
Azira tidak tahu mengapa perasaannya tiba-tiba menjadi tidak nyaman dan gelisah. Ia seakan merasakan sebuah firasat buruk yang mengancam keselamatan jiwanya namun ia tidak yakin apakah ini hanya halusinasi saja atau tidak.
"Ini minum dulu, non." Mbok Yem menyerahkan satu gelas air putih yang memang sengaja ia sediakan saat berbincang-bincang dengan Azira sebelumnya.
Azira tidak menolak dan menerimanya dengan patuh, lagipula ia juga merasa haus sekembalinya dari wanita serakah tua bangka yang tidak tahu diri itu.
Dia sangat berharap wanita serakah itu tidak mengganggu hidupnya lagi. Selain muak, dia sangat ingin terlepas dari jeratan penderitaan Ibunya ketika masih bekerja di wanita serakah itu. Hah.. jelas-jelas dia sudah tua tapi masih saja berdandan selayaknya seorang gadis, menyedihkan.
"Terima kasih, mbok." Ia meminumnya sekali nafas tanpa menyisakan satu tetes pun di dalam gelas bening itu.
"Non, mau lagi?" Tanya mbok perhatian.
Melihat Azira yang begitu kehausan ia pikir satu gelas tidak akan cukup karena biasanya orang-orang yang hidup di kampung tidak terbiasa meminum minuman mahal seperti ini. Sungguh kasihan.
Hei, jangan salah.
Ini bukan air putih biasa tapi air mineral asli yang diambil dari pegunungan. Biasanya perusahaan air mineral ini akan mengirimkan mereka pasokan air 3 hari sekali. Itupun masih tersisa banyak karena persediaan terlalu melimpah di rumah.
"Tidak, terima kasih." Tolak Azira sopan dengan mata lurus ke depan.
Satu gelas saja sudah cukup. Dari kecil dia sudah terbiasa hidup sederhana dan berusaha menghemat makanan atau minuman yang ada.
Bahkan walaupun ia kini telah tinggal bersama Ayahnya yang kaya raya, kebiasaan ini tidak akan mudah di rubah dalam waktu yang singkat.
Dan untuk saat ini dia masih terjebak di dalam pikirannya sendiri.
"Mbok, ini bukan air putih biasa yah?" Tanyanya tidak serius.
Tapi jika dilihat-lihat rasa dan warnanya agak berbeda dengan yang dia miliki di rumah dulu, atau mungkin air putih dirumahnya saja yang jelek rasanya melihat tempat tinggalnya begitu kumuh dan tidak terawat.
Sedangkan air putih yang ia minum tadi rasanya sangat berbeda seperti ada manis-manisnya, tidak berbau, dan jernih. Bagaimana cara menjelaskannya yah..ini adalah wangi yang alami dan menenangkan dari alam. Apalagi rasanya yang enak, Azira tidak pernah tahu ada air putih yang seenak ini padahal tidak dicampurkan dengan bahan apapun.
"Ini bukan air putih biasa, non, tapi ini air putih yang khusus didatangkan dari pegunungan. Tuan dan nyonya ingin semua orang meminum air putih ini karena mempunyai kandungan yang sangat tinggi akan mineral dan sangat bagus untuk tubuh. Oleh karena itu rasanya sedikit berbeda dibandingkan dengan minuman air putih diluar sana." Kekaguman mbok Yem kepada keluarga ini sungguh tidak bisa disembunyikan.
__ADS_1
Di dalam hati kecilnya, Azira mulai bertanya-tanya apakah mbok Yem tahu sisi gelap dari keluarga ini?
Apakah mbok Yem tahu betapa kejam orang-orang di rumah ini?
Jika tahu, akankah dia berhenti mengagumi mereka atau justru sebaliknya, dia tidak perduli?
Minuman ini tidak hanya diminum oleh anggota keluarga saja, akan tetapi para pekerja dan pembantu pun di rumah ini bebas meminumnya sesuka hati asal jangan sampai membuangnya, takutnya mubasir.
"Oo.." Jadi seperti ini.
Orang kaya memang selalu tahu bagaimana menggunakan uang yang melimpah, tidak seperti dia dan Ibunya yang harus menempuh jalan tidak biasa untuk mendapatkan segepok uang receh.
Tuhan, lagi-lagi tidak adil.
"Non, yang tadi itu teh siapa?" Tanya mbok Yem dengan wajah kalemnya.
Tertegun, sejenak Azira bingung ingin menjawab apa karena mbok Yem dimatanya bukanlah orang yang berbahaya.
"Itu bukan siapa-siapa, mbok. Ah, sepertinya sudah masuk waktu magrib, jadi berada di luar rumah bukanlah solusi yang baik saat magrib. Ibu bilang diwaktu-waktu ini banyak jin atau makhluk halus yang berkeliaran, jadi lebih baik tinggal di dalam rumah dan jangan keluar rumah dulu." Lalu ia langsung pergi meninggalkan mbok Yem yang belum sempat mengatakan apapun.
