
Umi memang kesal karena makanan jadi terbuang sia-sia dan panci kesayangannya teraniaya di bawah pengasuhan Azira. Bagi ibu-ibu rumah tangga di luar sana, peralatan dapur bagaikan nafas mereka. Bila rusak, sakitnya seakan-akan kehilangan uang segepok.
Tapi ketika melihat ekspresi hidup di wajah Azira, rasa kesal Umi tidak ada artinya. Dia senang melihat Azira tidak cemberut lagi atau memasang ekspresi sedih di wajahnya, dan seperti yang dia duga kedatangan Kenzie adalah obatnya. Tapi yang aneh adalah Umi ingin sekali tahu mengapa Kenzie begitu baik kepada Azira. Kalau dia sendiri baik kepada Azira itu memang wajar karena orang tua Azira adalah dermawan suaminya, di samping itu dia juga ikut sakit hati melihat perjuangan hidup Azira dan ibunya selama tinggal di kota, jadi secara alami dia mulai menumbuhkan belas kasih dan menganggap Azira sebagai keluarganya sendiri. Memang belum sampai ke titik menjadi putrinya, karena bohong bila dia tidak kesal dengan apa yang telah Azira lakukan di pernikahan dengan Kenzie. Antara Humairah dan Azira, rasanya begitu rumit untuk Umi.
Humairah memang bukanlah tunangan Kenzie dari kecil tapi dia adalah gadis yang baik dan sangat lembut. Sikapnya selalu sopan, memiliki sisi yang sangat bijaksana hampir satu keluarga telah menyukainya. Tapi Azira, secara latar belakang dan pendidikan dia memang kurang. Tapi hanya dengan perjanjian di masa lalu telah membenarkan posisinya sebagai pendamping Kenzie.
Ini rumit bagi Umi. Tapi keresahan ini hanya bisa dipendam di dalam hati. Dan dia sedang berusaha untuk tidak membenci siapapun.
"Siapa yang mengizinkan kalian bermesraan di dapur?" Tanya Umi berpura-pura marah.
Dia menatap Azira dan Kenzie dengan mata melotot untuk menakut-nakuti mereka. Memang yang satu ketakutan, tapi yang satunya lagi tidak menunjukkan ketakutan malah terus tersenyum.
"Azira nggak tahu, Umi. Tiba-tiba aja mas Kenzie ke dapur dan minta dipeluk. Azira padahal nggak mau tapi dia maksa terus, ya...terus seperti yang Umi lihat tadi." Adu Azira kepada Umi.
Pertama dia masih kesel dengan apa yang Kenzie lakukan kepadanya tadi subuh, dan kedua dia sangat malu dipergoki Umi bermesraan di dapur, jadi dia menggunakan kesempatan ini untuk membalas dendam kepada Kenzie.
Ekspresinya terlihat takut tapi bibirnya sempat tersenyum.
Bagaimana mungkin Kenzie tidak melihat isi pikiran istrinya. Lihat saja senyumnya tadi, bukankah dia ingin membalas dendam?
Hem, ingin bermain denganku? Batin Kenzie.
Umi mengalihkan pandanganya melihat ke arah Kenzie dengan tetapan tidak puas. Dia memang meminta putranya untuk menghibur Azira, tapi tidak di dapur juga. Alhasil, pancinya yang jadi korban.
"Umi ngerti kalau kalian tuh pasangan suami istri, tapi mesraan nya jangan di dapur juga. Kalian berdua kan punya kamar?"
Kenzie tersenyum simpul,"Azira nggak mau diajak ngapa-ngapain di kamar, tadi subuh aja dia marah banget sama aku lho Umi, gara-gara aku gi-"
Azira sesak nafas mendengarnya. Jika dia membiarkan suaminya terus berbicara maka takutnya, dia tidak memiliki wajah untuk melihat Umi lagi.
"Umi... Umi, minta saja mas Kenzie membelikan Umi panci yang baru. Uang mas Kenzie banyak loh Umi." Potong Azira panik.
Setelah itu dia menatap suaminya dengan tatapan mengancam agar jangan berani mengungkit masalah tadi pagi. Dia sudah malu dipergok pelukan di dalam dapur, dan jika dibahas lagi masalah tadi pagi, maka harus ditaruh di mana mukanya di depan Umi?
