
Lagian Al enggak mungkin datang tepat waktu karena biasanya dosen-dosen yang mereka temui rata-rata datang lambat. Ya meskipun enggak terlalu lambat, tapi yang penting mahasiswa punya waktu untuk mengejar waktu.
"Paham, tapi nanti kita enggak kebagian kursi depan, gimana?" Kata Sasa mencari celah.
Mona terdiam. Dia melirik sepupunya penuh makna.
"Baru hari ini loh aku ngeliat kamu seaktif ini masuk kuliah pagi, biasanya kamu rada santai. Sas, jangan-jangan kamu suka ya sama pak Al?" Sergap Mona menebak.
Sasa tidak terkejut dan dengan murah hati mengakuinya. Toh, tidak ada gunanya bersembunyi karena pada akhirnya Mona akan tahu.
"Bukannya wajar, ya? Yang suka sama pak Al kan bukan cuma aku tapi yang lainnya juga. Kurasa ini bukan masalah besar." Kata Sasa diam-diam memperhatikan perubahan wajah Mona.
Mona tidak setuju.
"Bukan masalah besar? Ya Allah, kamu gila ya, Sas? Ini tuh masalah besar, besar banget malah karena saingan kamu tuh banyak hahaha..." Tawa Mona puas.
Apalagi saat membayangkan jika cinta sepupunya ini bertepuk sebelah tangan, sungguh, itu adalah hari yang paling cerah bagi Mona di dunia ini.
"Tahu kok, tapi ini biasa aja."
Ucap Sasa tidak perduli. Memang fenomena menyukai orang secara diam-diam di kampus itu hal yang biasa, apalagi kalau objek cintanya adalah seorang dosen yang notabene cukup sulit. Sasa telah memikirkannya berulang kali dan menjalaninya dengan pasrah.
Kalau Allah berkehendak menggariskan takdirnya dengan Al, dia akan sangat mensyukurinya, tapi kalau enggak, dia juga tidak memaksa. Toh, semuanya akan bertemu di jalannya.
"Ya udah, deh. Kalau kamu suka ya aku enggak bisa ngomong apa-apa selain kamu harus lebih tahan banting sama saingan kamu di kampus." Mona kembali menikmati sarapannya.
Sasa masih memikirkan kejadian kemarin.
"Tapi tahu enggak, Mona, kemarin pak Al tiba-tiba ngomong sama aku biar masuk kelasnya tepat waktu. Jujur, aku kaget lho. Kok pak Al tahu ya hari ini dia bakal ngajar di kelas kita? Atau gini deh yang membuat aku heran banget, dari mana Pak Al tahu kalau aku salah satu mahasiswi yang hadir di kelasnya?" Sasa melihat ke Mona berharap mendapat respon yang baik.
Tapi Mona hanya menatapnya balik tidak mengeluarkan suara. Sasa sangat tidak puas dengan reaksi sepupunya ini. Padahal dia sengaja meninggalkan celah dari kata-katanya untuk mengundang rasa penasaran Mona sehingga dapat menemukan celah di dalamnya.
Sasa menatap sepupunya sebel,"Kamu enggak mikir gitu kalau pak Al udah mengenal aku? Kalau enggak, kenapa dia memintaku untuk datang tepat waktu di kelasnya hari ini?"
Setelah memikirkannya semalaman, Sasa hanya bisa menyimpulkannya seperti ini. Logikanya, Al tidak mungkin menyapanya kalau tidak mengenal Sasa. Inilah yang membuat Sasa spot jantung dan memikirkan kemungkinan yang tidak tidak. Dasarnya dia dan Al tidak pernah berbicara ataupun bertemu secara langsung. Sasa memang sering melihat Al dari jauh, tapi Al belum tentu menyadarinya. Dari segi penjelasan manapun Sasa tidak punya jawaban kenapa Al bisa mengenalnya, kecuali... kecuali Al sering memperhatikannya juga.
Mona tercengang, kemudian dia tersenyum tipis,"Wah...bisa jadi. Apa yang kamu bilang masuk akal. Hum, ini pertanda baik, Sas. Lanjutkan perjuangan kamu untuk mengejar cinta pak Al. Siapa tau suatu hari nanti pak Al akan membalas cinta kamu." Kata Mona bercanda.
Sasa menganggap serius candaan sepupunya. Suasana hatinya yang tadi sempat down akhirnya mendapatkan semangatnya kembali.
"Aku yakin. Suatu hari nanti kamu akan melihatku sama Pak Al berdiri di atas pelaminan. Saat hari itu tiba kamu enggak akan bisa tertawa lagi!" Balas Sasa percaya diri.
Mona mengangkat bahunya tidak peduli.
