
“Ken, panggilkan Dokter tolong,” kata Bu soimah bersemangat.
Mata Rara sudah terbuka tapi hanya sedikit terlihat seperti mata orang mengantuk , mata itu terlihat memerah, mungkin karena terlalu lama di tutup tak pernah di buka selama satu minggu lebih.
Di tubuh Rara di penuhi banyak alat yang menempel di seluruh tubuhnya, lehernya di pakai penyangga tangannya juga pakai penyangga.
Dokter yang menangani Rara kali ini Ibunya Ken. Bersama dua orang Dokter yang biasa memeriksa.
“Rara, apa kamu bisa mendengar?, aku Dokter yang menangani, kedip kan matamu jika kamu bisa mendengar,” katanya, setelah memeriksanya.
Tapi Rara tidak merespon, ia hanya membuka mata tanpa ada reaksi apapun.
“Rara apa kamu bisa mendengarku..!” kata Dokter itu lagi mengulang kalimatnya, tapi Rara tidak merespon. Ketiga Dokter itu saling menatap mereka terlihat sangat gelisah.
Sementara keluarga Rara hanya menunggu dalam suasana tegang. Mungkin Aisah sudah paham apa yang terjadi pada tubuh kakaknya.
Karena sebagai petugas medis ia tau. Kini air mata itu mengalir dari matanya, ia mengalihkan wajahnya, agar kedua orang tuanya tidak melihat air mata itu , Ken hanya bisa melihat Aisah, ia tidak bisa berbuat apa-apa, saat melihat menangis seperti itu ingin rasanya ia memberikan punggungnya tempat menampung air mata itu.
Tapi Aisah belum membuka pintu hati untuknya, jadi ia tidak berani berbuat lebih dari seorang teman, statusnya saat ini masih tahap cinta sepihak.
Aisah keluar dari ruangan. Ken mengikutinya dari belakang, Aisah menangis di pojokan bangunan, ia tidak ingin menangis di depan kedua orang tuanya.
Siapapun di pihak itu akan merasakan apa yang dirasakan Aisah.
Ken hanya berdiri di belakangnya, setelah lebih tenang ia memberi minuman mineral dan tissue pada wanita cantik itu.
Ken menyodorkan botol minuman itu ke depannya, Aisah menatapnya sekilas.
“Terimakasih Mas,” katanya kemudian, mereka duduk dalam diam. Padahal Ken sudah menunggu berharap Aisah berbagi cerita padanya. Tapi ia tidak melakukannya, Aisah terlihat tegar dan menyimpan semua masalah sendiri dalam hatinya. Ia seperti Rara yang tidak mudah membagi cerita dengan orang lain.
“Apa kamu sudah makan?” tanya Ken untuk memecahkan keheningan, setelah ia menunggu lama, berharap Aisah berbagi cerita atau curhat padanya, tapi tidak untuk Aisah, ia tidak akan berbagi cerita dangan orang lain kalau belum tepat dalam hatinya.
Baiklah kalau kamu tidak ingin bercerita kata Ken dalam benaknya, menarik nafas panjang dan membuang ke udara.
“Sudah tadi,” jawab Aisah singkat dengan senyuman yang sedikit di paksakan “ Aisah masuk duluan ,iya Mas, takut di cariin , sama Mak,” katanya meninggalkan Ken duduk sendirian.
“Eh.. kenapa mereka berdua memiliki sikap yang sama sihm Rara juga begitu dan sekarang Aisah juga begitu, mereka berdua wanita yang susah di taklukkan, sikapnya keras,” kata Ken berucap sendiri setelah aisah meninggalkannya. “Apa ia berpikir kalau aku tidak pantas teman mendengar curhatannya?
Ckkk, kamu terlalu keras pada dirimu.Aisah, kamu harus membuka diri sedikit pada orang lain agar beban itu berkurang,” kata Ken bicara sendiri.
Melihat Aisah meninggalkannya, ia juga menyusul, kadang ia mau menyerah karena merasa lelah juga, bagaimanapun ia berusaha mendapatkan Aisah, wanita itu seolah tidak bisa di taklukkan.
__ADS_1
Ken berjalan dengan langkah kaki yang sedikit berat, padahal ia sudah jauh-jauh datang dari lokasi syuting dengan tubuh kurang tidur, karena syuting hingga malam. Ia berusaha datang ke sini sebagai rasa pedulinya pada keluarga Aisah, tapi Aisah seolah tidak menganggapnya lagi.
Aku lelah kata Ken, ingin pulang, tapi hatinya seolah tidak ingin pergi
Ia balik lagi kekamar Rara, penasaran juga pada Rara, apa yang terjadi sesungguhnya, kenapa Aisah sesedih itu tadi?
Dalam kamar Dokter masih berusaha memeriksa Rara. Di pojok ruangan terlihat kedua orang tua Rara menangis, tapi Aisah justru terbalik, ia yang terlihat sangat tegar kali ini.
Apa yang terjadi kenapa semua pada bersedih? Tanya ken dalam hatinya
Mata Rara terlihat masih menatap dengan tatapan mata kosong.
