Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 5.2


__ADS_3

Azira terlena mendengarnya. Sesekali matanya yang jernih akan mendongak untuk mencuri pandang menatap wajah sang suami. Ia mengamati wajah sang suami dan menemukan bila sang suami sangat serius saat menjelaskan fungsi mesin cuci ini kepadanya. Ini hanya menjelaskan masalah sepele namun ekspresi serius di wajah sang suaminya seperti mengatakan bila masalah ini sungguh tidak main-main. Ekspresi ini ia sering lihat ketika sang suami sedang fokus membaca dokumen di meja kerja. Hem, persis.


"Paham?" Kenzie melirik Azira yang masih terpaku memandanginya.


Azira tertangkap basah. Bulu matanya bergetar panik buru-buru menghindar dari mata gelap sang suami. Salah tingkah, hatinya menderu panik di dalam dadanya. Bertanya-tanya apakah diriku terlalu jelas?


"Apakah kamu sudah mengerti penjelasan ku?" Tanya Kenzie tersenyum miring.


Azira berbohong.


"Aku sudah mengerti. Ini sangat mudah. Sudahlah, ayo makan. Aku sudah lapar." Ia melarikan diri masuk ke dalam kamar dan langsung duduk di sofa.


Di atas meja sudah ada nampan makanan yang Kenzie bawa dari bawah. Makanan yang tertutup tudung saji tidak bisa menghalangi wangi makanan yang menguar di dalamnya. Samar, ia bisa mencium wangi sup ayam yang menggugah selera.


Satu hal yang harus orang tahu. Saat ia dalam suasana hati yang buruk atau datang bulan, ia tak akan kehilangan selera makan. Bukannya tidak mau makan tapi ia malah akan semakin terpacu dan ia terkadang tersiksa menghadapi kelemahannya ini karena dulu ia kekurangan makanan di rumah.

__ADS_1


"Kenapa diam saja? Ayo makan." Kenzie membuka tudung saji dan membantu istrinya mengambil makanan.


Saat makan malam berlangsung, dia sering memperhatikan laju makanan istrinya dan menyadari sebuah fakta bahwa sang istri rupanya suka makan. Porsi makan malamnya tidak sedikit tapi dibandingkan dengan milik istrinya, dia kalah jauh. Istrinya seperti orang kelaparan yang belum pernah melihat makanan selama 8 tahun, cek, jika Sasa melihatnya saat ini maka mungkin istrinya akan dianggap sebagai orang kampung yang belum pernah melihat makanan lezat.


...*****...


Paginya Azira bangun subuh-subuh tepat saat adzan subuh berkumandang. Ia sejujurnya tidak ingin bangun karena kram di perutnya masih sakit dan perih, tenaganya pun melemah hingga titik dimana ia tidak ingin bergerak. Akan tetapi ia malu di depan Kenzie jika bermalas-malasan. Ia tidak ingin Kenzie semakin tidak puas kepadanya.


Hah, yang benar saja?


Sejak menikah, semua orang tidak terkecuali Kenzie sangat tidak puas kepadanya.


Ia memaksakan diri bangun dan duduk di atas kasur. Dengan kondisi seperti ini ia sama sekali tidak perduli dengan jilbabnya yang bengkok karena tidur.


"Mas?" Ia melirik sisinya kosong dan baru menyadari bila suaminya sedang sholat di kamar.

__ADS_1


Ia menghela nafas panjang, bersandar di kepala tempat tidur untuk mengumpulkan tenaganya. Setelah merasa jauh lebih baik, ia lalu menurunkan kedua kakinya dari atas kasur. Baru saja ia akan berdiri, suara Kenzie tiba-tiba menginterupsinya.


"Jika kamu masih merasa tidak nyaman, istirahat saja di dalam kamar." Kenzie baru saja menyelesaikan sholat sunnah sebelum subuh nya.


Azira menggigit bibirnya canggung. Kakinya yang baru saja menyentuh permukaan karpet perlahan ditarik naik lagi ke atas kasur.


"Apa tidak masalah?"


Kenzie bangun dari duduknya dan bersiap untuk sholat subuh. Sebelum memulai sholat, dia masih menjawab pertanyaan istrinya.


"Tidak masalah, lagipula semua orang mengerti. Untungnya aku tidak menyentuhmu malam itu, jika tidak, maka hari kamu pasti tidak akan bisa bangun." Katanya acuh tak acuh tanpa melihat ekspresi kosong istrinya.


Azira tercengang. Mulutnya yang pucat bergerak beberapa kali ingin membalas ucapan vulgar sang suami. Tapi melihatnya sudah mulai sholat lagi, ia akhirnya menutup mulutnya dengan suasana hati yang sangat rumit.


Apa Kenzie merendahkannya?

__ADS_1


Bersambung...


Author masih belum ngefeel, sabar yah


__ADS_2