Melihat tatapan ancaman istrinya, Kenzie tidak mengatakan apa-apa tapi wajah tersenyum nya membuat Azira merasakan sebuah firasat buruk. Apakah Kenzie sedang merencanakan sebuah rencana buruk kepadanya?
Umi melihat Kenzie dan Azira yang sibuk saling lempar pandangan. Hah, percuma saja berbicara dengan mereka pikirnya.
"Kalian... Cepatlah naik ke atas dan ganti baju mu Kenzie. Sebentar lagi kita akan makan malam." Usir Umi tidak tahan lagi.
"Tapi masakanku belum selesai." Azira malu pergi.
"Apalagi yang mau dimasak Azira? Masakan kamu udah gosong, tidak bisa dimakan oleh manusia. Udah, jangan dipikirin. Kita makan yang udah jadi aja. Sekarang kembali lah ke kamar kamu, suami kamu pasti capek kerja seharian di rumah sakit." Umi dengan kekuatan penuh mendorong mereka berdua keluar dari dapur.
Azira malu sekaligus tak berdaya. Setelah hari ini dia berjanji bahwa dia tidak akan membiarkan Kenzie masuk ke dalam dapur, atau dia akan dikacaukan lagi.
Hanya saja dia heran dengan dirinya sendiri yang cukup lemah di hadapan Kenzie.
Mengapa aku merasa kalau pertahanan diriku semakin lemah di depan mas Kenzie? Apakah aku mulai menerima peranku sebagai istri di dalam pernikahan ini? Batin Azira menebak.
Lalu dia mengangkat kepalanya menatap wajah Kenzie yang kembali memasang ekspresi datar. Laki-laki ini memiliki wajah yang tampan, suara yang berat mendominasi, tubuh tinggi dan tegak, setiap kali memandang tidak ada bosan-bosannya, kebanyakan wanita akan mudah luluh olehnya.
__ADS_1
Justru inilah yang ditakutkan.
Takut, apa yang Ibu rasakan dulu juga dirasakan olehku. Sebab rasanya sangat sakit. Aku tidak berani memikirkannya. Batin Azira sembari menundukkan kepalanya, menyembunyikan apa yang tengah dipikirkan sekarang.
"Kamu kenapa?" Kenzie merasakan tatapannya tadi.
"Ah, aku nggak kenapa-napa." Bohong Azira.
Azira lalu menatap tas suaminya.
"Tasnya biar aku aja yang bawa, mas."
Namun Kenzie masih memberikan penolakan yang sama.
"Jangan, aku bisa sendiri. Kamu pegang jas aku aja." Tolak Kenzie.
Azira sekali lagi menundukkan kepalanya. Untuk sesaat dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Rasanya canggung dan jantungnya berdetak sangat kencang...um, jantungnya sudah seperti ini semenjak dia berduaan dengan Kenzie.
"Lain kali chat atau SMS aku kalau kamu nggak bisa telepon." Suara Kenzie rendah.
Azira tertegun. Memang benar dia telah membeli ponsel baru dan Kenzie juga sudah mengatakan untuk menghubunginya. Tapi Azira pikir dia tidak serius mengatakan itu karena Kenzie adalah orang yang sibuk, di samping itu Azira memiliki beberapa keraguan jadi Azira tidak mengirim pesan ataupun menelpon meskipun dia mau.
"Tadinya aku mau ngirim SMS, tapi aku takut ganggu kerja mas Kenzie." Katanya mengakui.
Takut pesannya nggak dibalas ataupun enggak digubris, takut teleponnya tidak diangkat ataupun diabaikan, dia takut makanya tidak mau mengambil inisiatif.
Kenzie menoleh melihat Azira yang tengah menunduk. Merendahkan kepalanya sedikit untuk mengintip. Azira sepertinya sedang tenggelam di dalam pikirannya. Ekspresi yang gugup dan kening yang berkerut menunjukkan bahwa dia sedang memikirkan sesuatu yang rumit.
"Apakah setiap wanita serumit ini?" Gumam Kenzie.
Kenzie tersenyum,"Aku bilang kirim pesan atau telepon saya aja kalau kamu mau. Misalnya kamu ragu dan takut aku sedang sibuk bekerja, maka hubungi aku ketika waktu shalat datang. Soalnya kami akan beristirahat saat waktu shalat zuhur datang." Kata Kenzie tidak ingin mengulangi pertanyaan sebelumnya.
