
"Kakak, apa yang kalian berdua bicarakan?" Bibi Indring masuk ke dalam ruang tengah dengan segelas jus apel di tangan kanannya.
Lalu dia duduk di salah satu sofa dengan santai. Sepertinya masalah yang ditinggalkan oleh Frida di rumah ini tidak berarti apa-apa untuknya.
"Kami sedang membicarakan rumah." Jawab Umi enggan.
Bibi Indring adalah adik iparnya dan kesannya kepada bibi Indring bisa-bisa saja, dulu. Namun hari ini setiap kali dia melihat bibi Indring, dia langsung kesal karena bibi Indring adalah Mamanya Frida.
Dan terlepas dari karakter Frida yang buruk, pasti itu berhubungan dengan orang tuanya. Entah karena orang tuanya juga memiliki karakter yang buruk atau karena orang tuanya lalai dalam membesarkan anaknya.
"Kakak.." Bibi Indring menatap Umi dan Abah tidak nyaman.
Ketika mengingat kelakuan putrinya yang ceroboh, dia merasa sangat malu.
"Mengenai putriku yang ceroboh, tolong jangan diambil hati. Aku sudah berbicara dengannya tadi dan dia mengakui bahwa dia sangat menyesal. Berkali-kali dia menjelaskan kepadaku bahwa dia tidak bermaksud seperti itu. Sejujurnya, jika Azira tidak mengatakan kata-kata yang tidak enak kepadanya duluan, maka dia tidak akan membalas dengan kata-kata kasar."
Umi mengernyit,"Maksud kamu apa?" Umi menahan amarah di dalam hatinya.
Bibi Indring ragu mengatakannya. Soalnya dia belakangan datang ke taman. Dia takut kalau Umi sudah lama di sana dan mendengar semua pembicaraan. Tapi Frida mengatakan kalau hanya mereka berdua saja di taman pada saat itu. Artinya Umi datang belakangan dan tidak mendengar semua percakapan. Tapi meskipun begitu bibi Indring masih ragu. Dia tidak mau mengatakannya, namun Frida pasti marah kalau dia tidak berbicara.
"Begini kakak. Sebenarnya Frida ingin mengobrol baik bersama Azira. Maksudnya adalah dia ingin menjalin hubungan persahabatan di antara dua keluarga dan ingin mengenal lebih jauh lagi Azira. Tapi yang dia tidak sangka adalah respon Azira sangat agresif. Azira menganggap kalau putriku memiliki tujuan tertentu kepada suaminya. Dia pikir Frida dan Kenzie punya hubungan ambiguitas, makanya saat berbicara dengan Frida dia membalas dengan kata-kata tak bersahabat. Putriku juga masih labil, dia mudah terpancing emosi. Dirinya dituduh memiliki hal yang tidak-tidak bersama Kenzie, bagaimana mungkin dia tidak marah, kakak? Memang benar bahwa putriku pernah menggunakan nama Kenzie, tapi putriku sudah menjelaskan bahwa itu adalah sebuah kesalahpahaman. Lagi pula masalah ini sudah berlalu, sudah lama dilupakan oleh putriku. Namun gara-gara Azira mengungkit kedekatannya dengan Kenzie, jelas putriku tidak bisa menerimanya. Dia marah dan kebablasan mengucapkan kata-kata kasar itu. Kakak, inilah kebenaran yang sebenarnya. Putriku tidak bisa menjelaskannya karena kakak terlanjur marah dan tidak memberikannya kesempatan untuk berbicara. Selain itu dia juga takut dengan Azira, makanya dia terus menangis. Lihat saja sampai sekarang. Mata putriku bengkak karena terlalu banyak menangis. Dia dianiaya dan disalahkan atas masalah ini. Kakak, tolong pikirkan baik-baik bahwa putriku memang tidak seperti itu. Kakak juga tahu sendiri kan seperti apa karakter putriku itu." Bibi Indring berbicara panjang lebar, mengatakan ini dan itu seolah-olah apa yang dikatakan memang benar adanya.
