
Semua ini bagai mimpi buruk dalam tidurku. Tanpa melakukan apa-pun, aku dan dia ditangkap warga karena berduaan di pos ronda malam itu. Padahal kami hanya menunggu hujan reda.
Mungkin saat itu, nasibku lagi apes. Pulang dari kantor kehujanan. Aryo pun sama. Mungkin saat itu dia kemalaman karena ikut acara kelulusan, bajunya yang dipenuhi cat warna-warni memperkuat dugaanku.
Namanya remaja, dia cuek saja saat duduk di sampingku yang sudah menepi ke tonggak. Hujan yang disertai angin membuat baju kami basah.
“Mba kehujanan juga?” tanyanya polos.
“Ya, iyalah! Apa kamu ga liat aku berteduh? Jangan terlalu dekat duduknya, nanti jadi fitnah!” tegurku tanpa menoleh.
Di luar pos, air hujan bagai keluar dari selang. Lebat dan deras. Berkali-kali kututup telinga karena petir yang menggelegar.
“Takut sama petir juga, Mba?” tanyanya mengejek.
“Sekarang malah lebih takut di sini bareng kamu! Geser dikit napa?” Aku sewot.
Dia terkekeh.
“Mba! Aku dan kamu itu cocoknya jadi kakak-adik. Ga usah kebaperan, deh!” Dia menyugar rambutnya yang terlihat lebih panjang dari anak sekolahan biasa.
Mungkin karena sudah tidak belajar efektif lagi, makanya bisa semaunya memanjangkan rambut.
“Hei! Walau usia kita beda jauh, tapi berduaan seperti ini tetap tidak enak dipandang orang!” Aku mulai kesal dengan tingkahnya yang sok akrab.
Tanya kerja di manalah, sudah nikah atau belomlah. Aku kan risih.
“Pantes saja ga dapat jodoh! Mbanya sadis!” Kembali dia tertawa sambil mengusap wajahnya yang basah oleh tempias air hujan.
Ingin rasanya kucekik anak ini. Seenaknya saja dia bicara. Aku belum dapat jodoh karena tidak ada yang cocok.
Apalagi di kantor, laki-laki itu kebanyakan memilih wanita yang jauh lebih muda, dari pada yang seumur. Apalagi yang tua. Sedangkan saat ini, usiaku sudah dua puluh tujuh tahun.
Mungkin selama ini, aku lebih mengutamakan karier daripada berumah tangga. Walau mama dan papa sudah mendesak, agar segera bersuami.
Bagaimana mau nikah, coba? Jangankan punya teman dekat, digoda laki-laki dewasa saja hampir tidak pernah. Mungkin karena sikapku yang dingin dan tertutup. Dan Cara bicara yang sinis, juga salah satu hal yang membuat laki-laki menjauh.
__ADS_1
“Mba pasti dingin,” katanya setelah beberapa saat kami hanya mendengarkan suara hujan yang jatuh dari atap pos ronda tua ini.
“Ya, dinginlah! Orang lagi hujan.”
“Mba! Mbanya ketus banget, ya? Aku kan nanyanya sopan, lemah lembut. Eh, malah disinisin. Mba tau ga, kalau saat hujan seperti ini berdoa, Tuhan akan mengabulkan. Mba mau aku doakan dapat suami ngeselin kek aku?”
Duh! Anak ini benar-benar bikin gondok.
Ingin rasanya aku segera pergi dan menembus lebatnya hujan. Tetapi dalam tas ada laptop yang berisi file-file penting. Kalau rusak, aku bisa hancur.
Kuembuskan napas berat berulang kali. Membuang rasa tidak nyaman berada dekat remaja tengil sok dewasa ini.
“Mba! Kerja di mana?”
“PT. Mukti Karya!”
“Jadi apa di sana?”
Duh! Anak ini bawel amat, sih!
“Kamu kek wartawan ya, nanya mulu!”
“Kamu bisa diam ga, sih? Berisik mulu!” Aku capek mendengar siulan dari mulutnya.
“Mba! Ini pos ronda, milik umum. Kecuali aku bersiulnya di kamar mba, baru bisa dilarang. Suka-suka aku dong!”
