Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Tidak mudah memaafkan ibu mertua


__ADS_3

“Ra, boleh kamu tutup lagi gordenya, aku masih mengantuk,” kata bastian, ia menenggelamkan wajahnya di bawa bantal di atas sofa.


Rara benar-benar, membiarkannya tidur di atas sofa satu malam


“Kami berdua lapar,” kata Rara melapor.


“Ada Bibi di bawah. Sayang, minta bibi saja apa yang kamu mau, aku masih pusing, karena kurang tidur,” kata Bastian sedikit memohon.


“Oh, tidak bisa kita berdua maunya kamu sayang,” kata Rara mulai merayu


Menjadi suami yang baik itu memang butuh usaha dan perjuangan keras.


Apalagi Bastian posisi salah, ia sempat ingin meninggalkan Rara, maka ia harus butuh kerja keras untuk memperbaiki semua kesalahannya termasuk pada kedua orang tua Rara.


Walau matanya sangat mengantuk, karena Rara mengerjainya selama satu malam, tapi kali ini ia bangun dan kembali jadi pesuruh untuk istrinya.


Rara jadi di masa kehamilannya saat ini, semua ia suruh-suruh baik Mario, Sukma dan Bastian.


Rara duduk di meja makan menunggu serapan buatan suaminya, ia penasaran kira-kira apa yang di buat lelaki itu, untuknya kali ini.


Ia terlihat sangat terampil di dapur kali ini bahkan memegang pisau dapur itu tangannya sudah mulai lincah, padahal dulu waktu pertama dengan Rara, boro-boro mau masak dulu sama mau makan saja harus di layani bak raja, tapi waktu dan keadaan bisa mengubah seseorang.


Bastian saat ini, bukan lelaki yang manja lagi ia lelaki yang mandiri. sejak menjadi suami Rara.


“Ini dia, salad buah dan segelas susu,” ia menyodorkan di depan Rara, dua asisten rumahnya hanya senyum-senyum saat Bastian memakai celemek bermotif bunga-bunga.


Tadinya Rara ingin mengerjainya lagi, kalau bisa sampai besoknya. Rara masih marah pada Bastian, kerena setiap kali ia merasa cemburu, ia selalu bersikap semaunya dan suka memaksa.


Tapi melihat sikapnya pagi ini, belum lagi tangannya ter gores pisau saat memotong buah-buahan itu.


Hatinya Rara luluh, ia melupakan kejadian sore-sore itu


Ia melahap serapan yang di berikan Bastian menyuapinya kemulutnya hingga benar-benar habis, segelas susu ia habiskan juga padahal ia tidak suka tapi melihat lelaki tampan itu bekerja keras mengerjakan ia menghabiskan semuanya. Bastian yang duduk di depannya hanya


Tersenyum manis melihat Rara, ia pikir Rara akan mengerjainya dan menolak serapan yang ia berikan seperti yang tadi malam.

__ADS_1


Matanya yang mengantuk mendadak hilang.


Ia tidak berniat untuk tidur lagi, ia memilih menemani Rara melakukan olah raga yoga


“Ra, besok ibu dan Ayah datang,” Kata Bastian menatap Rara.


Rara terdiam sebentar, dan melanjutkan olah raganya lagi.


“Aku belum siap bertemu Ibu kamu, Bastian,” Kata Rara. Wajah itu terlihat marah.


“Tapi Ibu sudah bisa menerima hubungan kita Ra,” kata Bastian, wajahnya, sendu seolah memohon agar Rara mau.


“Ibumu mau, aku, belum tentu mau,” kata Rara


“Ra, aku sudah lama menginginkan hal ini, dimana Ibu mau menerima hubungan kita,” kata Bastian.


“Aku tidak perduli lagi, apa Ibu mau menerima aku, apa tidak, dan aku juga tidak perduli, jika kamu ingin pergi, kalau mau pergi saja, aku tidak perduli lagi. Aku cukup punya dia , dan keluargaku mendukung , aku tidak menginginkan hal yang lain, aku lelah menjalani rumah tangga dengan keluarga yang banyak masalah,” kata Rara terdengar ketus.


Mulut Bastian menganga, ia tidak menduga kalau Rara akan bicara seperti padanya, ia pikir setelah ia bawa Rara kerumahnya hubungan mereka sudah baik.


