Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 5.7


__ADS_3

Selepas Abab pergi meninggalkan mereka berdua di halaman belakang, Kenzie tidak lagi memiliki senyum di wajahnya. Dia kembali ke setelan terakhir kali. Tanpa emosi.


Kali ini Azira langsung menggeser duduknya menjauh dari Kenzie. Jantungnya masih saja berdebar kencang, membuatnya tidak tenang dan gelisah. Ada suara di dalam hatinya yang meminta untuk segera melarikan diri tapi ada juga suara yang berseru untuk tetap tinggal bersama Kenzie. Azira pusing, karena hanya mereka berdua saja di sini dia tidak berminat lagi menatap buah kelengkeng yang menggoda itu.


Diam menunduk. Dia merasakan kursi bergetar diiringi oleh suara gemerisik yang berasal dari sampingnya. Kenzie memperbaiki duduknya menyamping dengan tangan bersandar di atas sandaran kursi. Matanya menyipit menatap Azira.


"Apapun yang Allah katakan kepadamu, kamu harus mendengarnya. Karena setelah masuk rumah ini Abah akan menggantikan posisi orang tuamu. Sebagai seorang anak kamu harus mematuhi dan mendengarkan setiap apa yang dia katakan." Kenzie berbicara dengan nada suara yang membosankan.


Terdengar malas dan tidak perduli pada saat yang sama.


"Aku tahu. Mas tidak perlu memberitahu ku. Tapi ngomong-ngomong... Kapan aku membeli pakaian?" Azira dengan bijak mengalihkan topik pembicaraan.


Mau bicarakan masalah Abah sama saja mengungkit apa yang Abah katakan kepadanya beberapa saat yang selalu. Azira bukannya tidak suka mendengarnya karena dia juga tidak bisa mengeluh hanya saja dia merasa tidak nyaman terus memikirkannya.


Menurut apa yang Abah katakan tadi, keputusan sepenuhnya berada di tangan Kenzie. Jika Kenzie ingin membuangnya, maka dibuang saja. Jika tidak, maka gunakan saja. Semudah itu.


"Apakah kamu sudah merasa baikan?"


Azira jauh lebih baik dari kemarin.


"Ya aku merasa lebih baik."


Kenzie tidak menunjukkan reaksi apa-apa,"Kalau begitu besok kita bisa pergi. Kebetulan besok adalah hari terakhir aku mengambil cuti. Jadi aku bisa menemanimu pergi."


Setelah dia mengatakan itu, dia lalu berdiri dan berjalan ke arah pohon kelengkeng. Memanfaatkan ketinggiannya, dia meraih tangkai kelengkeng dengan gampangnya.


"Tolong ambilkan aku wadah di dapur." Perintah Kenzie kepadanya.

__ADS_1


"Tunggu sebentar." Azira langsung berlari masuk ke dalam rumah dan mengambil wadah secara acak di dapur.


Setelah mengambil wadah dia kembali lagi ke halaman belakang dan melihat banyak tangkai buah kelengkeng ditempatkan di atas tanah oleh Kenzie. Ragu-ragu, Azira menunduk mengambil tangkai kelengkeng itu dan memasukkannya ke dalam wadah. Agar buah kelengkengnya muat di dalam wadah, dia berusaha menyusun setiap tangkai serapi mungkin di dalam wadah.


Entah wadahnya yang kecil atau buah kelengkeng nya yang terlalu banyak, karena wadah ini langsung penuh tanpa menyisakan tempat untuk buah selanjutnya.


Azira mendongak ke atas. Kenzie masih memetik buah kelengkeng. Kedua tangan panjang itu bergerak cepat mematahkan setiap tangkai dan menaruh nya di atas tanah. Melihat Kenzie yang terus-menerus memetik buah, Azira buru-buru kembali ke dapur untuk mengambil dua wadah lagi yang memiliki ukuran jauh lebih besar dari yang pertama.


Dia terus menerus mengisi buah ke dalam wadah hingga pada akhirnya Kenzie berhenti memetik setelah memenuhi wadah ketujuh. Azira menahan napas melihat tumpukan buah kelengkeng ada di hadapannya. Di masa lalu dia hanya melihat tumpukan sebanyak ini ketika melewati pedagang buah di pinggir jalan. Tapi sekarang buah itu kini di depannya dan dia bisa mengambil lebih banyak lagi jika dia mau.