Siapa yang tahu bukan jika ia adalah mata-mata dari mereka?
Oleh sebab itu Azira tak mau mengambil resiko dan memilih untuk tidak terlalu bergaul.
"Azira, kita sholat berjamaah yuk." Ketika memasuki rumah ia sudah diserbu oleh Humairah.
Humairah menempel padanya dengan setelan mukena indah yang memiliki warna cantik, begitu mempesona ketika Humairah menggunakannya apalagi bila berdiri di bawah cahaya lampu malam. Dia bagaikan seorang model.
"Aku..aku sedang berhalangan, Humairah." Tentu saja ini adalah sebuah kebohongan.
Ia tidak bisa sholat, ah.. lebih tepatnya ia tidak bisa bacaan sholat. Ibadah atau apapun yang berkaitan dengan Tuhan, Azira memilih untuk mengabaikannya. Sebab, Tuhan pun telah mengabaikannya selama ini. Maka anggap saja ini timbal balik.
Jika dia mau berpura-pura sholat bersama mereka maka bisa saja karena dia bisa mengikuti gerakan sholat mereka dari belakang. Tapi bagaimana jika dia diminta untuk membaca kita suci Al-Qur'an?
__ADS_1
Hahahaha.. itu sama saja bunuh diri, bukan?
Jadi, pilihan terbaik untuk Azira saat ini adalah berbohong. Sampai kapan?
Sampai ia bisa menemukan solusi dari masalah ini sendiri.
"Hah.. sayang sekali kamu sedang berhalangan, tidak apa-apa, lagipula kita juga bisa sholat dan mengaji sama-sama ketika kamu sudah selesai halangan." Seru Humairah menghibur dirinya sendiri karena tidak bisa menghabiskan waktu bersama dengan saudaranya dalam hal kegiatan agama.
"Humairah, ayo segera ke mushola. Yang lain sudah berkumpul di sana dan tidak baik menunda sholat." Panggil Mama Humairah lembut pada putrinya yang asik menempeli Azira.
Istri Ayahnya itu sama sekali tidak mau menatapnya sejak dia tinggal di sini. Mungkin baginya dia adalah momok yang tidak sedap dipandang dan akan selalu mengingatkan nya pada istri pertama suaminya, Ibu Azira.
"Kalau begitu aku pergi dulu yah, sampai jumpa di makan malam nanti." Pamit Humairah sambil melepaskan tangannya dari lengan Azira.
Mereka pergi masuk ke dalam mushola keluarga, dan hanya menyisakan Azira yang berdiri seorang diri di ruang tamu. Dia menatap punggung mereka yang semakin mengecil dan menjauh, melihat itu hatinya tiba-tiba terasa kosong. Dia kosong dan dia tidak mengerti kenapa itu menjadi hampa.
"Wah, akting yang cukup bagus." Suara seseorang tiba-tiba menginterupsi lamunan Azira.
"Oh, bibi Safa." Katanya sambil menarik diri dari pikirannya. Suaranya acuh tak acuh tanpa kenal takut.
Ternyata orang yang mengganggunya adalah bibi Safa yang kini sudah rapi terbalut kain mukena.
Dia tampak anggun dan cantik, luar biasa..gen keluarga ini memang tidak main-main.
"Tapi sayang Azira, kebohongan mu ini tidak akan bertahan lama karena cepat atau lambat kau akan ikut bergabung bersama kami untuk melakukan ibadah. Dan di saat hari itu tiba, akan ku pastikan kau kehilangan muka karena tidak tahu apa-apa mengenai agama kita. Katakan Azira, Ibumu tidak pernah mengajarkan mu tentang agama kita bukan? Hahah..ya iyalah jawabannya iya. Bukan begitu Azira?" Ejek bibi Safa sangat menikmati wajah terdistorsi Azira.
Seperti yang ia duga, sebenarnya mereka tahu jika ia kekurangan agama dan sengaja memancingnya agar berbohong, membuat dirinya malu sendiri.
Lihat, bukankah mereka tidak ada bedanya dengan ular?
"Bibi Safa, orang-orang sudah berkumpul di mushola, apa kau tidak takut telat sholat berjamaah bersama yang lain?" Ucap Azira mengalihkan pembicaraan, mengusir bibi Safa dari jangkauannya dengan cara yang halus.
Mendengus tidak suka, "Dasar sampah tidak tahu malu." Geramnya sambil menjauh dari Azira.
__ADS_1
Dia pergi menyusul yang lain untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah. Ini selalu rutin mereka lakukan setiap hari dan tidak pernah libur sekalipun.