
Di sebuah ruangan VIP, seorang gadis berjalan bolak balik di dalam ruangan sambil menggigit jadi telunjuknya. Sesekali dia akan berhenti menatap pintu kamarnya. Dan sesekali jika dia mendengar suara langkah kaki di luar, kedua kakinya langsung bergerak cepat naik ke atas ranjang dan menunggu dengan tidak sabar sambil menatap pintu kamarnya.
Sudah dua hari dia berada di rumah sakit. Dan sudah dua hari pula Kenzie tidak datang mengunjungi. Terakhir kali Kenzie berada di sini adalah saat mengantarnya untuk menjalani rawat inap. Namun setelah hari itu Kenzie tak pernah datang berkunjung.
"Amara, tenanglah. Ayo duduk kembali ke kasur mu." Nabil bosan melihat sepupunya ini berjalan bolak-balik di dalam ruangan.
Dia jadi pusing melihatnya. Belum lagi dia tidak cukup beristirahat karena mengawasi Amara selama dirawat di rumah sakit.
"Kak Nabil, gimana aku bisa tenang kalau mas Kenzie nggak pernah datang ke sini menjenguk aku!" Marah Amara kesal dan sedih di saat yang bersamaan.
Sudah dua hari, selama dua hari dia ia menunggu di sini. Seharusnya hari ini dia bisa kembali ke rumah tapi demi Kenzie, dia rela memperpanjang masa tinggalnya. Namun orang yang diharapkan tak kunjung datang kemari. Ini membuat Amara kecewa. Padahal dia yang sangat merindukan Kenzie dan berharap kembali dekat.
"Sabarlah, Amara. Kamu tahu sendiri kan kalau Kenzie orangnya sangat sibuk. Dia bekerja sebagai dokter di rumah sakit ini. Dan aku dengar dari rekan-rekannya, jam kerja Kenzie di rumah sakit memang cukup padat. Seperti yang kamu tahu di malam pertama kamu dilarikan ke rumah sakit, dia tidak bisa mendampingi kamu karena mendapatkan panggilan darurat rumah sakit dan sama halnya dengan semalam. Aku sudah melihatnya sendiri. Dia sangat sibuk mengurus beberapa pasien. Amara, aku yakin dia sebenarnya ingin datang menemui kamu. Tapi situasinya tidak mendukung jadi hanya bisa ditunda." Nabil berusaha menenangkan adik sepupunya agar lebih tenang.
Dia tidak berbohong, apa yang dia katakan memang begitulah yang terjadi. Kenzie selalu sibuk di rumah sakit sampai-sampai tidak punya waktu untuk beristirahat sebentar. Menurutnya ini wajar saja. Karena Kenzie adalah salah satu dokter utama di rumah sakit ini. Yang mana namanya pasti akan selalu dicari untuk pasien-pasien besar ataupun penting.
Hah, pertumbuhan Kenzie terlalu pesat. Padahal mereka di usia yang sama, tapi kenapa Kenzie jauh lebih berkembang daripada dirinya?
Di saat dirinya masih bersusah payah membangun rumah makan kecil di beberapa daerah, Kenzie justru sudah memiliki nama besar di salah satu perusahaan swasta ternama di kota. Ah, dia cemburu dengan nasib baik temannya itu.
Amara akhirnya jauh lebih tenang setelah mendengar analisis sepupunya itu.
Malu,"Aku tidak bersabar karena aku terlalu merindukan dia, kak. Kami sudah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu jadi wajar saja aku ingin dekat terus dengannya." Amara mengakui dengan wajah malu-malu.
Menghela nafas panjang, Amara naik kembali ke tempat tidurnya dan duduk dengan patuh sambil berbicara dengan sepupunya. Terkadang bola matanya akan melirik ke arah pintu, menatap dengan mata antisipasi menunggu sosok tinggi dan tampan itu masuk ke dalam pandangannya.
"Aku mengerti perasaan kamu. Percayalah, dia pun merasakan hal yang sama kepadamu. Kamu tidak melihat bagaimana paniknya Kenzie saat mengetahui kamu pingsan. Dia sampai-sampai membentak istrinya dan memilih membawa kamu ke rumah sakit. Sementara istrinya ditinggalkan begitu saja di villa sendirian. Coba pikirkan baik-baik, kalau kamu memang tidak penting untuknya, lalu kenapa dia membentak istrinya dan lebih memilih kamu?" Nabil terus berbicara, mengulangi cerita yang sama, cerita yang sudah dua hari ini dia ceritakan kepada Amara.
