
“Bastian itu-,” ia tergagap-gagap menggeliat tangannya meremas ujung seprainya dan tangan satunya menahan kepala Bastian yang semakin leluasa menyusuri bagian sensitifnya dengan mulutnya. Matanya terkesiap dan tubuhnya semakin tidak terkontrol saat mulut itu menyusurinya dan menghisapnya tanpa ampun,
Ia menikmatinya bagai lelehan coklat dengan lidahnya dan bibirnya, ia terus menjilat dan membersihkannya dengan nikmat. Bastian memberikan sentuhan dan kenikmatan yang tidak bisa di lupakan Rara, dan mungkin akan membuatnya nanti ketagihan karena sensasinya
Rara merasakan tubuhnya kejang karena merasakan sensasi yang luar biasa yang di berikan lelaki Muda itu.
Tubuhnya bermandikan keringat dan merasa seluruh tubuhnya bagai di aliri sengatan listrik.
Nafasnya terengah-engah, ia selalu kaget dengan sentuhan yang di buat Bastian, Rara yang masih polos dan belum berpengalaman tentang adegan ranjang sering kali harus di tuntun Bastian, ia terlihat kaku dan dan masih malu-malu di umurnya yang sudah dewasa ia tidak mengerti dengan hal kenikmatan duniawi selama ini,
ia hanya tau putih dan hitam dalam adegan ranjang. Karena rasa takut dan rasa trauma yang di alaminya sering kali membuatnya mengabaikan pelajaran tentang adegan suami istri, setiap kali sukma memberitahukannya ia akan bersikap bodoh amat tentang hal itu,
Tapi saat ia menikah ia baru menyesal tidak banyak bertanya dulu pada sahabatnya.
Hingga akhirnya ia seperti kerbau yang di cocok hidungnya hanya bisa menuruti apa yang dikatakan suaminya,
Tapi disisi lain Bastian semakin gemas dan semakin penasaran pada Rara karena sikap mau-malu dan sikap polos yang di tunjukkan istrinya, di balik sikap tegas dan sikap kerasnya, ia memiliki kekurangan dalam hal ranjang.
“Ah.. ia menggeliat dengan nafas terengah-engah saat bastian memasukkan dua jarinya, lobang itu tetap masih sempit walau sudah di bobol olehnya beberapa kali.
Dua jarinya masih sempit saat menerobos masuk, tapi ia mencoba mendorong keluar-masuk kedua jarinya, desahan rara semakin menjadi-jadi, untung ia sudah memasang kedap suara di kamarnya sebelumnya.
Karena dulu ia sering main Drumband di kamarnya, makanya ia memasang kedap suara agar tidak menggangu kekamar lainnya.
Tapi saat ini kedap suara itu berguna juga, saat ia sudah menikah,
Karena pasangan pengantin baru, Ara dan bastian sering sekali ingin melakukanya bahkan Bastian siang hari kadang minta Jatah pada Ara, itu bisa di maklumi
******* suara Rara lumayan keras, untung mereka tidak melakukannya dulu di rumah Rara, kalau saja mereka sempat malam itu melakukanya di rumah Rara bisa di pastikan menimbulkan kehebohan.
Dan gempa bumi karena akan nada ranjang bergoyang seperti saat ini,
Karena setiap mereka melakukanya sering kali suara rara bablas tidak bisa di control.
Baik saat ini, suara dan ******* rara terdengar keras tapi itu juga yang membuat Bastian bersemangat.
Ia semakin menaikkan tempo kecepatan gesekan tangganya dan ia juga meremas gunung sintal itu hingga sebelum rara mencapai puncak Bastian memasukkan pedangnya, menusuknya dengan begitu dalam, hingga mencapai sangat dalam, tetap saja Ara akan mencakar tangan setiap kali meraka melakukan aktifitas ranjang.
__ADS_1
Tapi untungnya, ia sudah memotong kuku tangganya jadi tidak meninggalkan bekas di sana.
Hingga keduanya mencapai puncaknya terkapar lemas
“Terimakasih sayang bisik Bastian penuh sayang pada rara.
