
Di samping Hotel Acacia, diantara persimpangan jalan menuju rumah Rara, tepatnya di depan sebuah sekolah Dasar, Bastian memarkirkan mobil
Hatinya diantara keraguan, ia ingin bertemu dengan Rara tapi ia tidak ingin menginjak kakinya di kampung kumuh tempat tinggal Rara.
Tapi disatu sisi, ia ingin menemui istrinya, antara dua keinginan terbentuk dalam hati. Jam terus berputar, ia juga masih dilanda pikirannya, matanya menatap jalanan yang menuju rumah Rara.
Diantara keinginan yang kuat untuk menemui istri dan putranya, tetapi disisi lain ia merasa bersalah pada Rara akibat perbuatan ibu Bastian.
Padahal, tidak Jauh di tempat Bastian berdiri, di Rumah sakit Kramat Pulo, tempat istrinya berbaring di ranjang rumah sakit, entah berapa jam ia berada di di sana dalam keraguan, ia tidak bisa menemukan alamat Rumah Rara, ia memutuskan kemana kakinya melangkah,
Lelaki tampan itu menyerah setelah berkeliling dan berputar-putar, tetapi tidak menemukan alamat Rara, Bastian lelah mencari dan ketiduran di dalam mobil.
Di Rumah sakit.
Hingga pagi tiba, di rumah sakit ditempat Rara di rawat, ia sudah merasa sehat, tidak betah lagi berbaring di ranjang rumah sakit, , pikirannya di penuhi ribuan pertanyaan tentang bagaimana keadaan babenya.
Kalau Sukma bisa tidur sampai mengeluarkan dengkuran, tapi tidak untuk Rara, ada berbagai perasaaan yang berkecamuk di dalam dadanya , melihat apa yang terjadi padanya harusnya ia menangis, agar bebannya berkurang, tapi tidak untuk Rara ia tidak menangis.
Seolah-olah kesedihan sudah tidak mempan lagi menyentuh matanya untuk bisa mengeluarkan air mata
“Lu cepat bangat bangun Ra, mau kemane buru-buru bangun, tidur aje lagi.” Muka Sukma masih terlihat mengantuk.
“ Sudah tidak apa-apa Mey, gue mau menjenguk babe saja
“Lu yakin, pala loe masih sakit kagak?”
“Itu tidak penting Mey, bokap gue yang paling penting saat ini, Tidak pantas gue tidur-tiduran enak disini bokap gue di sana tidak tau apa kabarnya,”
Rara benar benar wanita yang tangguh, saat kepalanya bocor dan tangannya masih sakit. Tetapi yang ia pikirkan keluarganya, terutama babe dan engkongnya
Satu hal lagi yang berbeda dari kehidupan Rara, engkongnya Rara bapak dari ibunya . Engkongnya Rara sangat menyayanginya justru berbeda dari dari kedua adiknya notabennya cucunya sendiri,
“Jika Ibu, bukan ibu yang melahirkan ku, aku termasuk anak yang beruntung, engkong sangat menyayangiku melebihi cucunya sendiri, walau ia tau aku bukan cucu kandungnya,”
Tiba-tiba ia merasa sangat merindukan lelaki tua itu, lelaki yang Jago silat, lelaki yang jadi panutan hidupnya sama kayak babenya,
Dengan keadaan masih terlihat lemah, Rara memaksa bangun dari ranjang itu, ia ingin menemui dan mendatangi rumah sakit di mana ayahnya di rawat, Tetapi tidak disangka Ibunya dan Aisah ada di sana juga menjaga.
Melihat ibunya ada di sana tidak lantas membuat Rara mundur
Ibunya melihatnya dengan kebencian, tapi di dalam hati Rara jika ibunya berani menyentuhnya dan memakinya lagi bukan berarti ia diam lagi, cukup baginya selama ini di maki tapi tidak kali ini, di saat Babehnya sakit
“Kamu masih berani datang kesini?”
Dengan tatapan mata yang sangat tajam, ia melotot pada ibunya,
Tanpa kata-kata dan tidak perlu kata-kata, emaknya Rara langsung diam, Sukma sebagi sahabatnya tidak mampu berbuat apa-apa
Ia hanya diam menunduk, baik Aisah dan Rizki yang sudah mengerti sifat keras Rara itulah puncak kemarahan, siapapun yang mendekatinya dan mengusiknya dengan kemarahan seperti itu dan tatapan mata tajam itu, harus siap dengan resiko terluka parah
Maka sebelum itu terjadi Aisah menarik ibunya,
“Sudah Mak, mpok Rara dalam marah besar nanti emak bisa terluka,” wanita berkerudung hijau itu menenangkan ibunya.
__ADS_1
Kalau sebelumnya keluarganya tidak di perbolehkan menemui pasien, tetapi saat Rara ingin menjenguk, Dokternya memperbolehkannya masuk itu karena permintaan babehnya , hanya ia yang di tunggu dan izinkan masuk,
Ternyata babenya sudah menunggunya ia sudah pulih
“Beh, Rara memeluk tubuh babehnya, ia merasa luar biasa, karena babehnya tidak seperti yang ia bayangkan .
Ayahnya sudah pulih dan yang penting babenya mengingatnya .
“Kamu sudah sembuh Ra, tadi babe yang ingin menjengukmu.”
