Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 14.6


__ADS_3

AUTHOR POV


"Cara yang salah. Tapi begitulah cara Allah mempertemukan kita berdua. Aku... tidak akan memberikan komentar apa-apa kepada Ibu, sebab hanya Allah yang bisa menilainya dan selain itupun Ibu sudah tidak ada lagi di dunia ini lagi. Tapi mengenai kamu, aku tidak berani membuat janji kepadamu karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, itu adalah rahasia Allah. Tapi kamu harus tahu bahwa aku akan berusaha membuat kamu terlepas dari masa lalu dan menghadapi hari-hari selanjutnya dengan senyuman yang lebar. Dan aku juga.." Kenzie tiba-tiba terdiam.


Obsidian hitamnya bergerak menatap wajah penuh harap Azira. Mata Azira tergurat merah, menyembunyikan rasa malu juga kesedihan di masa lalu, namun harapan di matanya bersinar terang menunggu kata-kata Kenzie selanjutnya.


Mungkin sejak pertama kali mereka bertemu, yaitu ketika dia menyelamatkan Azira dari percobaan penculikan oleh preman suruhan nyonya Bara. Kesan yang Kenzie dapatkan cukup dalam di hati. Mata ini sama seperti hari itu. Ada harapan, tapi kemudian berubah menjadi keengganan, seolah-olah sedang mencela atau meremehkan diri sendiri. Inilah bedanya. Kali ini mata itu mata tidak memiliki rasa mencela lagi. Namun sebuah tekad keberanian?


"Telah menerima kamu menjadi istriku. Terlepas dari masa lalu, aku tidak akan memperhitungkannya. Satu hal yang harus kamu tahu bahwa identitas kamu dengan yang dulu jauh berbeda. Bukan karena sekarang kamu memiliki uang ataupun sudah menikah, tidak, tapi karena kamu sudah resmi menjadi istriku. Aku tidak bisa menjamin kalau kamu bisa melupakan masa lalu bersamaku, tapi aku bisa meyakinkan kamu bahwa dengan hidup bersamaku, kamu tidak akan pernah mengulangi masa lalu lagi. Sebab aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak hanya aku saja Azira. Tapi Abah, Umi, Sasa, Mona, dan semua orang yang menyayangi kamu. Kami tidak akan membiarkan itu terjadi. Sekarang kamu harus menghadapi hidup dengan percaya diri dan penuh keyakinan. Jangan mengecewakan kami semua, terutama harapanku, mengerti?" Sambung Kenzie berbicara dengan nada ringan namun bersungguh-sungguh kepada Azira.

__ADS_1


Azira sampai menahan nafas mendengar setiap patah kata yang diucapkan oleh suaminya. Bukan kata-kata yang romantis apalagi penuh cinta, justru kedengaran canggung, tapi di bawah tatapan lembut mata almond suaminya, hati Azira merasakan kehangatan yang belum pernah dia rasakan ketika bersama orang-orang lain.


Bahkan Ayah pun tidak memberikannya perasaan selembut dan sehangat ini, Ayah tidak pernah menghargainya dan mungkin pernah memiliki harapan kalau dia lebih baik lenyap dari dunia ini.


Tapi dihadapan Kenzie, laki-laki yang belum satu bulan dia kenali memiliki perhargaan yang begitu dalam kepadanya. Dia merasa sangat dihargai dan berharga di hadapan laki-laki ini. Ya Allah, bagaimana mungkin dia tidak jatuh cinta kepada suaminya?


Dia juga tidak tahu sejak kapan air mata ini turun?


"Aku...aku hanya merasa terharu dan senang.." Bisik Azira malu sembari memalingkan wajahnya tak berani melihat reaksi suaminya.

__ADS_1


Kenzie terkekeh. Tak bisa menyentuh wajah Azira lagi, tangannya lalu beralih menyentuh puncak kepala Azira dan mengelusnya lembut.


"Aku juga." Bisik Kenzie samar.


"Kenapa mas?" Adira tak mendengarnya dengan jelas.


Kenzie menggelengkan kepalanya tak berdaya.


"Ayo turun, kita sudah sampai." Kata Kenzie mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


__ADS_2