
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, banyak hal yang telah berubah setelah kejadian naas yang menimpah Rara.
Bastian memilih menjalani masa hukumannya. Bastian menolak permintaan bapak Viona, ia menolak menikahi wanita itu.
Viona sudah mulai pulih, hanya ia belum bisa mengenali semua orang ingatannya terganggu.
Sukma kembali bekerja di perusahaan itu, saat ini perusahaan itu milik Rara seutuhnya atas nama Rara, setelah pak Bardi memberikannya padanya.
Saat ini Sukma menjadi direktur sementara menggantikan Rara, Bastian berjanji akan membantunya jika ia sudah keluar dari penjara.
Bastian di dalam penjara sering memikirkan Calvin, ia ingin sekali bertemu, tapi ia tidak di memperbolehkan menemui Calvin, tapi ia mengerti bagaimana kemarahan keluarga istrinya, itu semua karena kesalahannya, ia dan ibunya sudah menolak anak malang itu beberapa kali, ia tidak tau kalau ia darah gadingnya sendiri.
Hartati juga datang meminta maaf pada keluarga Rara, ia tulus kali ini, ia ingin memperbaiki semua kesalahan yang telah ia perbuat selama ini.
Sementara Bardi salim ingin menghabiskan masa tuanya dengan tenang dengan berbuat kebaikan, ia banyak menghabiskan waktunya di bagian sosial.
Sementara di sisi lain pak Agus berharap keluarganya tidak lagi berhubungan lagi dengan keluarga Salim.
Beliau yakin jika Rara sembuh nanti, ia juga yakin Rara tidak akan mau punya hubungan lagi dengan keluarga salim.
Semuanya berjalan begitu saja, Rara masih memperjuangkan kesembuhannya di Negeri yang jauh di belahan benua lain.
Hingga satu tahun berlalu.
Bastian akhirnya bebas dari penjara, tapi sebelumnya omahnya sudah keluar dari penjara terlebih dulu, dengan uang yang di miliki ia bebas dengan mudah. Hanya menjalani beberapa bulan masa penahan dan dapat masa remisi, dengan banyak pertimbangan, wanita tua itu di bebaskan.
Bastian baru bebas dan bisa menghirup udara bebas, tidaka ada yang menjemputnya dan tidak ada yang tau kalau hari itu ia akan pulang, mulai saat ini mantan napi akan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Ia langsung menuju Rumah mertuanya, ia tau kalau ia pasti akan di usir, tapi ia tidak akan berhenti, ia akan datang lagi dan datang lagi sampai kedua orang tua itu bisa menerimanya kembali.
Hari ini ia berdiri di depan pintu pagar Rumah Rara.
“Pak Tian, ada apa pak?” tanya satpam penjaga itu dengan sopan.
“Ibu dan Bapa ada Pak?”
“Oh sebentar iya pak saya panggilkan.”
“Pak, ada pak Tian ingin bertemu bapak,”
Ia melaporkan kedatangan Bastian. Pak Agus yang sedang sibuk mengurus peliharaanya ,awalnya ia kaget mendengar Bastian sudah bebas, tapi raut wajahnya kembali datar.
“Suruh saja pulang, bilang jangan pernah datang lagi ke rumah ini,” katanya, suaranya terdengar tegas.
“Baik pak.”
“Maaf pak Tian, pak Agus bilang tidak ingin menemui bapak dan jangan datang lagi ke rumah ini katanya.”
“Baik pak, saya akan kembali lagi besok.”
Besoknya, ia datang lagi. Ia di tolak lagi. Keesokan paginya ia datang lagi, lagi-lagi di perlakuan sama.
Ini hari ke enam ia datang.
“Aaah.. aku lelah juga melihatnya seperti itu, suruh ia masuk,” kata Pak agus setelah ia merasa lelah mengahadapi kegigihan hatinya Bastian.
“Katakan apa mau mu datang terus ke rumah saya?”
“Karena ini rumah mertua ku, maka aku datang berkunjung,” katanya dengan tenang.
__ADS_1
“Rara tidak akan kembali ke padamu Tian, jangan kesini lagi biarkan ia tenang,” kata Pak agus .
“Kalau begitu berikan aku alamatnya biar aku yang bicara padanya,” kata Bastian.
“Bastian, kamu tidak berhak lagi menemui Rara.
“Aku berhak Be, ia masih istriku ,” kata Bastian dengan yakin.
"Tapi bukannya aku yang egois, sesuai kesepakatan aku dengan Ayahmu, kalau tidak ada lagi hubungan keluarga salim untuk keluargaku.”
“Aku tidak keluarga salim lagi be, aku sudah membuang nama salim dari namaku, aku berhak untuk rumah tanggaku,” kata Bastian.
Pak Agus hanya diam melihat kegigihan Bastian.
“Tapi saya tidak ingin Rara dapat masalah lagi dari, keluargamu.”
“Be, Rara masih istri saya, terlepas babeh senang apa tidaknya dengan saya, ia akan menjadi tanggung jawabku selamanya, tidak penting ia sakit apa sembuh Rara istriku.”
.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Setelah setahun mendapat pengobatan di negeri orang.
Akhirnya Rara pulang juga ke tanah air, rambut di potong pendek, ia masih mengunakan kursi roda, keadaanya belum benar-benar pulih, ia juga kehilangan ingatannya.
Baru saja Sukma selesai mengadakan rapat rutin.