Bila Umi tidak melihat kejadian itu dan mendengarnya secara langsung maka mungkin dia akan mempercayai apa yang dikatakan oleh adik iparnya ini. Tapi sayang seribu sayang, dia berada di tempat langsung jauh lebih dulu daripada kedatangan Frida. Sebenarnya saat itu dia sedang membersihkan tanaman pot di samping taman sedangkan Azira tengah mencabut rumput di ujung taman.
Azra tidak tahu bahwa dia juga ada di sana karena selain itu jarak mereka juga cukup jauh.
Umi melihat dari awal Frida datang ke sana sampai mereka mengobrol, dia melihat semuanya.
"Apakah ini yang dikatakan oleh Frida kepada kamu?" Tanya Umi berubah menjadi serius.
__ADS_1
Sikap serius Umi membuat bibi Indring merasa tidak nyaman. Apakah keengganannya tadi merupakan pertanda sebuah firasat buruk?
Meneguk ludahnya kasar,"Benar, kakak. Inilah yang dikatakan oleh putriku. Aku... Aku juga datang terlambat seperti kakak." Kata bibi Indring lembut.
Bibi Indring sepenuhnya tidak yakin dengan tebakan samar di dalam hatinya. Tapi semuanya sudah terlanjur dikatakan, maka pertahankan saja.
"Sungguh?" Abah menegakkan duduknya.
Melihat ekspresi serius istrinya, pasti ada sesuatu.
Bibi Indring menganggukkan kepalanya meyakinkan.
Tapi Umi mendengus dingin. Jantung bibi Indring langsung berdegup kencang.
"Indring, aku sudah berbaik hati memberikannya kesempatan untuk meminta maaf kepada Azira. Selama dia meminta maaf kepada Azira dan jika Azira menerima permintaan maafnya, maka kami bisa memaafkannya. Tidak hanya memaafkannya saja, tapi kami juga bersedia membiarkannya tinggal di rumah ini karena dia juga keluarga kami, putrimu Indring. Tapi demi Allah, aku tidak pernah merasa semarah ini. Dia tidak hanya tidak mengambil inisiatif untuk berbicara dengan menantuku, tidak datang untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan, tapi malah berbohong. Beraninya dia mengarang cerita di saat aku ada di taman jauh sebelum dia datang ke sana menemui Azira!"
Bagai disambar petir, bibi Indring tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ternyata benar apa yang diragukan selama ini. Pantas saja dia enggan tapi bodohnya masih mengatakan apa yang dikatakan oleh putrinya. Rencana ini sia-sia.
Umi tidak hanya mendengar tapi juga ada di tempat jauh sebelum putrinya datang menghampiri Azira.
Berpikir, ayo berpikir. Kepalanya panik memikirkan apa yang harus dia katakan sekarang.
Karena terlalu panik dan takut, jus apel yang tadinya sangat menarik selera kini tidak berarti apa-apa.
Dia menatap Umi yang memiliki wajah dingin lalu berpaling menatap Abah, yang memiliki ekspresi bermartabat di wajahnya.
Abah tidak berniat mengganggu pembicaraan mereka. Dia dengan patuh diam menyimak. Sesungguhnya dia lega karena Azira lepas dari tuduhan. Untung saja istrinya ada di tempat. Kalau tidak, mungkin kehidupan Azira di rumah ini kembali diterpa masalah.
"Bukankah... Bukankah kakak ada di dapur pada waktu itu?"
__ADS_1
"Jadi maksudmu aku berbohong?" Tanya Umi culas.
"Tidak, tidak, tidak, tidak! Bagaimana mungkin kakak berbohong. Aku... Aku kira kakak sedang berada di dapur pada saat itu dan datang ke taman... Belakangan.." Bantahnya cepat.
Punggungnya mulai berkeringat dingin. Sikap dan pesona anggun yang selalu ditunjukkan selama ini seketika sirna di bawah mata tajam Umi.
