
Mendengar apa yang dikatakan oleh Amara, dia berpura-pura cemberut dan memukul lengan suaminya manja. Tingkahnya yang manja membuat gigi Amara gatal mau memisahkan mereka berdua. Menurutnya Azira tidak tahu malu. Jelas-jelas dia adalah seorang pengganti, tapi bisa-bisanya bersikap manja kepada orang yang menganggap dirinya sebagai pengganti. Amara tidak tahu seberapa tebal muka yang dimiliki oleh Azira, wanita jelata yang bermimpi menjadi nyonya di dalam rumah orang kaya, cek...cek..
"Mas, dengerin tuh apa yang dibilang sama sahabat mas Kenzie. Masa iya aku dikira memaksanya untuk memakan masakan ku, padahal dia sendiri kan yang mau makan." Keluh Azira manja.
Kenzie sangat tidak berdaya. Dia ingin mencubit wajah menggemaskan istrinya, atau kalau bisa menyentuhnya di sana-sini untuk melampiaskan hatinya yang tergelitik, namun sayang seribu sayang saat ini mereka berada di tempat umum. Dia tidak mampu melampiaskan rasa gemas di dalam hatinya. Nah, bila mereka berada di rumah sekarang maka mungkin dia sudah bertindak. Hanya saja mereka berdua tertahan pulang ke rumah, dan itu semua karena wanita ini.
Kenzie menatap Amara tanpa emosi.
"Jangan bercanda, istriku tidak tahu kalau kamu alergi udang makanya dia mengizinkan kamu mencicipi masakannya. Dan kamu juga harus berpikir panjang sebelum memakan sesuatu. Itu adalah racun, berani-beraninya kamu memakan makanan yang beracun untuk tubuh kamu sendiri." Ucap Kenzie jelas tidak memihak Amara.
Bukannya memihak Amara, namun dia lebih memihak Azira dari nada suaranya. Sekilas kata-katanya menunjukkan bahwa dia menyalahkan semua yang terjadi beberapa waktu lalu kepada Amara. Entah itu tentang tuduhan dipaksa oleh Azira ataupun memakan makanan yang beracun untuk tubuhnya, Amara tidak bodoh.
Senyum manis di wajahnya membeku. Untuk sesaat dia tidak tahu bagaimana caranya mempertahankan senyum palsu. Sungguh sangat memalukan. Ternyata Kenzie telah melihat apa yang dia pikirkan. Tapi bukan itu fokusnya.
Poin yang dia fokuskan adalah Kenzie secara terang-terangan membela seseorang pengganti daripada dia, wanita yang tulus mencintainya.
Lucunya, Amara lupa atau mungkin berpura-pura lupa bahwa selama ini dia selalu menganggap Azira sebagai penggantinya.
"Mas... Aku nggak bercanda. Mas juga denger sendiri kan apa yang dibilang sama teman kita? Aku juga tahu makanan itu beracun untuk aku, memangnya aku mau makan makanan beracun kalau nggak dipaksa?" Amara marah dan secara terus terang menuduh Azira.
Dia berpura-pura terlihat emosi untuk menunjukkan bahwa dia benar-benar serius dan apa yang dia katakan bukanlah sebuah kebohongan.
Benar, aku punya banyak saksi untuk apa yang Azira lakukan hari itu. Harusnya mas Kenzie lebih mendengarkan ku daripada wanita pengganti itu. Batin Amara merasa di atas angin.
Dia yakin se yakin-yakinnya jika Kenzie akan lebih mendengarkan mereka yang telah bertahun-tahun bersamanya daripada wanita yang datang dari entah berantah.
"Sungguh? Kalau begitu bawa orang-orang yang bersaksi dengan kejadian hari itu. Amara, menurutku apa yang kamu katakan ini merupakan sebuah fitnah dan dapat merusak nama baik istriku. Bila niatmu hanya bermain-main maka hentikan, jangan bawa masalah ini ke mana-mana. Tapi jika kamu berniat serius maka aku bersedia memperjelas masalah ini di kantor polisi. Sebab aku sangat mengenal bagaimana istriku. Dia bukanlah orang yang seperti itu dan dia juga tidak akan membahayakan seseorang apalagi sampai ingin berniat membunuhnya. Pikirkan baik masalah ini, jika kamu sudah menentukan apa yang kamu pilih maka segera hubungi pengacaraku." Kenzie sama sekali tidak memberikan wajah kepada Amara.