Amara pun tidak bosan mendengarnya. Berkali-kali atau sebanyak apapun sepupunya menceritakan bagian kecil ini, dia tidak pernah merasa bosan dan ingin terus menerus mendengarkannya. Dia tidak bisa membayangkan betapa indahnya pemandangan itu!
Ah, jika saja dia tidak langsung pingsan.
"Aku juga yakin, kak. Setelah berpisah bertahun-tahun aku tidak percaya mas Kenzie tidak merindukan aku. Aku yakin perasaan bisa berubah seiring waktu berlalu. Dan tahun ini aku kembali ke Indonesia karena aku memiliki kepercayaan jika perasaan ku tidak lagi bertepuk sebelah tangan. Mas Kenzie pasti menyukai aku." Katanya percaya diri.
Awalnya masih pesimis karena saat melihat wajah cantik Azira, dia ragu Kenzie membalas perasaannya. Tapi saat mendengar cerita dari Nabil dan teman-teman yang lain mengenai kejadian itu, kepercayaan dirinya langsung meroket tinggi.
Huh, usahanya ternyata tidak sia-sia.
"Tapi aku sangat kesal, kak. Dari tadi pagi aku mencoba bertemu dengannya dan bahkan mengetuk pintu ruangannya berkali-kali, tapi dia selalu sibuk dan tidak punya waktu untuk bertemu denganku. Untungnya setelah pemeriksaan dokter tadi siang, aku langsung bergegas menghalangi jalannya yang baru keluar dari kamar salah satu pasien. Dia sempat mengobrol dengan ku sebentar sebelum bekerja kembali!" Dia merasa marah bercampur senang.
Untung saja dia berhasil mencegat Kenzie saat keluar dari ruangan salah satu pasien. Rencananya dia ingin makan siang bersama Kenzie dan telah menyiapkan banyak makan siang untuk mereka berdua. Tapi sayang sekali Kenzie tidak memiliki waktu. Setelah bertukar beberapa kata sebentar, Kenzie langsung pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Hah... Bagaimana bisa dia masih sibuk diwaktu istirahat? Harusnya dia beristirahat dan makan siang bersamaku!" Gumamnya gemas.
Makanan yang dia telah siapkan tadi jadi sia-sia. Amara tidak bernafsu dan meminta seseorang membuangnya. Ah, betapa kesal dirinya.
"Pasti ada lain kali, dek. Kamu harus lebih bersabar." Nasehat Nabil kembali mengantuk.
Dia ingin segera tidur lagi! Selama dua malam berjaga di rumah sakit dia tidak bisa tidur dengan nyaman. Malam pertama Amara terus mengeluhkan sakit di tubuhnya dan membuat Nabil terbangun beberapa kali. Tapi setelah seharian dirawat di rumah sakit, keadaan Amara membaik tapi bukan berarti suasana hatinya membaik. Dia jadi uring-uringan memikirkan Kenzie yang tidak pernah kelihatan batang hidungnya. Nabil seperti seorang pengasuh dibuatnya.
Agaknya dia kesal juga melihat sikap Amara yang belum berubah selama bertahun-tahun. Kecuali paras wajah yang cantik, Amara memiliki kesan yang sangat buruk. Tidak mengherankan dulu Kenzie menolak menerima cinta adik sepupunya itu.
"Kak Nabil juga usaha dong. Hubungi mas Kenzie ke sini. Bilang saja aku ingin berterima kasih kepadanya." Amara buru-buru mendesak sepupunya ini agar bertindak.
__ADS_1
Amara sama sekali tidak tahu kalau Kenzie telah lama mengabaikan Nabil.
Nabil malu,"nanti malam aku akan menghubunginya lagi. Semoga saja dia bisa datang ke sini." Janji Nabil tidak optimis.
Amara mengangguk puas.
"Yah, semoga saja. Kalau mas Kenzie sibuk terus, aku mungkin akan nekat datang ke rumahnya." Bisik Amara bertekad.
*****
"Nak, kamu sudah pulang." Umi tengah berbicara dengan bibi Arumi di depan rumah.
Saat melihat mobil putranya masuk ke halaman, dia langsung berdiri dan menghampiri Kenzie.
