Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 11.6


__ADS_3

"Iya, mbak. Apa kak Kenzie ada di ruangannya?"


Perawat itu mengangguk. Matanya melirik Azira beberapa kali. Kalau Sasa dia sudah biasa melihatnya datang ke rumah sakit, tapi wanita yang ada di sebelah Sasa, ini adalah pertama kalinya mereka bertemu. Dan dia tidak tahu siapa wanita itu, mungkinkah wanita itu...


"Dokter Kenzie ada di ruangannya. Ngomong-ngomong, siapa wanita yang ada di sebelah mbak Sasa, maaf sebelumnya aku lancang bertanya?" Tanya perawat itu sopan.


Azira tidak menunjukkan apa-apa di wajahnya. Jika perawat itu tersenyum kepadanya maka dia akan membalas tersenyum. Selebihnya dia sangat tenang dan berhasil membuat Sasa kagum.


Di rumah Azira pemalu. Tapi di luar, Azira terlihat seperti orang yang berbeda.


"Oh, tidak apa-apa. Kenalkan mbak, ini istri kakakku. Namanya Azira." Sasa dengan percaya diri memperkenalkan identitas Azira.


Sebenarnya dia sengaja membawa Azira ke rumah sakit. Tujuannya tentu saja untuk memperjelas identitas Azira agar orang-orang di rumah sakit berhenti memikirkan masa lalu kakaknya. Terutama Humairah. Sasa berharap agar Humaira berhenti memikirkan kakaknya.


"Oh ternyata ini toh istrinya dokter Kenzie. Salam kenal, mbak. Nama saya Nana, perawat bagian anestesi di sini." Nana dengan ramah mengulurkan tangan kepada Azira.


Azira tersenyum dan membalas uluran tangannya sopan.


"Salam kenal juga, mbak-"


Cklak


Pintu ruangan tiba-tiba dibuka. Kata-kata Azira terhenti ketika melihat orang yang membuka pintu adalah suaminya sendiri.


"Azira?" Kenzie terkejut.


Dari dalam dia mendengar seseorang mengobrol. Samar-samar, dia sepertinya mendengar suara Azira di luar. Pada awalnya dia tidak yakin karena mungkin itu hanya perasaannya saja. Tapi dia tidak bisa menahan rasa penasarannya sehingga dia bergegas membuka pintu. Dan benar saja. Di luar ada istrinya dan Sasa. Mereka berdua berbicara dengan Nana, salah satu perawat anestesi yang cukup akrab dengannya.


"Mas Kenzie...mas, apa kami mengganggu waktumu?" Azira berusaha menahan rasa gugup di hatinya dan bersikap setenang mungkin di depan banyak orang.


Tapi tatapan suaminya sangat aneh. Apakah pakaian yang dia gunakan aneh atau jilbabnya bermasalah?


Memgerjap lambat, Kenzie tersenyum lebar. Dia menggelengkan kepalanya antusias.


Melihat sikap kakaknya, Sasa diam-diam menggelengkan kepalanya menahan mual. Seperti yang dia duga, kakak pasti senang melihat Azira di sini.


Cek, uang jajanku pasti bertambah bulan ini. Batin Sasa bersuka cita.


"Siapa yang terganggu. Ayo masuk, aku sudah lapar dan ingin makan masakan kamu." Katanya sambil menarik tangan Azira dan mengambil alih paper bag dari tangannya.


"Mbak Nana mau gabung bersama kami?" Kenzie memasang senyum profesional di depan Nana.


Nana terbangun dari keterkejutannya. Reaksi Kenzie membuatnya merasa heran. Tapi dia tidak menunjukkannya di wajah. Tersenyum ramah, dia menggelengkan kepalanya menolak tawaran Kenzie.


"Terima kasih, dok. Tapi saya sudah memiliki janji dengan teman-teman yang lain. Kalau begitu saya permisi dulu, dok." Tolak Nana sopan.


Kenzie menganggukkan kepalanya pelan. Dia lalu menarik Azira masuk ke dalam ruangan dan tidak sengaja meninggalkan Sasa bengong sendirian di luar.


"Mas, Sasa belum masuk?"

