Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Merindukanmu


__ADS_3

Sebelah kamarnya Bastian juga duduk di balkon melirik kearah Rara, tapi ia hanya meliriknya sekilas dan mengalihkan pandangan matanya kearah lain, ia tidak tau wanita yang ia lihat saat ini, wanita yang membuatnya selalu sedih setiap kali ia mengingatnya, ia tidak tau wanita yang di sebelah kamarnya adalah istrinya Rara, wanita yang kehilangan ingatan membuatnya melupakan semuanya, termasuk melupakan dirinya.


Hingga malam tiba Bastian masih betah berdiam dalam kamar hotel, hatinya tidak sedikitpun tergugah untuk melihat-lihat keindahan kota Beijing di malam hari.


Saat asisten dan managernya tidak sabar ingin menyaksikan festival lampion yang akan tampil di kota Beijing dekat dengan Hotel mereka.


Tapi tidak untuk Bastian, sehabis mandi ia kembali duduk di balkon kamar Hotel. Hotel mewah yang balkonnya didesain khusus untuk perokok.


Bastian duduk menghisap sebatang rokok dan sebotol bir menemaninya.


Tidak tau kapan pastinya, Bastian sekarang jadi seorang perokok dan seorang peminum. Hidupnya terlihat begitu kesepian. Memandang keindahan kota Beijing dengan cahaya lampu-lampu di sepanjang gedung pencakar langit terlihat begitu indah.Tapi hati Bastian seolah kosong dan hampa.


Dikamar sebelahnya. Jenny wanita cantik itu, ia juga memilih malam ini untuk tinggal dalam kamar, ia baru habis mandi siap berkutat lagi dengan laptopnya. Ia tidak ingin proyeknya ada kesalahan ia memeriksa setiap detail dalam pekerjaannya.


Ia menenteng laptopnya ke Balkon,


“Wah… kota yang indah, pemandangan yang indah,” kata Jenny dengan mata memandang takjub.


“Bukan kota seoul lebih indah dari sini? katanya anda tinggal di Korea selatan,” kata Bastian menimpali dari balkon kamar sebelahnya.


“Tidak, aku tinggal di kota Daego, orang Indonesia juga ternyata, bukankah ini tidak terlalu dini untuk minum Bir?”


“Iya, minum bir tidak ada batas waktunya,” nada bicara Bastian dingin terdengar ketus.


“Apa kamu mau ditemani minum?”Tanya Rara pada Bastian.


“Saya lebih suka minum sendirian,” kata Bastian, ia berpikir kalau Jenny ingin merayunya .


“Oh.. baiklah,” kata Rara, ia menerima penolakan itu, ia menghargai prinsip Bastian.


Ia diam dan sibuk dengan laptopnya, matanya kini tidak lepas lagi dari layar laptop dan sesekali ia menoleh ponselnya.


Kenapa suaranya mirip Rara sih kata Bastian menoleh kearah Rara, melihat jari-jari yang menari di papan keyboard laptopnya, cara ia mengetik seperti Rara kata Bastian dalam hatinya

__ADS_1


Ah aku terlalu banyak minum, kata Bastian meninggalkan balkon dan merebahkan badannya di ranjang Hotel


Tapi pikirannya terganggu suara Jenny yang mirip dengan suara Rara.


Ia keluar lagi melihat wanita itu masih sibuk dengan laptopnya, ia ingin menyapanya tapi ia gengsi kerena ia sudah menolak ajakan untuk ngobrol tadi.


Ia kembali duduk dan melihat sosok Jenny yang masih fokus. Ia juga melupakan malamnya, troli makan Hotel yang ia pesan masih tertutup rapi di sebelahnya, kebiasaan yang sama seperti Rara. Rara dulu juga seperti itu, kalau sudah mengerjakan sesuatu di laptop, ia tidak akan mau di ganggu gumam Tian masih menatap Jenny.


“Aku merindukanmu,” katanya berucap pelan .


Tapi Rara bisa mendengarnya, ia mengangkat kepalanya menoleh ke Bastian, tapi ia tidak ingin mengusiknya, Ia tau kalau lelaki itu menganggapnya seorang wanita perayu. Ia hanya menoleh sebentar dan sibuk lagi.


“Maafkan sikap kurang sopan saya yang tadi,” kata Bastian , ia sadar kalau ia salah.


“Tidak apa-apa Pak, berarti anda orang yang setia pada pasangan,” kata Rara. menatapnya sekali lagi.


