Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 23.4


__ADS_3

"Menunggu dan menunggu, aku sengaja tidak banyak berbicara dengan kamu dan berpura-pura mengabaikan kamu tadi, aku kira kamu akan bertanya apa yang terjadi kepada ku tapi nyatanya..." Menatap wajah polos istrinya yang tengah tertidur lelap, Kenzie menghela nafas panjang.


"Kamu justru tidur duluan. Aku salah menunggu." Sengaja membelakangi Azira saat tidur tadi, dia memprediksi bila Azira akan menyadari ada sesuatu yang salah.


Lalu mereka bisa berbicara dari hati ke hati untuk memadamkan awan mendung di dalam hatinya. Prediksi hanyalah prediksi, karena faktanya apa yang dia harapkan tidak benar-benar terjadi.


"Baiklah, kita bisa membicarakannya besok. Aku harap tidak mendapatkan jawaban yang mengecewakan." Tangannya beralih menyentuh puncak kepala Azira dan mengelusnya lembut.


Dia tidak menahan diri mendekati Azira, memperpendek jarak di antara mereka berdua hingga bibirnya menyentuh bibir ranum milik Azira yang tertutup rapat.


"Manis," tidak bisa menahan diri, dia kelepasan menggigit bibir atas Azira yang kenyal dan menggoda.


"Humph...mas..." Tidur Azira terganggu.


Kenzie terkekeh. Dia mengusap bibir Azira sesaat kemudian beralih mengecup keningnya penuh kasih.

__ADS_1


"Okay, tidak lagi." Katanya geli.


"Mimpi indah, istriku." Bisiknya lembut.


Kenzie membawa Azira ke dalam pelukan hangatnya. Tidak bisa. Dia tidak bisa marah lama-lama di depan wanita ini. Dia tidak tahan dan tidak mampu mengendalikan keinginan hatinya. Tiba-tiba Kenzie menyadari, bahwa dia semakin sulit berpisah dari Azira dan mudah terganggu jika Azira berinteraksi dengan orang lain.


Tidak apa-apa, justru aku punya alasan yang bagus untuk membuat Azira semakin di sisiku. Batin Kenzie tak ambil pusing.


*****


"Saat kamu mandi, bawa ini."


Ketika Azira akan masuk ke dalam kamar mandi, Kenzie tiba-tiba menghentikannya dan memberikan beberapa kotak aneh kepadanya.


Azira melirik kotak-kotak itu, sekilas ada 4 kotak dengan merk yang berbeda-beda. Awalnya dia tidak tahu apa ini, tapi saat melihatnya lebih jelas, wajahnya langsung memanas. Antara malu juga geli.

__ADS_1


"Oh...ini.." Azira mengambil kotak tespek itu dengan malu-malu.


Oh astaga, kenapa Kenzie lebih peka daripada dirinya yang wanita?


Kenzie memperhatikan perubahan wajah istrinya yang kini malu-malu. Melihatnya tersipu, Kenzie juga ikut merasa malu. Ugh, bagaimana mengatakannya?


Saat membeli barang-barang ini di apotik, dia tidak semalu sekarang. Tapi ketika memikirkan Azira akan menggunakannya sekarang, dia langsung jadi malu sendiri. Ini tidak masuk akal.


"Ekhem," berdehem ringan, dia menjelaskan,"Gunakan wadah kecil untuk menampung urine pertama kamu hari ini dan letakkan semua tespek ini di dalam wadah selama 15 menit. Ingat, dua garis berarti positif dan satu garis berarti negatif. Hasilnya... serahkan saja kepada Allah, kamu jangan terlalu terbebani karena aku tidak terlalu menuntut apapun hasilnya. Yah... kamu bisa masuk sekarang dan aku...aku akan menunggu di kamar." Setelah membuat penjelasan singkat, dia langsung melarikan diri tanpa menunggu respon Azira.


Azira tercengang. Sudut mulutnya yang tertahan perlahan membentuk garis senyuman yang manis seiring arus hangat mulai menyelimuti hatinya.


"Em, serahkan semuanya kepada Allah, dan... terima kasih suamiku." Bisik Azira lembut.


Membawa kotak-kotak itu ke dalam pelukannya, dia langsung berbalik masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2