
"Okay, tenang. Aku di sini." Kenzie melihat ketakutan istrinya dan segera menghibur.
Tingkah manis mereka berdua semakin membutakan mata Humairah!
Mendengar suara penghiburan dari suaminya, Azira akhirnya merasa sedikit lebih tenang. Tidak apa-apa pikirnya di sini masih ada Kenzie dan keluarganya akan selalu melindunginya. Mereka tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitinya lagi. Mereka tidak akan pernah membiarkan orang-orang jahat ini membuatnya menangis lagi. Tidak akan pernah.
"Hem." Bisik Azira nyaman.
"Aku sedang berbicara dengan mas Kenzie!" Teriak Humairah nyaring.
Gara-gara teriakannya sekarang perhatian semua orang tertuju kepada mereka. Orang-orang yang tadinya sibuk makan, ngobrol ataupun melakukan sibuk berkumpul kini teralihkan oleh teriakan nyaring Humairah. Melihat sikap Humairah dan kata-kata yang terlontar dari mulutnya, muncul bisikan-bisikan di antara kerumunan. Bagi yang tidak tahu mereka bertanya-tanya apa yang sedang terjadi?
Dan bagi mereka yang sudah mengetahui gosip dulu, diam-diam menantikan kehebohan apa yang akan terjadi di sini. Memangnya siapa yang tidak suka bergosip apalagi membicarakan masalah orang-orang besar?
"Apakah kamu masih perlu berteriak? Tidakkah kamu melihat istriku sedang hamil? Kamu membuatnya takut." Tegur Kenzie dengan suara dalam nan serius.
Kemunculan Humairah tiba-tiba menakuti Azira. Kenzie sempat panik takut terjadi apa-apa kepada istrinya. Apalagi masa-masa hamil ini adalah masa yang paling sensitif bagi Azira.
Humairah menangis sedih melihat Kenzie lebih perhatian kepada Azira daripada kepadanya. Dia merasa telah dianiaya.
"Humairah, ayo duduk dulu, Nak. Kita bisa membicarakan semuanya baik-baik. Tak perlu berteriak-teriak." Kata ayah menghibur putrinya.
Ayah juga ketakutan melihat kemunculan Humairah yang tiba-tiba. Takut jika Humairah nekat melakukan sesuatu kepada Azira.
Humairah menggelengkan kepalanya kuat-kuat tidak mau mendengarkan. Dia tidak mau!
"Nggak, aku mau ngomong sama mas Kenzie! Aku nggak percaya dengan apa yang mereka katakan tadi!" Tolaknya tidak mau mendengarkan.
Umi menahan nafas.
"Seharusnya aku tidak usah mengundang kalian datang ke sini. Kalian membuat acara kami kacau. Bawa dia pergi. Jangan sampai dia membuat masalah di rumahku." Usir Umi tidak mau memberikan Humairah panggung untuk berbicara.
Jika Humairah berteriak-teriak membuat masalah dan ditonton oleh banyak orang, maka masalah ini tidak akan pernah selesai. Hubungan keluarga akan terus-menerus terjebak dalam suasana tegang. Bahkan Umi ragu apakah mereka bisa baik-baik saja di masa depan nanti.
"Benar, om, tante. Lebih baik kalian bahwa putri kalian pergi dari sini. Jangan biarkan dia membuat masalah." Orang-orang dari pihak keluarga Umi mulai berbicara.
Melihat tangisan pilu Humairah, sesedih apapun itu akan terdengar memuakkan di telinga mereka. Mereka sudah tahu seluk beluknya, dan mereka sudah tidak memiliki simpati lagi kepada Humairah sedekat apapun mereka dulu.
"Enggak, aku enggak mau pergi! Aku ingin berbicara dengan mas Kenzie!" Teriak Humairah tidak mau mendengarkan kata-kata siapapun.
Semakin orang-orang itu memintanya untuk segera pergi dari rumah ini, maka akan semakin histeris dia. Dan keributan yang dia buat tidak kecil. Hampir semua kami tertuju kepadanya. Ada menganggap dia berlebihan ada pula yang menganggap dia gila, namun sebagian besar dari mereka yang tidak tahu kebenarannya agak bersimpati dengan tangisan Humairah. Menebak-nebak mungkinkah Humairah memiliki suatu hubungan terlarang dengan Kenzie.