“Ra, apa kamu masih Marah padaku, tapi Ayah bilang kamu mau kita tinggal bersama jika aku sudah sembuh,” kata Bastian


“Aku bilang sama Ayah, jika kamu datang menjemput ku dari rumah orang tuaku, ayo kita kembali, kamu sadar ga Bastian! kamu itu sudah memulangkan aku kerumah orang tuaku, dengan kamu menyuruhku menjalani hidup sendiri waktu itu, itu artinya kamu sudah melepaskan ku, walau belum berpisah sah dalam hukum. Tapi dalam adat kamu mengusirku ku dari hidupmu, dan aku juga melepas cincin pernikahan kita, kan? Dalam arti kita sudah pisah rumah,” kata Rara


“Ra, maafkan aku, apa yang harus aku lakukan dong, untuk memperbaiki kesalahan yang pernah aku perbuat kata.” Bastian terlihat ketakutan, saat Rara menolak tinggal bersama kelurganya.


Saat orang tuanya sudah akur, ternyata ada masalah yang lebih genting. Rara belum bisa menerima Ibunya dengan mudah.


“Bawa kedua orang tuamu, untuk membawaku kembali keluargamu, itu syaratnya,” Kata Rara, ia bergegas.


“Mau kemana?,” tanya Bastian dengan raut wajah terlihat panik.


“Pulang.”


“Pu-pulang kemana?” Tanya Bastian memburu.

__ADS_1


“Kerumah orang tuakulah,” kata Rara bergegas keatas untuk mengganti pakaiannya .


“Ra, tidak bisakah kita membuat lebih mudah?,” tanya Bastian memeluknya dari belakang, “ Aku takut Ra, aku takut ada masalah lagi dan aku tidak bisa melihatmu disini,” Bastian memohon.


“Aku juga ingin semuanya baik-baik saja, masalahnya orang tuaku sudah tau, kalau kamu memutuskan meninggalkanku dan mereka juga pasti tidak setuju aku datang lagi kesini, aku kesini tanpa pamit pada mereka, itu sama saja aku tidak menghargai kedua orang tuaku,” Rara menatapnya dengan lembut


“Kalau kamu berani membuat suatu keputusan, kamu juga harus berani menerima konsekuensinya,” kata Rara.


“Bagaimana kalau misalkan orang tuamu tidak mengijinkan ku membawamu lagi, karena aku pernah berjanji pada Babe, aku akan menjagamu, beliau pasti sudah sangat kecewa dan marah padaku ,” mata Bastian Bendung ada air ingin tumpah, tidak rela Rara pergi lagi.


“Jangan menyerah sebelum berperang, kamu harus berusaha keras, bawa kedua orang tuamu, bujuk ibumu, justru ibumu yang aku khawatirkan mungkin tidak mau datang kerumah kami, karena ibu punya masalah yang rumit dengan emak, aku mau pulang, hari ini mereka juga pulang dari Italia,” kata Rara, ia mulai bergegas


Tapi Bastian terlihat sangat sedih, seakan Rara akan pergi untuk selamanya dari hidupnya.


“Aku antar iya Ra,” ia bergegas ingin berganti baju.


Tapi lagi-lagi menolak untuk di antarkan olehnya, ia diam di tempat menatap Rara dengan curiga.


“Kamu, tidak akan meninggalkan aku Ra? Kamu tidak ada niat meninggalkan aku lagi,kan? Aku akan mati sungguhan, jika kamu melakukanya lagi, jika kamu meninggalkanku lagi,” kata Bastian


“Tidak akan.” Kata Rara mencoba meyakinkannya.


Saat Rara ingin pulang, Tiba-tiba Bastian memeluknya dari belakang, mengelus perut Rara.


“Jangan pergi Ra, tetaplah di sini, aku mohon,” katanya, ia benar-benar takut kalau Rara tidak kembali.


“Suruh ibu, datang kerumah Bastian, kalau kamu ingin aku dan anak kita, tapi kalau kamu tidak datang dengan ibu jangan harap aku bisa bersamamu,” kata Rara.


Bagaimanapun Bastian membujuk Rara untuk Rara untuk tinggal ia menolak.


Tapi ini kesempatan Rara memberi pelajaran buat Ibu mertuanya, kalau Ibu mertuanya benar-benar sudah berubah seperti yang di katakan Bastian, ia akan berani datang, karena itu demi anaknya Bastian dan demi cucunya.


Saat Ibumu datang ia harus meminta maaf dulu pada keluargaku, baru bisa aku maafkan, kalau tidak, aku juga tidak akan datang kerumah ini kata Rara dalam hati,meninggalkan Bastian yang masih menatapnya dengan tatapan sedih.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2