
Setelah olah raga panas di kamar mandi pagi itu Rara dan Bastian serapan.
Bastian banyak makan pagi itu, karena ia banyak menghabiskan energi di kamar mandi tadi.
“Porsi makan ku tiba-tiba meningkat pagi ini,” ucap Bastian melirik Rara, ia tertawa kecil.
“Kamu rakus sih,” ucap Rara.
Di balas tawa lepas dari Bastian. “Maklum pengantin baru, Ra”
Rara menarik napas berat saat sedang menikmati serapan.
“Kenapa? Apa tidak enak?” Bastian menatapnya dengan serius.
“Enak, hanya memikirkan bertemu dengan keluarga membuatku susah bernapas”
Memikirkan wajah kedua orang tuanya dan membayangkan hari ini, pertemuan keluarganya. Ia ingin ibunya tetap ada di sana, walau ibunya bukan ibu yang melahirkannya dan ibu yang sudah menyakitinya. Tetapi wanita itu tetaplah ibu yang membesarkannya.
‘Tapi kalau aku mengundang emak ke rumah babeh kira-kira babeh marah gak iya?’ Rara bermonolog dalam hati. ‘Kenapa harus pisah ranjang sih saat sudah pada tua’ ucap Rara dalam hati.
Ia merasa sangat sedih memikirkan nasib kedua orang tuanya.
Tidak berselera lagi untuk menghabiskan makanan di dalam piringnya.
Ia meletakkan sendoknya dan udahan.
“Kenapa kok berhenti?"
“Aku jadi tidak berselera makan memikirkan ,bertemu dengan babe”
“Tidak , apa-apa Ra, aku akan menghadapi semua keluargamu. Kamu ingatkan ucapan kakek kamu saat di rumah sakit dia menitipkan kamu dan Alvin padaku.
“Kamu tidak tau sih , bagaimana babe kalau marah,apa lagi kalau tahu Ibumu masih mengancam keluargaku, babe tidak akan menerimamu ,Tian”
“Jangan membuat kesimpulan sebelum mencobanya, Ra,”ucap Bastian. Ia masih berkutat dengan sendok berusaha menghabiskan makanannya. Ada yang berbeda dari porsi makannya kali ini, ia terlihat lebih banyak dari biasanya
“Apa kamu masih kelaparan , Tian?” Rara melirik suaminya yang masih makan dengan lahap.
“Iya aku masih kelaparan, karena kamu menguras tenagaku,” kata Bastian bercanda.
“Dasar, nyalahin aku lagi, kamu yang membuatku kesakitan”balas Rara wajahnya masih malu.
“Tapi sakit enak kan, Ra?’
Rara terbatuk-batuk kecil mengalihkan pembicaraan
Tiiing
Bunyi notif dari ponsel Rara.
Pesan chating dari sahabatnya.
[Selamat pagi, bagaimana sudah malam pertama belum?]
__ADS_1
“Ih, ini orang …,” ucap Rara.
[Selamat pagi juga , udah”
[Bagaimana enak gak?] tanya Sukma.
Buuur ....!
Rara yang saat itu lagi minum, tersedak dan menyemburkan minumannya.
Bukan karena isi chating itu, tapi karena foto dirinya tertidur tidak memakai baju .
“Haaa” ia melotot tajam pada Bastian.
“Apa?” Tanya Bastian dengan gestur bibir di buat monyong, mau kiss.
“Apa yang kamu katakana pada sukma?” Rara melotot pada Bastian.
“Aku mengirim gambarmu ,itu” Jawab bastian enteng.
“Tian, apa kamu menceritakan malam kita?”
“Iya.”
“Kenapa kamu lakukan itu?”
“Tidak mengapa,kan, Sukma juga sahabat dekatmu”
“Iya tau, tapi kenapa harus kamu yang menceritakannya, ini urusan perempuan,”
“Aku malu Bastian, ia akan meledekku,” ucap Rara mengerakkan giginya
Rara memukul-mukulkan kepalanya, ke pinggir meja makan saat Sukma sahabatnya mengirimnya banyak macam-macam emoji mengacungkan ucapan selamat, dan video ucapan selamat.
Seakan-akan Rara, baru memenangkan pertandingan dan Rara yang jadi pemenangnya.
Meme lucu tulisan selamat untuk pecah perawan menghiasi pesan masuk dar Sukma.