"Ya, aku pasti akan menangis hari itu." Sahutnya bercanda sembari menarik perhatiannya kembali menatap bubur.
Hanya saja bubur ini tidak semenarik sebelumnya. Dia sudah kenyang dan tidak berniat melanjutkan acara sarapannya.
"Oh ya, ngomong-ngomong aku punya kabar baik buat kamu." Sasa duduk di samping Mona dan tidak memperhatikan ada sesuatu yang salah dengan sepupumu itu.
Mona menyesuaikan suasana hatinya dan kembali memasang wajah ceria.
"Kabar baik apa?"
"Kak Azira hamil, kami semua baru saja tahu pagi ini. Dan aku juga mau ngasih tau ke kamu kalau kak Kenzie sudah mengundurkan diri dari rumah sakit. Sekarang Umi enggak cerewet lagi soal pekerjaan kak Kenzie."
Mendengar kabar bila Azira akhirnya hamil, Mona ikut senang. Dia mengagumi Azira jadi dia pasti senang mendengar kabar baik ini.
"Masya Allah, kak Azira akhirnya hamil. Lagian aku enggak percaya kak Azira nggak bisa hamil, soalnya kak Kenzie suaminya." Kata Mona sambil cekikikan.
"Wah, kamu berani yang mengolok-olok Kak Kenzie di belakang. Aku laporin kak Kenzie, baru tahu rasa kamu." Sasa bercanda.
Mona tidak takut.
"Laporin aja, kak Azira enggak mungkin membiarkan kak Kenzie melakukan tindak kekerasan di rumah. Apalagi sekarang dia lagi hamil."
__ADS_1
Sasa mendengus. Kakaknya memang berubah di depan Azira, tapi belum tentu di depan mereka berdua. Sasa meragukannya karena dia sangat mengenal bagaimana karakter kakaknya itu. Sok dingin dan selalu memajang wajah datar menyebalkan, heran saja melihatnya dikejar-kejar oleh banyak wanita.
"Terserah kamu deh."
"Mengenai pengunduran diri kak Kenzie di rumah sakit, kak Ayana sudah memberitahuku. Menurutku ini wajar aja karena Abah membutuhkan bantuan kak Kenzie. Sudah aku pikirkan kalau kak Kenzie enggak akan bertahan lama jadi dokter soalnya Abah membutuhkannya untuk menangani bisnis keluarga. Dan lihat sekarang, kak Kenzie akhirnya berhenti yang tidak terlalu mengejutkan."
Sebenarnya bukan cuma Mona yang berpikir seperti itu tapi hampir semua anggota keluarga. Bisnis Abah tentu saja akan diturunkan kepada Kenzie. Alasannya tentu saja karena Kenzie adalah satu-satunya putra harapan Abah. Mustahil Abah mencari pewaris dari sepupu ataupun keponakan, sedekat apapun hubungan kekeluargaan mereka, kekayaan Abah tidak bisa diwariskan kepada mereka.
"Oh... baguslah. Ngomong-ngomong kamu nggak siap-siap, Mona? Bentar lagi kita masuk, loh." Kata Sasa mengingatkan setelah melihat waktu di layar ponselnya untuk ke sekian kalinya.
"Aku tinggal ganti baju aja. Tunggu." Dia bergegas mengambil abaya di dalam lemari berserta jilbab panjang dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Ketika pintu kamar mandi tertutup, wajah ceria Mona langsung memudar. Dia berdiri kosong di dalam menatap lantai dingin yang masih lembab setelah digunakan mandi.
"Hah..." Mengambil nafas berat.
Mata cerah Mona perlahan menjadi sayu, menampilkan sisi sendunya yang langka.
"Lupakan, ayo lupakan. Jangan memaksakan diri, Mona. Semuanya tidak harus berjalan sesuai dengan keinginan kamu! Okay, ayo semangat!" Tak ingin terpuruk terlalu lama, kedua tangannya menepuk kuat pipi gembul nya berusaha mengumpulkan kembali semangat juangnya.
"Terus melangkah dan jangan menoleh ke belakang, semuanya...sudah berakhir." Bisiknya sambil memaksakan senyum di wajah.
Benar, semuanya sudah berakhir. Maka tak seharusnya dia memaksakan situasi untuk keserakahan hatinya yang sulit terpuaskan.
...*****...
Sore harinya mereka berdua pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Sebelumnya Kenzie sudah membuat janji dengan seorang dokter kandungan yang kebetulan dia kenal.
"Selamat sore, pak Kenzie. Lama tidak bertemu?" Kedatangan mereka segera disambut oleh seorang wanita.
Dia adalah dokter kandungan yang akan memeriksa Azira nanti.
Kenzie mengangguk ringan.