"Kak Humairah! Jangan berteriak-teriak di sini! Kakak nggak lihat apa sekarang lagi ada acara? Lagian, apakah kakak nggak mau dilihat sama banyak orang?" Sasa membentak Humairah dengan nada tak senang.
Tadi dia sedang mengobrol dengan Mona bersama dengan teman-teman yang lain. Awalnya semua baik-baik saja. Tapi tiba-tiba obrolan mereka terganggu oleh teriakan nyaring Humairah. Dia dan Mona sangat penasaran, apa yang sedang terjadi di sini?
Buru-buru mereka pergi ke arah sumber suara, dan betapa terkejutnya mereka bahwa orang yang berteriak adil adalah Humairah, rasa penasaran di dalam hati mereka langsung berubah menjadi kemarahan!
"Iya, Kak Azira juga sedang hamil. Tolong jangan berteriak di sini, kasihan, kak Azira pasti terpengaruh sama teriakan kakak." Kata Mona ikut berbicara.
__ADS_1
Kehadiran Humairah saja sudah mengguncang Azira, apalagi tangisan dan teriakan nyaringnya, efeknya pasti sangat buruk untuk Azira.
Mendengar suara-suara orang itu yang menginginkan Humairah segera kira keluar dari rumah ini membuat mama dan ayah sangat malu. Belum lagi mendapatkan tatapan mencemooh dari orang-orang yang mereka kenal, rasa-rasanya mereka ingin menggali lubang untuk bersembunyi dari mereka. Sebab ini sangat memalukan.
"Humairah, jangan menangis lagi. Ayo pulang ke rumah." Mama membujuk Humairah.
Biasanya Humairah akan menurut mendengar bujukannya. Tapi hari ini apa yang dia katakan sama sekali tidak mempan untuk Humairah. Dia menangis semakin keras sambil menggelengkan kepalanya menolak pergi.
"Aku ingin berbicara dengan mas Kenzie! Tidak bisakah kalian semua membiarkan aku berbicara dengan kekasih hatiku! Kenapa kalian semua melarang ku dan mencoba membuatku pergi dari tempat ini! Padahal aku hanya ingin berbicara dengan mas Kenzie saja!" Kata Humairah tidak habis pikir.
Mata basahnya memandangi orang-orang yang sempat memintanya pergi tadi. Entah itu tatapan cibiran atau cemoohan yang dia dapatkan dari orang-orang di sekelilingnya, Humairah sudah tidak perduli lagi. Baginya yang terpenting sekarang adalah menegaskan kepada Kenzie bagaimana perasaannya. Dia sama sekali tidak percaya bila Kenzie tidak memiliki perasaan apapun kepadanya. Dia sama sekali tidak percaya posisinya dikalahkan oleh Azira, benih liar yang tumbuh besar di tempat kumuh dan menjijikkan.
"Biarkan aku berbicara dengan orang yang aku cintai... Aku hanya ingin berbicara dengan mas Kenzie!" Humairah memohon kepada Umi.
Namun Umi tetap memiliki wajah datar. Dia tidak goyah dengan permohonan Humairah. Bukannya merasa bersimpati, Umi malah merasa sangat marah. Dia sangat menyesal mengundang orang-orang ini datang ke rumah jika dia tahu pada akhirnya orang-orang ini tidak akan takut membuat masalah di sini.
"Biarkan dia berbicara dengan Kenzie. Mungkin saja setelah ini dia akan berhenti." Tiba-tiba suara berat Abah menarik perhatian mereka.
Abah awalnya tidak tahu tentang keributan ini. Untungnya ada seseorang yang memanggilnya, sehingga dia buru-buru datang ke sini dan tepat sekali mendengar permohonan Humairah. Dia melihat bahwa Humairah tidak bisa dibujuk saat ini, jika mereka memaksanya untuk pergi, maka takutnya Humairah akan membuat masalah yang lebih besar lagi di luar. Jadi dia memutuskan untuk membiarkan pemelihara berbicara di sini.
"Abah!" Umi kesal.
