Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 8.5


__ADS_3

Paman Roni dan bibi Indring, serta Frida memutuskan untuk menginap malam ini di rumah. Mereka datang dari luar kota dan tidak memiliki tempat tinggal selain di hotel. Umi maupun Abah tidak setuju melihat mereka tinggal di hotel. Berhubung mereka jarang bertemu tahun ini, Umi memaksa mereka untuk menginap di rumah. Paman Roni dan bibi Indring bisa tidur di kamar tamu, sedangkan Frida tidur bersama Sasa. Ketika mendengar pengaturan Umi, awalnya Sasa ingin menolak, tapi saat memikirkan tidak ada kamar lain lagi yang tersisa di rumah ini karena dua kamar lain sedang direnovasi, Sasa dengan pahit menerimanya.


"Azira, malam ini kamu ingin memasak apa?" Frida datang ke dapur berniat untuk membantu.


Azira tersenyum kecil.


"Masak yang ringan saja. Tumis kangkung, tahu dan tempe goreng, ayam goreng kremes dan telur rebus." Jawab Azira mendaftar hal-hal yang akan disajikan di atas meja.


Frida mengernyit.


"Bukankah masakan ini terlalu sederhana?"


Azira mengangguk paham.


"Memang sederhana. Umi yang memintaku menyiapkan menu makanan malam ini. Ada apa?" Di ruang tamu dia tidak merasakannya, tapi sekarang dia merasakan sebuah perasaan halus saat berbicara dengan Frida.


Entahlah, Frida sepertinya 'agak' tidak menyukainya. Tapi berpikir positif Azira kira ini wajar saja karena pernikahannya dengan Kenzie sangat kontroversial.


"Oh, jadi Umi yang minta." Frida tidak terlalu yakin.


Azira mengangguk kecil dan terus bekerja menyiapkan menu terakhir. Yaitu ayam goreng kremes. Syukurnya keluarga ini tidak terlalu pemilih kalau soal makanan sehingga Azira tidak pusing ketika memasak di dalam dapur.


Frida melihat sekeliling dapur. Di beberapa tempat ada banyak perubahan sejak terakhir kali berkunjung ke sini.


"Kak Kenzie sebenarnya pemakan yang ringan. Dia tidak suka masakan yang terlalu berminyak dan menggunakan banyak bumbu micin." Kata Frida memulai topik pembicaraan setelah sekian lama terdiam.

__ADS_1


Azira tertegun. Dia tidak tahu hal ini karena Kenzie tidak pernah mengatakan apa-apa. Selain itu Kenzie selalu makan apapun yang disediakan di atas meja hingga tuntas, seakan semuanya selalu lezat.


Frida melirik reaksi lamban Azira. Tersenyum tipis, dia agaknya cukup bangga dengan dirinya sendiri.


"Jika kamu menyajikan kak Kenzie semua makanan ini, dia pasti tidak senang." Kata Frida menambahkan kayu bakar.


Azira menggelengkan kepalanya.


"Mas Kenzie tidak pernah mengeluh apapun yang tersedia di atas meja makan. Dan dia juga selalu menghabiskan makanannya tanpa meninggalkan sisa."


Tiba-tiba Azira mendengar tawa kecil dari sampingnya. Siapa lagi pelakunya selain Frida sendiri. Padahal tak ada yang lucu di sini.


"Aku tidak percaya karena aku sangat mengenal dengan baik seperti apa orangnya kak Kenzie." Katanya membanggakan diri.


Azira merasa tidak nyaman mendengarnya.


Sasa masuk ke dalam dapur. Saat melihat Frida, dia secara alami memalingkan wajahnya secara halus. Bersikap seolah tidak melihat keberadaan Frida di sini.


"Kenapa, Sas?"


Sasa menunjuk pintu dapur.


"Kak Kenzie nyariin di luar. Katanya mau kakak ke sana sendiri." Ucap Sasa memberitahu.


Ekspresi wajah Frida langsung berubah saat mendengar Kenzie akhirnya pulang ke rumah.

__ADS_1


"Mas Kenzie sudah pulang?" Jantung Azira langsung berdebar kencang.


Perasaan gugup yang telah lama terlupakan kembali membanjiri hatinya.


"Iya. Dia mencari kakak." Tekan Sasa dengan volume suara dibesarkan.


Azira tidak memperhatikannya.


"Lalu bagaimana dengan masakan ku?" Dia tidak bisa meninggalkannya.


Sasa dengan entengnya melambaikan tangan dan menyerahkan pekerjaan ini kepada Frida.


"Biarkan Frida melakukannya. Dia pasti ingin membantu kakak dari tadi tapi tidak mendapatkan kesempatan."


Mata Frida langsung membola. Kapan dia mengatakan ingin membantu Azira memasak?!


Kedua tangannya mengepal karena kesal dan jengkel.


Azira lega. Dia menoleh ke Frida,"Terima kasih. Aku akan segera kembali nanti."


Lalu dia pergi setelah mencuci tangan di wastafel. Melihat punggung Azira perlahan menjauh, Sasa menatap Frida dengan senyuman penuh makna.


"Terima kasih sudah membantu kakak iparku. Kak Kenzie pasti senang dengan bantuanmu."


Frida tersenyum tidak nyaman. Pertama dia kesal, tapi di sisi lain dia sedih dengan sikap terasing Sasa kepadanya.

__ADS_1


"Sas..aku.."


"Aku tidak akan menganggu lagi, bye." Tanpa menunggu Frida selesai berbicara dia langsung pergi menyusul Azira ke ruang tengah.


__ADS_2