Wanita itu tidak terkejut melihat sikap datar Kenzie. Dia justru sudah terbiasa karena setiap kali mereka bertemu, Kenzie tidak akan memiliki reaksi besar. Di antara rekan-rekan dokter, Kenzie termasuk orang yang sulit untuk ditemui. Entah karena jadwalnya sibuk atau memiliki kesibukan di luar rumah sakit, tidak ada yang tahu jawaban pastinya.
Pokoknya dia sangat sulit ditemui.
Wanita itu tersenyum.
"Tentu saja hari ini istimewa. Mungkinkah ini.." wanita itu tersenyum ramah kepada Azira.
Melihat ke arah istrinya, Kenzie tersenyum lembut. Dia lalu mendorong punggung Azira maju ke depan.
"Ini istriku, namanya Azira. Seperti yang aku katakan tadi siang, kami baru mengetahui bila istriku sedang hamil. Jadi aku dan istriku sepakat datang ke rumah sakit untuk melakukan pengecekan agar mendapatkan hasil yang lebih pasti." Jelas Kenzie kepadanya.
Wanita itu menatap Azira dengan tatapan penuh penghargaannya. Bisa dilihat dari sikap Kenzie barusan bila dia sangat mementingkan Azira. Sudah lama dirinya bertanya-tanya siapakah wanita yang berhasil menaklukkan hati dingin Kenzie, dan rasa penasarannya kian tersulut saat mendengar kabar kegagalan pernikahan Kenzie-oh, mungkin bukan disebut kegagalan, tapi alangkah lebih tepatnya disebut sebagai sebuah kejutan. Karena pengantin wanita yang dihalalkan oleh Kenzie bukanlah pengantin yang asli, melainkan seorang pengganti.
Gosip ini sangat terkenal dimana-mana, bahkan sering menjadi bahan pembicaraan di antara mereka para dokter. Beberapa orang menyayangkan dan beberapa orang menunggu dalam diam, yah... Menunggu drama selanjutnya. Mungkin saja pengantin pengganti itu diusir, namun berbulan-bulan lamanya, mereka tidak kunjung mendapatkan lanjutan cerita pernikahan Kenzie dan malah mendengar kabar bila Kenzie mengajak istrinya pergi berbulan madu ke puncak selama beberapa hari.
Banyak orang skeptis. Begitu pula yang dirasakan oleh dokter wanita ini. Tapi ketika melihat interaksi mereka berdua tadi dan setelah menilai penampilan Azira, barulah dia mengerti.
Pantas saja pernikahan ini bertahan, tidak heran. Batin dokter wanita itu.
"Oh, ternyata namanya Azira. Sebelumnya aku ucapkan selamat atas kehamilan kamu. Aku harap kamu dan janinnya selalu dalam keadaan sehat. Ngomong-ngomong aku akan memperkenalkan diri, namaku Diana. Aku adalah dokter kandungan dan pernah menjadi rekan kerja pak Kenzie." Dokter wanita itu, sebut saja Diana mengambil inisiatif mengulurkan tangan di depan Azira.
Azira langsung membalas uluran tangannya dengan sopan.
"Salam kenal, mas Kenzie tadi telah menyebutkannya kepadaku." Azira berbicara sopan.
"Mari masuk." Azira tersenyum sopan.
Setelah mengucapkan terima kasih, dia dan suaminya masuk ke dalam ruangan.
Setengah jam kemudian hasil tes akhirnya keluar. Azira positif hamil dengan usia kandungan lebih dari 5 minggu. Seperti tebakan Kenzie, buah hati mereka hadir tepat saat mereka sedang berbulan madu di puncak satu bulan yang lalu.
__ADS_1
"1 bulan tepat, bagaimana? Kerja keras ku tidak sia-sia, kan?" Goda Kenzie.
Tidak perlu dikatakan lagi, dia sangat puas dengan hasil ini. Dan dia semakin puas memikirkan kerja kerasnya selama di puncak tidak sia-sia. Dan sekarang dia mulai mengerti efek berbulan madu sangat bagus untuk hubungan suami istri. Pantas saja pengantin baru rata-rata pergi berbulan madu ke tempat yang indah untuk menstimulasi hubungan diantara mereka.
Azira meringis memikirkannya.
"Bakal aneh mas kalau hasilnya negatif." Dia adalah saksi betapa mengerikan suaminya di sana.
Setelah memikirkannya pergi liburan ke tempat seperti itu kurang baik. Azira menganggap bahwa puncak terlalu menghabiskan tenaga dan materi, dia tidak sanggup.
"Nah, sekarang kamu mengerti, kan?" Kenzie masih tertawa puas.