__ADS_1


"Oh. Dia bisa membuka pintu sendiri." Ucap Kenzie tak perduli.


Dan Sasa tahu hasil ini. Dengan wajah sembelit dia masuk ke dalam ruangan sambil menatap kakaknya dengan tatapan tajam.


"Ketemu istri aja adiknya dilupain." Dumel nya tak puas.


Kenzie tersenyum simpul,"Makanya nikah dong, biar ada yang perhatiin."


Sasa memutar bola matanya dan membalas ejekan kakaknya.


"Alah, sebelum ketemu kak Azira aja kak Kenzie ogah nikah. Bilangnya sibuk sama karir lah, belum siap lah. Sekarang setelah nikah kok malah pamer?"


Kenzie tidak marah dengan ejekannya,"Makanya kakak bilang kamu harus nikah. Dikasih tahu kok ngeyel, sih?" Setelah itu dia tidak mau memperdulikan adiknya.


Sasa mendengus. Dia melemparkan tasnya di atas sofa dan merebahkan dirinya di sina. Sekarang dia tahu bagaimana rasanya menyesal menjadi bola lampu. Lain kali dia tidak mau datang ke sini lagi, karena kakaknya pasti tidak akan memperhatikannya. Karena Kenzie mengabaikannya, dia memutuskan untuk bermain ponsel saja.


Melihat interaksi kekanak-kanakan mereka berdua, Azira menggelengkan kepalanya tak berdaya.


"Kamu sudah makan?"


Azira menganggukkan kepalanya.


"Sudah, mas. Tadi di rumah sama Umi dan Sasa. Sedangkan Abah pergi keluar sama Pak Maman. Makanya kami datang ke sini."


Sambil berbicara, Azira mulai menyiapkan makanan suaminya di atas meja kerja.


"Terus udah sholat?"


"Adzan baru berkumandang setelah kami sampai di sini."


"Sholat dulu." Memanggil Sasa yang sedang bermain ponsel,"Ayo sholat, dek."


Sasa melepaskan ponselnya dan pergi ke kamar mandi bersama Azira. Mereka bergantian mengambil air wudhu dan shalat bergantian pula di dalam ruangan Kenzie. Soalnya di sini ada satu mukena yang sengaja ditinggalkan Sasa dulu. Jadi setiap kali datang ke sini dia tidak perlu pusing memikirkan harus shalat dengan apa.


"Loh, kok makanannya belum dimakan, mas?"


Kenzie mengangkat kepalanya dari dokumen, melihat Azira sudah selesai shalat dan kembali menggunakan jilbabnya, dia kemudian menyingkirkan dokumen itu dari pandangannya.


"Sengaja nungguin kamu. Ayo duduk, kita makan sama-sama." Kenzie menepuk tempat duduk di sampingnya.


Azira bimbang. Dia menatap tempat kosong di di samping suaminya, lalu berpaling menatap tampan wajah suaminya.


Menggigit bibirnya gugup. Dia duduk di samping Kenzie.


"Aku sudah makan di rumah, mas." Azira menolak.


"Iya, tapi di sini kamu juga harus makan sama aku. Dengan makanan sebanyak ini, aku nggak bisa menghabiskannya. Apalagi suamimu ini baru saja melakukan operasi. Kamu tahu lah apa maksudku."Kenzie memaksa.


Azira bingung. Apakah setiap kali suaminya melakukan operasi, dia tidak memiliki nafsu makan?

__ADS_1


"Aku tahu. Makanya aku ke sini. Yey, ada makanan gratis!" Tiba-tiba seorang wanita cantik menerobos masuk ke dalam ruangan Kenzie.


Saat melihat kedatangan wanita itu, Kenzie langsung memasang wajah datar.


"Ini..." Azira tidak tahu siapa wanita ini.


Perasaannya berubah menjadi masam. Apakah dia adalah saingan cintanya yang lain- oh, maksud Azira, apakah wanita ini pernah memiliki hubungan asmara dengan suaminya?


"Sebelum masuk, ketuk pintu dulu dan ucapkan salam. Jangan main terobos aja, nggak sopan." Tegur Kenzie kepada Ayana.


