
"Mas, walaupun aku marah melihat Amara melakukan hal buruk demi mengejar mas Kenzie, tapi aku nggak mau mas Kenzie kehilangan teman. Apalagi mereka adalah teman-teman semasa mas Kenzie SMA, sudah pasti kalian telah menciptakan banyak kenang-kenangan selama berteman." Azira menggelengkan kepalanya menyampingkan masalah ini dan kembali fokus dengan topik pembicaraan sebelumnya.
Dia sungguh tidak ingin mas Kenzie kehilangan teman. Karena dia pernah merasakan bagaimana sepinya tidak memiliki seorang teman, ditambah lagi mas Kenzie sudah berteman dengan mereka bertahun-tahun lamanya, pasti ada rasa enggan berpisah dengan mereka.
"Aku tidak membutuhkan teman-teman seperti mereka. Jika sekarang mereka bisa ikut campur dalam rumah tangga kita dan berniat menghancurkan rumah tangga kita, maka tidak menutup kemungkinan di masa depan mereka akan bertindak lebih jauh lagi. Azira, bahkan di dalam agama kita pun Allah memerintahkan kita berteman dengan orang-orang yang baik. Orang-orang yang bisa saling membantu untuk berjalan di jalan yang baik, bukan orang-orang yang menyesatkan apalagi menghancurkan. Dengan anjuran ini saja alasanku sudah cukup untuk berhenti berteman dengan mereka. Jika kamu mengkhawatirkan aku akan kesepian, maka kamu salah istriku. Temanku tidak hanya mereka saja, aku masih memiliki banyak teman sama miliki hati yang tulus dibandingkan dengan mereka. Dan aku sama sekali tidak kekurangan teman. Selain itu aku tidak akan kesepian di dunia ini selama aku terus memperbaiki diriku dan memiliki kamu serta keluarga. Bersama kalian sudah cukup membuatku damai dan nyaman. Belum lagi anak-anak kita di masa depan, apakah kamu masih yakin aku akan kesepian di dunia ini?" Ucap Kenzie masuk akal.
Hubungan pertemanannya dengan orang-orang SMA dulu tidak terlalu diambil hati oleh Kenzie. Selain mereka hanya bertemu sewaktu di SMA, Kenzie juga tidak memiliki pemahaman yang sama dengan teman-teman itu. Apalagi jika mereka sampai berani mengacaukan rumah tangganya, teman seperti itu lebih baik dibuang saja daripada dipertahankan dan mengundang mudarat untuk kehidupannya.
"Syukurlah. Aku khawatir kalau mas Kenzie mengalami apa yang aku alami dulu. Tidak memiliki teman itu rasanya sakit, mas. Dan aku bersyukur setelah masuk ke dalam rumah mas Kenzie, aku memiliki Sasa, Mona dan Ayana sebagai teman baruku."
Kenzie menghela nafas berat, tangan besarnya mengusap dan menjangkau puncak kepala Azira penuh kasih.
"Aku janji kamu nggak akan pernah merasakan kesepian lagi setelah menikah dengan ku." Janji Kenzie serius.
Azira menganggukkan kepalanya percaya. Dia yakin bila suaminya tidak akan pernah meninggalkannya karena dia tahu perasaan suaminya kepada sungguh sangat tulus.
"Ngomong-ngomong soal teman-teman SMA ku, kalau kamu nggak mau aku putus hubungan dengan mereka, maka artinya kamu bersedia dong aku tetap dikejar-kejar sama Amara? Kamu nggak takut apa kalau dia bisa menculik ku?" Goda Kenzie sengaja membuat istrinya kesal.
Azira mengangkat bahunya tidak perduli.
"Jika mas Kenzie bisa diculik oleh wanita lain, maka aku juga memiliki peluang diculik oleh laki-laki lain. Tapi tergantung mas Kenzie sendiri, mau diculik apa nggak. Kalau mau ya, aku diculik, tapi kalau nggak mau ya jangan macam-macam." Ancam Azira balik.
Niatnya sih mau bercanda, tapi saat melihat perubahan wajah suaminya, Azira menelan ludahnya kasar. Suaminya pasti marah. Dia tahu telah salah bicara dan mengundang kemarahan suaminya. Dia menyesalinya, apakah sudah terlambat?
Soalnya kalau Kenzie marah, bawaannya menyeramkan bagi Azira.
"Mau diculik?" Tanya Kenzie datar.
