menangis. Mungkinkah hasilnya negatif?
Memikirkannya saja membuat hati Kenzie terasa berat. Sebagai seorang suami tentu saja dia merasa kecewa, apalagi istrinya. Azira pasti merasa terbebani dan tertekan pada saat yang sama. Kalau tidak, mengapa Azira menangis sekeras ini?
"Mas.." Melihat suaminya akhirnya ada di sini, dia langsung memeluknya malu-malu.
Semua orang terdiam.
Kenzie mengelus punggung istrinya.
"Tidak apa-apa, jangan sedih, oke? Kita masih punya banyak kesempatan dan waktu. Gagal sekali bukan berarti gagal selamanya. Kita masih bisa mencoba sambil merayu Allah agar ridho menitipkan amanah kepada kita berdua. Jangan sedih ya, sayang. Aku tidak masalah apakah kamu memiliki anak atau tidak, bagiku kamu sama saja. Maka dari itu istriku, jangan terlalu terbebani. Serahkan saja semuanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Biarkan Allah yang memutuskan jalan hidup kita selanjutnya." Kata Kenzie dalam suasana hati yang berat.
Kata-kata penghiburan ini bukan hanya untuk istrinya tapi untuk dirinya juga yang sempat berharap.
Apa yang Kenzie katakan langsung dipahami oleh mereka semua.
Umi dan Abah saling memandang, agaknya sedikit kecewa tapi tidak mengatakan apa-apa. Seperti yang Kenzie katakan tadi kepada Azira, semuanya adalah kehendak Allah. Mereka tidak bisa memaksakan kehendak Allah, walaupun mereka menginginkannya.
__ADS_1
"Mas.." Azira melepaskan pelukannya.
Dia menatap suaminya malu. Jantungnya berdebar kencang. Rasanya agak geli sekaligus kesel, kok bisa-bisanya Kenzie mengatakan kata-kata menyedihkan itu?
Harusnya kan Kenzie bertanya dulu kepadanya, apakah dia hamil atau tidak.
"Hum?" Wajah istrinya jadi merah.
Kenzie heran.
"Aku hamil." Kata Azira berbisik.
"Apa?" Kenzie tiba-tiba meragukan pendengarannya sendiri.
Azira tadi bilang apa?
"Mas, aku hamil. Aku benar-benar hamil. Semua tespek yang mas kasih ke aku hasilnya positif, dua garis!" Tekan Azira mengulangi apa yang dia katakan lebih jelas.
Ruangan langsung menjadi sunyi. Baik Abah, Umi ataupun Sasa mengarahkan pandangannya kepada Azira yang kini tengah tersipu malu di dalam pelukan Kenzie.
Lalu bagaimana dengan Kenzie?
Jangan tanya bagaimana dia sekarang. Entah disadari atau tidak, dia terlihat konyol dengan ekspresinya sekarang.
"Kamu hamil?" Kenzie pusing dengan kabar gembira yang Azira sampaikan.
Tanpa menunggu Azira menjawab, Abah langsung memukul pundak Kenzie tidak sabar.
PUK
Sasa dan Azira langsung menelan ludah mendengar suara renyah dari punggung Kenzie yang baru saja ditepuk oleh Abah.
"Apa kamu budek? Istri kamu hamil, dia sedang hamil!" Ulang Abah berteriak senang.
"Turun! Ya Allah, Kenzie! Turunin cepat!" Umi geregetan melihat tingkah konyol putranya.
Kenzie akhirnya menyadari apa yang telah dilakukan tadi dan buru-buru menurunkan Azira.
"Kamu itu, yah! Istri kamu baru hamil dan usia kandungannya masih muda. Kamu kan seorang dokter masa nggak tahu sih kalau wanita yang baru hamil atau sedang hamil muda tidak boleh mendapatkan goncangan keras-keras. Kalau enggak, janinnya bisa kenapa-napa!" Ucap Umi mengomel.
Sasa juga sempat takut tadi dan ikut berbicara. Ngomong-ngomong, jarang-jarang loh bisa memarahi Kenzie. Ini adalah kesempatan yang sangat langka.
"Iya nih, sebenarnya kakak itu memang dokter beneran apa dokter gadungan, kok bisa-bisanya hal sekecil ini enggak tahu?"
Kenzie menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia kelepasan kendali.
"Aku... Maaf aku terlalu senang." Katanya malu.
Dia mengangkat kelopak matanya dan beralih melirik Azira. Ketika mata mereka berdua bertemu, dia menemukan bila istrinya kini sedang menertawakannya. Kenzie langsung tidak berdaya. Istrinya pasti senang melihat dirinya dikeroyok oleh Umi dan Sasa. Tapi dia tidak marah sama sekali. Justru dia sangat senang. Konyol memang. Selama istrinya bisa tertawa dan tersenyum, dia mungkin akan melakukan apa saja, tentu saja mengecualikan hal-hal buruk.