"Aku bilang bahwa aku ada di sana dan aku mendengar semua pembicaraan mereka berdua. Dari awal menantuku sudah berusaha untuk menunjukkan kesopanan kepadanya, tapi dia dengan beraninya mempertanyakan rumah tangga menantuku dan bahkan merendahkan posisinya di rumah ini. Indring, kali ini putrimu sudah keterlaluan. Dia mengarang cerita, memfitnah menantuku sendiri di dalam rumahku sendiri. Apakah dia kira bahwa tidak ada yang melihat ataupun mendengar apa yang dia katakan? Salah, salah besar. Sebelumnya aku masih bisa menoleransinya, dalam artian aku memberikannya kesempatan untuk meminta maaf kepada menantuku. Tapi hingga detik ini dia tidak kunjung datang mengambil inisiatif dan malah mengarang cerita. Bukankah apa yang dilakukan oleh putrimu sudah keterlaluan? Selain itu, apa maksud dari ceritanya ini? Apakah dia ingin merusak hubungan kami, antara menantu dan mertua? Ataukah dia ingin merusak hubungan rumah tangga putraku? Tolong jelaskan, mengapa dia begitu berani membuat cerita omong kosong ini? Ya Allah, jika dia bukan keluargaku sendiri, percayalah, aku pasti sudah menyeretnya pergi dari rumah ini di detik ini juga. Sekarang, sebagai seorang Ibu, pikirkan apa yang harus kamu lakukan untuk putrimu. Apakah kamu sendiri yang mengambil inisiatif membawa putrimu pergi dari rumah ini atau aku sendiri yang mengirim putrimu pergi. Pilih!" Tekan Umi tidak akan memberikan kesempatan lagi kepada Frida.
Kecewa sungguh dia sangat kecewa. Keponakannya sendiri berani melakukan ini di dalam rumahnya, jika dia membiarkan masalah ini berlalu, maka Frida akan mengulangi masalah yang lebih besar dan yang paling buruk akan merusak kedamaian di rumah ini. Dia tidak tahan membicarakan sumber masalah tinggal di rumahnya.
"Kakak... Tunggu, kakak. Jangan terlalu impulsif. Pikirkan baik-baik dan berikanlah putriku kesempatan. Seperti yang kakak katakan tadi, kita adalah keluarga. Putriku juga putri kakak dan menantu kakak juga menantuku. Tolong kasihani putriku, maafkan apu yang telah dilakukan. Aku tahu kakak sangat marah dengan apa yang dilakukan putriku, sama seperti kakak, aku pun juga malu. Aku adalah ibunya tapi tak bisa melihat kesalahan yang dia lakukan. Bila aku tahu dia mengarang cerita untuk menjatuhkan Azira, aku pasti tidak akan mengatakan ini kepada kakak. Jangankan membelanya, aku pasti akan memukulnya hingga dia menangis dan menyesali semua perbuatannya. Dia salah dalam hal ini dan aku tidak akan membenarkannya lagi. Tapi kakak coba pikirkan baik-baik kenapa putriku bisa lepas kendali dan mengatakan hal-hal kasar kepada Azira? Dia... Dia sama seperti kita semua, dia kecewa dengan apa yang Azira lakukan kepada keluarga kita. Tapi cerobohnya dia melampiaskan kemarahannya dengan berkata-kata kasar kepada Azira dan bahkan merendahkannya. Namun dibalik itu semua dia melakukannya demi Kenzie, demi keluarga kita. Kalian mungkin bisa menerimanya dengan lapang dada, tapi kerabat yang lain mungkin tidak bisa. Rasanya sangat mustahil. Jadi kakak, tolong maklumi lah hati putriku. Sesungguhnya dia melakukannya murni karena terlalu emosional." Bibi Indring buru-buru memohon kepada Umi agar putrinya sekali lagi diberikan kesempatan.
Jika keluar dari rumah ini secara hormat dan baik-baik saja tanpa ada masalah, maka mereka bisa berkunjung lagi di masa depan. Tapi jika diusir, ceritanya akan berbeda. Putrinya tidak akan memiliki kesempatan lagi datang ke rumah ini. Padahal perasaan putrinya kepada Kenzie amatlah sangat dalam. Putrinya mungkin akan sangat patah hati bila tak bisa bertemu lagi dengan Kenzie.
Selain itu rumah ini merupakan koneksi terbaik putrinya. Dengan dalih mengunjungi keluarga, putrinya dapat melakukan pendekatan kepada Kenzie. Ini jauh lebih mudah daripada menunggu Kenzie di luar rumah. Bukannya dia tidak bisa menemukan Kenzie, tidak, dia tahu betul di mana tempat Kenzie bekerja. Hanya saja karena identitasnya sebagai dokter yang sangat sibuk tidak memberikan berita kesempatan untuk mendapatkan peluang. Ini sangat menyiksa batin putrinya.
