
Siapa yang salah Jika mereka di pisahkan kembali? perlakuan semena-mena dari keluarga Bastian pada keluarga Rara membuat keluarga itu memutuskan kalau hubungan keluarga mereka tidak di bisa disatukan lagi.
Orang tua Rara dan Bastian sudah sepakat kalau Rara dan Bastian menjalani hidup masing-masing,
Egois memang.
Bagaimana dua orang yang saling mencintai harus dipisahkan oleh kedua orang tua kedua pihak.
Selagi ego menguasai pikiran, sakit hati dan penderitaan akan akan selalu ada dan akan mereka rasakan. Jika dendam dan sakit hati masih menguasai keluarga Rara, maka bisa di pastikan mereka berdua lah jadi korban.
Bastian bisa di bebaskan pengacaranya dari penjara, tapi saat ia dalam hotel prodeo. Rara di bawa keluarganya menjauh, tentunya menjauhi dari Bastian dan keluarganya.
Kecelakaan besar yang di alami Rara sangat membekas di hati keluarga Rara, apalagi kecelakaan itu di sebabkan keluarga suaminya sendiri.
Sebagai seorang Ayah pak Agus tidak ingin anak perempuannya kembali ke dalam keluarga Salim. Menurutnya keluarga mereka dan keluarga Salim memiliki luka yang dalam, terlebih lagi masa lalu dari Yolanda, ibu dari Calvin . Jika di pikirkan, apakah ini satu takdir untuk Rara, apa sebuah kutukan?
Pak Agus tidak ingin nasib anaknya sama dengan Yolanda.
Walau terdengar kejam dan terlalu memaksakan, tapi pak Agus ingin Rara meninggalkan keluarga Salim selamanya, ia tidak ingin Rara punya hubungan lagi dengan keluarga Salim.
Kemana Rara di bawa? Hanya keluarganya yang tau.
Karena saat Bastian datang ke rumah keluarga Rara, rumah keluarga Rara kosong, hanya di jaga satpam.
“Pak, Keluarga Rara pindah kemana?” Tanya Bastian dengan raut wajah memohon.
“Maaf.. pak Tian, saya hanya bertugas menjaga keamanan, mereka pergi kemana, bapak sama Ibu tidak memberitahukan pada kami,Pak,” kata kedua sekuriti dengan sopan.
Wajah tampan itu terlihat begitu sedih, ia mencoba menghubungi semua kontak orang-orang terdekat Istrinya, semua membuat jawaban yang sama ‘ tidak tau’ jawaban yang sama dari orang-orang terdekat Rara, jawaban mereka seolah sudah di copy paste maka sama jawabannya, setiap kali ia bertanya.
Mau marah, tapi marah pada siapa? Ia mengusap pelupuk matanya, kesedihan di hatinya mendatangi butiran-butiran bening dari sudut matanya.
“Aku mohon jangan pisahkan kami, aku sungguh tidak sanggup seperti ini,” ia berucap pelan, matanya menatap ke arah langit.
__ADS_1
Banyak yang ingin aku lakukan, banyak yang ingin aku tanyakan, beri kesempatan kali ini, ia berucap dalam hati.
Ia masih berdiri di depan Rumah Rara, ia berharap ada seseorang yang keluar dari Rumah keluarga Rara, tapi seperti dugaannya rumah itu kosong.
Saat ini, ia tidak bisa menemukan Rara, kemarahannya memuncak pada keluarganya.
Ia pulang ke rumah orang tuanya, dengan kemarahan yang hampir meledak. Ibu dan Ayahnya terlihat duduk dengan beberapa pengacara keluarga.
“ Ayah merencanakan apa lagi di belakang saya?.”
Kedua orang tuannya melihat kemarahan Bastian.
“Tian,” kamu dari mana, nak?”
Hubungan ibu dan anak tidak seperti dulu lagi, Saat Rara kecelakaan Bastian menyalahkan keluarganya.
“Apa yang ayah rencanakan kali ini?,” Ia bertanya.
“Tian, mari kita bicara baik-baik, tidak ada gunanya nak menyalahkan orang tuamu,” kata pak Bardi. Ia membujuk anak semata wayangnya, kesedihan anaknya, sudah pasti kesedihan orang tuanya juga.
