
Kenzie masih tersenyum, tipis.
"Kami baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Apakah kamu mau masuk ke dalam?" Kenzie menawarkan dengan nada ramah.
Azira menganggukkan kepalanya. Dia juga berharap Al masuk ke dalam agar mereka bisa mengobrol sebentar. Biar bagaimana Al adalah orang yang cukup berkesan baginya.
"Mengapa kita tidak masuk ke dalam rumah, kak? Hari ini aku senang bertemu dengan kakak dan ingin membicarakan beberapa hal." Azira berbicara dengan ramah.
Al tersenyum tak berdaya. Dia melihat waktu di jam tangan kirinya, mendesah kecil, lalu menggelengkan kepalanya menolak.
"Aku juga senang bertemu dengan kamu dan sebenarnya aku juga bersedia mampir sebentar. Tapi mungkin hari ini tidak bisa karena beberapa menit lagi aku akan menghadiri seminar hukum di hotel X jalan X, jadi mungkin lain kali saja." Katanya menjelaskan alasan penolakannya.
Azira menghela nafas panjang. Meskipun agak disayangkan tapi dia tidak bisa memaksa Al tetap di sini. Al pasti sibuk pikirnya.
"Oh... ya Allah, kak Al enggak pernah berubah, yah? Kakak selalu aktif baik di sekolah maupun setelah bekerja sekarang. Berhubung kak Al sibuk, kita bisa berbicara di lain hari bila ada kesempatan. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk kak Al." Ucap Azira tulus.
Ketulusannya membuat Sasa dan Kenzie berkedip kaget. Tak biasanya Azira seperti ini kepada orang lain. Sejenak, berbagai macam pikiran liar mulai bergerak di dalam kepala. Ada banyak tebakan dengan skenario berdarah yang menguras air mata. Pokoknya baik Sasa maupun Kenzie tidak nyaman memikirkannya.
__ADS_1
"Astaga, catat apa yang kamu katakan hari ini. Jangan sampai pintu rumah kalian terkunci saat aku datang berkunjung." Kata Al bercanda.
Azira tertawa sembari melambaikan tangannya meyakinkan bahwa apa yang dia katakan memang patut dipercaya.
Kenzie menarik tangan Azira agar berhenti bergerak. Kemudian matanya yang gelap berpaling melihat ke arah Al.
"Tentu saja, sebagai seorang suami aku tidak keberatan kamu datang berkunjung. Istriku pasti sangat senang bertemu dengan teman 'lamanya', jadi aku mempersilahkan kamu datang kapan saja." Ucap Kenzie sambil menekan kata 'lamanya' untuk memperjelas posisi Al di hati istrinya.
Al mengernyit tertahan, sedetik kemudian dia kembali ke penampilannya yang biasa.
"Tentu."
Kenzie meliriknya penuh arti. Wajahnya yang datar telah mengungkapkan emosi di dalam hati, setidaknya itulah yang dilihat oleh Al dari sudut pandangnya.
Namun Al tidak bermaksud mundur ataupun menarik kata-katanya. Daripada mempedulikan emosi Kenzie, dia lebih memilih berpura-pura tidak melihat ada sesuatu yang salah dibalik wajah datar Kenzie.
"Kalau begitu aku akan pergi sekarang,"
__ADS_1
Al tersenyum lembut. Dia mengangguk ringan kepada Kenzie, memberikan sapaan lembut dengan senyum hangat kepada Azira dan terakhir Sasa yang sedari tadi diam menyimak mendengarkan obrolan singkat di antara mereka bertiga.
"Jangan lupa datang tepat waktu di kelas ku besok." Pesan Al kembali ke setelan dirinya teliti.
Sasa sangat terkejut. Matanya terbuka lebar shock karena tidak pernah menyangka dosen killer kampusnya akan berbicara- tidak, ini bukan poinnya!
Poin pentingnya adalah darimana Al tahu jika dia kuliah di kampus tempatnya mengajar- ah, bukan!
Kenapa... kenapa Al tahu kalau dia adalah salah satu mahasiswi yang akan menghadiri kelasnya besok?!.
"Jawab, dek." Tegur Kenzie tidak senang.
Sasa terbangun dari keterkejutannya dan segera mengangguk panik.
"Iya..iya, pak. Saya akan datang tepat waktu besok." Janji Sasa gugup.
Al mengangguk, dia mengucapkan salam kepada mereka sebelum melanjutkan langkahnya pergi.
__ADS_1