
Matahari sudah pergi meninggalkan cakrawala, langit sudah mulai gelap, malam sudah tiba menyapa membawa bintang yang indah, itu artinya hari ini sudah terlewatkan , Rara memegang segelas coklat panas berdiri di balkon menatap kejauhan pandangan matanya terlihat kosong, entah apa yang ia pikirkan.
Adiknya baru meneleponnya memberinya kabar yang membuatnya marah.
Bastian yang melihatnya , ia tidak suka melihat Rara seperti itu, ia tidak ingin ia memikirkan yang lain, baginya Rara miliknya dan tidak boleh memikirkan hal yang lain.
“Mikirin apa sih?” Tanya Bastian memeluk pinggang dari belakang.
Harum shampoo dari rambut Ara, Bastian menutup matanya hidungnya di manjakan wangi tubuh Rara yang khas, dan bau harum shampoo.
Tapi saat ini pikirannya melayang jauh kemana-mana tidak ingin melakukan apapun saat ini ia hanya ingin menenangkan pikirannya. Padahal Bastian ingin bermesraan dengan istrinya layaknya pengantin baru yang masih di mabuk asmara. Tapi sayang, pikiran wanita itu sedang terguncang, ia menolak Bastian dengan halus dan lembut.
Akan sangat memalukan nantinya bila ia bersikap seperti patung tanpa ada reaksi, ia tau Bastian seperti seseorang yang sedang cemburu, ia hanya butuh perhatian dan pengakuan dari Rara. Ia tau sikap posesif yang di tunjukkan Bastian padanya.
“Kita perlu bicara,Tian tentang pamanmu, apa kamu sudah mengenalku sebelumnya?” Tanya Rara dengan tatapan sendu.
“Tidak, sayang, aku juga sama seperti kamu aku juga tidak tau, tapi waktu paman datang menemui saya ke Jerman, ia cerita, kalau nenek saya ibunya Paman tidak menyetujui pernikahannya, ia sudah di jodohkan dengan rekan bisnis nenek saya, saya juga tidak tau Ra.” Kata Bastian.
“Baiklah setidaknya hal itu membuatku sedikit tenang.” kata Rara.
“Percayalah, kita bisa menghadapi semua ini, sayang asal kita sama, selalu terbuka tentang apapun,” kata Bastian, ia terlihat sangat takut kalau Rara meninggalkannya.
“Baiklah, saya mengerti.” kata Rara ia sedikit merasa lega karena pengakuan dari Bastian , tapi ia tidak bisa berjanji mengungkapkan semuanya kelakuan ibunya, ia tidak ingin bastian membenci ibunya karena dirinya.
Tapi ia baru mengingat kalau Ayah mertuanya juga menghubunginya. Pasti ada yang mendesak
Tidak bagus mengabaikan telepon mertua, bisa-bisa saya di pecat jadi menantu nantinya kata Rara dalam hatinya.
“Oh, tadi Ayah telepon , apa terjadi sesuatu di kantor?” Tanya Rara pada Bastian.
“Oh iya ampun mati aku, aku mengabaikan telepon Ayah karena memikirkan kamu tadi.” Kata Bastian ia juga baru ingat.
__ADS_1
“Aduh kita sudah melakukan kesalahan besar, mengabaikan orang tua,” Rara buru-buru mengambil ponselnya menelepon balik mertuanya.
“Aduh ada apa sih, sama kalian berdua kenapa tidak bisa di hubungi dua-duanya,” kata mertuanya di ujung telepon.
“Maaf yah, tadi Ara kurang enak badan langsung pulang ketiduran, eh Bastian juga khawatir, nyusul kerumah, maaf ayah, apa terjadi masalah?” Ia merasa bersalah.
“Masalah besar nak Ara, Ayah jadi pusing jadinya, ayah butuh bantuan , nak Ara, untuk menasehati Bastian agar punya tanggung jawab, hanya nak Ara yang bisa menasehati dia, ia mau mendengarkan hanya nasehatmu.” Kata mertuanya terdengar sangat kecewa karena Bastian tidak sepenuh hati dalam menerima jabatannya.
Padahal ia sudah berharap banyak pada anak semata wayangnya, ia ingin pensiun dan menikmati hidup.
Ia lelah bertikai dengan istrinya selama puluhan tahun, ia ingin menikmati hidup dan menyerahkan perusaan pada putranya, tapi harapannya tinggi pada putranya sepertinya mengecewakan.
Karena masalah rumah tangga Bastian menghiraukan tanggung jawabnya
“Ayah, kita juga perlu bicara yah, kata Rara terdengar serius “ Aku butuh bantuan Ayah,” kata Rara kemudian.
