
Setelah berbicara dengan semua orang, bibi Safa izin kembali ke kamarnya untuk tidur siang. Mama dan Humairah juga tidak tinggal lama di sini. Mama membawa Humairah ke kamar dan menenangkannya. Sementara ayah dan paman masih berbicara di halaman, bibi Safa kembali ke kamar.
Melihat tidak ada yang mengikutinya, Bibi Safa tidak masuk ke dalam kamar tapi malah pergi ke halaman depan. Tidak ada seorangpun di luar kecuali dirinya sendiri.
"Huh." Dia lalu mengotak-otik ponselnya, beberapa detik kemudian suara seseorang yang sudah tidak asing lagi muncul dari ponselnya.
"Di mana kamu?" Tanya bibi Safa dingin.
Orang di seberang sana langsung menciut ketika melihat bibi Safa.
"Nyonya, aku sedang berada di rumahku. Hari ini pelanggan agak sepi, jadi aku tidak mengawasi bisnis di luar." Itu adalah suara yang nyonya Bara, orang yang Azira sangat benci dan hindari.
Bibi Safa mendengus dingin.
"Bukankah aku sudah memberikan kamu uang? Kenapa kamu masih diam saja di sini dan tidak mulai bekerja? Aku kan udah kasih tahu alamat rumahnya sekarang. Kenapa kamu masih belum bergerak juga?" Ucap bibi Safa marah.
Dengan efisiensi kinerja nyonya Bara, seharusnya Azira sudah diculik sejak beberapa hari yang lalu dan mulai dipekerjakan. Tapi sampai dengan hari ini, dia tidak melihat kemajuan apapun yang sangat menjengkelkan untuk bibi Safa.
"Nyonya tolong bersabar. Kami kemarin melihat rumah tempatnya tinggal. Ketika kami akan masuk ke dalam komplek perumahan, tiba-tiba kami dicegat oleh orang-orang yang tak dikenal. Mereka... Mereka membawa senjata api, nyonya. Kedua anak buahku mengatakan kalau orang-orang ini tak bisa kami singgung. Soalnya mereka memegang senjata api. Nyonya tahu sendiri bukan kalau orang yang dapat memegang senjata api bukanlah orang biasa. Kami ini hanyalah bisnis kecil, nyonya. Kami tak mampu menyinggung bisnis besar." Nyonya Bara berkata dengan hati-hati.
Beberapa hari yang lalu tepatnya di pagi hari dia pergi langsung ke alamat yang ditujukan oleh bibi Safa. Dia pergi bersama beberapa anak buahnya, berniat membawa Azira kabur.
Namun saat mereka akan beraksi, tiba-tiba orang tak dikenal menghentikan mereka. Jika dengan tangan kosong, maka nyonya Bara tidak terlalu takut menghadapi mereka. Tapi sayang sekali, orang-orang itu membawa senjata api dan langsung di todong kan ke arahnya. Nyonya Bara sangat ketakutan dan langsung pergi tanpa membuat perlawanan.
Bibi Safa merasa heran.
"Orang-orang membawa senjata api menghentikan kalian?"
Nyonya Bara mengangguk dengan bersungguh-sungguh.
"Betul nyonya." Nyonya Bara membenarkan.
Pasti bukan Kenzie. Dia cuma seorang dokter. Mana mungkin dia memiliki kelebihan ini. Selain itu Kenzie juga sangat serius, dia pasti tidak menyukai cara-cara ini. Batin bibi Safa menolak gagasan kalau orang-orang itu adalah suruhan Kenzie.
"Kalian semua ceroboh. Makanya kalau kerja itu hati-hati. Jangan sampai kalian menyinggung bisnis orang lain. Jadilah lebih rendah hati. Sudah, aku tidak mau tahu. Pokoknya dia harus kalian bawa pergi. Kalau kalian tidak membawanya, awas aja." Bibi Safa langsung menutup sambungan telepon.
