
"Kenapa tidak menjawab? Tadi aku bertanya, siapa yang pantas ditelantarkan?" Tanya Ayana dengan senyuman manis di wajah cantiknya.
Meskipun senyumannya lebar dan manis, namun mereka semua tahu bahwa Ayana sebenarnya tidak benar-benar tersenyum.
Mereka bertiga saling memandang. Tidak ada satupun di antara mereka bertiga yang berani angkat suara ataupun menjawab pertanyaan Ayana. Satu sisi Ayana adalah dokter, atasan mereka di rumah sakit dan di sisi lain, Ayana adalah salah satu orang terdekat Kenzie sehingga mereka semakin tidak memiliki keberanian untuk berbicara.
Ayana melirik ketiga wanita ini dengan tatapan mencela. Baru saja mereka berbicara bebas tanpa rasa takut. Setelah ditegur, keberanian mereka langsung menguap entah kemana. Sangat rendah!
"Kamu," Ayana tanpa belas kasih langsung menunjuk wanita yang paling bermulut besar. Wanita ini sangat berani merendahkan istri sepupunya.
Walaupun dia tidak terlalu suka dengan Azira dan tidak menyetujui pernikahan ini, tapi tetap saja Azira adalah iparnya. Azira membawa nama keluarga di belakangnya. Bila Azira dicela seperti ini maka keluarganya lah yang akan disiram air kotor.
"Kamu bilang dia memang pantas ditelantarkan, lalu sekarang aku bertanya kenapa kamu berani mengatakan kata-kata tercela ini?" Kali ini dia tidak lagi memiliki senyum di wajahnya.
Wanita itu langsung menggigil ketakutan. Telapak tangannya basah oleh keringat dingin karena terlalu gugup. Dia menelan ludahnya kasar, merasakan mulutnya kering seolah kehilangan banyak cairan.
__ADS_1
"Lho, kok diam saja? Aku kan nanya baik-baik tapi enggak digubris, telinga situ bermasalah?" Tekan Ayana lagi.
Citranya yang lemah lembut dan manis ketika berhadapan dengan anak kecil segera menguap entah kemana di depan ketiga wanita ini.
Wanita itu sangat gugup,"Ini... begini, aku tidak bermaksud menjelek-jelekkan wanita itu-"
"Ya, kamu tidak menjelek-jelekkan tapi cuma mencelanya saja. Teruskan."
Mereka bertiga sangat takut dengan tindakan agresif Ayana. Terutama wanita yang sedang diintrogasi sekarang. Jika bisa, dia ingin memutar waktu kembali dan memastikan mulutnya diplester agar tidak membuat menimbulkan masalah.
Asmara?
Ayana memutar bola matanya malas. Asmara apaan! Jelas-jelas sepupunya itu tidak pernah menggubris ataupun merespon apapun yang dilakukan oleh Humairah selama waktu itu. Alasannya? Tentu saja Kenzie tidak memiliki perasaan apa-apa kepada Humairah. Kalau tidak, kenapa Kenzie selalu memasang wajah lempeng setiap kali mereka bersama?
Benar-benar naif.
__ADS_1
"Terus, dokter Kenzie saja tidak pernah mengatakan apa-apa tentang pernikahan itu tapi kenapa kamu yang nyolot?" Potong Ayana jengkel dengan tampilan bebal wanita ini.
Wanita itu tersedak air liurnya sendiri. Ayana tidak memberikan kesempatan untuk bernafas dan terus menyerangnya.
"Tahu tidak jika wanita yang kalian gosip kan dan jelek-jelekan itu adalah istri dokter Kenzie? Jika dokter Kenzie tahu istrinya dijelek-jelekkan oleh kalian, menurut kalian bertiga, kira-kira apa yang akan dilakukan dokter Kenzie kepada kalian bertiga?"
Mereka bertiga langsung tersadar. Dokter Kenzie saja tidak mengatakan apa-apa dan tetap mempertahankan Azira, tanpa bertanya pun mereka bertiga dapat menebak bila ada sesuatu di antara mereka berdua. Jika sama seperti yang mereka pikirkan, maka masalah ini akan sangat serius jika diketahui oleh dokter Kenzie. Mereka tidak berani membayangkan konsekuensi apa yang akan mereka terima karena gosip murah yang mereka bertiga lakukan.
"Dokter... dokter Ayana, tolong maafkan kami. Kami sekarang mengerti dan tidak berani membicarakan hal-hal aneh lagi tentang istri dokter Kenzie. Kami mengakui bahwa ini salah, jadi tolong beri kami kesempatan untuk memperbaikinya?"
"Benar dokter, kami sungguh tidak akan membicarakan omong kosong ini lagi..."
Mereka mulai memohon kepada Ayana.
Ayana tersenyum lembut. Dia sangat geli dengan tampilan penjilat orang-orang ini.
__ADS_1
"Huh, baru mengerti." Katanya sinis. Mendengus tak senang, dia langsung berjalan melewati mereka dan langsung masuk ke dalam ruangan Kenzie tanpa memberikan mereka kesempatan untuk mengejar.