Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Rara dalam bahaya


__ADS_3

“Saya suaminya sus,”kata Bastian menahan emosi saat ia tidak di perbolehkan masuk, seorang perawat terlihat menelepon diam-diam memberitahukan kalau ada seseorang yang mencari Rara mengaku suaminya.


“Maaf pak, kami tidak sembarangan memberitahukan data pasien demi keselamatan, karena pasien sendiri yang mengingatkan kami.


Bagaimanapun Bastian menjelaskan, ia seolah di persulit , ia menduga itu pekerjaan Kenzo.


“Berengs*k kamu Kenzo, awas kamu nanti,” makinya kesal


Karena tidak dapat izin masuk menemui Rara Bastian memilih tidur di dalam mobilnya ia tidak kamar ibunya ia membiarkan ibunya.


Bahkan telepon dari ibunya yang tadi ia abaikan, pikirannya masih tertuju pada Rara dan Kenzo.


Aku harus menelepon si brengs*ek itu kata Bastian dalam hatinya baru, ia ingin meneleponnya tapi ponsel sudah kehabisan daya.


“Sial, kenapa harus sekarang sih?,” menggerutu kesal melempar ponselnya kesamping jok mobilnya mobilnya, ia sibuk mencari yang kabel yang bisa menyambungkan daya ke ponselnya, itupun tidak ada, kalau biasa ia selalu membawanya kalau itu di mobilnya, sayang, mobilnya ada di rumah neneknya saat di bawa Rara mencarinya.


Mobil yang dipakai saat ini, mobil ibunya


Apa ibu juga tidak punya kabel cargeran? kata Bastian semakin kesal ia, memegang kepalanya dan dengan kasar. Ia menghempaskan tangannya ke udara, ia terlihat sangat putus asa, karena di timpa beban pikirannya yang banyak.


Ia menyandarkan kepalanya menurunkan sedikit jok mobilnya dan ia menjadikanya alas untuk tidur,


Rasa lelahnya mengalahkan hatinya ‘ ia baru saja menutup mata dan sudah tertidur ia sengaja menurunkan sedikit kaca mobilnya memilih ac alam yang menemaninya.


Mobil Bastian parkir di halaman depan rumah sakit, Ia sengaja memilih parkir daerah itu agar ia mengawasi Rara jika sewaktu-waktu ia keluar dan ia bisa melihatnya.


Hingga pagi tiba, Bastian terbangun tepat saat mentari pagi datang menyapanya dengan cahayanya yang menyilaukan matanya.


Ia bergegas, berbekalkan sebotol minuman mineral ia membasuh wajahnya . terlihat sudah segar, ia buru-buru menghampiri meja bagian informasi tujuannya ingin menjenguk Rara.


“Pak, maaf tadi keluarganya sendiri ngomong tidak ingin menemui siapapun , kami sudah bicara tadi pak, kami juga sudah melaporkan tentang bapak, mereka menolak bapak juga,” kata salah perawat.


Gara-gara di tolak lagi. Bastian tidak bisa menahan emosinya . ia menghubungi Dokter keluarganya, kebetulan juga bertugas di rumah sakit itu.


Tidak beberapa lama datang seorang dokter muda teman Bastian.


Dia bicara sebentar dengan beberapa perawat yang menghalangi Bastian dan kedua perawat terlihat mengangguk tanda mengerti.


“Ayo kita bicara di ruangan saya saja,” kata Dokter, membawanya kedalam ruangannya.

__ADS_1


Dalam ruangan bernuansa putih itu Dokter muda tak lain temannya saat kuliah dulu. Dokter membuka komputernya. “ Disini keterangannya pasien bernama Rara Winarti masuk kategori prioritas nomor satu, ia dalam tahap perlindungan dan dalam penjagaan ,” Kata Dokter muda itu.


“Penjagaan apa, Dokter?


“Ada yang ingin mencelakainya, ia mendapat teror di kantor ,bahkan di rumah sakit ini katanya,” kata Dokter.


Rara dapat teror? Siapa yang melakukannya? Apa ini kerjaan Ibu apa Viona?


“Tolong atur, agar aku bisa bertemu dengan istriku , Dok, aku harus tau apa yang terjadi?.”


“Apa kalian sudah berpisah?,” tanya sang Dokter dengan mata menatap Bastian menunggu jawaban


“Tidak, tapi kami tidak dalam posisi hubungan tidak baik saat ini.” Kata Bastian


“ Ada campur tangan Ibu dalam rumah tangga kami,” kata Bastian, mata menatap kearah jendela dengan tatapan kosong


“Ini buruk, kalau sudah ada campur orang tua dalam rumah tangga dan kamu pasti memilih ibu kamu?,” tanya Dokter padanya.