"Azira.. Azira, entah sampai kapan kamu akan bersembunyi di rumah itu. Tidak akan lama lagi kamu akan diusir dan pada saat itu kamu tidak memiliki tempat tujuan untuk kembali. Tentunya sebagai bibi yang baik buat kamu, aku akan menyediakan opsi pilihan untuk kamu. Pertama, jadilah wanita malam seperti ibumu, dan terakhir, jadilah wanita malam seperti ibumu. Kamu memang pantas mendapatkannya." Ucap bibi Safa berambisi.
Setelah menenangkan kemarahannya, dia masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya untuk beristirahat. Bibi Safa tidak tahu kalau ada seseorang yang sedang menguping pembicaraannya tadi dengan nyonya Bara.
"Wanita sejahat kamu... Bagaimana bisa aku tahan menghabiskan hidup ku bersama kamu." Kata orang itu sambil menggelengkan kepalanya.
Ternyata dia adalah paman. Orang yang tadinya berbicara dengan ayah karena suatu alasan tiba-tiba di sini dan mendengarkan semua percakapan istrinya.
...*****...
Sudah berhari-hari sejak Kenzie bersikap dingin kepadanya. Memang Kenzie akan berkata beberapa patah, tapi itu tidak sehangat dulu dan Azira tidak suka. Dia sudah tidak tahan lagi.
"Mata kak Azira agak berbahaya." Bisik Mona kepada Sasa.
Semenjak dimaafkan oleh Kenzie, dia sangat rajin datang ke rumah ini dan menginap di kamar Sasa.
Sasa mengangguk setuju.
__ADS_1
"Kelinci juga bisa menggigit jika sudah muak diganggu. Dan itu sama untuk kak Azira. Lagian kak Kenzie terlalu kekanak-kanakan. Masa iya sih marahnya sampai berhari-hari. Cek, semoga aja kak Azira betah tinggal sama kak Kenzie."
Kebetulan Kenzie lewat dan mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Malam-malam sudah gosip, kalian udah shalat magrib belum?" Tanya Kenzie datar.
Mendengar suara Kenzie, secara otomatis mulut Mona dan Sasa tertutup rapat. Pipi mereka menggembung seperti ikan buntal tak berani memandang Kenzie.
"Belum, kak." Kata mereka.
"Kalau belum kenapa diam saja? Pergi shalat sana." Perintah Kenzie.
"Iya...iya, ini mau jalan." Kata Sasa tidak berani melawan.
Kenzie melihat wajah sembelit Sasa dan Mona, agak lucu, dan dia menggelengkan kepalanya tak berdaya.
Setelah mengurus kedua burung puyuh itu dia naik ke kamar tanpa menyapa Azira terlebih dahulu.
Azira melihat punggung suaminya semakin menjauh. Kesal, dia akhirnya membuntuti dari belakang. Dia harus menyelesaikan semuanya malam ini juga.
"Mas Kenzie, tunggu." Panggil Azira kepada suaminya.
Tapi Kenzie tidak mendengar dan terus berjalan naik hingga masuk ke dalam kamar mereka.
"Sas... Sasa, kak Azira sudah mulai beraksi!" Dia bersemangat.
Sasa pun begitu.
"Bagus. Tapi kita tidak bisa menguping pertengkaran mereka, bagaimana dong?" Masalahnya kamar Kenzie kedap suara, jadi percuma saja mereka menempeli telinga di tembok ataupun di pintu.
Mona menyesal,"Yah, bagaimana ini. Padahal aku ingin sekali melihat kak Kenzie dipojokkan. Siapa tahu kak Kenzie itu tipe suami takut istri."
Jangan Mona, dia juga sangat penasaran apakah kakaknya itu tipe suami takut istri atau tidak. Tapi jika dilihat-lihat interaksi mereka berdua selama ini, Sasa ragu kalau kakaknya tiba seperti itu.
Dia malah merasa kalau Azira lah yang kalah didominasi oleh Kenzie.
"Tunggu kabar saja." Kata Sasa tak punya solusi lain.
"Iya, kalian sholat aja sana. Nanti kalau ada apa-apa Umi kabarin." Celetuk Umi santai.