Kenzie tidak mengatakan apa-apa kepada Abah, tapi dari sorot matanya dia jelas tidak setuju dengan apa yang Abah katakan.
"Biarkan saja." Kata Abah menegaskan.
"Tidak apa-apa, mas. Dengarkan saja apa yang Abah bilang." Kata Azira kepada suaminya.
Kenzie sebenarnya tidak mau, tapi tidak berdaya melawan perintah Abah. Sejujurnya dia sudah sangat muak berurusan dengan Humairah. Telah berkali-kali dia menjelaskan kepada Humairah bahwa dia tidak pernah mencintainya, tapi wanita ini tetap memilih tak percaya dan bersikeras bahwa Kenzie menyukainya. Logika macam apa ini?
Mengapa Humairah selalu mengambil sikap seolah-olah dunia selalu berputar di sekelilingnya?
Ini sama sekali tidak masuk di akal!
"Aku benar-benar tidak mau, istriku. Aku hanya menginginkan kamu saja." Ucap Kenzie tidak berdaya.
Azira pun sama tidak berdayanya. Mereka selalu berusaha untuk menghindari masalah, tapi entah kenapa masalah selalu suka menghampiri mereka.
"Baiklah bicara sekarang. Aku akan memberikanmu waktu. Bila kamu sudah mendapatkan jawabannya, puas atau tidak puas, kamu harus segera pergi dari rumah kami." Umi langsung membuat aturan.
Dia sebenarnya sangat marah sekarang. Tapi karena suaminya sudah membuka suara maka, dia tidak bisa menampik apa yang suaminya katakan di depan banyak orang.
Melihat ada Abah di sini. Ayah benar-benar tidak berani mengangkat kepalanya lagi. Diam-diam di dalam hati dia memarahi putrinya yang bertingkah. Padahal di rumah dia sudah mengingatkan berkali-kali kepada Humairah agar jangan membuat tindakan apapun selama berada di rumah ini. Tapi nyatanya semua yang dia katakan hanya dianggap angin lalu saja oleh Humairah. Untuk sejenak, ayah merasa bila putrinya ini tidak terlalu patuh. Putrinya tidak sepatuh Azira.
Benar, dulu saat dia membawa Azira pulang ke rumah anak itu tidak pernah bertingkah terlalu banyak. Dia jarang makan di meja makan, sarapan di dalam kamar saja, dan selalu berusaha menghindari orang-orang rumah. Azira tidak senakal yang dia pikirkan. Benar, Ayah merenungkannya beberapa saat, bila Azira memang seburuk itu karena pergaulannya di tempat kumuh, lalu kenapa Abah ataupun Umi sangat mencintai aku Azira?
Ayah sudah berulang kali mendengar Abah ataupun Umi mengatakan kalau Azira adalah putri mereka. Sungguh, mereka berdua memperlakukan Azira sangat baik, dan Kenzie pun terlalu memanjakannya di rumah. Jika Azira adalah wanita yang buruk, lalu kenapa Kenzie mencintainya begitu besar terlepas dari latar belakang kehidupan yang tidak baik?
Sementara Humairah yang telah mendapatkan pendidikan tinggi dan dididik dengan baik telah berulang kali Kenzie tolak mentah-muntah. Mungkinkah selama ini dia telah salah paham kepada putrinya, Azira Humaira?
__ADS_1
Ayah tidak tahu. Dan dia sangat bingung saat ini.
"Kami berdua berhasil mempermalukan ku hari ini." Kata Ayah kepada Mama.
Ayah tidak lagi berusaha membujuk Humairah. Dia mundur beberapa langkah ke belakang memutuskan untuk menonton apa yang akan dikatakan putrinya.
Mama tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh ayah. Tidak hanya ayah yang malu tapi dia juga. Namun semuanya sudah terlanjur sekarang jadi dia harus mengeraskan hati berdiri di pihak Humairah.
"Semuanya silakan duduk." Abah mempersilahkan semua orang untuk duduk di sofa.
Dia juga tidak mempermasalahkan para tamu yang sedang menonton di sekeliling. Bagaimanapun juga masalah ini akan banyak menyebar. Jadi sebaiknya ditonton secara langsung agar tidak menimbulkan rumor yang campur aduk.