Azira merasa aneh. Perasaannya ucapan Kenzie tidak sepanjang ini.
"Oh... Kalau kalau begitu aku akan mencoba menghubungi mas nanti." Ucapnya gugup.
Dia sudah berjanji, maka dia akan melakukannya besok. Tapi kenapa hatinya terus berdegup kencang?
...*****...
"Ya Allah... Anak-anak zaman sekarang memang terlalu berani. Lihatlah panci kesayanganku.." Umi menggelengkan kepalanya tak berdaya menatap kerak-kerak hitam yang menempel di pancinya.
"Harus direndam pakai air dulu baru bisa dibersihin." Umi lalu mengangkat panci itu dan memindahkannya ke wastafel. Setelah itu dia mengaliri air ke dalamnya hingga terisi penuh.
Beres merendam panci, Umi tidak langsung meninggalkan dapur. Dia mengambil pengelap untuk membersihkan cipratan minyak di atas kompor. Mengumpulkan patahan-patahan sayur yang jatuh ke lantai dan terakhir menyapu lantai sebelum memastikan dapur tidak lagi terlihat berantakan.
"Sudah jam segini, kenapa Sasa belum pulang-pulang juga?" Gumam Umi heran.
"Abah, ada pesan nggak dari Sasa? Soalnya sampai jam segini dia masih belum pulang."
"Baru aja Sasa nelpon. Katanya malam ini dia akan menginap di asrama kampus bersama teman-teman kelas yang lain. Mau ngerjain tugas." Jawab Abah sembari menggeser duduknya menyediakan tempat untuk istrinya.
__ADS_1
Umi tidak berdamai mendengar alasan ini. Soalnya Sasa adalah anak perempuan, satu-satunya perempuan di keluarga ini. Sebagai anak perempuan sudah sepatunya dia tinggal di dalam rumah menjelang malam. Bukannya dia berpikiran kolot, tapi ini murni karena Umi mencintai Sasa. Dia adalah anak perempuan, setiap langkahnya memiliki dua pertimbangan, ya itu bernilai kebaikan atau bernilai keburukan untuk orang tuanya. Selain itu kehidupan malam sangat berbahaya bagi anak perempuan. Umi tidak percaya dengan malam dan bahkan tidak mempercayai lagi pergaulan orang-orang di malam hari. Makanya Umi kesel kalau tahu Sasa nggak akan pulang ke rumah setelah malam hari.
"Kenapa harus di asrama kampus? Dia kan punya rumah. Ajak aja teman-temannya ke sini kalau mau ngerjain tugas. Kamarnya juga luas dan ada wi-fi juga di rumah, kalau lapar, tinggal turun aja ambil di dapur. Nggak ada yang susah kan?" Ucap Umi dongkol.
"Abah udah bilang tadi, tapi dia bilang nggak nyaman sama Frida. Kamu tahu sendiri kan Frida tidur di kamar Sasa. Nanti kalau dia bawa teman-temannya ke sini, mau taruh di mana Frida? Kamar tamu yang lain masih diperbaiki jadi satu-satunya kamar ya punya Sasa. Kan aneh kalau Frida gabung sama mereka. Mereka pasti canggung dan nggak puas." Kata Abah menjelaskan.
Umi lupa kalau Frida tinggal di kamar Sasa. Dan gara-gara mengingat Frida, hati Umi semakin dongkol. Dia masih ingat dengan jelas gimana kasarnya kata-kata Frida kepada Azira. Gadis itu berbahaya, wajahnya manis tapi kata-katanya sangat kejam.
Walaupun Frida adalah keponakannya tapi dia tidak bisa menoleransi semua kata-kata kasar yang dia ucapkan kepada Azira. Memang benar bahwa Azira datang ke rumah ini menggunakan cara yang tidak bisa dibenarkan, tapi itu bukan berarti orang bisa merendahkan kehormatan Azira. Bahkan dia sendiri orang yang seharusnya paling kecewa tidak sampai sejauh itu.
"Huh, jangan sebut tentang dia lagi. Aku sangat marah setiap kali memikirkan kata-katanya. Dan tahukah Abah, sampai sekarang dia masih belum minta maaf kepada Azira. Astagfirullah, aku bener-bener nggak habis pikir sama dia, Abah. Alangkah lebih baik jika dia segera angkat kaki dari rumah ini." Kini fokus Umi beralih membicarakan Frida.