Sudut mulut Sasa berkedut tertahan. Uminya akhir-akhir suka sekali menggosipkan rumah tangga kakaknya.
"Okay, Umi. Kalau begitu kami sholat dulu, yah.." Mona melambaikan tangannya agak bersemangat.
Dia suka keributan- ah, lebih tepatnya dia suka rumah yang hidup dan ramai.
Sementara itu di lantai atas, Azira masuk ke dalam kamar menyusul suaminya.
"Mas Kenzie.." Panggil Azira berusaha melembutkan suaranya.
Namun Kenzie hanya meliriknya dan kembali fokus memandang layar laptop di atas meja kerja.
Azira mengira bahwa suaminya sedang bekerja. Dan dia ragu-ragu berbicara. Tapi ketika dia tidak sengaja melihat ke layar laptop, dia langsung terdiam. Antara kesal, marah, lucu. Perasaan ini membelit perutnya sekarang.
__ADS_1
"Mas Kenzie... Kita butuh bicara. Aku nggak mau begini terus. Rasanya nggak nyaman diabaikan sama mas Kenzie." Kata Azira sambil memikirkan bagaimana caranya merangkai kata-kata yang sopan agar jangan sampai menyinggung perasaan suaminya.
Kenzie meliriknya.
"Kamu baru tahu rasanya nggak nyaman setelah aku abaikan berhari-hari?" Tanya Kenzie sinis.
"Aku kan udah berusaha buat berbicara kepada mas Kenzie. Aku berusaha ngajak mas bicara, membicarakan inilah membicarakan itulah, aku berusaha mencairkan suasana diantara kita. Tapi mas Kenzie selalu memberikan aku sikap dingin." Azira mengeluh.
Dia berusaha namun usahanya diabaikan. Siapa yang tidak kesal.
"Oh, kamu memang berusaha mengajak ku berbicara. Tapi apakah kamu pernah meminta maaf sama aku? Jangankan meminta maaf, mengakui dan menyadari kesalahan kamu saja tidak. Jadi untuk apa aku berbicara dengan kamu, kalau kesalahan kamu saja tidak disadari." Balas Kenzie dengan suara acuh tak acuh.
Matanya yang gelap dan jernih tidak pernah berpaling daripada wajah gugup Azira. Dia sangat marah setiap kali memikirkan hari itu.
"Aku sudah meminta maaf kepada mas Kenzie hari itu-"
"Kamu belum. Kamu belum meminta maaf kepadaku secara pribadi. Kamu pasti tidak tahu apa kesalahan kamu, kan?" Potong Kenzie menghentikan pembelaan Azira.
Dia memang tahu kalau Azira adalah orang yang keras kepala. Jika tidak diajari sekarang, maka kebiasaan buruknya ini tidak akan bisa dirubah.
Azira terdiam. Dia memikirkan dengan hati-hati kesalahan yang dia lakukan hari itu. Meremas tangannya gugup, kedua kakinya mulai lemas di bawah tekanan dari suaminya. Dia tidak berani memandang langsung ke wajah suaminya yang galak.
"Aku... Aku tidak meminta izin kepada mas Kenzie saat keluar hari itu. Lalu aku... mengabaikan mas Kenzie sendirian di rumah. Dan...aku pulang sore hari itu sehingga mas Kenzie tidak puas. Bukankah ini semua kesalahan sepele, mas? Aku juga enggak kemana-mana selain berada di rumah bibi Arumi. Umi dan Abah ada di sana. Selain mereka aku bersama Sasa dan Mona, jadi kenapa mas Kenzie harus memperpanjang masalah ini?" Azira sungguh tidak mengerti.
Dari sudut pandangnya dia merasa bahwa apa yang dia lakukan tidak kelewatan dan masih berada dalam batas toleransi. Tapi entah kenapa Kenzie membesar-besarkan masalah ini hingga beberapa hari yang sangat tidak nyaman.