Bastian hanya mengangguk, tapi apa yang ia lakukan satu kesalahan? Tentu saja tidak, ia hanya mencoba menjadi anak yang berbakti. Ia berpikir istri bisa, dapatkan di mana saja.


Tapi dalam hidup tidak ada namanya mantan Ibu atau mantan anak, ia hanya tidak ingin menjadi anak yang durhaka, tapi sepertinya pilihannya salah, dan ia menyesalinya, ia menganggap diri sendiri sebagai lelaki yang lemah,


“Hal?.”


Temannya Dokter menatapnya, menunggu Bastian menjawabnya.


“Tentang, Apa ia hamil apa tidak?.”


“Haaa? Apa hubungan rumah tangga kalian tidak bisa di selamatkan lagi? sudah separah itu, sampai kamu sendiri tidak tau ,kalau istrimu benar hamil apa tidak,”?


Tatapan Dokter muda itu seolah mengintimidasinya, seolah ia tau banyak hal tentang hidup Bastian.


Ah sial, kamu tau apa ia tentang hidupku, gumam Bastian dalam hatinya ia ingin marah tapi ia butuh lelaki itu untuk membantunya menemui Rara


.


“Masalahnya, Rara istri saya menghindar Bro, ia tidak mau bertemu dengan saya, tapi saat kami sama-sama di rawat dalam satu rumah sakit beberapa hari lalu, ia dan temannya keceplosan , bilang kalau ia akan punya Bayi dan aku yakin ia hamil , tapi saat aku menanyakan kebenaranya mereka menghindar.”


“Apa kamu tidak punya bukti sedikitpun, untuk membuktikan keyakinan di rumah ,misalkan ia mual, misalkan ada testpack, atau ada hasil USG dan hasil periksa Dokter , gitu,” tanya Dokternya.

__ADS_1


“Masalahnya sejak keluarga kami dalam banyak masa- sudahlah,” Potong Bastian, tidak ingin menjelaskan masalah keluarganya secara rinci, walau ia tidak menjelaskan juga, mereka pasti sudah tau tentang dari berita, tentang pertikaian dua keluarganya dan Bastian sangat malu pada teman-temanya.


“Baiklah, saya mengerti, sebentar ,” tangannya menekan nomor extension ke ruang perawat.


Tidak lama datang seorang Perawat membawa data pasien di tangannya.


“Ini Dokter,” kata seorang perawat berparas ayu, dan matanya menatap Bastian dengan bibir di poles senyuman.


“Makasih ,Sus,” kata Dokter


.


Setelah pintu itu di tutup kembali. Ia baru menjelaskan analisisnya tentang data pasien atas nama Rara.


“Kalau saya lihat dari resep yang di berikan Dokter , ini resep khusus, tapi aku tidak bisa bilang istri kamu hamil atau tidak, karena saya bukan dokter kandungan ,Bro, tapi saya bisa bilang sepertinya, iya tapi catatan kesehatannya ia tidak di sebutkan sedang hamil, karena ia masuk ke rumah sakit karena penyakit kelelahan dan darah rendah yang mengakibatkan pusing dan badan lemah. Dokter menganjurkannya istirahat total dalam tahap pengawasan dokter dan di jaga dua orang bodyguard.


“Apa yang terjadi padanya ? kenapa ia dalam penjagaan pengawal ? tolong masukkan aku ke kamarnya, agar aku bisa bicara dan mengetahui apa sebenarnya yang terjadi,” kata Bastian.


“Ini menyalahi prosedur rumah sakit Bro, aku tidak mau ambil resiko, soalnya dalam catatan yang aku lihat penjagaan untuk istrimu sangat ketat, bahkan Dokter saja di periksa masuk,” kata Dokter itu.


“Istrimu sudah seperti pejabat penting saja,” kata Dokter itu


“Pejabat- pejabat,” tiba-tiba Bastian mengingat satu hal, tentang seorang penjabat yang di kalahkan Rara bahkan di ancam Rara agar mau menjual sahamnya.


“Pak Burhan,Ayah kenzo!,” Katanya tiba-tiba.


“Ada apa, siapa dia?.” Dokter, bingung melihat temannya.


“Ia dalam bahaya! Jika ia teru di rumah sakit ini, karena yang punya rumah sakit itu teman baik Ayah Kenzo.


“ Kamu harus bantu aku mohon padamu,” Kata Bastian ia bahkan mau melakukan apapun


“Ah, kamu membuat kesulitan untukku nanti. Bro,”


“Tapi tolong, lah, ini demi keselamatan istriku,” kata Bastian, wajahnya terlihat ada rasa ketakutan , karena berpikir Rara dam bahaya


Rara dalam bahaya aku harus bisa menyelamatkannya kata Bastian dalam benaknya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2