Dokter keluar termasuk Ibunya Ken.Ia mengekor ibunya dari belakang.
“Kenapa Mi?,” ia bertanya pada maminya setelah keluar.
“Kasihan, ia akan menjadi mayat hidup selamanya,” jawab ibunya dengan raut wajah terlihat prihatin.
“Memang kenapa. Mi ?” Tanya Ken makin penasaran.
“Kecelakaan itu merusak jaringan ke otaknya, matanya buta, dan otaknya tidak berfungsi lagi, ia benar-benar akan lumpuh selamanya.”
“Separah itukah penderitaan wanita itu?” katanya dalam hatinya ia duduk di salah satu kursi di lorong rumah sakit.
“Pantesan Aisah sangat sedih, ternyata ia sudah tau, apa yang terjadi pada Rara,” gumamnya dalam hatinya.
Cobaan hidup Rara tidak sampai di situ, ia kehilangan penglihatannya dan otaknya berhenti berfungsi akibat kecelakaan.
Kini mata itu hanya bisa bergerak kanan-kiri, ia juga tidak mengerakkan tangannya, hanya bola itu yang bisa bergerak. Tangannya akan bergerak sedikit bila di genggam.
Kini orang tua Rara bingung harus bagaimana. Untuk biaya pengobatannya
Kalau seperti itu, terpaksa orang tua Rara harus menjual rumah baru mereka dan mobil dan bila perlu saham Rara akan di jual juga.
Aisah terpaksa menemui Bastian di dalam penjara, memberitahukan keadaan Rara pada Bastian, sekaligus menanyakan bagaimana kelanjutan pengobatan kakaknya.
Dino asisten Bastian sudah dua hari tidak datang ke rumah sakit, karena sakit, maka komunikasi dan Bastian juga terputus.
Mau tidak mau, Aisah lah yang mendatangi kantor polisi, kalau biasanya Bastian tidak menerima tamu siapapun, tapi saat polisi menyebut Aisah adik istrinya, Bastian langsung mau menemui.
Dalam bilik pembatas antara pengunjung dan penghuni lapas. Bastian dan Aisah. mengunakan telepon di batasi kaca.
__ADS_1
“Ada apa sah? Wajah Bastian terlihat berbeda dari biasanya. Wajahnya tidak ter urus lagi, baru satu minggu jadi penghuni lapas, brewok sudah mulai tumbuh.
Aisah sangat berat mengungkapkan, wajah Aisah terlihat pucat dan mata sembab dan lingkaran hitam mengelilingi area matanya.
Tidak terhitung berapa liter air yang sudah ia tumpahkan dari matanya, ia tidak pernah lagi bisa memejamkan matanya.
“Kak Ara sudah bangun,” katanya, tapi raut wajahnya tidak bersemangat.
“Iya, ampun Alhamdulilah,” sahut Bastian dengan sangat bersyukur.
“Tapi-“
“Tapi, ada apa, Sah?” Tiba-tiba senyum yang mekar tadi berubah jadi wajah menegang, ia bahkan menahan nafasnya,
“Kakak, lumpuh, buta dan tidak bisa apa-apa, kakak akan menjadi onggokan daging hidup selamanya, ia tidak bisa apa-apa lagi, otaknya tidak berfungsi lagi, bahkan ia melupakan semuanya dan tidak bisa bicara juga,” kata Aisah.
Tangisannya pecah, tangisan kesedihannya menembus kuping Bastian dan merayap masuk kedalam hatinya, tubuhnya bergetar ia mengepal kuat tangannya menahan gejolak kesedihan hatinya.
Ia membiarkan air mata itu tumpah ke bumi, ia tidak pernah menduga kalau Rara akan mengalami hal yang mengerikan seperti itu.
“Kasihan kakak, lebih baik ia tidak ada dari pada melihatnya menderita sepeti itu,” kata Aisah.
“Jangan bicara seperti, ia akan sembuh, aku akan berusaha,” kata Bastian.
“Tapi, kita tidak akan mampu membayar tagihan rumah sakitnya, nanti, kami frustasi.”
“Aku akan menjual semua milikku, agar Rara sembuh,” kata Bastian.
Cinta yang tulus mampu mengatasi semua masalah. Bastian sangat tulus mencintai Rara baik senang baik di kalah terpuruk seperti saat ini.
Bahkan guncangan itu datang dari keluarganya kelak.
Mendengar Rara tidak bisa hamil lagi dan tidak akan bisa normal lagi, keluarga Bastian seolah lepas tangan.
“Apa Bang Bastian akan menerima Rara walau sudah seperti itu?” tanya Aisah dengan tatapan sendu, seolah matanya ikut memohon agar lelaki itu jangan meninggalkan kakaknya, dalam masa sulit itu.
“Aku akan selalu bersamanya sampai kematian memisahkan kami,” janji bastian degan yakin.
Apakah janji itu akan bisa di tepati nanti? Biarlah waktu yang menjawabnya.
Bersambung...
__ADS_1