Saat ini mereka baru saja keluar dari ruangan Diana. Rencananya setelah melakukan pemeriksaan dia dan Kenzie akan pergi ke kantor bekas ruangan Kenzie untuk mengambil barang-barang.
"Terserah mas Kenzie." Azira tidak tahu harus berkata apa.
Dia juga malu. Tapi lebih dari itu semua dia sangat senang. Senang rasanya menjadi seorang Ibu.
"Mau langsung pergi ke kantor, mas?" Azira memeluk lengan suaminya sayang.
Wajahnya yang cantik tak berhenti tersenyum semenjak keluar dari ruangan Diana. Dirinya semakin berpuas diri tatkala mendapatkan tatapan penuh ingin tahu dari orang-orang yang mereka lewati. Ah, ini sungguh sangat memuaskan.
"Iya, kita langsung pergi-"
"Mas Kenzie!" Panggilan nyaring seorang wanita segera menghentikan langkah mereka berdua.
Tak jauh dari mereka, tepatnya beberapa meter di depan berdiri seorang wanita cantik yang sudah tidak asing lagi. Tak bertemu selama beberapa hari, Azira hampir saja melupakan wajahnya. Dia kira tidak akan bertemu lagi dengan wanita ini, siapa yang tahu bila mereka kembali dipertemukan di sini.
Azira menatap wanita itu santai, kemudian mengalihkan pandangannya menatap sang suami. Dia langsung tersenyum puas saat melihat wajah datar suaminya yang tidak memiliki emosi.
"Oh, sahabat tersayang mas Kenzie akhirnya menampakkan diri. Aku kira dia dia tidak akan menampakan diri lagi, hah... sayang sekali." Sindir Azira kepada suaminya.
Kenzie menatap istrinya tak berdaya. Tangan kanannya mengelus pinggang Azira pelan sambil berbicara,"Jangan berpikir yang aneh-aneh."
Azira mendengus.
"Siapa yang mikir aneh-aneh. Emang ucapan aku salah, ya?" Azira bertanya polos, tentunya dibuat-buat.
Kenzie menyipitkan matanya merasakan alarm peringatan berbunyi di dalam kepalanya.
Dia dengan tegas menjawab,"Tidak, apa yang kamu bilang nggak salah. Kamu benar."
Azira tersenyum manis. Dia tentu puas dengan jawaban lugas suaminya.
"Bagus kalau mas Kenzie tahu."
Sementara itu, melihat perhatian Kenzie teralihkan oleh Azira, wanita itu langsung kehilangan senyumnya. Dia menatap Azira muram dengan kecemburuan pekat di dalam hati. Mengepalkan tangannya kesal, dia berjalan selangkah demi selangkah menghampiri mereka berdua.
"Mas Kenzie, Azira, lama tidak bertemu." Dia kembali menyapa dengan wajah manis.
Sekilas matanya menyapu tangan besar Kenzie yang tengah memijat pinggang Azira. Memalingkan wajahnya cemburu, hatinya berdesir sakit melihat kemesraan mereka berdua. Dia kesakitan beberapa hari ini, merindu dan mendambakan Kenzie dalam sebuah siksaan yang tidak berkesudahan. Hari-hari dilewati dengan penantian, menerka-nerka kapan Kenzie akan datang menemuinya. Dia jenuh dalam penantian, tapi lihatlah Azira sekarang. Orang yang dia tunggu-tunggu datang ternyata sedang di monopoli oleh Azira, seorang pengganti yang tidak tahu malu.
"Oh... bukankah ini Amara?" Azira terkejut. Beberapa detik kemudian dia tersenyum manis ke Amara,"Aku kira kamu membutuhkan perawatan serius di rumah sakit dan berencana menjenguk kamu bersama mas Kenzie, tapi setelah dilihat-lihat sekarang..." Azira sengaja memandang Amara dari bawah untuk memberikan kesan bahwa dia cukup perhitungan.
"Sepertinya kamu baik-baik saja. Padahal aku sempat berpikir bila masakan udang buatanku cukup beracun." Kata Azira sarkas.
Mana mungkin Amara tidak mengerti maksudnya?
Dia mengerti dan karena itulah dia sangat marah, namun demi wajah dia berusaha mengontrol dirinya tetap stabil.
"Sebenarnya masakan Azira cukup enak, aku tidak akan tahu jika Azira tidak memaksaku memakannya. Namun aku pikir semuanya tidak apa-apa karena rasa sakit ku sepadan dengan kelezatan yang kamu buat." Balas Amara sambil tersenyum polos.
Kenzie tidak mungkin mempercayai pengganti ini, kan?
Amara memiliki harapan yang tidak tersamarkan jauh di dalam hati.
__ADS_1