Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Pelaku Sebenarnya


__ADS_3

“Apa Bang Bastian akan menerima Rara walau sudah seperti itu?” tanya Aisah dengan tatapan sendu, seakan tatapan matanya ikut memohon, agar lelaki itu jangan meninggalkan kakaknya, dalam masa sulit itu.


“Aku akan selalu bersamanya sampai kematian memisahkan kami,” janji Bastian dengan yakin.


Kalau sebelumnya Bastian tidak mau menerima bantuan, tapi saat ia tau Rara sudah bangun tapi masih koma. Sekarang ia yang meminta batuan pengacara agar ia bisa keluar dari penjara.


Ia butuh bantuan agar ia bisa menolong Rara. Ia akan melakukan apapun agar bisa bebas dari penjara, kalau kemarin-kemarin ia berpikir kalau ia ingin merenung dalam penjara, tapi saat ini situasinya berbeda, ia ingin cepat keluar dari sana dengan cara apapun ia mau melakukannya.


Kini para pengacara itu berusaha agar Bastian bisa keluar dari penjara.


Bukan hanya pengacara, tapi Ayahnya juga berusaha mengeluarkannya dari hotel prodeo


Dalam rumah sakit Rara sudah sadar, tapi hanya mata yang bisa terlihat bergerak kanan –kiri, ia hanya bisa diam dalam ranjangnya.


Sukma menangis melihat keadaan Rara.


“Tolong jangan seperti ini ,Ra,” kata Sukma.


Melihat sabahat baiknya berbaring seperti mayat hidup, membuatnya frustasi, karena baginya Rara sudah bagian dari hidupnya. Rara dan Sukma dua sahabat yang tidak terpisahkan.


Maka saat melihat Rara seperti itu, Sukma merasa ada bagian hatinya yang terluka, ia tidak ingin Rara seperti itu, ia ingin Rara sembuh.


Ia dan Mario juga tidak berhenti mencari siapa pelaku yang tega membuat sahabatnya seperti itu.


Mario bahkan membayar orang dengan bayaran yang mahal agar bisa menemukan para pelakunya.


“Ra, percayalah kita akan menemukan siapa pelakunya, jika hukum Negara tidak bisa menghukumnya biar aku gunakan hukuman sendiri,” kata Mario, sorot matanya tajam.


“Jangan bicara seperti itu Mario, serahkan pada polisi,” kata emaknya tidak ingin ada korban lagi.


“Tapi polisi sepertinya enggan mengungkapkannya, cing, biar aku yang bertindak,” kata Mario terlihat dengan raut wajah serius.

__ADS_1


Setelah beberapa hari setelah Rara sudah sadar, tapi tidak ada perubahan, keluarga Ken menawarkan membawa Rara keluar negeri untuk mendapat pengobatan yang lebih baik lagi.


Tapi keluarga Rara menolaknya, terutama Ayahnya, ia tidak ingin keluarganya berhutang budi pada keluarga Ken.


Tapi ia berusaha keras agar Rara bisa menerima pengobatan yang lebih baik di luar negeri.


Saat keluarga Rara berusaha keras mendapat uang yang banyak untuk pengobatan Rara. tiba-tiba Pak Bardi datang.


Ia bersedia membayar pengobatan Rara berapapun biayanya, dan ia mengusulkan semua pengobatan Rara di lakukan di luar negeri.


Dengan wajah bersalah dan terus menundukkan kepalanya pada babenya. Ara ia selalu meminta maaf karena selama Rara sakit ia dan istrinya tidak pernah datang karena Hartati juga sakit, karena Bastian masuk rumah sakit .


Tapi saat itu seperti ada masalah yang sangat besar ia pikul.


“Saya meminta maaf atas nama keluargaku besarku, karena kami Rara jadi menderita seperti ini,” katanya, wajahnya terus saja memohon dan meminta maaf.


“Jangan seperti ini, kita juga tau pelaku juga belum di tangkap, jadi kenapa terus meminta maaf, ada apa pak? “ Tanya pak Agus.


Seperti di dalam dada itu, ada beban yang ingin pak Bardi ungkapkan, tapi sepertinya sanga sulit.