Kenzie dan Azira tetap duduk di tempatnya. Umi juga kembali duduk di tempatnya tadi. Sasa dan Mona masing-masing mengambil sisi di sofa lain, sementara keluarga yang lain ada yang kedapatan duduk dan ada pula yang hanya bisa berdiri.
Semua orang mengambil posisi masing-masing.
Sementara itu Ayah, bibi Safa, Mama dan Humairah duduk di satu sofa. Setelah diizinkan berbicara oleh Abah dan Umi, Humairah tidak berteriak-teriak lagi dan tangisannya pun tidak terlalu keras. Dia sudah jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
"Bolehkah aku berbicara sekarang?" Humairah bertanya dengan hati-hati kepada Abah.
Dia agak takut melihat Abah. Padahal di antara semua orang Abah adalah satu-satunya orang yang paling lembut di sini. Tapi entah kenapa Abah memberi kesan kepadanya bahwa dia adalah orang yang paling sulit dihadapi.
"Bicara saja. Waktu kamu tidak banyak." Kata Abah mempersilakan.
Humairah mengepalkan tangan kirinya, sedangkan tangan yang lain memegang erat tangan mama untuk menguatkan dirinya. Aneh, semenjak berdiri di depan Abah, Bibi Safa tidak pernah berbicara lagi kepadanya. Humairah bingung kenapa bibinya tiba-tiba menjadi orang yang pendiam padahal biasanya dia adalah orang pertama yang akan membisikkan kata-kata baru kepadanya.
Humairah sama sekali tidak tahu kalau bibi Safa tidak berani berhadapan dengan Abah. Kalau tidak, dia pasti sudah membuat masalah di sini bersama Humairah.
"Kalau begitu aku akan berbicara. Mas Kenzie, apakah mas tidak menyukaiku?" Tanya Humairah hati-hati kepada laki-laki yang paling dicintai.
Pertanyaan Humairah sontak menimbulkan keributan di ruangan ini. Para tamu sama sekali tidak menyangka bila Humairah langsung menanyakan masalah ini.
Mereka berbisik-bisik, mempertanyakan juga mencemooh Humairah yang tidak tahu malu.
"Bukankah dia saudara Azira? Kok aneh banget dia suka sama suami saudaranya sendiri?" Seorang tamu berbisik.
"Gak usah heran, Azira adalah putri pertama dari istri pertama sementara Humairah adalah putri pertama dari istri kedua, kamu bisa membayangkan apa yang terjadi di rumah itu." Seseorang mencibir.
"Wah, pantas sekali dah begitu. Tapi meskipun mereka terlahir dari Ibu yang berbeda, tak sepantasnya Humairah menginginkan suami saudaranya sendiri." Seseorang berbicara dengan suara masuk akal.
"Entahlah, harusnya memang begitu. Tapi sayang sekali wanita ini tidak memiliki malu di dalam hatinya." Balas seseorang sarkas.
Ada banyak suara-suara yang masuk ke dalam pendengarannya, tapi Humairah tidak terlalu peduli. Apa yang menjadi fokusnya sekarang adalah menunggu jawaban langsung dari Kenzie.
Dia menatap laki-laki itu dengan perasaan antisipasi, binar mata yang memuja. Tapi sayang sekali orang yang dia tatap justru melimpahkan seluruh pandangannya kepada Azira. Seolah-olah tidak ada siapapun di tempat ini selain Azira. Dia merasa sangat cemburu, sungguh sangat cemburu.
"Kamu tidak perlu bingung, dari awal aku tidak pernah menyukai kamu bahkan sampai detik ini. Hatiku sudah sepenuhnya dimiliki oleh Azira." Jawab Kenzie datar tanpa melihat ke arahnya.
Jawaban tanpa emosi Kenzie sudah ditebak oleh mereka, nama mendengarnya secara langsung rasanya sungguh berbeda. Ada yang menertawakan kemalangan Humairah karena langsung ditolak mentah-mentah oleh Kenzie tanpa perlu berpikir lama. Intinya Humairah mendapatkan respon yang sangat negatif di sini. Memangnya siapa yang mendukung seorang perebut suami orang?
__ADS_1