
“Perutnya uda mendingan, jangan marah-marah lagi, ia bisa tau kamu marah-marah ,” kata Rara mengusap perutnya
“Kamu yakin ia tidak apa- apa lagi, urat lehernya, akhirnya mengendur.
Ia menempelkan wajahnya di perut Rara. mengelusnya dengan nyaman dan lembut
“Aku akan selalu menjagamu jagoanku,” kata Bastian “ Baiklah aku meminta Maaf ayo kita makan malam saja , kalau perutnya tidak sakit lagi kita akan Hotel,” kata Bastian dengan senyuman menggoda
Kemarahan Bastian hilang seketika saat janin dalam Rahim Rara bergerak lembut menyeringai omongan Bastian, ia tidak marah lagi apa lagi saat Rara bilang perutnya sakit,
Lelaki yang yang benar-benar peduli pada wanitanya, lelaki yang tidak ingin melihat mereka bersedih apa lagi menangis. Bagi seorang wanita yang sudah menikah , mengandung adalah hal yang paling di nanti-nanti setiap pasangan.
Karena saat hamil banyak hal yang sangat berubah. Bahkan orang hamil itu biasanya di sebut wanita beruntung,
Karena akan dapat perhatian yang berbeda dari pasangan hidupnya baik orang sekitar. Begitu dengan Rara ia tau kalau Bastian akan menuruti apa yang ia minta saat ini.
Bastian langsung takut menghentikan kemarahannya dan menghentikan interogasi pada Rara.
Orang hamil itu emang jagonya akting dan jagonya ngerjain, ini kesempatan ku bersikap manja dan meminta apa yang aku inginkan kata, Rara dalam hatinya mulai memutar otak cantiknya.
“Aku mau makan nasi bebek dong, aku sudah lama ingin makan itu,” kata Rara mulai bereaksi
“Ayo, di mana ada. Restorannya?” Bastian tersenyum ramah
Eh kamu memang malaikat kecil nak, gara-gara kamu ayah mu melupakan kemarahannya seketika, kalau biasanya ia marah karena cemburu, sewaktu kamu belum ada ia akan melampiaskan rasa cemburunya dengan memaksa kissing, bahkan di dalam mobil ini, ia akan memaksa ******* bibirku, tapi saat ini ia bersikap baik kata Rara tangannya mengusap-usap perutnya.
“Bukan Restoran, Sayang, tapi warung tenda kaki lima,” Kata Rara, ia tiba-tiba merasa sangat lapar
“Apa itu higienis? Apa tidak ada di Restauran?,” ia menatap Rara
“Tidak, aku belum pernah menemukannya di Restauran, hanya ada di pinggir jalan dan kami makan dengan mey-mey.”
“Tapi aku tidak pernah makan di kaki lima, aku tidak biasa Ra,” bernada penolakan keluar dari mulut Bastian.
Rara terdiam dengan bibir di majuin di buat cemberut, sebagai aksi protesnya karena suaminya menolak ajakannya.
Tidak lupa juga senjata pamungkasnya, perutnya di elus-elus matanya melirik Bastian dengan tatapan mata di buat sendu seperti anak kucing.
“Padahal kita mau makan itu iya ,Nak, tapi Ayahmu menolaknya, ia gengsi katanya sabar iya nak,” pungkasnya.
Rara yakin seratus persen, cara itu akan berhasil.
Karena ia tau kalau orang hamil itu bagai seorang Ratu.
“Baiklah, sayang , tempatnya di mana?” Bastian akhirnya mengalah,
Benar aku bilang ,kan kata Rara tertawa kecil
“Kita kearah depan tempatnya di sana” Rara menunjuk ara ke depan.
Hinga tiba di salah satu warung tenda kaki lima yang tempatnya lumayan Rame dan lebih uniknya, ia duduk tidak pakai kursi tapi pakai lesehan.
Mobil mewah jenis Ferarri milik Bastian, terlihat mencolok di antara deretan motor yang terparkir di samping warung tenda itu, bahkan mengundang perhatian mereka yang makan karena yang makan seorang aktris kenamaan.
__ADS_1
“Weeh Bastian Salim-
Suara suara sumbang bernada datar mulai terdengar olehnya dan Bastian
“Pak, satu. Biasa iya!,” Rara memesan berdiri di samping gerobak.
Bastian berdiri di belakangnya, seperti anak yang mengekor di belakang emaknya dengan sikap ogah-ogahan, karena mata orang-orang itu sangat mengganggunya, bahkan ada beberapa dari mereka mengarahkan kamera ponselnya untuk Bastian ia tidak nyaman dengan semua itu, dan bisa di pastikan seumur hidupnya ini pertama kali ia makan di lesehan seperti itu.
“Eh, nak Ara, mana temannya Non?,” bapak tukang jualan mengenali Rara. Karena sudah langganan tempat mereka dengan Sukma.
”Ia lagi kerja pak, tapi nanti bentar lagi, ia akan datang,” kata Rara.
Sibapak menggerai tikar kecil lagi diarah luar tenda, dekat pepohonan untuk Rara dan Bastian. Tapi wajah Bastian tidak bersahabat, ia merasa kurang nyaman belum lagi orang –orang mengambil fotonya dengan diam-diam.
Sekelompok anak –anak remaja cengengesan melihatnya. Melihat pesona ketampanannya.