Azira buru-buru menggelengkan kepalanya membantah. Beraninya dia menjawab 'iya', dia masih ingin bertahan hidup di dunia ini.
"Enggak, enggak mas. Tapi kalau yang culik mas Kenzie aku mau." Kata Azira ngegombal.
Kenzie tersenyum tipis,"Baguslah kamu berpikir seperti itu. Awas aja kalau kamu mikir macam-macam. Kamu tahu kan kalau aku marah," melirik perut datar Azira yang masih belum menunjukkan kehadiran anaknya, dia meringis pelan.
Butuh beberapa bulan lagi dan dia terpaksa harus puasa pikirnya nelangsa.
"Ingat pesan, Um,i mas!" Azira buru-buru melindungi perut datarnya.
Jangan sampai suaminya memilikinya niat jahat.
Kenzie mendengus.
"Apa yang kamu takutkan, aku ini dokter profesional." Kata Kenzie datar.
Azra tidak percaya tapi masih menganggukkan kepalanya pura-pura percaya. Um, dia sudah melihat kekuatan suaminya dan dia ragu suaminya masih memiliki etika profesional seorang dokter saat berhadapan dengannya.
"Iya...iya, aku pasti percaya kok sama mas Kenzie." Kata Azira asal-asalan.
Kenzie mendengus,"Kamu jelas tidak mempercayaiku. Beruntung ada anak itu di sini, kalau enggak, aku nggak masalah ngajak kamu liburan ke luar negeri. Hitung-hitung bulan madu." Jelas Kenzie sedang mengancam.
Azira spontan memeluk perutnya. Diam-diam bersukacita atas kehadiran anak ini. Kalau tidak suaminya pasti memiliki banyak cara untuk menyiksanya. Ah, ini sangat memalukan. Wajah Azira tidak berhenti memerah setiap kali memikirkan pengalamannya di atas ranjang.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Kenzie menggoda.
Azira menggelengkan kepalanya panik. Mana mungkin dia mengakui dengan jujur apa yang dia pikirkan.
"Enggak, aku nggak mikirin apa-apa." Bantahnya berpura-pura tenang.
Tersenyum miring,"Terus kenapa wajah kamu merah gitu?"
Merah?
Dia menyentuh wajahnya tak yakin. Tapi wajahnya memang agak panas sekarang gara-gara pembicaraan ambigu nya dengan sang suami.
"Aku... Di sini cukup panas, mas. Aku agak kegerahan." Kata Azira membuat alasan yang pastinya terdengar asal-asalan di telinga Kenzie.
__ADS_1
Kenzie tersenyum,"Oh ya, suhu di sini normal dan jauh lebih sejuk daripada di luar. Apakah ada sesuatu yang salah dengan tubuh kamu? perlu aku memeriksanya langsung?"
Kenzie menawarkan dengan murah hati tapi langsung ditolak mentah-mentah oleh Azira. Pemeriksaan yang Kenzie maksud tidak akan selesai-selesai, yang ada malah semakin memperparah. Azira tidak bermaksud meremehkan suaminya. Dia tahu kalau suaminya sangat profesional, tapi dalam tanda kutip kepada pasien-pasien sungguhan di rumah. Ceritanya akan sangat jauh berbeda jika pasien itu adalah Azira. Dan sudah pasti suaminya akan menyimpang ke arah lain.
"Jangan macam-macam, mas. Kalau mas gini terus sama aku, aku nggak akan segan laporin mas Kenzie ke Umi." Ancaman yang sama dan selalu berhasil.
Setelah membawa nama Umi, suaminya tidak membuat masalah lagi yang membuat Azira langsung jadi lega.
"Kita sudah sampai." Mereka akhirnya berdiri di depan pintu ruangan tempat Kenzie bekerja di rumah sakit.
"Pak dokter, mbak Azira, selamat sore?" Saat membuka kunci ruangan, tiba-tiba seorang wanita menghampiri mereka.
Wanita itu tidak asing untuk Azira karena dia sering bertemu dan sesekali mengobrol dengannya ketika dia datang ke rumah sakit menemani suaminya.
"Sore, Nana. Kamu mau pulang kerja?" Azira tersenyum manis menyapanya.
Memang setelah sekian kali bergaul, dia dan Nana jadi jauh lebih akrab.
"Iya, mbak. Aku baru aja mau pulang ke rumah. Kalian ke sini mau ngambil barang-barang ya?" Berita pengunduran diri Kenzie sudah tersebar di antara rekan-rekan medis dan tidak ada yang terkejut meskipun mereka menyayangkan.