"Masalah sepele kamu bilang? Azira, apa kamu benar-benar sadar dengan apa yang kamu bilang tadi? Aku suami kamu, aku sangat mengkhawatirkan kamu hari itu. Di saat aku tidak melihat kamu di rumah ataupun di kamar kita, aku langsung mengkhawatirkan kamu. Aku bingung dan mencoba menghubungi kamu, tapi ponsel kamu di kamar sedangkan kamu bersenang-senang di luar sana. Okay, aku enggak masalah kamu main ke rumah bibi Arumi dan aku juga enggak masalah saat kamu bersenang-senang dengan mereka berdua. Lagipula seperti yang kamu bilang, ada Abah, Umi, Sasa, Mona dan keluarga yang lain. Aku memaafkan kelalaian kamu atas aku di hari itu. Tapi Azira, pernahkah kamu bertanya bagaimana pendapat ku ketika kamu keluar bermain atau apakah kamu tidak mau mempertimbangkan pendapatku ketika kamu keluar dari komplek rumah ini? Apakah kamu pernah! Aku bisa memaafkan semua yang kamu lakukan hari itu tapi tidak dengan masalah saat kamu keluar berbelanja ke depan komplek! Aku sungguh sangat marah untuk masalah ini dan aku pribadi tidak mau kamu menginjakkan kaki kamu di luar komplek rumah ini! Apa kamu kira dengan bersama Sasa dan Mona, keamanan kamu akan terjamin? Tidakkah kamu berpikir bahwa orang-orang yang tak menyukai kamu akan berbuat jahat kepada kamu? Setelah aku menjelaskannya, apakah kamu mengerti sekarang?" Ucap Kenzie datar tanpa mengubah ekspresi di wajahnya. Dalam satu nafas dia melayangkan banyak pertanyaan kepada Azira. Meskipun begitu, suaranya sangat tenang. Namun matanya yang memerah tidak bisa menyembunyikan betapa marahnya dia saat ini.
Dia sangat marah namun bisa mengendalikan emosinya agar tidak kelepasan dan berakhir membentak Azira.
Kenzie menahan semuanya di dalam dada.
"Mas Kenzie...aku mengerti...aku minta maaf. Tapi...tapi mas Kenzie melihat sendiri kan kalau aku baik-baik saja. Aku aman-aman saja di luar-" Suara Azira tercekat. Untuk sesaat dia tidak tahu harus berkata apa karena suaminya terdengar sangat kecewa kepadanya.
"Kamu benar-benar tidak mengerti kekhawatiran ku, Azira. Kamu sungguh tidak mengerti!" Potong Kenzie mengepalkan kedua tangannya menahan amarah yang tengah berkobar di dalam hati.
"Tidak, seperti itu, mas. Aku mengerti-"
"Kamu tidak. Yah, aku memang suka membesar-besarkan masalah. Dan selamat, kamu hampir membuatku kehilangan kendali Azira!" Ucap Kenzie membantah ucapan Azira.
Azira tidak mengerti- tidak, dia mengerti tapi tidak mengerti kekhawatirannya. Kenzie kesal.
Brak
Kenzie mendorong kursinya menjauh dan langsung keluar dari kamar tanpa menunggu Azira bereaksi. Untuk sejenak dia ingin menenangkan diri di luar.
"Mas Kenzie mau kemana?" Azira memanggil.
Azira sangat ketakutan dengan kepergian suaminya. Dia mau mengejar tapi segera menenangkan diri. Pertengkarannya tidak boleh diketahui oleh anggota keluarga yang lain.
"Mas Kenzie maaf...aku salah." Ucap Azira sambil menangis.
Dia sangat takut dengan kemarahan Kenzie. Dan dia menyesali dirinya sendiri yang tidak langsung meminta maaf kepada suaminya. Dan dia sangat bodoh main keluar saja. Padahal dia tahu di luar tidak aman karena kedatangan nyonya Bara. Dia sangat ceroboh dan mengecewakan suaminya.
__ADS_1
"Aku sangat bodoh sampai-sampai merasa benar sendiri." Katanya menyalahkan diri sendiri.
Tidak mau terlalu sedih, dia menghapus air mata di wajahnya sebelum memperbaiki posisi kursinya ke tempat semula. Ini adalah kursi kerja suaminya.