Suasana hening kembali, karena Rara juga bukan tipe yang banyak bicara, ia berubah sejak kecelakaan itu, ia orang yang irit bicara tapi tekun bekerja.


Kenapa ia diam, apa ia masih marah? Tanya Bastian dalam benaknya, melihat kearah Jenny.


“Iya, aku berharap tidak ada masalah, maka itu saya harus cek,” kata Rara.


“Anda sepertinya orang yang teliti,” kata Bastian obrolan yang terasa garing.


Saat es balok bertemu es balok yang terjadi hawa dingin menyelimuti.


“Tidak juga, hanya saja ini proyek besar dan melibatkan aktor dan aktris dunia jadi biar tidak malu-maluin, jadi saya harus memeriksanya.”


Kriiiing...


Kriiiing...


“Halo Mak,” jawab Rara .

__ADS_1


“Jen, kamu sudah makan, sudah makan obat belum?” Bu Soimah meneleponnya dari kota Daego.


Andai saja saat itu Bastian duduk bersamanya, ia mungkin akan curiga, karena Bu Soimah, ibu mertuanya setiap menelepon Rara, suaranya meninggi seperti pakai toa, Ara merima telepon dari emaknya, ia membalikkan speakernya kearah luar, jadi siapa yang duduk di sampingnya pasti tau kalau suara itu suara Bu soimah.


“Ini mau makan, mak, aku mau makan dulu kata Rara menutup teleponnya.


Bastian masih duduk di balkon, masih menatap kearahnya, berharap Jenny menceritakan banyak tentang dirinya,


Tapi tidak, ia membuka penutup makannya.


“Apa bapak sudah makan? Sebaiknya sebelum minum alangkah baiknya isi dengan makan dulu,” kata Rara memberi nasehat pada Bastian.


Ia terdiam masih menatap Rara dari cara ia makan semuanya mirip Rara.


Tiba-tiba ia mendekat kearah tembok pembatas antara kamarnya dan kamar Jenny melihat lebih jelas, kebiasaan Rara kalau makan ia akan mengangkat kakinya ke kursi dan melipatnya. Ia dulu sering memarahi Rara karena hal itu, karena ia merasa tidak sopan. Tapi Rara selalu menjawabnya kebiasaan itu sudah tertanam di bagian alam bawah sadarnya karena kadang tanpa sadar, ia selalu melakukanya.


“Apa kita pernah bertemu?” Tanya Bastian tiba-tiba dengan tatapan serius.


“Apaa!?” Jenny terlihat bingung , ia terdiam “ Tadinya saya pikir anda lelaki yang berbeda dari pria yang biasa saya temui, apa kamu mau tidur denganku?” Tanya Jenny menatapnya Bastian dengan tatapan sinis.


“Maaf, kamu hanya mirip istri saya,” kata Bastian merasa malu, karena pertanyaannya membuat wanita itu salah paham.


“Harusnya kamu tadi langsung ngomong saja, apa kamu ingin mengajakku tidur?”


“Oh..tidak..tidak ..maaf,” tidak ada niat seperti itu,” kata Bastian “lupakan saja saya hanya terlalu banyak minum mungkin, jadi pikiranku ngawur, maaf teruskan saja makannya ,” kata Bastian ia masuk ke kamarnya.


“Dasar..! saya pikir ia lelaki baik, semuanya lelaki sama saja, ujung-ujung tetap saja minta satu ranjang, kalau mau minta kenalan, kenalan saja kenapa harus sok jual mahal,” kata Jenny.


Jenny alias Rara salah paham pada Bastian. mungkin mereka berdua membutuhkan dewa stupid Dewa asmara dari Yunani yang harus memanahkan panah asmaranya pada Jenny, agar ia jatuh cinta lagi pada suaminya.


Harusnya ia mengingat Bastian karena sebelum ia dibawa keluarganya malam itu ia dan Bastian menghabiskan malam bersama, malam sepasang suami istri, tapi demi kebaikannya Dokter terpaksa menghapus memori semua masa lalunya, karena setiap kali ia berusaha mengingat potongan-potongan dalam ingatannya, ia akan mengalami kejangnya dan otaknya mengalami pendarahan.


Maka dengan persetujuan dari keluarga akhirnya ia terpaksa membuang ingatan masa lalunya, bahkan ia operasi wajah ia tidak tahu kalau wajah cantiknya hasil oplas.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2