Benar, yang datang adalah dokter Ayana. Sepupu Kenzie dan Sasa, bekerja sebagai dokter anak-anak di rumah sakit ini.


"Kak Kenzie seperti biasa selalu galak. Aku kan nggak sengaja." Dia lalu melihat Azira dengan tatapan sembrono.


Dari caranya memandang, orang-orang pasti akan merasa takut dan tersinggung. Begitu pula yang dirasakan oleh Azira. Dia tidak nyaman ditatap seperti itu oleh Ayana. Apalagi Ayana memiliki rasa superioritas yang cukup mirip dengan Kenzie.


"Kak Azira? Salam kenal, kak. Namaku Ayana." Dia mengulurkan tangannya di depan Azira.


Dengan tenang Azira meraih tangan Ayana.


"Azira, salam kenal."


Ayana terkejut dengan ketenangan Azira. Biasanya orang-orang akan gugup ketika dekat dengannya. Bukan karena dia galak, tapi karena matanya. Benar, orang-orang bilang matanya terlalu menyelidik. Inilah yang membuat orang heran. Bagaimana mungkin dia bisa bekerja sebagai dokter anak.


"Aku adalah sepupunya kak Kenzie. Kami sama-sama dokter di sini. Bedanya dia adalah dokter bedah umum dan aku adalah dokter anak. Jadi bila kak Azira punya kesulitan saat menghadapi kak Kenzie, jangan ragu untuk segera menghubungi aku. Demi dia, aku akan siaga 24 jam." Kata Ayana dengan senyuman yang sangat lebar, seketika auranya berbeda. Dia terlihat lembut dan ramah, berbanding terbalik dengan kesan Azira sebelumnya.


"Oh...okay." Mulut Azira berkedut menahan tawa.


"Kurasa kamu membutuhkan perawatanku, kakak." Ucap Kenzie muram.


Ayana langsung melambaikan tangannya ketakutan. Sebenarnya dia lebih tua dari Kenzie, namun karena orang tua Kenzie lebih tua dari orang tuanya, maka dia harus memanggil Kenzie dengan sebutan kakak. Tapi terkadang Kenzie akan memanggilnya kakak. Tentu, itu terjadi ketika dia sedang marah. Seperti sekarang.


Ops, apakah aku merusak kesan baik kak Kenzie di depan Azira? Batin Ayana senang.


"Kak Azira, coba lihat? Apakah yang kukatakan tadi salah?"


Azira bingung. Di bawah tatapan suaminya, dia menggelengkan kepalanya.


"Tuh kan, kak Azira aja bilang kalau aku nggak salah. Terus kenapa kakak marah sama aku?"


Matanya tiba-tiba menangkap berbagai macam makanan di atas meja. Bekal makan siang Kenzie.


"Wah, ada makanan nih. Kebetulan banget, kak. Aku lagi lapar. Katanya tadi kak Kenzie kehilangan nafsu makan, yah? Masya Allah, untung aja aku datang ke sini. Makanya jadi nggak terbuang sia-sia." Tanpa basa-basi dia duduk di samping Azira, sama sekali tidak canggung.


Tapi ketika tangannya akan menyentuh salah satu piring, tangan Kenzie menghalanginya.


"Ini adalah makanan yang dibuat khusus istriku untuk aku makan. Dan kamu, kenapa kamu di sini? Suami kamu pasti nyariin di luar. Daripada ganggu waktu orang lain, lebih baik kamu mencari suami kamu saja. Itu lebih bermanfaat." Usir Kenzie tidak tertipu sama sekali dengan wajah lembut sepupunya.


Ayana merenggut.

__ADS_1


"Suamiku masih sibuk bekerja. Mana ada waktu dia nyariin aku. Tapi kak Kenzie bilang bilang apa tadi, masakan kak Azira? Wah, aku pengen dong nyobain!" Bukannya pergi, tapi dia malah semakin menjadi-jadi dan membuat Kenzie jengkel.


"Kak Kenzie mukanya jangan sembelit gitu, dong." Selesai sholat Sasa langsung bergabung bersama Ayana untuk menistakan Kenzie.


__ADS_2