Tapi walau banyak yang menatap suaminya Rara bersikap tenang dan bersikap biasa. Berbeda dengan Bastian setiap kali ada yang melirik Rara, ia akan menatap balik.
Ra, kamu gak marah melihat mereka mau menggodaku, anak-anak remaja itu, mereka juga terlihat sangat cantik dan manis.” Ia mencoba membuatnya cemburu tapi yang ia dapat
“Tidak apa-apa sayang, itu karena kamu tampan,” pungkas Rara.
Hadeeeh…. bisa gak sih, kamu cemburu padaku sesekali? Kesal melihat sifat seperti itu kata Bastian dalam hatinya.
Sekelompok remaja pengunjung warung itu berdiri berkerumun melihat mobil Bastian, seolah mobil miliknya, mobil di pajang pameran mobil yang perlu di lihatin.
Para lelaki remaja itu bahkan ada yang menyentuhnya sehingga alarm dari mobilnya meraung melengking.
“Ckk, apa-apa sih,” katanya dengan kesal, ia menekan remote control mobilnya.
“Bisa gak kita cari tempat lain, Ra? Aku merasa tidak nyaman di sini. Lihat tingkah mereka, seperti tidak pernah melihat orang saja,” pungkasnya dengan kesal.
Rara bisa mengerti keadaan Bastian, karena ia orang kaya sejak lahir, tidak mungkin ia pernah makan di kaki lima seperti saat ini.
“Kamu pergi aja deh, kalau tidak, tunggu di mobil juga tidak apa-apa,” Rara menyuruhnya membuat pilihan
“Kamu bagaimana?” Ia bertanya
“Tidak apa-apa Bastian, saya sudah biasa makan disini, saya ini anak kampung,” kata Rara.
“Bukan begitu,Ra, aku hanya kurang nyaman.”
“Iya, maka itu, aku bilang, kalau kamu tidak merasa nyaman Tian, sana pergilah di mobil tunggu aku disana,” kata Rara menekan kata-katanya.
Bastian berdiri meninggalkan Rara dan masuk ke mobilnya.
Iya pergilah, kamu memang tidak cocok dengan gaya hidupku kata Rara.
Bastian membuka mobilnya, ternyata ia hanya mengambil kaca mata hitam miliknya dan memakai topi dan duduk lagi
Meja kecil di tempat duduk lesehan pesanan Rara datang dua potong paha bebek lengkap dengan bumbu. Bumbu yang terlihat hitam penuh minyak.
Ia mencuci tangan pakai tempat kobokan tangan, dan mulai melahapnya
__ADS_1
“Kamu tidak pakai sendok, Ra?” Mata Bastian menatap terlihat jijik, menatap Rara memakan dengan mengunakan tangan.
“Tidak Bastian, inilah seninya, kalau pakai sendok itu rasanya kurang,”
“Tapi apa itu higienis,Ra? Yang ada anak aku penyakitan,” kata Bastian protes.
“Kamu coba dulu makan baru ngomong,”kata Rara
“Gak, ah aku takut sakit perut nanti, tidak biasa makan kayak begituan,” kata Bastian
Tapi tangan Rara menyuapinya. Tangan itu masih menunggu Bastian membuka mulutnya.
“Gak mau Ra, aku tidak suka.”
“Makan dulu, ini permintaan anakmu,” kata rara sedikit memaksa.
“Aaa” ia membuka mulutnya satu suapan yang di paksa masuk ke gua mulutnya.
Rara menyuapi lagi ke mulut sendiri. Tapi mata Bastian seperti menunggu sesuatu dan menimang rasa di mulutnya,
“Enak Ra,” katanya kemudian
“ Benar kan, apa yang aku bilang, tempat boleh kaki lima, tapi soal rasa bintang lima,” kata Rara
“Boleh pesan lagi tapi seperti ini.” Bastian menunjuk punya Rara
“Kamu, mau?”
Rara memesan dua porsi lagi
Tidak diduga Bastian memakannya dengan lahap bahkan mulutnya belepotan seperti anak kecil.
Ia akhirnya bisa bersikap tenang.
kring .. kringgg
Sukma yang tadi sudah berjanji makan bersama, tiba-tiba menelepon,,
“Halo Mey, kamu di mana? Kita sudah selesai makanya,”
“Sorry ,aku tidak bisa datang, ada urusan mendadak.” Jawab Sukma di balik teleponnya.
“Terus aku pulangnya bagaimana, aku sudah bilang babe aku sama kamu.”
Rara menutup teleponnya Sukma mendadak tidak bisa datang.
“Kita pulang kerumah kita lagi,” kata Bastian
“Rumah kita, akan ada setelah Ibumu dan kamu datang menjemput, jika kamu tidak datang tidak akan ada rumah kita, dan kita akan bertemu seperti ini, seperti pacaran yang belum halal,” Kata Rara.
Bawa Ibu menjemputku agar aku pulang Bastian, aku ingin lihat ibu meminta maaf pada keluargaku, tapi kalau kamu tidak bisa kita akan seperti ini bertemu diam-diam
Aku dan anakku juga ingin mengerjai Ibumu, karena ia pernah mengusir kami berdua kata Rara dalam hatinya.
__ADS_1
Apakah Ibunya Bastian benar-benar berubah dan mau mengakui kesalahannya?
Bersambung...