Babe Rara mengawasi dan melihat luka yang dialami putrinya.
“Sudah Be, tidak terlalu parah,”
“Maafkan bapakmu ini Nak.”
Ia memeluk Rara kali suara tangisan yang tak terbendung keluar dari mulut lelaki paruh baya itu. Ia menangis seperti anak kecil yang tidak ingin tinggal ibunya pergi.
Dengan suara tangisan yang lumayan bisa mengusik pendengaran karena yang menangis seorang laki-laki.
“Be tidak apa-apa, jangan menangis seperti itu beh, Rara makin sedih.” Tetapi babe Rara seakan tidak perduli.
Sepertinya sudah lama disimpan dan baru bisa diungkapkan hari ini,
“Maafkan babeh Rara, ini salah babe, ini salahku,” ucap lelaki itu mengusap punggung tangan Rara.
“Sudah Be, kita pulang, kita keluar dari sini, babeh sepertinya tidak apa-apa lagi kan. Nanti kita malah di omelin dokter karena suara tangisan babeh,”ucap Rara.
“Baiklah, mari kita lakukan seperti keinginan babe,” ucap Rara
“Kamu tidak marah?” wajah babenya menatap dengan serius
“Iya, kalau babe ingin seperti itu aku akan mendukungnya, yang penting babe senang, kita akan lakukan bersama,”
“Iya, bawa aku keluar dari rumah itu, mari kita tinggal bersama,” kata babehnya seolah hanya ia sendiri dan calvinlah anaknya, yang lainnya tidak ia pedulikan walau rara merasa itu salah, tapi mendukung keputusan babenya saat ini, karena belum pulih kejiwaannya menurut dokter, tidak boleh ada beban pikiran dulu
Maka Rara mengiyakan semua keinginan Babenya,
Sukma masih menunggu Rara di luar, sesuai permintaan babenya yang tidak menemui istri, wanita galak itu, berarti Rara harus mengeluarkannya dari rumah sakit tanpa sepengetahuan ibunya, walau kedengarannya kejam, tapi ia hanya ingin menuruti kemauan babenya,
Sukma yang membawa mobil, tepaksa menunggu mereka di pintu belakang rumah sakit
Babe Rara, harus ia keluarkan secara diam-diam karena belum siap menemui istrinya.,
Pada saat Aisah dan ibunya Rara menuggu di ruang tunggu , Rara dan babehnya sudah keluar dari pintu belakang,
Tapi ia tidak ingin terlihat kejam, setelah berhasil keluar ia mengabari Aisah kalau babeh mereka sudah keluar dan sudah sehat,
“Ra, kenapa babe tidak mau ketemu emak?” Tanya Sukma melihat babe Rara yang tidak ingin bertemu istrinya.
“Sepertinya babe masih marah sama emak”
Apa yang dilakukan ibu Rara ternyata mempengaruhi sikap Alvin, anak malang itu melihat bagaimana ibunya di pukul sang nenek sampai terluka parah,
__ADS_1
Saat Rara membawa babehya keluar dari rumah sakit pagi itu, guru Tk Alvin menelepon. Alvin menangis sejak ia datang ke kelas hari ini
Sepertinya ia ketakutan saat melihat ibunya terluka parah, terpaksa Sukma memutar balik mobilnya untuk menjemput Alvin.
Benar saja, anak malang itu kehilangan keceriaannya, saat teman-teman TKnya bernyanyi ceria, ia menenggelamkan wajahnya diantara kedua tangganya dan menundukkan di atas meja.Babenya yang ikut menjemput ke kelasnya, ia terlihat sangat sedih saat melihat cucu kesayangannya bersedih,
Walau bukan anak kandung Rara, tetapi babehnya yang sudah merawatnya sejak ia baru lahir, mempunyai ikatan yang luar kuat.
Babenya Rara mengetuk kelas untuk izin sama ibu gurunya agar membawamu pulang.
Pak Agus yang berdiri didepan kelas.
“Calvin, kemari Nak ni ada kakek kamu datang menjemput, panggil gurunya, wanita berparas cantik menghampiri Calvin .
Saat matanya menoleh, wajahnya seperti bola senter yang baru dicarger,
“Kakek,panggilnya berlari menghampiri , ia menahan tangisan, tubuh kecilnya berlari menghampiri kakeknya
“Oh cucuku, ayo pamit sama ibu guru, kita pulang,” ia masih tidak bersemangat karena belum melihat ibunya. Rara sengaja bersembunyi di balik gedungnya
“Hai tampan!”
“Bibi mey-mey” matanya masi sibuk mencari
“Cari siapa vin?” Tanya kakek, matanya sendu menatap kakeknya ia ingin bertanya malah menangis.
“Apa kamu mencari ibumu?” Babeh Rara mengusap pucuk kepalanya
“Apa ibu sakit kek?”
“Calvin... panggil Rara dari balik gedung.” Ia sengaja bersembunyi
“Ibu …! Apa ibu sudah sembuh?”
“Sudah sayang jangan khawatir, apa kamu mau ikut dengan ibu?’
“Iya, Alvin akan ikut kemanapun ibu pergi”
”Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Bintang Kecil untuk Faila
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-The Cursed King(ongoing)
__ADS_1