Kriiing
Kriiing...
Ponselnya berdering
“Kak Mey kami sudah pulang,” suara Aisah.
“Haaa benarkah.!” Sukma berteriak kegirangan, Aisah meneleponnya mengabari, kalau Rara sudah pulang ke indonesia.
“Ada apa Mey?”
Mario melihat Sukma membawa tasnya ingin pulang.
Ia ikut ke rumah Rara, mereka sudah sangat merindukan Rara setelah setelah setahun lebih tidak bertemu.
Rara pulang tentu saja kabar itu sampai ke kuping Bastian.
Ia juga ikut datang ke rumah Rara hari itu.
Rumah Rara terlihat sangat ramai. Ia akhirnya tiba, jantungnya berdetak dengan cepat.
Rara terlihat duduk di kursi, rambutnya di potong sangat pendek, ia terlihat sangat berbeda, terlihat pucat dan kurus.
'Iya ampun Ra sayang, batin Bastian kegirangan.'
Sukma masuk duluan sebelum Bastian,
“Ra….! Sukma menghamburkan dirinya memeluk Rara, tapi Rara terlihat bingung, mata bertanya pada Ibu dan adiknya.
Mungkin di ingatannya saat ini hanya keluarganya yang ia tau, ia tidak mengingat siapapun, bahkan dirinya ia lupa.
Kata Dokter luka parah di kepalanya membuatnya kehilangan memori ingatannya, Dokter bilang ia bisa pulih bila di bantu mengingat kenangan-kenangannya.
__ADS_1
“Itu Sukma teman kakak yang kita ceritakan.” Kata Aisah menjelaskan, tapi Rara seolah tidak percaya, ia melihat kearah Emaknya.
“Iya sayang, itu teman kamu kata Emaknya menjelaskan,” tapi tetap tidak bergerak, ia seolah takut, ia tidak bereaksi, semua orang yang datang Rara mengacuhkannya karena tidak mengenalnya.
Tatapan matanya masih kosong
Kini Bastian yang datang semua mata mereka menatap Bastian ia mendekati kursi roda istrinya.
Melihat Rara seperti itu Bastian merasa sangat sedih, ada rasa yang bergejolak di dadanya , rasa rindu, sedih, air matanya tumpah ia mendekat dan memeluk kaki Rara.
Rara diam, matanya terlihat sayu menatap Bastian pandangan mata berdua saling beradu.
“Maafkan aku,” kata Bastian dengan air mata yang mengalir deras, tidak di sangka Rara mengusap air mata suaminya mengusap buliran-buliran air itu dengan jari jempolnya.
Mereka semua menonton dengan diam. melihat cara Rara memperlakukan Bastian sangat berbeda.
“Apa ia mengingatnya? Ken ada di sana juga dengan ibunya.
“Apa ia tau siapa itu Bastian?” tanya Maknya lagi.
“Itu seperti dorongan dari hatinya kata,” Ibunya ken.
“Apa kamu mau memaafkan aku Ra?” tanya Bastian.
Ia diam menyimak kata-demi kata, pada akhirnya reaksinya kembali datar dan tatapan matanya kosong.
Kamu tidak berhak lagi atas kakakku kata Rizky yang baru pulang ia mendekat, Ia memberi bogem mentah pada Bastian.
Rizky awalnya ingin jadi pemain sepak bola, tapi ia mengubur impiannya karena ia melihat hukum yang tidak berpihak pada keluarganya selama ini.
Ia memutuskan masuk seleksi polisi dan akhirnya lolos. Ia akan jadi seorang polisi nantinya.
Ia baru pulang dari sekolah pelatihannya di Bandung jawa barat. Mendengar kakaknya sudah pulang hari ini, ia juga minta izin pulang.
“Izky..Cukup!” teriak emaknya mereka mencoba menahannya. Bibir Bastian mengeluarkan kecap berwarna merah.
“Kamu tidak punya hak melarang ku menemui istriku” kata Bastian.
“Ia bukan istrimu lagi, kamu kenapa tidak pulang saja ketek ibu mu bajingan?” kata Izky menjadi sangat keras sejak masalah demi masalah mendera keluarganya.
“Aku yang berhak atas istriku, bocah,” kata Bastian mendorong kursi roda Rara membawanya keluar, “Kalian sudah cukup tidak menganggap ku selama ini.” katanya.
Keributan pun akhirnya terjadi, Bastian ingin membawa Rara pergi saat ia di halangin menemui istrinya, tapi keluarganya melarangnya
“Bastian, ia masih sakit kamu bisa membuatnya tambah parah nanti, kamu sudah stres, apa?” kata Ken, mencoba menahan.
“Panggil polisi jika kalian keberatan,” katanya.
Semua orang akhirnya berhenti dan diam, saat ia mengeluarkan benda berbahaya dari balik punggungnya.
“Jangan kalian paksa aku masuk ke dalam penjara lagi,” katanya dengan wajah serius.
“Nak, Bastian baiklah ,kami meminta maaf tapi Rara masih butuh perawatan, ia belum bisa berjalan ia belum bisa ngapa-ngapain kata Bu soimah mencoba bersikap tenang.
“Aku akan mengurusnya, Mak, mulai sekarang ia akan tanggung jawabku.
Semua orang jadi panik melihat Rara di bawa oleh Bastian.
Bersambung....
__ADS_1