Sesungguhnya ini adalah kenikmatan yang belum pernah dia bayangkan seumur hidup. Maklumi saja, dia berasal dari kampung miskin dan terlantar di kota besar. Tuhan tahu betapa menderita dia dulu.


"Bantu aku membawanya masuk ke dalam."


Kenzie mengambil tiga wadah sekaligus sementara Azira memaksakan dirinya untuk mengangkat dua wadah sekaligus. 7 keranjang di angkut dalam dua gelombang. Secara keseluruhan Azira membawa dua wadah sedangkan Kenzie membawa 5 wadah. Mereka menempatkan seluruh buah tersebut di atas meja makan.


Kenzie menunjuk wadah yang paling besar dan memiliki buah yang paling banyak kepada Azira. Dia sengaja memilih buah yang paling banyak untuk memuaskan nafsu makan istrinya. Karena dia sering memperhatikan Azira memandangi buah di dalam wadah seolah-olah ingin menelannya bersama biji buah di dalamnya.


"Sangat banyak?" Azira menatap wadah yang paling besar dengan ekspresi tak percaya.


"Tidak mau?" Kenzie mengangkat salah satu alisnya bertanya.


Azira spontan memeluk wadah yang paling besar.


"Aku mau! Aku akan mengirimnya sekarang!"


Tanpa menunggu lagi, Azira langsung melarikan diri bersama wadah kelengkeng di dalam pelukannya. Dia berlari kecil berjalan menapaki anak tangga hingga naik ke lantai 2 dalam waktu yang sangat singkat dan menghilang dari pandangan Kenzie.

__ADS_1


"Hati...hati..." Peringat Kenzie yang suaranya tertahan dan tidak sampai.


Kenzie melongo kaget melihat kepergiannya. Awalnya dia hanya ingin menggoda Azira saja, tapi saat melihat reaksi istrinya yang begitu besar, entah kenapa jadi ngilu melihat. Dia takut bila istrinya salah langkah akan mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.


...*****...


"Kita mau pergi ke mana, mas?" Sisa buah di atas meja akan diberikan kepada keluarga Kenzie yang tinggal di komplek yang sama dengan mereka.


Kenzie memintanya untuk ikut pergi sambil bersilaturahmi dan memperkenalkan keluarganya yang tinggal di komplek ini. Tapi Azira merasa ragu-ragu karena takutnya keluarga Kenzie memberikan reaksi buruk ketika melihatnya nanti.


"Ke rumah Bibiku dulu. Namanya Bibi Dian. Dia adalah adik Abah yang menikah dengan Paman Amat dan memiliki tiga putra. Ketiga sepupuku tidak tinggal di kota ini melainkan sekolah di pondok pesantren jadi aku tidak bisa memperkenalkan mu kepada mereka." Sambil mengemas-ngemas barang yang ada di meja Kenzie mengenalkan beberapa keluarganya kepada Azira.


Azira mau tak mau memandangi suaminya dengan pandangan berbeda. Meskipun suka memakai wajah datar tapi suaminya adalah orang yang perhatian.


"Kamu sangat baik." Kata Azira keceplosan.


Kenzie menghentikan aktivitas dan beralih menatap wajah malu Azira di samping. Memiringkan kepalanya, dia bahkan tersenyum melihat Azira, tapi senyuman itu tidak pernah sampai dalam mata Azira.


Sangat jauh.


"Ini adalah penilaian yang bagus. Tenang saja, masih ada kejutan lainnya lagi." Katanya membuat Azira segera merinding.


Bukankah ini adalah ancaman?


"Aku..."


"Pergi."

__ADS_1


Kenzie membawa satu kemasan dan menarik baju Azira untuk mengikuti langkahnya. Karena mereka bertetangga, mereka tidak perlu menggunakan mobil ataupun kendaraan lainnya karena berjalan kaki sudah cukup. 5 atau 7 menit berjalan kaki, mereka akhirnya sampai di depan gerbang bercat putih sebuah perumahan besar yang sangat mencolok dari luar. Azira meregangkan lehernya menatap rumah besar itu dengan kekaguman di dalam matanya.


__ADS_2