“Saya hanya ingin mau bilang, pertama sekali untuk keluarga ini, saya meminta maaf dari hati saya sedalam –dalamnya, baik dari anak saya sebagai menantu di rumah ini, baik dari istri saya, baik dari ibu saya. Saya meminta maaf mewakili mereka semua,” katanya tidak berani menatap keluarga Rara.


Padahal keluarga Rara sudah hampir lupa bernafas karena merasakan ketengan menunggu Pak Bardi meyelesaikan kalimatnya.


“ Apa yang ingin bapak mau sampaikan?” Bu Soimah buka mulut.


“Hasil penyelidikan polisi sudah keluar, pengakuan orang yang melukai Rara, mereka di suruh Ibu saya Marisa Queen.” Katanya dengan suara berat dan suara itu bergetar.


“Haaaa!? Bu-bukankah beliau, menyukai Rara dan mendukung pernikahan mereka?” kata bu Soimah terlihat kaget, bukannya hanya ia yang kaget, pak Agus terlihat sangat terkejut.


“Bagaimana ada manusia kejam seperti itu, apalagi ia seorang orang tua?” bentak pak Agus terlihat emosi. “Apa keluargamu memang hobi menyiksa orang ?” katanya lagi.

__ADS_1


“Saya meminta maaf at-“


“Apa permintaan maaf itu bisa membangunkan putriku? aku ingin orang tua itu membusuk di penjara, itu baru bisa terima,” kata pak Agus terlihat sangat marah.


“Pergilah dari sini dan penjarakan wanita pembunuh itu,” kata pak Agus.


Dengan wajah malu dan merasa bersalah. Pak Bardi keluar dari kamar Rara, ia tidak pernah menduga kalau pelakunya justru tertuju pada ibunya sendiri.


Padahal ia sudah menyewa penyidik terbaik di negari ini untuk mendapatkan pelakunya, tapi siapa yang menduga orang yang di cari jauh-jauh sampai keluar negeri justru orang terdekatnya. Ibu yang ia sayangi dan ia hormati pelakunya.


Dalam perjalanan pulang dari Rumah sakit, sepanjang perjalan Ia tidak habis pikir kenapa Ibunya tega melakukan hal seperti itu. Ia tidak tau apa tujuannya, tapi Rara tau ada rahasia besar wanita itu.


Kenapa Ibu melakukan hal kejam itu? apa yang Ibu pikirkan? harusnya ibu di masa tua ibu menikmati masa tua dan hidup senang-senang, tapi kenapa itu melakukan hal itu? kata pak Bardi. Ia di tuntut memilih pilihan yang sangat sulit, ia harus memenjarakan ibu yang melahirkan demi keadilan untuk Rara dan Bastian.


Akhirnya Marisa Queen di seret ke kantor polisi, untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Dalam Rumah sakit Bu soimah menangis, ia tidak menduga yang ingin melukai Rara ternyata keluarga dari suaminya sendiri.


“Ya, ampun aku tidak menduga kalau yang melakukan itu justru keluarga suaminya, bagaimana mungkin mereka melakukan hal kejam itu, ya Allah? ya Allah ..jahat sekali kelurga itu,” kata bu Soimah di samping menangis pilu mendengar kenyataan yang tidak manusiawi itu.


Kabar berita itu menyebar juga sampai ke kuping Kenzo dan keluarganya.


“Iya ampun Ken kasihan sekali keluarga itu,” kata maminya melihat berita, di mana Nyonya Marisa Ouen di angkut polisi di masa tuanya.


“Kita harus membantu mereka, mi, tidak perduli ia menerimaku atau tidak, itu tidak penting lagi, tapi ini demi Rara dan Bastian, mereka berdua..eh bertigalah korbannya ,” ungkap Ken, ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Bastian. Ia tidak tau saat istrinya dan anaknya di celakai Omahnya sendiri.


Asah dan babenya sudah kehabisan air mata, mereka berdua hanya terdiam seperti patung, Aisah melihat dengan tatapan sedih sang kakak, pak Agus menatap nanar kearah jendela dan Bu Soimah masih dengan tangisannya ia memeluk tubuh Rara dan terus menangis.


“Kamu harus bangun Ra, kamu harus lihat wanita jahat itu membusuk di penjara, kamu tidak pantas lagi untuk keluarga iblis itu, sadarlah sayang..!” kata Bu Soimah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2