
"Siap, Bah. Nanti aku bawain bagian untuk Mona juga biar dia enggak kelabakan cari sarapan di kantin." Ujar Mona dengan senang hati menyetujui
Kemudian dia buru-buru memakan sarapannya. Sepiring nasi goreng dengan dua telur mata sapi lengkap satu sendok suwir ayam, hum... rasanya sangat menggugah selera. Ini cuma nasi goreng rumahan biasa tapi menurut Sasa dan yang lainnya sangat spesial. Nasi goreng di luar rasanya tidak seperti di rumah. Seenak apapun di luar, rasanya tidak bisa menyamai buatan rumah.
"Enggak sarapan di sini dulu baru bawa sarapan ke Azira?"
Umi melihat putranya hampir selesai menyajikan makanan untuk Azira. Dari tindakannya Umi yakin kalau Kenzie akan melewatkan sarapannya di sini karena mengurus Azira di kamar.
"Nanti aja sarapannya sama dia di kamar." Jawab Kenzie lembut.
Umi menghela nafas panjang. Putranya sekarang sudah punya istri jadi dia tidak bisa seperti dulu lagi. Puas tidak puas, inilah yang terbaik sekarang.
"Sakit Azira parah? Kalau parah mending bawa ke rumah sakit aja sekalian kamu berangkat kerja. Nanti kalau kenapa-napa Umi sama Abah bakal nyusul kalian ke sana." Umi berkompromi.
Menantunya pekerja keras. Tangan dan kaki tidak bisa berhenti bergerak. Di rumah ada aja saja yang dikerjakan. Awalnya terlihat bagus karena Azira menunjukkan betapa berkomitmen nya dia sebagai seorang menantu. Tapi lama-lama Umi tidak suka melihat Azira. Karena Azira di rumah ini adalah seorang menantu dan bukan pembantu.
Tugas Azira adalah melayani Kenzie, bukan bekerja keras membersihkan sana sini. Untungnya Mona dan Sasa ada di rumah ini. Karena mereka berdua Azira akhirnya bisa bersantai dan tidak terlalu sibuk lagi mengurus rumah. Umi langsung tenang melihatnya.
__ADS_1
Tapi sekarang mendengar kabar kalau menantunya kurang enak badan, Umi agak cemas. Berpikir jangan-jangan Azira sakit karena terlalu banyak bekerja di rumah.
"Enggak parah kok, Umi. Cuma kurang enak badan aja. Insya Allah nanti siang dia udah merasa lebih baik dan bisa kumpul-kumpul lagi. Ngomong-ngomong hari ini aku ke rumah sakit agak siangan. Mungkin perginya bareng sama Azira." Lalu dia melirik adiknya yang sedari tadi menatapnya dengan mata penuh perhitungan.
Kenzie merasa aneh.
"Besok kamu libur, dek?" Kenzie sudah menyiapkan makanan istrinya.
Saat akan membawanya ke atas dia tiba-tiba teringat dengan rencananya minggu ini.
Sasa menggelengkan kepalanya.
Sambil sarapan Umi dan Abah mendengarkan kedua anak mereka mengobrol.
"Pulang sebelum jam 11 bisa?"
Sasa berpikir sebentar dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sebelum jam 11 aku biasanya udah keluar kelas."
Kenzie mengangguk ringan.
"Gabung sama hari sabtu dan minggu kamu libur, kan? Enggak kegiatan organisasi atau apa-apa kan di hari itu?" Kenzie memastikan.
Sebenarnya bisa-bisa aja Sasa tidak ikut tapi dia mempertimbangkan kenyamanan istrinya. Di sini Sasa dan Mona adalah ras asing yang diam-diam mencuri kenyamanan istrinya.
"Hari itu.... sebenarnya hari sabtu ada acara sih di kampus. Kenapa, kok tumben-tumbennya kakak nanya?" Sasa penasaran.
Enggak biasanya kulkas berjalan ini bertanya mengenai kegiatannya di kampus.
Mengangguk lega,"Kamu lagi sibuk. Padahal besok kakak mau ajak kalian semua liburan ke puncak. Tapi karena kamu sibuk, kakak enggak akan menekan kamu harus ikut." Setelah menjatuhkan kata-kata ini Kenzie membawa nampan makanan pergi, mengabaikan ekspresi konyol adik perempuannya.
Beberapa detik kemudian setelah pergi, dia mendengar raungan keras Sasa di ruang makan.
"Ah...kak Kenzie, pokonya aku harus ikut, enggak mau tahu! Lagian aku enggak sibuk, kok!"
__ADS_1
Kenzie menggelengkan kepalanya geli. Tidak menggubris perkataan adiknya dan terus melangkah ke kamarnya di lantai dua.