"Dan masalah meminta maaf kepada Azira. Aku akan memaksanya. Jika dia tidak mau, maka aku akan memukulnya. Pokoknya aku akan terus memukul Frida sampai dia mau meminta maaf kepada Azira. Jadi tolong, kak. Jangan usir putriku dari rumah ini. Kakak adalah keluarganya. Jika kakak mengusirnya maka, dia tidak akan berani bertemu dengan anggota keluarga yang lain. Dia pasti sangat malu dan tidak memiliki kepercayaan diri." Bibi Indring berusaha melobi Umi agar memberikan kesempatan kepada Frida.
Frida sudah menahan diri selama satu tahun ini gara-gara hubungan Kenzie dan Humairah. Putriku pikir dia tidak memiliki kesempatan lagi untuk berhubungan dengan Kenzie karena keberadaan Humairah. Tapi sekarang Allah memberikan putriku kesempatan. Allah batalkan pernikahan antara Kenzie dan Humairah, namun Dia datangkan wanita liar ke dalam kehidupan Kenzie. Dengan wanita liar ini, bagaimana mungkin keponakanku bisa hidup? Bagaimana mungkin rumah tangga keponakanku bertahan lama? Pada awalnya sudah goyah, maka goyahkan saja terus. Inilah alasan kenapa aku membawa Frida ke rumah ini. Aku tak percaya pesona putriku tak mampu menggoyahkan Kenzie, karena sejujurnya putriku tidak kalah cantik dengan Azira. Dan yang paling penting adalah identitas putriku jelas sedangkan wanita liar itu datang dari entah berantah. Jelas menikahi putriku lebih unggul daripada menikahi wanita liar itu. Lihat saja nanti, pernikahan mereka tidak akan bertahan lama dan pada hari itu terjadi, orang yang tidur di sebelah bantal Kenzie bukan lagi wanita liar itu, tapi putriku, Frida. Batin bibi Indring ambisius di dalam hatinya.
Dia selalu seperti ini, menganggap bahwa putrinya adalah yang terbaik dan berpikir bahwa putrinya adalah satu-satunya wanita yang dapat bersanding dengan Kenzie. Dulu dia pernah menawarkan perjodohan di antara Kenzie dan Frida dengan alasan mereka cocok juga dapat mempererat hubungan di antara dua keluarga. Tapi langsung ditolak oleh Abah. Abah bilang telah menyiapkan calon istri untuk anaknya itu. Jadi meskipun tidak puas pada saat itu, bibi Indring tidak mengajukan perjodohan lagi tapi diam-diam mendukung putrinya merebut hati Kenzie.
"Aku menghargai perasaan putrimu kepada keluarga kami, tapi bukan berarti aku membenarkan apa yang telah dia lakukan kepada menantu. Selain itu meskipun dia keponakanku itu bukan berarti dia dapat mencampuri urusan rumah tangga keluargaku. Dia tidak bisa dan tidak memiliki hak untuk berbicara apalagi menilai menantuku. Maaf Indring, aku sudah terlanjur marah dan kecewa kepada Frida. Aku ingin memaafkan, tapi kekecewaan di dalam hatiku seolah menolaknya. Jadi segera buat pilihan. Aku tidak ingin membuat masalah di dalam rumah tangga putraku." Umi sama sekali tidak goyah dengan permainan emosi yang dilakukan oleh bibi Indring.
Apa dia pikir dengan mengungkit hubungan kekeluargaan dapat memadamkan amarah dan kecewanya?
Tidak, jawabannya jelas tidak. Bukannya memadamkan perasaan amarah dan kecewanya, tapi mengungkit masalah kekerabatan justru semakin membuatnya tak puas.
Karena hei, celaan yang dikatakan oleh orang asing memang sakit tapi masih bisa dilupakan dibandingkan celaan yang dikatakan oleh keluarga sendiri, rasanya luka itu akan tetap hidup.
__ADS_1
"Kakak..." Bibi Indring ingin mengatakan sesuatu tapi suara Abah mendahuluinya.