
"Aku juga." Bisik Kenzie samar.
"Kenapa mas?" Adira tak mendengarnya dengan jelas.
Kenzie menggelengkan kepalanya tak berdaya.
"Ayo turun, kita sudah sampai." Kata Kenzie mengalihkan topik pembicaraan.
Eh?
Azira melihat keluar mobil. Dia baru menyadari kalau mereka berdua sudah sampai. Dan dia juga tidak menyadari kalau mobil suaminya sudah tidak berjalan lagi. Melihat ke luar jendela, Azira dapat melihat gapura kecil pekuburan umum tempat orang tercintanya tinggal. Gang ini sangat kecil dan di dalam pun agak tidak terawat. Banyak rumput liar tumbuh dimana-mana. Rupanya orang di kawasan kumuh tidak pernah membersihkan tempat ini. Dibiarkan terbengkalai begitu saja.
Saat melihatnya Azira langsung sedih. Matanya mulai basah menahan rasa pedih di dalam hati. Ibunya sampai seperti ini. Baik hidup ataupun mati, dia masih tidak memiliki tempat yang indah untuk beristirahat.
"Ayo turun." Kenzie menyentuh pundak Azira.
__ADS_1
Azira berusaha menahan luapan air matanya.
"Iya, mas."
Mereka berdua lalu turun bersama-sama. Masing-masing memegang bunga di tangan. Berdiri di samping badan mobil, Azira memejamkan matanya memperbaiki suasana hatinya. Tiba-tiba tangan kirinya terasa hangat. Azira spontan membuka matanya, melirik tangan kirinya yang telah digenggam oleh sang suami. Azira tertegun, dia kemudian menatap Kenzie dengan perasaan campur aduk.
"Bersama-sama." Bisik Kenzie tersenyum lebar.
Seolah tersihir oleh senyumnya, Azira tidak bisa menahan diri untuk tidak menggerakkan bibirnya untuk membentuk garis senyuman. Tidak apa-apa pikirnya. Sekarang ada Kenzie yang akan selalu ada di sisinya, tinggal bersamanya untuk menghabiskan sisa hidupnya di masa depan.
Azira kemudian melangkah ke depan, memasuki tempat peristirahatan yang sangat sunyi dan terbengkalai bersama Kenzie. Tempat ini dihuni oleh banyak orang. Sangat banyak dan rapat, karena kawasan kumuh sangat dekat dengan tempat ini.
Mereka berjalan beberapa meter ke depan hingga akhirnya Azira berhenti di depan sebuah pusara yang masih basah dan teduh, pusara itu memiliki banyak bunga di sekelilingnya. Karena bertepatan dengan pohon bunga yang hidup di sampingnya. Suasananya jauh lebih sejuk, mungkin hanya perasaan Azira saja.
"Ibu?" Kenzie menatap Azira.
__ADS_1
Azira tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.
Lalu Kenzie melepaskan tangan Azira dan berjongkok di samping pusara. Buket besar bunga Lily kini berpindah ke atas pusara, tepatnya di sisi satu-satunya batu di pusara ini.
"Assalamualaikum, Bu?" Salam Kenzie mulai berbicara.
Melihat suaminya duduk, Azira juga ikutan duduk dan mulai menaburkan bunga tujuh rupa yang dia bawa ke atas pusara.
"Ibu mungkin sudah tahu, aku Kenzie suaminya Azira, menantu Ibu. Kami baru saja menikah, beberapa hari lagi pernikahan kami masuk 1 bulan. Ibu sekarang tidak perlu risau ataupun mengkhawatirkan Azira karena dia telah menjadi bagian dari keluargaku. Dia adalah istriku, Bu. Aku tidak mau berbohong kepada Ibu. Awal menikah dia memiliki hari-hari yang berat dari keluarga, tapi tak lama kemudian dia berhasil merebut hati semua orang di rumah, entah sihir apa yang dia lakukan, Bu-"
"Mas jangan asal ngomong!" Azira menyela suaminya dengan wajah cemberut, seolah-olah Ibu hadir di antara mereka berdua dan kini tengah menyimak pembicaraan mereka.
Kenzie terkekeh. Tangannya kembali meraih tangan Azira dan menggenggamnya lembut.
"Namun Ibu tenang saja. Dia akan lebih banyak tersenyum setelah hidup bersamaku. Aku janji."
__ADS_1
Ini adalah janji terindah yang pernah Azira dengarkan dalam hidupnya dan dia sungguh bersedia untuk mempercayainya.