Maafkan dirinya yang mengecewakan Amara, jika bukan karena niat buruk Amara, maka dia tidak akan tega membawa polisi ke dalam hubungan pertamanan mereka.
Ah... Sesungguhnya setelah pertikaian ini mereka tidak akan memiliki hubungan pertemanan lagi. Ini murni keputusan dari Kenzie sendiri. Mana mungkin dia mempertahankan hubungan pertemanan dengan seseorang yang berniat buruk dalam rumah tangganya. Mustahil, dia tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Bahkan bila dia harus kehilangan orang-orang yang pernah berteman dengannya, maka tidak apa-apa. Dia masih memiliki teman-teman yang lebih tulus dari mereka. Dan sejujurnya, kesaksian mereka yang mendukung Amara secara tidak langsung telah memusuhi istrinya, jika mereka memusuhi istrinya maka itu artinya mereka tidak mau memiliki hubungan apa-apa lagi dengannya. Jangan salahkan Kenzie berpikir seperti itu. Logika saja memangnya suami mana yang suka melihat istrinya difitnah dan dijelek-jelekkan oleh orang lain?
Tidak ada. Apalagi Kenzie sangat mencintai istrinya. Maka mana mungkin dia membiarkan orang-orang itu menyakiti istrinya, itu adalah hal yang sangat mustahil.
"Mas?" Kali ini Amara sepenuhnya kehilangan senyum.
Dia menatap Kenzie shock, sungguh tidak menyangka Kenzie akan mengatakan hal itu.
Kenzie diam tak berbicara sementara Azira hanya menatapnya dan dengan tatapan main-main. Oh, ini adalah sebuah ejekan. Amara mengepal tantangannya marah. Matanya mulai memerah merasakan sakit di dalam hati. Namun terlepas dari semua kemarahan dan kecemburuan yang dirasakan, dia harus tetap berpikir jernih. Dia tidak bisa kehilangan Kenzie, setelah bertahun-tahun mengejar Kenzie, dia tidak rela membiarkan Kenzie hidup bersama dengan makhluk lain.
"Aku... Tidak akan membawa masalah ini ke ranah hukum. Baiklah, sebaiknya masalah ini kita lupakan saja." Amara terlihat sedih.
Seolah keputusan ini sungguh berat baginya dan telah menyakiti dirinya.
Azira merasa matanya sakit melihat ini.
"Sejujurnya, aku telah mengikhlaskan masalah ini tanpa kamu katakan. Karena hubungan persahabatan kalian berdua, aku berpikir bahwa masalah ini tidak seharusnya dibawa serius karena aku tidak mau hubungan pertemanan kalian merenggang. Benar kan, mas?" Katanya sengaja menekankan kata 'pertemanan' di setiap kalimat.
Tentu saja dia melakukan ini agar Amara mengerti posisinya di sini. Hanyalah teman, tidak lebih.
__ADS_1
Kenzie mengusap puncak kepala istrinya sayang.
"Apapun yang kamu inginkan, aku akan menurutinya." Suara Kenzie melembut.
Berbanding terbalik ketika berbicara dengan Amara tadi. Dingin tanpa emosi, Amara merasakan kesedihan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Matanya yang merah memandang Azira. Bertanya-tanya di dalam hatinya di mana kualifikasi Azira sehingga dia dapat bersanding dengan laki-laki yang dia cintai?
Dari segi manapun, Azira adalah wanita yang rendah dan Amara sungguh meremehkannya.
Bersenang-senanglah, karena cepat atau lambat kamu akan tersingkir Azira. Batin Amara bersungguh-sungguh.
"Ah... Ngomong-ngomong kenapa mas Kenzie tidak pernah menjengukku di rumah sakit? Enggak... Maksudku mas Kenzie kan bekerja di sini, setidaknya mas Kenzie bisa datang ke ruang inap ku kapan saja."
"Aku sibuk di rumah menemani istriku yang sedang kurang enak badan. Karena tidak ingin terjadi apa-apa kepadanya, aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari sini. Dan hari ini kami datang ke sini untuk mengambil barang-barang ku di kantor. Maaf, awalnya aku berencana datang ke rumah sakit untuk menjenguk kamu bersama istriku, tapi kesehatan istriku tidak kunjung membaik jadi masalah ini akhirnya aku lupakan." Kenzie menjelaskan dengan murah hati.