"Maaf..maaf... Bisanya cuma ngomong aja." Umi mendengus, dan memutuskan untuk mengabaikan putranya yang konyol.
Lihat saja penampilan putranya sekarang. Dia terlihat seperti badut. Umi jelas tidak tertawa tapi diam-diam di dalam hati dia bersukacita karena putranya sekarang memiliki banyak ekspresi setelah menikah dengan Azira.
Dia kemudian beralih menatap menantu kesayangannya.
"Azira, apakah Umi akan segera memiliki cucu?" Umi bertanya lembut.
Azira menundukkan kepalanya malu-malu, lalu mengangguk pelan.
"Insya Allah, Umi. Insya Allah Umi dan Abah akan memiliki cucu." Jawabnya yakin.
Umi tersenyum lebar. Tangan tuanya menjangkau kepala Azira dan mengecupnya lembut.
__ADS_1
"Semoga Allah melindungi kalian berdua hingga hari melahirkan nanti." Doa Umi tulus.
Azira memejamkan matanya khidmat, mengaminkan doa tulus Umi dan berharap Allah akan mendengarkan doanya.
"Aamiin Allahumma aamiin ya Allah."
Umi perlahan melepaskannya.
"Selamat ya, Nak. Akhirnya kamu mendapatkan kesempatan untuk merasakan menjadi seorang Ibu. Umi sangat bahagia mendengar kabar baik ini. Karena beberapa bulan lagi Umi tidak akan kesepian melihat para tetangga menggendong cucu masing-masing. Dan insya Allah rumah kita akan lebih ramai lagi di masa depan, terima kasih ya, Nak." Kali ini Umi mengecup kedua pipi Azira bahagia.
Azira menganggukkan kepalanya berkali-kali dan dengan patuh membiarkan Umi mengecup pipinya.
"Umi.." Azira tidak tahu harus mengatakan apa.
Umi melambaikan tangannya lanjut berbicara,"Nak, mulai sekarang kamu nggak boleh ngizinin suami kamu untuk melakukan 'itu' lagi karena berbahaya untuk janin kamu. Kalau dia minta sama kamu, langsung lapor ke Umi." Katanya serius kepada Azira diselingi candaan.
Tanpa Umi beritahu pun Kenzie sudah mengerti bahwa itu tidak baik untuk kesehatan Ibu dan calon anak. Meski begitu Umi sengaja membicarakannya untuk mempermalukan putranya yang masih memiliki ekspresi konyol di wajahnya.
"Umi, aku ini dokter profesional, lho. Apalagi kalau menyangkut soal istri, mana mungkin aku berani macam-macam." Kenzie membela diri.
Sasa tidak percaya,"Justru karena kak Azira adalah istri kakak, makanya kami nggak percaya. Di depan kak Azira, sertifikat dokter kakak kayaknya nggak ngaruh deh." Olok Sasa.
Maksudnya bercanda. Tapi siapa tahu bila kakaknya langsung malu.
"Aku... Insya Allah aku akan berusaha menahan diri." Kata Kenzie berjanji.
Sasa rasanya mau muntah darah. Dia kira suami kakaknya bukan tipe laki-laki seperti itu, buas. Tapi ternyata sama saja. Um, benar kata orang kalau semua laki-laki itu sama saja.
"Awas aja kalau kamu buat masalah sama menantu, Umi. Oh... Ngomong-ngomong, Umi sekarang paham kenapa nafsu makan kamu akhir-akhir ini menurun dan bahkan langsung down mencium bau makanan keras. Ternyata itu karena kamu hamil. Umi sekarang mengerti." Umi memegang tangan Azira penuh kasih.
Azira juga baru menyadarinya setelah melihat hasil di tespek. Mulai dari tidak pernah datang bulan lagi hingga menurunnya nafsu makan dan lebih menyukai rasa buah-buahan khusus daripada makan nasi, faktornya ternyata karena dia sedang mengandung.
Dulu dia sering mendengar bila orang-orang yang tengah mengandung terkesan memiliki nafsu makan yang kecil dan lebih suka makan buah asam ketika baru hamil. Tapi seiring waktu perut membesar, nafsu makan akan melonjak tinggi berkali-kali lipat yang cukup menakutkan. Jika hidup dalam keadaan kesusahan dan miskin, ini merupakan kabar buruk karena tidak memiliki cukup makanan. Namun Azira sangat bersyukur bertemu dengan keluarga yang memiliki cukup kemampuan sehingga asupan anaknya terjamin. Um, dan yang paling penting dari semua ini adalah dia tengah mengandung buah hatinya bersama Kenzie, kekasih hatinya.
