Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 4.10


__ADS_3

Kenzie buru-buru turun dari lantai dua dan berpapasan dengan Sasa di tangga.


"Kak Kenzie disuruh turun makan sama Umi." Kata Sasa menyampaikan pesan Umi.


Untungnya ia tidak naik ke lantai dua dan bertemu dengan Azira. Satu-satunya orang yang tidak ingin ia lihat di rumah ini.


Kenzie menghentikan langkahnya di tangga dan memperhatikan adiknya dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Sasa merasa aneh dan sontak memeluk badannya dari mata gelap Kenzie. Aneh, mengapa tiba-tiba Kenzie menatapnya seperti itu?


"Kak Kenzie enggak apa-apa, kan?" Tanya Sasa ragu.


Mulut Kenzie berkedut tertahan melihat sikap antisipasi adiknya. Apakah adiknya berpikir jika dia adalah hewan buas?


"Kau tahu produk wanita apa yang aman dan nyaman digunakan?" Tanya Kenzie tidak jelas.


Sasa tidak mengerti arah pembicaraan Kenzie. Wajahnya bengong karena tidak tahu harus mengatakan apa.


"Sudahlah." Kenzie tidak ingin bertanya lagi.

__ADS_1


"Bilang sama Umi kalau kakak nanti makan malamnya belakangan aja sama Azira." Pesan Kenzie seraya melangkah turun ke bawah.


Meninggalkan Sasa di tangga yang masih belum bisa mencerna pertanyaan kakaknya.


"Sejak wanita asing itu ada di sini kakak jadi aneh." Dumel Sasa tak puas.


Matanya lalu melihat ke atas, memperhatikan satu-satunya pintu coklat yang tertutup rapat di lantai dua. Mendengus dingin, ketidakpuasan Sasa terhadap Azira semakin berlipat ganda ketika mengetahui wanita asing itu tidak pernah turun ke bawah untuk membantu Umi di dapur atau membersihkan rumah.


Wajarnya kan setiap menantu pasti akan berusaha mencari perhatian kepada keluarga suami. Baik membantu memasak ataupun bantu-bantu bersihin rumah, menantu normal manapun akan melakukannya. Namun mengapa Azira sama sekali tidak berjalan sesuai dengan kartu?


"Cih, memangnya siapa juga yang mau ngehargai dia?" Gumam Sasa cemberut.


Ia langsung kembali ke meja makan setelah menyelesaikan tugasnya dan menyampaikan kepada Umi bahwa Kenzie akan makan belakangan nanti. Umi terlihat sedih mendengarnya akan tetapi mulutnya tertutup rapat tidak memberikan komentar apapun.


Melihat sikap diam Umi di atas meja makan, Sasa jadi sedih. Umi pasti sangat tertekan saat mendapatkan kabar dari bibi Safa bahwa Humairah masih demam dan belum membaik. Sasa tahu dengan baik betapa sayangnya Umi kepada Humairah. Begitu besar harapan Umi selama ini ingin melihat Humairah menjadi menantunya. Tapi semuanya jadi kacau gara-gara kedatangan Azira.


"Dasar anak haram." Sungutnya muram.

__ADS_1


...****...


Kenzie pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di kota. Karena sedang terburu-buru, dia tidak ingin tinggal lama di dalam toko. Hanya saja lautan produk pribadi wanita telah membutakan matanya. Kenzie sejenak bingung akan membeli yang mana.


"Permisi, mas. Apakah mas butuh bantuan?" Seorang pelayan toko menghampiri Kenzie.


Posisi Kenzie sangat canggung di sini karena sebagai seorang laki-laki, agak aneh melihatnya berdiri di lautan produk pembalut wanita.


Kenzie malu. Dia meraba masker wajahnya untuk memastikan bahwa orang-orang tidak melihatnya.


"Istriku membutuhkannya." Jelas Kenzie.


Pelayan itu langsung mengerti dengan kecanggungan Kenzie. Pantas saja dia berdiri di sini, ternyata untuk istrinya.


"Ternyata untuk istri, mas." Pelayan toko mengerti.


"Yah, jadi bisakah kamu merekomendasikan produk mana yang paling aman dan nyaman untuk istri ku?"

__ADS_1


__ADS_2