Ini sangat memalukan. Berhari-hari dia menanti kedatangan Kenzie bahkan sampai mencarinya ke kantor namun selalu ditolak oleh sekretaris Kenzie, dia kira Kenzie memang sibuk bekerja di rumah sakit tapi setelah mendengar jawaban Kenzie sekarang ternyata dia sibuk mengurus Azira di rumah. Sungguh, ini adalah lelucon terburuk yang pernah didengar dalam hidupnya.
"Mas Kenzie berhenti bekerja di sini?" Tanya Amara shock.
Kenzie mengangguk ringan.
"Aku sudah berhenti. Ngomong-ngomong kami tidak punya banyak waktu di sini jadi kami harus segera pergi." Kata Kenzie sambil melirik waktu di jam tangan kirinya.
Bukannya dia benar-benar tidak memiliki waktu. Kenyataannya dia tidak ingin berbicara lagi dengan Amara. Bisa dibilang dia sudah muak, sungguh sangat muak. Siapa yang meminta Amara berani mengacaukan kehidupan rumah tangganya dengan Azira?
"Ah, ya silakan pergi. Kapan-kapan kita berbicara lagi setelah mas Kenzie memiliki waktu luang." Amara merasa enggan membiarkan Kenzie pergi.
Dasarnya mereka berdua tidak pernah bertemu lagi sejak kejadian itu. Amara merasa sulit mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Kenzie. Dan sekarang mereka akhirnya diberikan kesempatan untuk bertemu, mana mungkin dia bisa melepaskan kesempatan ini begitu saja. Hanya saja dia tidak bisa memaksakan diri apalagi mereka berdua tadi sempat bersitegang gara-gara Azira. Terpaksa, Amara mengalah untuk saat ini.
"Hum, kalau begitu kami pergi. Assalamualaikum."
Amara tersenyum pahit,"Waalaikumsalam."
Lalu dia melihat mereka berdua pergi dengan tatapan tak berdaya. Berjalan jauh, Amara memperhatikan bila Kenzie sesekali memandang Azira dengan tetapan yang sangat lembut dan berbicara dengan nada suara yang lembut pula. Perlakuan yang tidak pernah Amara rasakan ketika bersama Kenzie, dia cemburu sungguh sangat cemburu.
"Mas Kenzie berhenti bekerja di sini? Mungkinkah dia melamar pekerjaan di rumah sakit lain? Aku akan mencari tahunya nanti." Gumamnya sambil melirik punggung tegap itu menjauh dari pandangannya.
Sebelum bayangan pasangan suami istri itu menghilang dari matanya, dia melirik punggung Azira dengan tatapan penuh kebencian.
"Bagaimana reaksi kamu nanti ketika kamu tahu bila mas Kenzie bekerja sebagai seorang dokter adalah karena aku? Apa yang akan kamu lakukan ketika tahu jika mas Kenzie menjadi dokter demi aku? Apakah kamu akan merasa kecewa atau cemburu? Azira, kamu pasti akan menangis. Karena ternyata bagi mas Kenzie kamu tidak sepenting aku."
Dan satu-satunya kepercayaan Amara bisa bertahan hingga titik ini adalah karena hutang balas budi. Amara yakin karena Kenzie rela menjadi dokter demi memenuhi harapannya, maka posisinya di dalam hati Kenzie cukup penting sampai-sampai mempengaruhi masa depannya.
"Lihat, saja." Katanya tak sabar.
Dia lalu melanjutkan langkahnya berjalan menjauh ke arah yang berlawanan dari Kenzie dan Azira.
Sementara Amara tenggelam dalam rasa kecewa dan kecemburuannya, pasangan suami istri itu justru memiliki emosi yang sangat baik. Terutama Azira. Setelah berbicara dengan Amara, bibirnya tidak pernah berhenti menarik sebuah garis senyuman. Sekilas orang pun tahu kalau dia sangat bahagia saat ini. Alasannya?
__ADS_1
"Mas, teman mas Kenzie lucu juga, ya. Aku kira setelah dia bersi keras menyalahkan aku, dia tidak mau berbicara lagi dengan mas Kenzie. Ah, tapi ternyata tebakanku salah, dia orangnya memang ramah, ya?" Ucap Azira sinis.