“Apa itu masalah Ra, aku pikir dia sahabat dekatmu makanya … aku pikir tidak masalah,” ucap Bastian menyesal telah melakukanya.
“Baik , sahabat dekat sekalipun, bukan berarti semua masalah pribadi kita juga harus di kasi tau Bastian …. ada kalahnya membuat batasan. Termasuk masalah ranjang dan masalah rumah tangga.” Rara menasehati suaminya,
“Awas kamu,menceritakannya juga teman-temanmu, tentang malam pertama kita” Ara memberi peringatan pada Bastian.
“Baik, baik sayang aku tida akan melakukannya, kita buat persiapan sebelum bertemu keluargamu saja iya”
Tetapi bagaimana kalau ketemu teman-temanku dulu,mereka dari kemarin-kemarin ingin bertemu denganmu Ra,”
“Apa mereka sudah keluar dari penjara?”
“Karena itulah, mereka berpikir aku yang melaporkan tempat itu, ke polisi karena aku selamat mereka tertangkap, ada kesalahpahaman di sini, aku ingin kamu membantuku menyelesaikan kesalahpahaman ini”
“Ok, karena kamu suamiku, aku akan membantumu”
__ADS_1
“Baiklah, terimakasih sayang, tadinya aku pikir kamu menolakku, karena kamu pernah bilang tidak suka bertemu dengan teman-temanku,”
“Dulu dan sekarang hal yang berbeda Bastian ,dulu aku hanya pembantu mu, sekarang jadi istrimu” Rara membereskan meja makan, melihat Rara sibu ia ikut membantu.
Lagi-lagi Rara menarik napas panjang, beban hidupnya yang ia pikul sangat berat,
“Kenapa sih?” Bastian memeluk dari belakang.
“Aku memikirkan, memilih jadi istrimu itu artinya akan ada jalan terjal yang aku hadapi di depan mata” Rara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku tidak tau bagaimana kemarahan Ibumu nanti padaku, setelah aku mengabaikan peringatannya untuk meninggalkanmu. Aku akan banyak musuh demi menjadi istrimu. Viona yang begitu menggilaimu, mungkin sudah menyusun rencana bagaimana menyingkirkan ku dan lebih parahnya mereka akan bekerja sama menghancurkan ku.
“ Apa kamu takut? aku percaya padamu , kamu berbeda dengan wanita-wanita di luar sana” Bastian memuji dan memberi dukungan pada Ara.
“Apa bedanya sih Tian, tetap juga sama –sama akan tetap menangis bila di sakiti dan tersakiti”
“Memang kamu masih bisa menangis, Ra bukanya air matamu kering?” Bastian bercanda.
“Bisalah Pak Bastian memangnya aku robot?”
“Bukan robot sih, tetapi wanita yang tangguh yang tak pernah menangis walau masalah seberat apapun,” ucap Bastian memuji sang istri.
“Nangis adi malam pada saat kamu ….”
Rara menggantung kalimat tetapi Bastian sudah tahu ia ikut tertawa. Rara menangis tadi malam saat ia melepaskan kesuciannya untuk suaminya.
Rara mempersiapkan mental yang kuat menghadapi kedua keluarga kedua belah pihak
Cinta bertepuk sebelah tangan, memang tidak enak apa lagi cinta yang di tolak dan diabaikan rasanya akan tambah sakit. Sepertinya itulah yang di rasakan Viona. Ia tidak mau merasa kalah, apa lagi Bastian lebih memilih Rara dari pada dirinya.
Rara bersiap-siap ingin bertemu teman-teman Bastian terlebih dahulu.
“Tunggu sebelum ketemu teman-temanmu aku kesalon dulu, iya”
“Eh , untuk apa , kayak ketemu calon mertua saja, gak usah” Bastian mulai sewot.
“Aku tidak mempermalukan mu, di depan teman-temanmu, Bastian”
“Tapi. aku tidak mau , kamu terlalu akrap terhadap teman-temanku, jangan terlalu dekat-dekat, jangan tebar pesona, jangan sok akrap” Bastian memberi banyak peraturan yang akan ia turuti.
Rara hanya diam melihat sikap posesif Bastian yang kambuh lagi.
“Baiklah … baiklah Pak Bastian”
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Bintang Kecil untuk Faila
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)