Anak ini! Semakin membuat dadaku bergemuruh saja menahan emosi.
Kucoba membuang kesal dengan menoleh ke sebelah kiri, gelap dan mencekam. Cahaya lampu rumah penduduk pun tidak membuat tempat ini terang. Mau pakai senter HP, katanya sudah habis.
“Mba!”
Aku tidak menjawab, capek meladeni anak itu.
“Mba! Di dekat tangan Mba ada hewan kecil itu.” Dia memberi tahu, kalau ada sesuatu yang menjalar di dinding.
__ADS_1
“Ulaaar!” Aku terpekik. Dan langsung melompat dari tempat duduk.
Dia segera membuka seragamnya untuk mengusir binatang yang menjalar di dinding pos ronda.
“Waduh! Gawat juga kalau dia mematuk.” Anak itu membungkuk dan mencari-cari benda untuk digunakan memukul ular kecil seukuran kelingking itu di bawah pos.
Sayang!
Tidak ada lagi atau batu besar. Saat dia hendak berdiri, kakinya terpeleset dan menabrak tubuhku, hingga akhirnya kami berimpitan di atas lantai pos ronda.
Karena guncangan lumayan keras, saat pemuda itu menindihku. Ularnya tidak tahu menjalar ke mana.
Aku langsung berteriak, apalagi dadanya yang terbuka menyentuh tubuhku.
Mendengar aku berteriak, beberapa orang pemuda yang sedang duduk di warung dekat pos, langsung datang dan menyangka kami melakukan asusila.
Aku sudah menjelaskan, ini hanya salah paham. Tapi mereka tidak percaya. Akhirnya masalah itu sampai ke telinga mama dan papa. Dan, Aryo terpaksa menikahiku karena ada bukti berupa foto yang diambil pemuda saat melihat ke pos ronda waktu itu.
Pernikahan tanpa cinta itu akhirnya berlangsung sederhana. Sebab orang tua Aryo tidak setuju anaknya kawin di usia dini. Dia baru tamat SMA, belum bekerja. Orang tuanya takut nanti dia mau ngasih aku makan apa?
Namun, semuanya dijawab papa, yang berjanji akan memberi Aryo pekerjaan di perusahaan milik keluargaku.
Ini bukan kisah Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Az Zahra yang sangat romantis. Melainkan cinta dua anak manusia yang sama-sama mulia di hadapan Allah serta memiliki kedudukan tinggi di mata NYA.
Kisah ini sungguh sangat mengesankan, menyentuh hati dan mampu menjadi pelajaran berharga bagi setiap orang. Namun, ini hanya sepenggal kisah manusia biasa, bukan siapa-siapa, tapi merujuk pada riwayat kedua manusia pilihan tersebut.
Kendatipun kisah ini bagai debu yang beterbangan, kusut masai bak rambut tak disisir. Namun, aku hanya ingin memberi gambaran. Bahwasanya cinta yang tulus itu bisa mengalahkan apa saja, termasuk logika.
Cinta jika dibarengi saling percaya, menghormati keluarga pasangan, meski banyak batu sandungan ketika dua pasang kaki melangkah dalam ikatan perkawinan, itu bukan hambatan. Cinta sejati itu mmberi bukan meminta. Cinta itu mngerti bukan memaksa.
Ketika seorang insan memutuskan menjadi pasangan yang lain, maka ia harus siap menerima siapa saja yang ada di dekat pasangannya.
Menikah bukan hanya menyatukan dua manusia, melainkan dua kekerabatan. Jadi, sudah selayaknya menghormati orang-orang terdekat pasangan kita, termasuk orang tuanya yaitu MERTUA.
Aryo bergumam sendiri di dekat tempat tidur. Aku gemetar.
__ADS_1
Aku masih tidak percaya pada kenyataan, malam ini sudah berdua dengan orang asing di dalam kamar. Bocah tengil yang menyebalkan. Dengan wajah masam aku berdiri di dekat daun pintu yang tertutup rapat. Berusaha menenangkan diri.
“Mba! Sini!” Dia menepuk kasur tebal yang dipenuhi kelopak mawar.