Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 5.12


__ADS_3

Karena terlalu marah Umi kelepasan emosi. Mendengar putranya menggaungkan kata-kata tanggung jawab di hadapannya, dia bertanya-tanya apakah rasa tanggung jawab ini juga ada untuk korban yang paling menderita dari pernikahan ini. Humairah, karena patah hati dan kecewa terhadap pernikahan yang kandas, dia jatuh sakit dan masih belum pulih hingga hari ini. Setiap malam menjelang tidur kepalanya terus berputar memikirkan bagaimana keadaan Humairah dan apakah dia baik-baik saja setelah kejadian hari itu.


"Sejak awal...Umi sudah mengetahui bahwa aku benar-benar tidak peduli." Kenzie mengucapkan satu kalimat ini dengan nafas berat.


Umi langsung tercengang mendengarnya. Untuk sejenak dirinya tidak tahu harus mengatakan apa. Namun mata tuanya tidak bisa menutupi betapa kecewa dirinya ketika mendengar balasan Kenzie. Dia mengira bahwa putranya telah menerima Humairah dan juga mulai menumbuhkan perasaan terhadapnya. Namun mendengar jawaban Kenzie sekarang, Umi menjadi malu serta marah karena merasa dibohongi.


"Astagfirullah... Apakah kamu tahu bila Humairah masih sakit sampai hari ini? Dia masih belum bisa bangun dari tempat tidurnya gara-gara memikirkan kamu."


Kenzie mengalihkan matanya melihat ke arah lain. Sikapnya yang teguh sama sekali tidak tergoyahkan sekalipun dia mendengar bila Humairah belum pulih hingga saat ini.

__ADS_1


"Aku akan membantunya meminta cuti besok, Umi bisa yakin rumah sakit tidak akan menegurnya." Kata Kenzie mengecewakan Umi.


Umi berharap bila Kenzie akan bertanya bagaimana kabar Humairah atau setidaknya berniat pergi menemuinya untuk meringankan suasana hati Humairah yang masih tersudut kelabu. Mungkin saja ada setitik rasa bersalah di dalam hati Kenzie yang akan berpotensi memperbaiki hubungan yang sempat rusak oleh Azira. Akan tetapi dia terlalu banyak berharap karena faktanya kenzi memiliki sikap tidak peduli terhadap keadaan Humairah.


"Keterlaluan! Bisa-bisanya kamu memiliki sikap dingin kepada wanita yang telah mencintai kamu dengan tulus? Umi tidak mengerti, dari mana kamu belajar-"


"Uhuk...uhuk.." Batuk Abah menghentikan suara Umi.


"Umi tolong ambilkan aku obat di dalam kamar." Perintah Abah kepada Umi.

__ADS_1


Umi tidak membantah dan langsung pergi tanpa ragu-ragu ke dalam kamar. Saat melewati Kenzie, wajahnya terlihat sangat buruk. Dia berniat mendiami Kenzie hingga putranya benar-benar sadar kesalahan apa yang telah dia lakukan. Selama Kenzie tidak menyadarinya, dia akan terus mengabaikan.


Begitu Umi pergi ke dalam kamar, Abah melihat Kenzie dan Sasa yang masih berdiri di tempat. Sasa terlihat tidak enak melihat kepergian Umi dalam keadaan marah namun dia juga tidak berani membuka mulut di depan kakaknya. Apalagi setelah melihat wajah datar kakaknya sekarang, keberaniannya langsung menguap entah ke mana.


"Jangan khawatirkan Umi kalian, aku akan mengurusnya. Kalian lebih baik segera pergi agar bisa kembali lebih cepat ke rumah." Kata Abah di sela-sela batuk.


Mendengar kata Abah, artinya dia juga akan pergi mengikuti Kenzie dan Azira berbelanja. Sebenarnya Sasa tidak mau tapi di depan Abah dan wajah dingin Kenzie, dia tidak berani bersuara.


"Terima kasih, Abah." Lalu Kenzie pergi tanpa menyapa Sasa dan segera naik ke lantai 2 untuk membawa Azira pergi.

__ADS_1


"Aku...aku akan menunggu di depan!" Teriak Sasa sambil melihat punggung kakaknya kian menjauh.


Namun Kenzie tidak menoleh ataupun berhenti. Dia terus berjalan seolah tidak mendengar apa-apa. Membuat Sasa merasa malu dan jengkel pada saat yang sama.


__ADS_2