"Maaf telah membuat Umi khawatir akhir-akhir ini. Aku juga nggak menduga kalau sedang hamil. Untunglah mas Kenzie mengingatkan aku tadi subuh agar cek kehamilan, kalau enggak, mungkin aku masih berjalan tanpa arah." Kata Azira malu-malu.
Pipinya yang gembil mengembangkan warna merah mencolok yang menggelitik mata. Tangan Sasa bergerak-gerak ingin mencubit pipi kakak iparnya itu. Soalnya Azira terlihat sangat imut sekarang.
"Tidak apa-apa, Nak. Kamu juga putri Umi. Syukurlah kepala Kenzie masih berjalan di situasi seperti ini. Apakah Azira mau makan sesuatu?" Biasanya orang hamil suka mengidamkan sesuatu.
Azira berpikir. Untuk saat ini dia tidak punya keinginan apapun selain makan bubur yang dibawa oleh suaminya ataupun makan buah-buahan segar. Tapi karena akhirnya mengetahui bahwa dirinya sedang hamil, maka dia akan berusaha untuk menelan makanan demi menjaga asupan makanan anaknya di dalam.
"Kayaknya untuk sekarang aku nggak lagi menginginkan makanan lain. Makan saja apa yang ada, Umi."
Sasa berkata,"Kalau kakak butuh sesuatu jangan sungkan untuk ngomong sama aku. Nanti aku bakal usahakan memenuhi apa yang kakak butuhkan."
Azira mengangguk lega. Seperti yang diharapkan bahwa semua orang senang dan menerima dengan baik kabar gembira ini.
"Insya Allah, nanti kalau kakak memang membutuhkan sesuatu, kakak pasti langsung ngomong sama kamu, dek." Azira tidak sungkan.
Abah juga berbicara,"Apa yang adik kamu bilang benar. Kalau kamu membutuhkan sesuatu ataupun ingin makan apapun, bilang saja sama kami semua. Abah bersedia kok masakin kamu selama kamu bilang ingin masakan Abah dan Umi juga akan standby di rumah siap melayani kamu." Sambil berbicara Ayah mengangkat tangan tuanya untuk mengelus puncak kepala Azira.
Diam-diam di dalam hati dia telah menganggap Azira sebagai putrinya. Bahkan kedudukannya sama dengan Sasa. Sungguh sebagai seorang Ayah dia tidak rela bila salah satu putrinya terluka ataupun tersakiti, dia pasti menjadi orang pertama yang akan sangat marah.
Hidung Azira tiba-tiba sakit dan kedua matanya agak perih. Mendapatkan perhatian sebaik dan sehangat ini membuat dirinya ingin menangis. Tapi dia berusaha untuk menahan diri. Menahan emosi yang ingin segera di luapkan. Ya Allah, betapa bahagia dia rasakan hari ini.
"Dan aku juga, istriku. Aku akan berusaha meluangkan waktu pulang lebih cepat dan mengambil cuti lebih banyak biar bisa menjaga kamu di rumah." Kenzie sudah membuat rencana yang sempurna di dalam hati.
"Um, untuk sekarang prioritaskan istri kamu. Tapi kamu jangan libur kebanyakan karena perusahaan juga butuh perhatian kamu. Abah saranin kamu mengambil cuti setelah usia kandungan Azira lebih besar. Kalau sekarang kamu tidak usah khawatir karena ada Abah dan Umi yang akan menjaga istri kamu di rumah. Selain kami juga ada bibi-bibi kamu di sini. Mereka pasti senang mendengar kabar Azira hamil dan akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah ini."
Urusan kantor tidak boleh di kesampingkan untuk saat-saat ini karena perusahaan sedang menghadapi proyek yang sangat besar dan bekerja sama bersama pemerintah. Bila perusahaan santai-santai saja, Abah tidak masalah membiarkan putranya pergi. Tapi untuk sekarang perusahaan sedang bekerja keras untuk menuntaskan proyek besar.
Mendengar pengaturan dari Abah, dia langsung menganggukkan kepalanya dengan patuh. Meskipun agak disayangkan karena dia tidak bisa menemani istrinya di awal-awal kehamilan, tapi dengan jaminan dari Abah dan Umi, dia setidaknya lega dan tidak terlalu cemas. Istrinya dikelilingi oleh orang-orang baik. Dengan adanya keluarga, suasana hati Azira pasti akan semakin membaik dan tidak terlalu stress di rumah.
__ADS_1
"Baik, Abah. Aku lega dengan kalian di sini." Kata Kenzie.