
“Hadeeeh apapun masalah lu dengan ibu Bastian sebaiknya lupakan deh. Intinya lu itu sudah sah jadi istri Bastian Salim. Ra, biar juga bukan babeh loe yang nikahkan, Ada wali ada saksi, sudah Ijab kabul
Jangan lu pikir main-main pernikahan ini, gue susah payah ngurus berkas lu bujuk sana -bujuk sini, sia-sia kerja keras gue kalau lu mikir seperti itu,” ucap Sukma.
Ia berusaha menyadarkan Rara agar melupakan aksi balas dendamnya.
Tapi ia mengagumi sikap Rara yang tegas, kalau bilang tidak iya tidak,dan jika bilang iya harus iya.
“Makasih Rio, ini buat ganti ongkosnya bawa anak lu ke Dokter,” ucap Rara memberikan amplop coklat yang isinya segepok duit berwarna merah, hal itu sukses membuat Mario meneteskan air mata
“Apa lu tau anak gue sakit? Dari mana lu tahu, padahal tidak ngomong apa-apa dah … jika anak gue sakit,” ucap Mario, lelaki berbadan tegap itu sangat berterimakasih.
“Itu tidak penting, pakai saja dan pulang, tapi terimakasih sudah membantu,”ucap Rara.
Mario sangat terharu karena sudah hampir satu minggu anaknya yang berumur tiga tahun sakit, tapi karena tidak ada biaya Istrinya hanya memberinya obat warung.
Itulah kelebihan Rara, ia tidak suka mengumbar janji, dan tidak suka pamer seperti wanita pada umumnya, tapi ia paling tidak bisa melihat temannya kesusahan, jika ia mampu membantu, ia akan membantu dan tidak perlu mengumbarnya, tetapi sayang nasib baik tidak selalu berpihak pada hidupnya,
Karena kebaikan Raralah makanya ia dan Sukma selalu ada saat Rara membutuhkan.
Karena Rara punya sisi hati seperti malaikat, dan satu sisi seperti milik syetan jika ia sudah marah.
“Gue berharap lu mendapat kebahagian kali ini Ra,” gumam Mario ia melirik Rara, sahabat masa kecilnya, teman satu-satunya yang tidak pernah merendahkan pekerjannya sebagai satpam, kalau teman-teman yang lain selalu menganggap Mario sepele.
Namun tidak untuk Rara ia akan bersikap bar-bar pada siapapun
“Makasih Ra, gue pulang iya,” ucap Mario meninggalkan Rara dan Sukma.
“Terus, buat gue apaan?” tanya Sukma tidak mau ketinggalan, kalau boleh hitung-hitungan, dialah yang paling capek dari sejak tadi malam,
“Gue mau kasih loe ******* saja.” Rara memberi kecupan di pipi Sukma
“Gile lo, lu gue pikir gue lesbong apa … jeruk makan jeruk dong.” Sukma mengusap pipinya,
Di balas kekehan renyah dari bibir Rara,
“Hari ini selesai juga, tinggal siapkan mental untuk ibu mertuaku …. Ah semangat!” Teriak Rara menyemangati diri sendiri, seolah-olah ia akan menghadapi ujian Nasional.
“Terus, selanjutnya, bagaimana dengan Pak Bardi, kata kamu malam itu … ingin ajak dia minum, gue berpikir semalam kalau ayah Bastianlah yang ingin lu seret ke penghulu hari ini, ternyata dugaan gue salah, malah anaknya yang lo bawa ke sini”
“gue juga mengajak beliau minum malam itu”
__ADS_1
“Apa …!? lo main dua, dalam satu malam ? gila apa lu Ra!”
Sukma benar-benar panik, ia berpikir kalau Rara sudah melakukan hal-hal gila,
“ Terus siapa yang lu ajak tidur duluan?” Tanya Sukma wanita berkulit putih itu hampir terkena serangan jantung mendengar kelakuan sahabatnya.
“Tentu saja Bastian,” jawab Rara terlihat sangat tenang,
“Lu … elu sudah gila iya Ra, aduh kepala gue sakit … sudah mau gila ini,” ucap Sukma panik ia ingin meneriaki Rara saat itu juga, ia mengibas-ibaskan tangannya ke wajahnya, Sukma seperti kebakaran jenggot.
Sementara Bastian dengan setia menunggunya di dalam mobil, membiarkan istrinya berpamitan dan berterimakasih untuk kedua sahabatnya.
Bastian hanya bisa menganti-ganti setelan musik dalam mobilnya, karena dari tadi malam, ponselnya mendadak mendadak hilang entah kemana.
Ia mulai bosan karena Rara lama.
Rara masih terlihat mengobrol serius dengan Sukma, Bastian takut ada wartawan yang memergoki mereka dan bisa-bisa beritanya menyebar sebelum ia mengabari keluarga besarnya terlebih dulu.
Bastian sadar akan ada kehebohan besar yang ia hadapi nanti. Tentu ibu saja ibunya akan ngamuk. Karena ia menikah diam-diam, walau neneknya dan Ayahnya menyetujuinya, tetapi Bastian sangat menyayangi ibunya,
Itu juga yang di pikirkan Rara, Bastian akan di hadapkan pada pilihan sulit, antara istri dan Ibunya karena kedua wanita memiliki sikap yang sama-sama keras.