“Tian, berhentilah membahas masa lalu,” kata Maminya karena dalam kasus ini, ia salah satu biang masalahnya.
“Ibu, apa ibu tau kalau ibu juga awal semua petaka ini? Ibu yang menyebabkan semua masalah ini.. apa ibu puas sekarang saat Rara meninggalkanku, apa ibu puas sekarang kalau aku menderita?” ia tertawa putus asa dan terlihat sangat depresi.
“Bastian, sudah cukup, berhenti menyalahkan Ibumu. Ibu juga menyesal,” kata pak Bardi.
“Ibu tidak akan pernah merasa menyesal sebelum ia lihat aku gila dan mati,” kata Bastian.
Kedua pengacara yang tadi di panggil Bardi Salim memilih untuk pergi, melihat ketegangan dan kemarahan Bastian Pengacara itu memilih pergi.
Bastian masih dalam kemarahannya, ia masih menyalahkan kedua orang tuanya atas yang terjadi dalam hidupnya.
Bardi salim hanya bisa diam menyaksikan kemarahan anak semata wayangnya, karena ia juga mengakui kesalahannya dan meminta maaf.
__ADS_1
“Aku tidak ingin jauh dari Rara, Bu, aku tidak ingin jauh dari anakku dan istriku, apa ibu tau itu..!”
“Ibu tau, nak, ibu tau , ibu akan berusaha ,” katanya, wajahnya terlihat sangat bersalah.
Bastian menyewa orang untuk menyelidiki keberadaan Rara, hingga ke luar negeri juga ia mencarinya, tapi hasilnya nihil.
Seminggu sudah berlalu. Bastian belum bisa menemukan Rara. Ia ke kantor sukma, ia tau Sukma pasti tau keberadaan Rara, mengingat Rara dan Sukma tidak ada rahasia.
“Aduh maaf pak Bastian, aku juga tidak tau, jadi aku tidak bisa bantu,” katanya kemudian, tapi ia tau sorot mata cipit itu, tidak bisa berhenti berbohong.
“Apa kamu ingin melihat aku dan Ara berpisah mba?” ia mencoba dengan cara sedikit memohon.
Tapi Sukma ingin yang terbaik untuk sahabatnya, ia tau kalau Bastian mencintai Rara, tapi ternyata tidak cukup hanya cinta, perlu dukungan dari keluarga, selama ini Sukma selalu mendukung hubungan Rara dan Bastian, tapi saat terakhir Rara terluka karena ulah Omah nya Bastian, Ogah bagi Sukma untuk mendukung mereka lagi.
Ia menarik nafas panjang , menatap Bastian.
“Aku tidak ingin Rara terluka lagi pak Bastian,” kata Sukma.
Bastian juga terdiam, ia tau bahasa dari wanita itu sebuah penolakan lagi.
“Baiklah Mey, aku pulang kalau kamu tidak mau memberitahukannya biar aku yang akan mencari tau sendiri kata Bastian. Meninggalkan kantor sukma
Saat ia pulang, ke rumah emosinya memuncak lagi, bagaimana tidak ada, Omanya di rumahnya, orang yang menghancurkan hidup dan rumah tangganya, kalau itu mungkin seorang lelaki Bastian sudah mengajaknya adu jotos untuk menuntaskan isi hatinya, tapi sayang ia hanya nenek.
“Apa yang omah inginkan lagi? apa nyawa Bastian mau di dihilangkan juga sekarang?”
“Duduklah di sini Tian, Omah mau bicara hal penting,” kata ayahnya berdiri mencoba menangkan Bastian.
“tidak perlu, aku sudah muak dengan keluarga ini, aku mau pergi jauh,” kata Bastian.
“Kamu berhenti menyalahkan Omah, aku datang kesini, agar aku bisa menjelaskan semua kebenaranya,” kata orang tua itu, terlihat tegas.
“Aku memang marah pada istrimu saat itu, tapi saya tidak menyuruh orang mencelakainya, saya hanya memberinya peringatan, kamu tunggulah, kita akan mendapatkannya nanti, aku sendiri yang akan menembak kepalanya,” Kata Omah.
__ADS_1
Bersambung...