Yah, sayang sekali Kenzie melepaskan karirnya sebagai dokter, apalagi dia bukan sembarang dokter melainkan salah satu dokter utama di rumah sakit ini, bagi sebagian besar orang karir Kenzie sudah bisa disebut sebagai gemilang dan sukses di usia yang begitu muda. Makanya mereka agak menyayangkan pengunduran diri Kenzie setelah mendengar kabar itu.
Termasuk Nana sendiri yang sering bekerja sama dengan Kenzie.
"Iya, Na. Suamiku udah berhenti bekerja di sini jadi kita ke sini mau ambil ambil barang sekalian menyerahkan beberapa dokumen ke rumah sakit." Jelas Azira menjawab.
Nana mengangguk ringan.
"Wah, Mbak Azira mau nggak ngasih bocoran sama aku?"
Azira tersenyum.
"Bocoran apa, Na?"
"Setelah keluar dari rumah sakit ini ke mana dokter Kenzie akan bekerja?" Apakah mungkin seperti yang dikatakan rumor di luar kalau Kenzie mengundurkan diri karena akan pindah kerja ke rumah sakit lain, tentunya rumah sakit yang lebih besar dan memiliki gaji yang sangat tinggi.
"Mas Kenzie rencananya mau kerja di tempat Abah." Penjelasan singkat Azira sudah cukup mematahkan rumor yang beredar di rumah sakit.
Nana mengangguk mengerti dan tidak bertanya lebih jauh lagi.
"Oalah, aku doain kalian berdua sukses ya di luar. Meskipun setelah ini kita jadi jarang bertemu, memang agak disayangkan." Nana mendesah tak berdaya.
Ternyata berteman dengan Azira cukup menyenangkan. Dia orangnya ramah tapi tidak suka banyak bicara apalagi membicarakan urusan orang lain, di dalam kepala Nana, dia menggambarkan Azira sebagai wanita yang anggun selain cantik. Hubungan mereka selama ini cukup baik dan Anda mengira akan bertahan lama. Tapi siapa yang mengira kalau Kenzie tiba-tiba mengundurkan diri. Yah, dengan berat hati dia harus melepaskan Azira dan berharap memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dengannya nanti.
"Aamiin, terima kasih atas doanya. Jika kita memiliki kesempatan, pasti akan bertemu lagi." Kata Azira positif.
Kenzie memegang tangan Azira,"Ayo masuk."
Azira tersenyum manis, kemudian menatap Nana dengan malu-malu.
"Aku dan suamiku masuk dulu ya, Na. Waktunya mepet, kami harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan ini."
Nana mengerti dan melambaikan tangannya tidak terlalu peduli.
Setelah mengucapkan beberapa patah kata perpisahan dengan Azira, dia melanjutkan perjalanannya pulang sementara Azira dan Kenzie masuk ke dalam ruangan.
...*****...
Duduk sendirian di taman, dia berulang kali menghela nafas berat terlihat cukup terganggu. Taman kampus memang selalu ramai dipenuhi oleh anak-anak muda yang melakukan berbagai macam aktivitas. Ada yang berdiskusi dengan kelompok kelas, ada yang sedang berkumpul organisasi, dan ada pula yang berkumpul dengan teman-teman maupun pacar. Taman kampus tidak pernah sepi. Namun disaat semua orang sibuk tertawa, berdiskusi ataupun bercanda, dia malah asik melamun dari tadi.
Duduk sendirian di bawah pohon sudut kampus, matanya yang lesu sesekali memandangi orang-orang itu dari jauh. Biasanya dia selalu tampil ceria tapi khusus hari ini wajahnya terlihat lesu dan berat.
"Mona, kamu ngapain di sini sendirian aja? Bolos, yah? Aku ingat Sasa tadi bilang kalau pagi ini kalian ada kelas Pak Al 3 SKS." Saat sedang melamun, tiba-tiba dia dihampiri oleh seorang laki-laki.
Saat melihat laki-laki itu, Mona langsung mendengus tak senang dan memilih tidak mengatakan apapun.
__ADS_1
"Eh, seriusan kamu bolos dari kelas Pak Al?" Karena Mona memilih untuk tidak mengatakan apa-apa justru membuat laki-laki itu menyimpulkan bahwa Mona memang sengaja bolos dari kelas Al.
Mona masih tidak mengatakan apapun. Sengaja mengabaikan kedatangannya.