“Haaa malam pertama …. Memang itu wajib iya?” ucap Rara dengan mata melotot
“ Iya iyalah, jangan bilang lu takut.”
Sukma menatap dengan tatapan menyelidiki.
“Mey … Sebenarnya tadi malam kami belum sempat sampai kesitu, jadi gue hanya menjebaknya”
“APAAA …! Jadi lu belum melakukannya tapi loe menyeret Bastian ke KUA,” suara Sukma berbisik , hampir tidak kedengaran. Tapi ia terus saja memburu wajah sahabatnya dengan mata melotot.
“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Sukma semakin penasaran, tentunya ia juga merasa semakin takut, “Bukannya lo memberinya obat perangsang untuk Bastian malam itu? terus bagaimana bisa gagal ? itu artinya lo masih perawan?”
“Iya, malam itu gue ingin melakukannya tapi … tapi gue takut Mey,” ucap Rara, “Gue juga takut melakukan malam pertama. Mey Bagaimana dong?”
“Dasar perawan tua, itu enak dodol, semua yang menikah akan melakukannya. Udah Ra lupakan masa lalu, lupakan trauma itu, kalau seperti itu terus lu akan perawan sampai tua. Ingat Ra umur lu, sebentar lagi seumuran kita itu akan menopause”
“Gak ah, gue gak mau melakukannya,” kata Rara
“Loe bagaimana ceritanya, loe mau menikah tapi loe tidak mau menunaikan kewajiban, loe jangan egois, itu suami loe, bahkan Bastian sudah memikirkan itu dari tadi mungkin,” wajah Sukma terlihat kalut melihat kepanikan temannya, “ Sudah sono ditungguin no”
__ADS_1
Ia menunjuk mobil Bastian. Diikuti mata Rara melihat suaminya yang saat ini, lelaki itu membaca Koran untuk membantu menghilangkan kejenuhannya,
Bagaimanapun ia merasa sangat bosan menunggu, tapi ia tidak ingin menggangu istrinya yang sedang mengobrol serius dengan sahabatnya, itu rekor baru untuknya, menunggu. Biasanya ia selalu di tunggu , tapi kali ini ia yang menuggu seseorang tanpa memegang ponsel sebagai temannya.
Tatapan matanya masih terfokus pada lembaran Koran yang ia baca,
“ Kalau gue tidak mau melakukannya bagaimana?” gue kan niatnya bukan mau mengincar itu, gue hanya mau membalas ibunya,” kata Rara membela diri, tapi malah terdengar konyol
“Lu gak mau melakukan itu, loe dosa tau gak, ada hukumnya bagi istri yang tidak mau memberi nafkah batin pada suaminya, emang ia peduli dengan acara balas dendam mu, yang ia tau loe itu istrinya apa itu belum cukup?”
“Iya loe taukan, gue takut kayak gituan Mey.”
“Uda deh, loe lupakan masa lalu, mulai hidup baru, sana pulang nanti gue ajarin loe bagaimana caranya, gue ahlinya,” ucap Sukma .
Sukma sudah siap memberi Les Privat untuk Rara tentang malam pertama karena ia ahlinya. Ia jago dalam urusan ranjang , makanya anaknya sampai sebanyak empat dan hampir lima. Tapi ia keguguran sekali,
Makanya Rara menyebutnya Pabrik anak
“Baiklah,” ucap Rara. Wanita bermental baja itu ternyata punya kelemahan ia takut melakukan hubungan layaknya orang dewasa, karena Rara punya trauma masa kecil yang menakutkan.
Tiba –tiba ia merasa keberaniannya hilang setengah, ia terlihat lemah seperti Ayam sayur. Ternyata tidak semua yang ia bayangkan, berjalan sesuai keinginannya.
“Sudah?” tanya Bastin saat Rara datang.
“Iya sudah,”jawab Rara, ia tiba-tiba merasa sangat gugup.
“Waah apa benar sekarang aku sudah menikah,” kata Bastian dengan wajah sumringah
Tadi pagi kamu masih Rara winarti, tapi saat ini. kamu sudah menjadi Istriku,” ucap Bastian lagi, mendaratkan bibirnya di pipi Rara. Tapi Rara tiba-tiba berubah seperti patung.
Hilang sudah keberaniannya. Ia baru sadar ia sekarang menjadi istri dari lelaki muda yang disampingnya , ia harus melayaninya. itu tugasnya sebagai istri,
“Kita kemana malam ini, apa kita langsung ke Hotel apa kita pulang ke Apartemen?” tanya Bastian menatap Rara
“Haaa Hotel?” pekik Rara panik
“Iya hotel, bukankah, kita akan melakukan malam pertama malam ini?,” goda Bastian pada Rara, karena ia melihat wajah Rara panik
“Haaaa?” Pipi Rara seketika berubah menjadi seperti udang rebus.
Bersambung ….
__ADS_1