“Baiklah, nak Ara besok datang kekantor nanti kita bicarakan.” Kata mertuanya menutup teleponnya.
Tadinya, ia ingin berusaha terus berbuat baik dan bersabar, tapi Ibu mertuanya tidak berhenti menggangu keluarganya.
Belakangan kasus yang menguntit Calvin, Ayahnya sudah hampir berbulan –bulan belum masuk kerja lagi, dan adiknya aisah akhirnya mencari pekerjaan tapi biar begitu ia tetap kena imbasnya.
Bukan sampai di situ yang membuat kepala Ara tambah sakit, bukan hanya ia di serang dengan mendatangkan mantan tunangan.
Tapi Rara semakin marah, tiba-tiba tunangan Aisah memutuskan hubungan dengan adiknya, dengan alasan Emak dan babenya tidak akur.
Ia tidak bisa membayangkan perasaan Aisah saat ini, di putuskan tunangannya secara sepihak dengan alasan keluarga mereka tidak akur. Keluarga Rara akur dan sudah berbaikan. “Kenapa jadi masalah?.”
Setelah di usut ternyata ia Dokter yang bekerja di rumah sakit milik keluarga Pangestu group. setelah putus dengan Aisah ia langsung di angkat kepala rumah sakit.
Oh..Benar sekali, gumam Rara dalam benaknya
__ADS_1
Tanpa perlu di jelaskan siapapun sudah tau yang melakukan Ibu mertuanya. Hartati Pangestu atau Nyonya salim. Ia menganggap dunia ini di bawah kendalinya, apapun yang ia inginkan ia selalu mendapatkannya.
Aku tidak pantas mendapatkan semua ini Kata Rara dalam hatinya dengan kemarahan.
Untuk menangkap singa harus masuk kandang singa, seperti itulah yang di pikirkan Rara. Ia tidak mau lagi mengalah pada ibu mertuanya.
Hatinya sakit, saat Aisah tadi meneleponnya menangis karena di putuskan tunangannya, apa yang di alaminya dulu harus dialami adiknya juga, ia tidak bisa membayangkan perasaan emak babenya saat ini apalagi yang melakukan keluarga yang sama.
Tapi saat ini, ia menyimpan semuanya dalam hatinya, ia tidak tau ini jadi masalah nanti di rumah tangganya biarlah waktu yang menjawabnya, tapi yang pasti saat ini dadanya sesak dan marah.
“Kamu tidak apa-apa ?” Tanya Bastian saat melihat rara berdiri dengan gelisah, ia tau Rara menyembunyikan sesuatu , ia tau saat menerima telepon dari adiknya.
“Tidak apa-apa aku hanya pusing,” kata rara meninggalkan Bastian yang masih duduk, ia hanya bisa diam. Ia tau ibunya pasti melakukan hal buruk lagi pada keluarga rara,
Walau dalam kemarahan malamnya. Rara mencoba tidak memperpanjang masalahnya, karena ia tidak bisa tidur ia bagun memilih untuk sholat dan menyerahkan sama yang kuasa, hatinya berangsur pulih dan tenang kembali.
Bastian terlihat tidur terlelap di sampingnya, ia menatapnya dengan sangat dalam. Ia tau Bastian orang yang tulus mencintainya bahkan ia merasa lelaki itu sangat mencintainya. Tapi ibunya malah sebaliknya tidak bisa menerimanya.
Apa kita bisa bertahan? Aku sungguh ragu dengan perasaan ku sendiri kata Rara dalam hatinya.
Ia memilih menyiapkan menu sahur untuk mereka berdua. Dan sudah waktunya sahur Rara membangunkan suaminya.
Bastian sangat berubah sejak menikah dan hidup bersamanya , dulu awal Puasa. Ia masih susah di bangun pagi untuk sahur. Tapi belakangan ini ia sangat pengertian dan terkadang ia yang menyiapkan menu sahur dan membangunkan Rara.
Harusnya ia mendapat pujian dari ibu mertuanya karena ia membawa anaknya menuju hidup yang lebih baik lagi.
Bahkan belakangan ini setiap ada masalah Tian selalu mengajaknya sholat kalau tidak membaca Alquran
Padahal dulu pertama ia mengenal Bastian hampir tidak pernah ia melihat lelaki itu untuk sholat, tapi sekarang Ia sering mengingatkan istrinya.
Hidupnya lebih baik sekarang ini. Rara harusnya sudah bisa mendapat pujian dari ibu mertuanya , tapi saat ini boro-boro dapat pujian, di jahatin iya, bukan hanya dirinya, keluarganya juga ikut getahnya, sebagai manusia biasa ia punya batas kesabaran. Ia berpikir akan melawan daripada di tindas.
__ADS_1
Bersambung ..