
"Batuk," pura-pura batuk.
"Ayo balik lagi ke topik. Kalau mas tahu kehidupan Mona tidak mudah di rumah, lalu kenapa mas Kenzie suka sekali galak kepadanya? Apa mas Kenzie tidak kasihan?"
Kalau masalah itu Kenzie tidak bisa berbuat apa-apa, karena ini memang karakternya sejak kecil.
"Aku akan berusaha lebih ramah kepadanya selama dia tidak membuat masalah untuk kamu." Tapi meskipun begitu dia masih tetap berjanji di depan istrinya.
Reaksi Azira terhadap keluarga memang memenuhi harapannya. Kenzie sangat puas karena Azira memiliki simpati yang sangat kuat terhadap keluarga. Dia tidak memakan mentah-mentah informasi itu langsung tapi berusaha untuk mencari tahu dengan bertanya kepadanya. Istrinya memang sangat luar biasa.
"Hum, berusahalah terlihat ramah sama Sasa juga."
Kenzie berjanji asal-asalan,"Tentu saja." Adiknya itu agak beda.
Selama ada uang, masalah apapun selesai.
"Sudah merasa nyaman?" Kenzie menyentuh kepala Azira.
Azira menganggukkan kepalanya. Setelah mendapatkan pijatan dari suaminya, memang ketidaknyamanan di kepalanya mulai berkurang.
"Iya, mas."
Kenzie lega.
"Alhamdulillah. Ya udah, kalau gitu aku mandi dulu, ya?" Katanya sambil bangun.
Tapi Azira buru-buru menghentikannya pergi.
"Mas Kenzie enggak usah mandi malam ini."
Kenzie menatap istrinya aneh. Mungkinkah Azira akan memintanya tidak mandi dan terus menggunakan pakaian ini seperti beberapa waktu lalu?
Kenzie merasa frustasi. Dia tidak biasa tidur tanpa mandi, apalagi sampai menggunakan baju kotor yang sudah digunakan seharian. Yah, kecuali saat berada di rumah sakit itu karena keadaan darurat. Kalau enggak darurat, mana mau dia tidur dengan situasi jorok seperti itu.
"Sayang...badanku bau lho setelah seharian, masa iya sih aku enggak boleh mandi?" Kenzie melembutkan suaranya ketika berbicara dengan Azira.
Berharap Azira mengubah pikirannya.
Namun sayang seribu sayang, Azira sudah terlanjur kecanduan menghirup bau keringatnya. Dan dia tidak rela berpisah dengan bau keringat Kenzie. Soalnya bau keringat Kenzie bagaikan penawar untuk rasa letihnya hari ini. Bisa dibayangkan betapa nyenyak tidurnya malam ini berada di dalam pelukan suaminya.
"Mas... Aku suka cium bau keringat kamu, jadi jangan mandi, yah?" Azira memelas.
Hati dan paru-paru Kenzie seperti di garuk-garuk saat melihat wajah manis istrinya.
"Tapi masa iya aku enggak mandi? Badan aku bau loh." Kenzie mencoba berkompromi dengan istrinya tersayang.
Azira segera menggelengkan kepalanya menolak membiarkan Kenzie mandi.
"Mas, aku mohon malam ini mas gak usah mandi. Ini keinginan anak kita sendiri, loh. Kalau mas mandi, dia akan ngambek dan cemberut nggak mau ngomong sama mas Kenzie." Azira mengancam.
Kenzie tidak merasa terancam dengan ancaman istrinya. Dia malah gatal ingin mencubit pipi gembil istrinya karena sikapnya yang manis dan manja telah menggelitik hatinya.
"Anak kita yang ngambek atau kamu yang ngambek, nih?" Goda Kenzie.
Azira langsung membuat alasan pembenaran.
"Ya pasti anak kita yang ngambek dong, mas. Tapi ngambeknya lewat aku. Jadi mas Kenzie harus baik-baikin aku biar nama baik mas Kenzie di depan anak kita tidak tercemar. Lagian normalnya aku nggak akan minta mas Kenzie untuk enggak mandi. Tapi ini murni permintaan anak kita, mas. Sebagai seorang ayah yang berdedikasi, mas Kenzie harus berusaha mengikuti semua keinginan anak kita biar dia bahagia dan tumbuh dengan sehat." Ucap Azira panjang lebar menceramahi suaminya.
Kenzie tidak bisa mendengar lagi apa yang dikatakan oleh istrinya. Rasa-rasanya dia seperti sedang ditodongkan sebuah pistol, jika dia menolak peluru akan datang menyapanya!