"Mon, kamu adalah wanita langka di kampus ini yang pernah aku temui." Kata laki-laki itu berdecak kagum.
Mana otomatis memutar bola matanya.
"Nggak usah dekat-dekat, bukan mahram." Mona menendang laki-laki itu menjauh darinya.
Tendangan Mona tidak berarti apa-apa tapi laki-laki itu mengeluh berpura-pura sakit sambil memegang betisnya yang ditendang oleh Mona.
"Ya Allah, Mona, sakit tahu. Lagian aku ini sepupu kamu, bukan laki-laki lain!"
Ternyata laki-laki menyebalkan ini adalah sepupu Mona. Tepatnya sepupu dari pihak mama. Mereka berdua seumuran tapi laki-laki ini adalah seniornya di kampus karena mereka berdua masuk sekolah dengan jarak satu tahun.
"Bodo amat, jangan dekat-dekat sama aku, aku lagi bete nggak mau diganggu." Usir Mona jengkel.
Laki-laki itu cengengesan.
"Kamu lagi bete apa sih, dek? Nih ada kakak Tio kamu yang akan selalu melindunginya." Kata Tio receh sambil menepuk dadanya sok kuat.
Mona memutar bola matanya untuk yang kesekian kali. Berbicara dengan Tio tidak ada bedanya berbicara dengan Sasa. Mereka berdua sama-sama menyebalkan.
"Tio, aku lagi bad mood banget. Please, biarkan aku sendiri." Kata Mona memohon dengan lemah.
Begitu mendengar permohonan sepupunya, Tio akhirnya menyadari kalau sepupunya sedang tidak baik-baik saja. Dia tidak pergi tapi malah duduk di sisi lain menemani sepupunya yang sedang sedih.
Melihat Tio tidak pergi, Mona tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia tidak keberatan selama sepupunya ini tidak banyak bicara seperti tadi.
Kemudian mereka berdua sama-sama terdiam. Mona sibuk dengan pikirannya sendiri sementara Tio berpikir abstrak entah ke mana. Awalnya Tio baik-baik saja duduk di sampingnya. Tapi lama-lama dia mulai bertingkah aneh seperti menghitung semut di tanah atau menyanyikan beberapa potong lagu yang membuat telinga Mona sakit. Sebenarnya Mona nggak apa-apa kalau Tio nyanyi, beneran nggak apa-apa. Asalkan yang dinyanyikan lagu manusia. Lah, ini yang dinyanyikan justru lagu anak-anak dan itu pun...lagu anjing!
"Diam!" Mana akhirnya tidak tahan lagi mendengarnya.
Tio sontak menutup mulutnya kaget.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Tio sambil mengelus dadanya kaget.
Kening Mona sakit, mungkin tensi darahnya naik lagi.
"Aku bilang gak usah ngomong." Kata Mona jengkel.
"Aku kan nggak ngomong dari tadi." Kata Tio tidak mengerti.
Mona sakit gigi.
"Tapi kamu nyanyi, berisik."
Tio menatap Mona aneh, lalu tangannya menunjuk orang-orang yang berjarak cukup jauh dari mereka.
"Nah, mereka semua teriak-teriak dan tertawa kamu nggak ada ngeluh tuh. Tapi giliran aku nyanyi kamu ngeluh." Ucapnya mengeluh.
Mona bertanya-tanya di dalam hatinya apakah sepupunya ini masih manusia?
"Okay, kak Tio boleh kok nyanyi asalkan lagunya normal, jangan lagu anak-anak, itupun lagu tentang anjing! Emangnya aku anjing apa!" Keluh Mona gondok berbicara dengan sepupunya.
Harusnya sepupunya mengerti situasinya saat ini. Serius, dia benar-benar sedih. Sedih banget malah tapi sepupunya tidak memiliki simpati kepadanya. Mona jadi tambah mellow.
"Kamu memang bukan anjing, memangnya siapa yang bilang kamu anjing? Aku sengaja nyanyi lagu itu biar kamu happy kayak si Helly guk guk-"
"Ngomong lagi aku nangis nihh!" Ancam Mona makin gondok.
Melihat wajah cemberut sepupunya yang sedang marah, Tio malah tertawa terbahak-bahak sambil memukul pahanya tidak kuat.
"Hahahah..." Tawanya meledak.
__ADS_1
Kalau bisa dia mungkin sekarang sudah guling-guling di tanah. Tapi sayang sekali hari ini dia masih punya jam kuliah.