“Ayo, jangan tidur dulu, ayo mandi dulu , kata Rara buru buru mengajak suaminya membersihkan diri karena ia lihat gagang pintu seperti ada yang mendorong,
Rara tau kalau itu nenek lampir alis mertuanya.
Dengan cepat juga ia membersihkan diri dan merapikan segalanya termasuk tempat tidur agar tidak mencurigakan.
Jantungnya mulai berdetak cepat, saat ia mengintip dari daun pintu benar saja ibu mertuanya sudah mondar-mandir di depan pintu kamar Bastian, seperti Hansip yang menunggu maling keluar dari kamar.
Raut wajahnya lagi gelisah dan terlihat marah karena Bastian lama membukakan pintu untuk nyonya kedua.
Ini sudah malam sudah jam sepuluh kenapa si nyonya besar ini tidak tidur saja sih gerutu Rara dalam hatinya.
Bastian masih dalam kamar mandi, ia selalu lama jika masuk kamar mandi, akhirnya ia keluar juga dengan wajah segar dan harum harum menyerbu hidung Rara, seperti kebiasaan ia selalu keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya.
Rara yang duduk menunggu Bastian terlihat gelisah, ia tidak ingin membuka pintunya, ia tidak ingin pelampiasan kemarahan wanita itu lagi.
“Kenapa Ra?,” tanya Bastian, ia heran melihat raut wajah istrinya yang terlihat gelisah,
“Cepat pakai bajunya,” kata Rara terdengar seperti berbisik
“Ada apa? tanya bastian terdengar ikut berbisik juga,
“Ada Ibu di pintu,” kata Rara dengan suara makin pelan dan hampir seperti hanya gerakan bibir
“Apa!? Ibu sudah pulang, kapan, sama siapa?” matanya terlihat bersemangat
Perkiraan Rara benar walau , ia bilang tidak ingin menjenguk ibunya, tapi hatinya dan matanya tidak bisa berbohong. Rara berpikir ia sudah melakukan hal yang tepat, walau hal yang buruk yang ia terima hari ini, karena perlakuan mertuanya.
Tapi melihat Bastian bersemangat saat itu membuat hati Rara senang sekaligus ada rasa sedih, sebab ia berpikir karena kehadirannya membuat hubungan Bastian dan ibunya kurang baik,
Rara terpaksa harus tersenyum ikut bahagia ia sebagai dukungannya pada suaminya.
__ADS_1
“Iya, cepatlah, nanti ibu kelamaan menunggunya,” kata Rara membantunya , tangannya membuka kotak pakaian dalam dan memberikan pada Bastian.
“Makasih sayang” Kata Bastian dengan senyuman merekah di bibirnya.
Dengan cepat-cepat ia memakai pakaiannya, ia melangkah membuka pintu tapi Rara menghentikannya.
“Tunggu-tunggu, nanti kita kasih alasan apa kalau ibu nanya , kenapa lama membuka pintunya?”
“Memang penting iya , bilang saja kita habis mau buat cetakan cucunya” Kata Bastian bergurau
~Paaak~
Satu pukulan mendarat di ekor Bastian, rara terlihat sangat jengkel, mendengar guyonan dari suaminya, ia merasa malu saat Ibu mertuanya tau mereka lagi memadu kasih di jam segini, bisa-bisa ia di katai gatal nanti sama ibu mertuanya yang terkenal dengan lidahnya yang tajam.
“Ayo pikirkan,” kata Rara mendesak suaminya
Bastian terlihat cengengesan melihat tingkah dan sikap tidak enak yang di tunjukkan Rara.
“Baiklah” Bastian menyetel lagu dengan volume lumayan keras dan Rara menarik selimut pura-pura tidur.
Saat Rara menarik selimut pura-pura tidur bastian tertawa ngakak melihat tingkah istrinya.
“Sudah sana buka pintunya, bilang saya sudah tidur dari tadi, jangan bilang lagi mencetak anak, awas kamu bilang begitu, saya suruh tidur di sofa nanti kamu” kata Rara dengan mata di buat tegas.
Lagi-lagi Bastian tertawa lucu melihat tingkah Rara.
Bersambung ..
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)