Ini sangat mengerikan.
"Okay...okay, aku nggak akan mandi malam ini, puas?" Ucap Kenzie akhirnya mengalah.
Azira tersenyum lebar tampak sangat puas. Ini sangat memuaskan malah.
"Puas, mas. Terima kasih ya, mas. Sini aku kasih hadiah pelukan." Azira merentangkan kedua tangannya lebar bersiap menerima pelukan hangat dari sang suami.
Kenzie mendengus,"Bilang aja kamu yang mau dipeluk." Meskipun begitu dia tetap merentangkan tangannya berjalan mendekat dan menarik Azira masuk ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Hum, hangat dan manis. Jika Azira tidur di dalam pelukannya malam ini, maka dia bersedia tidak mandi semalaman.
"Hum, nyaman." Bisik Azira puas.
...*****...
Satu jam sebelum pergi ke rumah Abah, semua orang berkumpul di meja makan untuk makan malam.
"Yana, panggil kakak kamu makan." Perintah Mama ke Yana.
Malam ini Mama sangat senang karena ditemani memasak oleh Yana. Biasanya dia melakukan semuanya sendiri karena Mona lebih banyak akhir-akhir ini tinggal di rumah Abah.
"Iya, Ma." Yana buru-buru mencuci tangannya di wastafel dan mengelapnya dengan tissue yang diambil dari meja.
Setelah kedua tangannya kering, dia keluar dari dapur menuju kamar Mona. Rumah ini cukup besar dengan 4 kamar biasa dan dua ruang tamu. Di lantai pertama ada dua kamar biasa dan dua kamar tamu, dua kamar biasa sisanya terdapat di lantai 2. Yaitu satu milik Mona dan satunya lagi milik Yana. Sementara orang tua mereka tinggal di lantai 1 bersama dengan Ayana.
Sekalipun Ayana sudah menikah, kamarnya tidak pernah dipindah dan dibiarkan begitu saja karena sewaktu-waktu Ayana akan pulang bersama suaminya.
Tok
Tok
Tok
Yana mengetuk pintu kamar kakaknya sopan.
"Kak Mona?" Panggil Yana kepada orang yang ada di dalam.
Tidak ada suara.
"Kak Mona, aku masuk ya?" Izin Yana kepada penghuni kamar.
Namun masih belum ada suara dari dalam kamar. Sikap diam Mona diartikan sebagai persetujuan oleh Yana. Oleh karena itu, Yana beranikan diri membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.
Kamar Mona cukup sederhana dengan dinding berwarna abu-abu sebagai latar belakang. Tidak ada boneka besar ataupun boneka imut yang sering ditemukan di dalam kamar seorang wanita. Ada lemari, meja rias, rak sepatu, rak jilbab, dan rak makeup yang sudah menjadi hal lumrah di dalam kamar wanita manapun. Ah, tidak lupa bunga mawar kuning yang terlihat mulai layu di dalam vas bunga.
"Kamu?" Mana keluar dari kamar mandi. Dia baru saja selesai mandi sehingga tidak mendengar salam dari Yana.
Mona tidak mengubah ekspresinya.
"Oh, aku akan segera turun ke bawah setelah ganti baju. Kamu turun aja duluan." Kata Mona santai.
Meminta Yana segera keluar dari kamarnya secara halus.
Dia berjalan melewati Yana dan membuka lemari pakaiannya untuk mengambil baju. Malam ini dia akan menggunakan baju tidur Teddy bear, imut dan manis seperti dirinya. Mona berpikir narsis di dalam kepalanya.
Yana langsung mengerti tapi tidak menunjukkan reaksi apapun di wajahnya.
"Baiklah, kalau gitu aku turun duluan. Kak Mona jangan lama-lama, ya, soalnya Mama dan Ayah sudah menunggu di bawah." Kata Yana sebelum keluar dari kamar Mona.
Mona melambaikan tangannya santai tanda bahwa dia mendengarkan.
Mona mengganti pakaiannya sebelum turun ke bawah. Di meja makan semua orang sudah menunggunya terbukti dari makanan yang belum tersentuh.
"Mona, sekarang lagi sibuk, ya?" Sapa Mama mulai menyiapkan makanan untuk ayah.