Kenzie terkekeh.
"Dia bukan lagi temanku, sayang." Kata Kenzie menjelaskan.
Azira sudah tahu tapi dia suka saja menggoda suaminya.
"Loh kok mas gitu sih, tadi siapa yang bilang kalau hubungan pertemanan kalian tidak akan merenggang gara-gara masalah ini?" Azira berpura-pura bingung.
Kenzie tidak tahan lagi. Tanpa mengatakan apa-apa pada istrinya, dia merendahkan kepalanya dan pada saat yang sama tangan kirinya menarik dagu Azira ke atas, lalu,
Cup
Kenzie mengecup bibir ranum Azira. Lembut, kenyal dan memiliki sentuhan rasa manis, giginya yang gatal tak tahan godaan dan memanfaatkan kesempatan untuk mengambil gigitan kecil.
"Ugh..mas Kenzie!" Azira segera menjauh.
Dengan panik dia melihat sekelilingnya. Ternyata beberapa orang tengah memperhatikan interaksi mereka berdua dan secara alami telah menangkap adegan ini, Azira sangat malu.
Wajahnya langsung memerah seperti kepiting rebus saking malunya.
"Kamu nggak usah malu, kita kan sudah halal." Kata Kenzie acuh tak acuh.
Azira gemas. Selalu saja alasan yang sama. Apakah suaminya ini terbuat dari batu sehingga tidak mengenal kata malu di wajahnya?
Ah, dia kesal tapi senang juga?!
Ini menyebalkan.
"Mas, ini sangat memalukan. Bagaimana bila orang-orang ini bergosip tentang mas Kenzie?" Tanya Azira sambil meremas lengan kuat suaminya.
Kenzie tidak suka dicubit tapi suka diremas. Betapa kuat tangan Azira meremasnya, dia tidak akan merasa sakit malah berpikir bila Azira sedang memberikan pijatan gratis kepadanya.
"Tidak apa-apa, kalau mereka membicarakan kita itu artinya Allah sedang memberikan kita pahala gratis. Nikmati saja, dikasih gratisan kok. Kamu enggak suka ya gratisan?" Biasanya para wanita yang paling suka hal-hal berbau gratis dan diskon.
Mulut Azira berkedut tertahan. Untuk sesaat dia tidak tahu harus berkata apa sebab retorika suaminya benar-benar diluar dugaannya. Ah, meskipun apa yang dikatakan oleh suaminya masuk akal tapi...tapi, ah, sudahlah. Dia tidak akan memikirkannya lagi.
"Suka." Kata Azira tersedak.
Kenzie tersenyum puas.
"Kalau suka tinggal dinikmati aja." Kata Kenzie enteng.
Azira kali ini dengan patuh menerima begitu saja. Memikirkan tentang masalah ini, dia tiba-tiba teringat dengan kehidupan Ibu di masa lalu. Berapa banyak orang yang menggosipkan Ibu hingga air liur mereka mengering, Azira tidak tahu seberapa banyak kebaikan yang diterima Ibunya di akhirat nanti. Mungkinkah Allah sengaja membiarkan orang-orang itu membicarakan Ibu hingga mulut berbusa untuk meringankan dosa-dosa yang telah Ibu lakukan?
Azira berharap bahwa apa yang dia pikirkan benar. Dia sungguh sangat berharap bahwa Allah subhanahu wa ta'ala memberikan keringanan untuk Ibu. Azira juga tahu sekalipun Ibu melakukannya dengan terpaksa, alasan ini tidak akan pernah bisa membebaskan Ibu dari semua dosa-dosanya. Kecuali ampunan dari Allah, kecuali ampunan dari Allah, pikir Azira.
"Mas, walaupun aku marah melihat Amara melakukan hal buruk demi mengejar mas Kenzie, tapi aku nggak mau mas Kenzie kehilangan teman. Apalagi mereka adalah teman-teman semasa mas Kenzie SMA, sudah pasti kalian telah menciptakan banyak kenang-kenangan selama berteman." Azira menggelengkan kepalanya menyampingkan masalah ini dan kembali fokus dengan topik pembicaraan sebelumnya.
__ADS_1