
Azira langsung terdiam. Perlahan perlawanannya terhadap Kenzie mulai melemah. Ia tidak mendorong Kenzie lagi dan tetap terbaring tak berdaya tanpa perlawanan.
Ini adalah konsekuensi yang harus ia terima. Kenzie atau laki-laki manapun di dunia ini pasti tidak senang bila pernikahannya di hancurkan oleh wanita asing. Mereka pasti tidak rela posisi wanita terkasihnya digantikan oleh wanita yang tidak dikenal. Begitu pula Kenzie, ia pasti marah karena Humairah berhasil Azira singkirkan di pesta pernikahan.
Azira lupa bila orang yang merasa hancur dalam pernikahan ini bukan hanya Humairah, tapi juga Kenzie selaku pengantin pria.
"Ayo buat kesepakatan?" Kata Azira berusaha terdengar setenang mungkin.
Pernikahan ini memang seharusnya tidak perlu dilanjutkan.
Alis pedang Kenzie terangkat,"Oh, kesepakatan apa?"
Azira mengepalkan kedua tangannya gugup dan takut. Ia sudah merasakan betapa besar kekuatan Kenzie saat membantingnya ke atas kasur jadi ia tidak berani macam-macam di depan Kenzie lagi apalagi sampai bermimpi menjadi istrinya.
"Berhenti sampai di sini saja. Aku akan keluar dari rumah ini dan aku berjanji tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi." Dan setelah ini Azira mungkin tidak mampu lagi menghancurkan Humairah bila Kenzie ingin menikah lagi.
Mendengar apa yang Azira katakan, ekspresi di wajah Kenzie kembali datar. Ia menatap wajah gugup Azira di bawahnya, tersenyum tipis, tangan besarnya tiba-tiba meremas pipi Azira dan tidak melepaskannya sampai Azira berteriak kesakitan. Puas, ia lalu bangun dari atas tubuh Azira sambil melontarkan satu kata.
"Bermimpi lah." Dengan datar.
Kenzie menyingkir dari atas tubuh Azira dan kembali duduk di atas kasur. Melihat ini, Azira langsung memanfaatkan kesempatan, bangun dari kasur dan langsung menjaga jarak sejauh mungkin dari Kenzie.
Pipinya yang panas karena remasan Kenzie masih berdenyut. Azira menduga jika pipinya sudah bengkak dan merah sekarang.
__ADS_1
"Maaf telah menghancurkan pernikahan mu. Aku tahu mas tidak bisa menerimanya-"
"Berhenti bicara," Kenzie menoleh menatapnya, lalu berbicara,"Kamu adalah istriku sekarang."
Azira tertegun. Matanya menyipit tidak percaya. Aneh saja, mengapa laki-laki ini tidak berjalan sesuai dengan akal sehat orang normal?
Tunggu, bisa saja ini adalah ajang balas dendam Kenzie untuknya?
Bisa jadi!
"Kenapa?" Tanya Azira gugup.
Kenzie menatapnya, beberapa detik kemudian ia menarik pandangannya dari Azira. Kembali melihat ke tembok dengan pikiran yang tidak bisa ditebak. Entah apa yang ia pikirkan saat ini.
Azira bingung.
"Apa yang perlu dijelaskan?"
Kenzie tersenyum aneh.
"Kenapa kamu menggantikan posisi Humairah saat menikah denganku?" Tanyanya datar.
Azira mengernyit. Kedua tangannya tanpa sadar mengepal karena gugup bercampur marah.
__ADS_1
"Humph!" Azira membuang muka tak berniat mengatakan apa-apa.
Kenzie tidak keberatan Azira mengabaikan pertanyaannya. Lagipula ini mungkin menyangkut masa lalu buruk Azira dan keluarganya. Hanya saja wajah tajam nyonya Bara selalu mengingatkan Kenzie bila Azira mungkin tidak sesederhana yang ia pikirkan. Mungkinkah nyonya Bara juga ada hubungannya dengan masa lalu Azira dan kelurganya?
Aneh, bagaimana mungkin keluarga terpandang bisa terlibat dengan dunia malam?
"Apa kamu tidak takut aku akan membalas dendam kepadamu?"
Kelopak mata Azira bergetar panik. Jika ditanya takut, ia pasti akan takut dan normalnya siapapun akan takut. Sebab ia hanyalah orang miskin dan kesepian, ia tidak punya siapapun untuk diandalkan.
Tapi ini...
Memejamkan matanya cemas.
....sudah menjadi konsekuensinya.
Lagi-lagi Azira tidak mengatakan apa-apa dan sekali lagi Kenzie tidak merasa keberatan atas diamnya Azira.
Tersenyum aneh, Kenzie tiba-tiba berdiri dan mengagetkan Azira.
"Ayo bangun dan mengambil air wudhu, kita akan melakukan sholat sunah dua rakaat."
"Ah..?" Azira tercengang.
__ADS_1