Mona menganggukkan kepala tanpa komitmen. Bila ditanya sibuk, tentu saja dia pasti sangat sibuk karena tugas kuliah datang bertubi-tubi setiap minggu. Beda mata kuliah beda tugas, alhasil dalam 1 minggu dia harus mengerjakan beberapa tugas yang membuat sangat frustasi.
"Sibuk gitu-gitu aja, ma. Biasa tugas kuliah." Jawab Mona santai.
"Kakak kamu dulu waktu sekolah di kedokteran juga sibuk banget. Setiap malam dia begadang ngerjain tugas. Dan setelah ayah perhatikan tugasnya sulit-sulit, kamu mungkin tidak sanggup. Makanya ayah bilang kamu beruntung tidak masuk sekolah kedokteran karena bebannya mungkin tidak bisa kamu tanggung." Kata ayah santai tidak merasa ada sesuatu yang salah dengan kata-katanya.
Mona mengambil nafas panjang. Dia sudah biasa dibanding-bandingkan dengan kakaknya. Bagi orang tuanya bisa matematika, kimia, fisika, dan sekolah di kedokteran adalah orang-orang yang pintar. Tapi bagi mereka yang mengambil jurusan sosial seperti dirinya tidak bisa dikategorikan sebagai orang pintar. Mona sudah terbiasa dengan penilaian orang tuanya.
"Setiap jurusan punya kesulitannya sendiri, ayah." Ketemu anak sambil mengambil makanan di atas meja.
Padahal tadi sudah lapar ingin makan banyak, tapi gara-gara ayah membandingkannya dengan Ayana, dia langsung kehilangan nafsu makan.
Makanan yang sangat menggugah selera di atas meja kini terlihat biasa-biasa saja.
__ADS_1
"Ayah tahu setiap jurusan memiliki kesulitannya sendiri, tapi dibandingkan dengan jurusan kakak kamu, jurusan kamu agaknya lebih mudah. Dan asal kamu tahu, adik kamu berencana mengikuti jejak Ayana. Dia ingin sekolah di kedokteran dan mengambil jurusan anak-anak pula, Katanya dia sudah lama kampung dengan pekerjaan kakak kamu." Kata ayah sambil tertawa.
Nilai Yana sangat memuaskan dan dia memiliki kualifikasi untuk belajar di sekolah kedokteran. Baik mama ataupun ayah mengungkapkan persetujuan mereka atas keputusan Diana yang ingin sekolah di sekolah kedokteran. Soal biaya bukalah masalah selama Yana memiliki tekad yang kuat untuk belajar.
Mona baru saja mendengar kabar ini. Tanpa sadar dia melihat ke arah adik angkatnya dengan tatapan rumit.
"Kamu mau lanjut sekolah kedokteran?" Mona memastikan.
Dia tahu kalau nilai Yana cukup bagus, tapi untuk masuk ke sekolah kedokteran rasanya agak sulit.
Yana tersenyum lebar.
"Iya, kak. Aku sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti tes di kampus kakak. Doain ya, kak semoga aku lulus." Mohonnya tulus.
"Jika nilai kamu bagus tes nanti, pasti akan lulus juga." Kata Mona acuh tak acuh sambil melanjutkan makannya.
"Adik kamu pasti lulus." Kata Mama menegaskan.
Mona mengangguk tanpa komitmen.
Sementara itu Yana tidak terlalu terkejut dengan reaksi kakaknya. Dia sudah menebak bila kakaknya tidak akan terlalu excited mendengar kabar ini.
"Oh ya ngomong-ngomong, kak, tadi sore kak Tio sempat menghubungi aku. Dia bertanya sama aku kenapa hari ini kakak tidak masuk kuliah tanpa penjelasan?"
Ting
Sendok makan di tangan ayah jatuh. Ayah menatap Mona menunggu penjelasan darinya.
"Kamu bolos kuliah?" Tanya ayah.
Mona menghela nafas berat. Tangannya terkepal erat menahan takut dan gugup di dalam hati. Tadi pagi Tio memang sempat mengancamnya akan memberitahu mama dan ayah soal bolos kuliahnya, tapi Mona mengabaikannya karena dia tahu sepupunya itu tidak akan berani mengadu ke rumah. Tapi lihat sekarang, dia malah mengadu lewat Yana!
Mona marah dan menyalahkan Tio karena tidak setia kawan.
"Iya, ayah. Hari ini aku kurang enak badan makanya bolos kuliah." Mona membuat alasan cepat.
Ayah tidak langsung menerimanya.