"Iya, Umi." Kenzie tersenyum lembut kepada Umi seraya mencium tangan.
Namun ekspresi Umi tidak benar. Umi mendengus, memalingkan wajahnya dan berjalan kembali menghampiri bibi Arumi. Umi terlihat marah pikir Kenzie. Dia menggaruk kepalanya tidak gatal karena bingung apa yang telah membuat Umi marah. Mungkinkah dia telah melakukan kesalahan yang mengundang kemarahan Umi?
Kenzie tidak yakin.
"Assalamualaikum, bibi." Kenzie menyapa Bibi Arumi sopan dan cium tangannya.
Bibi Arumi tersenyum lebar.
"Waalaikumsalam, Kenzie. Nak, semakin hari bibi perhatikan wajah kamu semakin tampan saja. Dengan wajah setampan ini, mungkinkah tidak ada rumah di sekitarmu baru-baru ini?" Tanya bibi dengan makna tersirat.
Baru saja saat mengobrol dengan iparnya, dia mengetahui tentang kepulangan Amara. Sama seperti Umi, reaksinya sangat marah. Diam-diam khawatir dengan rumah tangga keponakannya ini.
Kenzie tersenyum bodoh. Mana mungkin dia tidak bisa membaca makna tersirat yang disampaikan oleh bibi Arumi?
"Ada banyak sekali rubah, bibi. Tidak apa-apa, ini masalah sepele. Bagaimana bisa rubah dibandingkan dengan kucing malas di rumahku? Bibi tahu sendiri jawabannya." Balas Kenzie dengan makna tersirat yang sama pula.
Bibi Arumi sontak tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang dikatakan oleh keponakannya. Dia tidak bisa membayangkan Azira dengan kucing malas yang Kenzie maksud. Ah, tapi tunggu dulu, bukankah iparnya mengatakan kalau beberapa hari ini Azira lebih suka tertidur dan mulai malas melakukan aktivitas?
Maka menggambarkannya dengan seekor kucing pemalas memang rasanya baik-baik saja. Imut dan cantik pada saat yang sama, membuat orang betah tinggal di rumah.
"Kamu tahu kalau rubah itu masih sepele, hati-hati kucing bukanlah makhluk yang murah hati. Jika kamu membuatnya kecewa, dia bisa saja beralih mencari majikan lain. Ngomong-ngomong jaga kucingmu baik-baik, karena akhir-akhir ini aku melihat seorang duda di komplek kita sering hilir mudik di depan rumah ini saat kucing mu tengah menyiangi rumput di halaman."
Umi dan Kenzie refleks memandangi bibi Arumi dengan pandangan bertanya.
"Sungguh?" Tanya Kenzie datar.
Bibi Arumi mengangguk bersungguh-sungguh.
"Aku tidak berbohong. Jika tebakanku tidak salah, mungkin dia tertarik dengan kucing mu. Jadi berhati-hatilah. Soalnya aku melihat duda ini juga keren. Dia seorang dosen di kampus tempat Sasa dan Mona belajar. Lumayan sih menurut bibi, meskipun duda dia masih muda dan memiliki karir yang bagus. Jarang-jarang loh ada duda sebagus ini." Bibi Arumi masih terus berbicara, entah disengaja atau tidak, dia membuat Kenzie ketakutan.
Kenzie menghirup nafas dingin.
"Apakah kucingku... Menyadari ada seseorang yang sering mengamatinya?"
Bibi Arumi mengangkat bahunya tidak tahu.
"Kenapa tidak bertanya langsung kepada kucingmu?"
__ADS_1
Kenzie tersenyum masam. Setelah kesalahan yang dilakukan kemarin, dia ragu apakah Azira masih mau berbicara lagi dengannya.
"Baiklah bibi, aku akan masuk dulu. Terima kasih atas informasi bibi hari ini. Jika bibi membutuhkan bibit tanaman buah-buahan bagus, bibi bisa mengambilnya di taman belakang. Kebetulan ada beberapa bibit yang belum sempat aku tanam karena terlalu sibuk di taman belakang, takutnya bibit itu jadi rusak kalau dibiarkan berlama-lama jadi kenapa bibi tidak mengambil beberapa untuk ditanam di rumah?" Kata Kenzie murah hati.
Bibi Arumi sangat senang mendengarkan penawaran Kenzie. Siapa yang tidak menginginkan bibir tanaman yang ada di tangan Kenzie?