Abah juga tahu kekesalan istrinya. Dia pun sama kesalnya. Tapi apa yang harus mereka lakukan? Mereka sudah menunjukkan solusi tapi Frida tidak mau bekerja sama. Jadi jalan satu-satunya mengeluarkan Frida dari rumah ini. Toh sikapnya juga tidak baik.
"Berikan dia kesempatan lagi. Mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Kamu juga lihat sendiri kan kalau dia terus menangis." Kata Abah tak berdaya.
Umi mendengus,"Menangis terus! menangis terus! Bisanya nangis doang, tapi ngambil inisiatif untuk meminta maaf nggak mau." Keluh Umi semakin tak senang.
"Bilang sama Sasa, Bah. Ini adalah malam terakhirnya menginap di tempat orang lain. Sekali lagi dia mengulangi, Umi nggak akan ngasih dia uang jajan lagi."
"Jangan terlalu kejam sama dia. Kamu juga tahu bagaimana situasinya." Abah menenangkan Umi.
Karena Umi sudah terlanjur kesel, bawaannya ingin marah terus dan mulutnya tidak berhenti ngedumel.
"Kalau mereka nggak bisa tinggal di dalam kamar, kan ada ruang tamu, ada ruang tengah. Kemanapun mereka pergi, mereka bisa tidur di sofa." Ucap Umi meremehkan.
Abah menggelengkan kepalanya tak bisa berkata-kata. Kalau istrinya sudah begini lebih baik tidak usah meladeninya membicarakan topik yang sama. Soalnya marahnya tidak akan mereda, tapi malah semakin menjadi-jadi.
"Di mana Kenzie?" Abah dengan polos mengganti topik pembicaraan.
"Di atas sama Azira. Mereka berdua itu...ya Allah, Umi sampai heran, deh. Masa iya mereka pelukan dia dalam dapur dan nggak sadar kalau masakannya gosong?" Mengingat kejadian di dapur bukannya kesel, Umi malah tertawa.
Lucu saja.
"Beneran, Umi?" Abah nggak percaya.
"Beneran, Abah. Umi sendiri loh saksinya. Gara-gara cium bau masakan gosong, Umi masuk ke dapur dan mergokin mereka lagi mesraan." Cerita Umi.
Abah tersenyum mendengarnya sekaligus heran. Soalnya Kenzie merupakan orang yang memiliki emosi datar. Jadi dia terkejut ketika mengetahui Kenzie ternyata memiliki sisi romantis di dalam dirinya.
"Anak kita sepertinya berubah ya semenjak menikah." Kata Abah dalam suasana hati yang baik.
Umi juga merasakan perubahan putranya.
"Sepertinya keputusan kita memaksanya menikah memang benar. Kalau tidak, hidupnya akan datar terus."
Karena sebelum menikah Kenzie selalu memasang wajah flat dan tidak mudah bergaul. Bukannya tidak mudah bergaul, tapi lebih tepatnya dia sangat sulit tertarik dengan apa yang orang-orang bicarakan.
"Menurut Abah ini bukan karena pernikahan, karena ketika menyiapkan pernikahan dengan Humairah, dia tidak seperti ini sehingga Abah pernah khawatir dengan kehidupan rumah tangga Kenzie setelah menikah. Tapi ketika bertemu dengan Azira, perlahan dia menunjukkan beberapa perubahan. Coba pikirkan saja ketika pernikahan itu gagal, apakah dia marah?" Abah meluruskan perkataan Umi.
Abah selama ini telah memperhatikan bagaimana Azira bersikap dan bagaimana Kenzie merespon. Malah ada fakta yang mengejutkan kalau seringkali Kenzie mengambil inisiatif untuk menarik perhatian Azira. Padahal Kenzie bukan orang yang seperti itu.
__ADS_1
"Memang benar ketika dia tahu kalau bukan Humairah yang duduk di sampingnya, melainkan Azira, responnya tidak terlalu besar. Dan... Dia terlihat tidak marah. Jadi... Apakah mungkin semua perubahan ini karena Azira?" Umi sulit mempercayainya tapi di saat yang sama dia sangat lega karena kedatangan Azira mampu mewarnai kehidupan Kenzie yang dulunya datar.
"Kakak, apa yang kalian berdua bicarakan?" Bibi Indring masuk ke dalam ruang tengah dengan segelas jus apel di tangan kanannya.