"Kamu kan bisa kirim surat sakit atau izin, enggak usah pakai bolos segala. Nak, ayah enggak pernah larang kamu untuk enggak masuk kuliah tapi ayah berharap kamu fokus dan serius kuliah karena ini menyangkut masa depan kamu sendiri. Kalau kamu main-main seperti ini, mau jadi apa kamu di masa depan nanti?" Ucap ayah tajam meninggikan volume suaranya.
Seketika tidak ada yang berani menggerakkan sendok nya di atas meja. Tatapan semua orang tertuju ke arahnya.
Mona tidak terima dengan pernyataan ayah. Baru kali ini dia bolos dan itupun cuma sekali dia setiap mata kuliah tapi reaksi ayah terlalu berlebihan!
"Ya Allah, ayah. Aku beneran lagi enggak enak badan hari ini makanya enggak masuk kuliah. Ayah juga lihat sendiri kan kalau aku baru keluar dari kamar? Karena balik dari kampus aku langsung tidur dan nggak pernah keluar lagi. Seperti yang ayah bilang aku harusnya kirim surat atau apa, mana sempat aku buat surat. Lagian apa yang Ayah bilang itu berlebihan. Ini pertama kalinya aku bolos kuliah, cuma sekali!" Mona membuat pembelaan.
Tapi ayah tak mau mengerti apa yang dia pikirkan karena bagi ayah bolos kuliah itu salah.
"Terserah ini mau pertama kali atau enggak, kamu tetap salah! Ayah enggak mau tahu pokoknya kamu nggak boleh ulangi kesalahan ini lagi!" Bentak ayah keras kepada Mona.
Mona terkejut. Kedua tangannya gemetaran menahan luka. Baru kali ini dia melihat ayah semarah ini kepadanya, dan bahkan sampai membentaknya keras. Sebelumnya saat ayah marah, dia hanya memberikan teguran biasa tanpa mencampurkan nada tinggi. Namun malam ini...Mona sangat kecewa. Saking kecewanya dia tidak tahu harus mengatakan apa dan bereaksi apa. Untuk sejenak, dadanya terasa sesak.
Sakitnya sungguh tidak tertahankan.
"Kamu..." Mona menatap Yana dengan rumit.
"Sengaja, kan menanyakan hal ini di depan ayah dan mama biar aku dimarahin?" Tanya Mona dengan suara tercekat.
Yana terkejut dengan pertanyaan langsung Mona.
"Aku.." tapi sebelum dia berbicara, Mama lebih dulu menyerang Mona.
"Apa maksud kamu ngomong gitu sama adik kamu? Jelas-jelas dia nanya baik-baik sama kamu tadi. Mama dan ayah jadi saksinya. Justru kami senang dia bertanya tadi karena dengan begitu kami akhirnya tahu kalau hari ini kamu membolos. Ya Allah, Mona... Mama kan udah berulang kali bilang sama kamu agar belajar menjadi orang yang dewasa. Kenapa kamu sulit sekali mendengarkan mama? Memang apa susahnya mengikuti jejak kakak kamu, Nak? Dulu dia juga sudah bisa berpikir dewasa di usia kamu. Emosinya enggak labil, mengalah sama adik-adiknya dan enggak pernah melemparkan kesalahan kepada kalian berdua. Tapi kenapa kamu sulit sekali berubah, Nak? Bila kamu belum bisa menerima kehadiran Yana di rumah ini, oke mamam bisa mengerti itu, tapi seenggaknya kamu mencotoh kakak kamu. Hargai Yana dan jangan suka melemparkan kesalahan kepadanya padahal itu kesalahan kamu sendiri!" Mama marah Mona masih sempat-sempatnya menyalahkan Yana, padahal itu kesalahannya sendiri.
Sebagai seorang Ibu yang sangat kecewa karena putrinya masih kekanak-kanakan dan belum cukup dewasa di usianya ini.
Mata Mona mulai buram. Dia tahu sebentar lagi air matanya akan jatuh. Tak mau mereka semua melihatnya menangis, Mona bangun dari duduknya.
"Aku selesai." Lalu pergi ke lantai 2 tanpa menunggu reaksi dari orang tuanya.
__ADS_1
"Mona, kembali! Kita belum selesai bicara." Teriak Mama memanggil.
Namun Mona tidak menghentikan langkahnya ataupun menoleh sedikitpun. Dia menulikan telinganya terhadap panggilan marah orang tuanya. Bersikeras terus melangkah ke depan sembari menahan air matanya yang mulai berkumpul di pelupuk matanya.