Pasalnya semua tanaman yang Kenzie tanam adalah tumbuhan impor dan berkualitas tinggi. Terutama untuk buah-buahan, bibitnya pasti sangat bagus-bagus.
"Ah... Kebetulan sekali pamanmu akhir-akhir ini mau menanam sesuatu di halaman depan. Untungnya kamu mengingatkan jadi dia tidak akan bersusah payah mencari bibit bagus di luar."
Kenzie mengangguk mengerti,"bibi pilih saja di belakang. Kalau gitu aku kan masuk dulu."
Setelah berbasa-basi dengan bibi Arumi, dia langsung masuk ke dalam rumah.
Umi melihat punggung tegap putranya menjauh, setelah menghilang dari pandangan matanya, dia langsung bertanya kepada bibi Arumi.
"Apakah apa yang kamu bicarakan tadi benar?"
Bibi Arumi mengangguk serius,"Kakak harus melihatnya dari CCTV, duda itu sepertinya tertarik dengan Azira."
Umi mengambil nafas,"Huh, biarkan saja. Siapa suruh dia membuat sedih menantuku." Umi tidak perduli.
Sementara itu di dalam rumah Kenzie segera pergi mencari istrinya. Langkah kakinya begitu terburu-buru naik lantai ke lantai dua. Dia pikir kucingnya saat ini sedang bermalas-malasan di atas kasur. Tapi saat membuka pintu kamar, dia tidak menemukan siapapun. Kenzie merasa panik. Dia mencoba memanggil nama kekasihnya tapi tak kunjung ada respon. Bila di waktu biasanya dia pasti tidak akan panik. Tapi masalahnya mereka sedang bersitegang gara-gara Amara. Dan Kenzie takut istrinya nekat melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya.
"Azira?" Kenzie memanggil.
Di kamar mandi tidak ada siapapun. Dengan cemas dia berjalan ke balkon. Melihat ke bawah matanya langsung terpaku menatap tubuh kurus itu tertidur sambil duduk di bangku taman.
"Kamu membuatku ketakutan.." tersenyum tak berdaya, Kenzie buru-buru membawa langkah kakinya keluar dari kamar, namun baru saja membuka pintu, dia tiba-tiba berbalik mengambil selimut tipis dari dalam lemari.
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki beratnya bergema nyaring di dalam rumah. Perlahan menjadi ringan seiring jaraknya dengan Azira semakin dekat. Ketika menginjakkan kaki di taman belakang, semilir angin yang lembut dan menyejukkan segera menerpa wajah tampannya.
Ketika dia akhirnya sampai tepat di depan istrinya, Kenzie merendahkan tubuhnya menatap lembut pada sosok cantik istrinya yang selalu membayangi malam-malam tanpa tidurnya, dan menjadi wanita pertama yang membuatnya merasakan betapa sakitnya penyesalan itu.
"Sayang," Panggil Kenzie dengan suara yang begitu lembut.
Hampir terdengar seperti memohon.
Azira sama sekali tidak merespon. Tidurnya begitu lelap dan damai di sini. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan karena tidur di tempat seperti ini.
"Sayang," Panggil Kenzie lagi seraya mengangkat tangan besarnya menyentuh wajah pucat istrinya yang agak berdaging daripada sebelumnya.
Umi telah memberitahu kepadanya kalau nafsu makan Azira akhir-akhir ini berkurang. Dan kemarin dia juga melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri bagaimana Azira enggan memakan makanan lezat apapun yang ada di piringnya.
Logikanya kalau tidak mau makan Azira pasti kehilangan berat badan dan semakin kurus. Tapi faktanya yang terlihat justru Azira semakin.... Berlemak?
Jari jemari panjangnya mengusap lembut wajah cantik Azira, menyingkirkan beberapa helai bulu nakal yang keluar dari jilbab.
__ADS_1
"Hemh..." Azira melenguh tidak nyaman dalam tidurnya.
Kelopak matanya berkibar, menatap kosong pada wajah tampan suaminya yang kini tengah memandangnya dengan tatapan yang sangat lembut. Untuk sejenak Azira lupa bagaimana caranya berkedip. Ah, atau lebih tepat dia enggan mengedipkan mata karena takut wajah tampan ini tiba-tiba menghilang dari pandangannya.