
Alvin saat ini, sudah berada di rumah sakit yang lebih bagus dan ditangani dokter profesional, dan mereka adalah dokter yang biasa menangani keluarga Bastian Salim
Akhirnya Alvin pulih, tetapi setelah Alvin sadar Rara terlihat sangat khawatir, ia tahu semua itu berkat Bastian. Ia Menyadari kalau ia sudah melanggar perjanjiannya dengan Ibu Bastian.
Saat Alvin sadar, ternyata kesadaran Rara juga pulih, ia mulai bersikap sungkan pada Bastian, Rara baru mengingat kalau ia dan Bastian tadi pagi baru bertengkar.
'Apa yang sudah aku lakukan, apa ada wartawan melihat kami tadi? aduh bagaimana ini' Rara mulai panik.
“Om, terimakasih sudah membantu Alvin, Om apa kabar? Om sehat kan, wajah om sangat pucat,” ucap Alvin. Rara menoleh Bastian,
“Kamu baik, baik saja Tian kamu sangat pucat, apa kamu sudah makan?” tanya Rara, sekarang ia baru menyadari kalau Bastian terlihat tidak sehat.
“Tidak apa-apa mungkin karena belum makan”
“Apa sejak tadi kamu belum makan?”
“Sepertinya belum, tidak apa-apa yang terpenting Alvin sudah sadar”
“Tunggu di sini, aku akan memesan makanan untuk kamu." Rara bergegas, tetapi Bastian menghentikan.
“Oh, tidak usah Ra, aku orang yang tidak bisa makan di rumah sakit, bau obat-obatan membuatku tidak selera makan, aku akan mencari restauran yang terdekat, kamu jaga saja Alvin,” ujar Bastian.
‘Oh, iya benar, Bastian, tidak akan mau makan nasi kotak dari kantin rumah sakit’ ujar Rara dalam hati.
"Baiklah ... Aaa Bastian! Kalau kamu merasa tidak enak badan, aku bisa menjaga Alvin sendiri. Kamu pulang saja"
"Aku tidak apa-apa Ra, setelah makan aku akan kembali ke sini"
"Tapi .... Terimakasih sudah menyelamatkan aku dan Alvin." Rara menatap dengan tulus.
Ia sadar ia berhutang Budi pada Bastian, tanpa lelaki tampan tersebut mungkin Alvin masih berbaring tidak sadarkan diri di klinik. Namun karena bantuan Bastian membawa ke rumah sakit bagus membuatnya cepat sadar.
__ADS_1
"Iya Ra, jaga Alvin dengan baik, nanti aku akan datang kembali"
Bastian keluar dari rumah sakit, ia menuju sebuah restauran untuk mengisi perutnya. Di kamar Alvin, beberapa dokter datang memeriksa Alvin kembali.
“Selamat malam Nyonya Salim, kami akan memeriksa putra ibu iya,” ujar seorang, memanggilnya namanya dengan sebutan nama belakang Salim, membuat Rara tiba-tiba terkejut
ia takut dokter-dokter itu, sudah memberitahukan Hartati.
Setelah para dokter memeriksa Alvin dan memberinya obat, Alvin tertidur pulas, Rara menemui bagian administrasi untuk melunasi biaya rumah sakit Alvin. Saat melihat nominal nya, mata Rara melotot sebesar bola pimpong,
"Hanya hitungan Jam saja biaya sudah puluhan juta, dan biaya satu malam kamar yang ditempati Alvin satu bulan gajiku?" Rara mengusap-usap lehernya.
‘Oh gila, ini sangat mahal menunggu sampai besok biayanya akan membengkak, aku harus cari dari mana, pengobatan babe saja belum lunas'
Rara membayar tagihan rumah sakit Alvin, memberikan kartu miliknya, tetapi sialnya masih kurang lima ratus ribu lagi, Rara menanggalkan kalung miliknya .
“Ini harga kalung nya delapan ratus ribu, sisanya bayar pakai ini saja," ujar Rara, menahan napas, sebenarnya ia merasa malu untuk melakukan hal itu, tetapi lebih memalukan lagi saat ibu Bastian datang dan melihatnya bersama Bastian.
“Maaf Bu, kami tidak bisa menerima barang seperti ini, kami hanya menerima uang cas,” ujar suster menatap iba.
Para suster tetap menolak karena mereka tidak bisa melanggar peraturan rumah sakit, apa lagi rumah swasta seperti mereka.
“Maaf Bu, tetap tidak bisa, ibu bisa mencarinya dulu, masih ada waktu”
“Bagaimana kalau anakku pulang malam ini, masih dipotong biayanya?”
“Tapi bu, anak ibu masuk dalam golongan pasien tipe A artinya ia harus menginap malam ini”
“Kalau, aku menunggu sampai besok di sini, aku takut aku akan mati karena tidak bisa melunasi tagihan nya,” ucap Rara.
“Sebentar Bu, Ibu bisa bicara dengan dokter yang bertugas, iya”
__ADS_1
Ternyata Bastian melihat apa yang dilakukan Rara, ia berdiri tidak jauh dari tempat Rara berdiri.
‘Apa Rara meminta uang itu dari ibu untuk pengobatan ayahnya? Harusnya ia bilang padaku, kalau ayahnya juga sakit, aku jadi merasa bersalah karena membenci dia' Bastian membatin, Bastian berpikir, kalau uang yang satu koper yang diberikan ibunya, Rara gunakan untuk pengobatan babe Rara.
Bastian tidak tahu kalau uang itu di kembalikan pada ibunya, dan ia tidak tahu kalau Rara ingin ia menjauhinya dan keluarganya.
“Ra, apa yang kamu lakukan?” Bastian berdiri di belakang Rara.
Membawa menjauhi meja kasir, Bastian tidak ingin di lihat orang
Walau Ia terkejut karena Bastian mengetahui rencananya tetapi ia mencoba bersikap tenang.
“Aku akan membawa Alvin keluar dari rumah sakit”
“Kamu sakit jiwa Ra? Kamu akan membunuhnya jika kamu mengeluarkannya dari rumah sakit”
“Aku akan memindahkannya ke rumah sakit milik pemerintah dan aku menggunakan kartu sehat keluarga”
“Ra, aku akan menanggung semua biaya rumah sakit”
“Justru itu, aku tidak mau hal itu terjadi Bastian, tolong jangan berdebat denganku, tolonglah ... aku lelah Bastian, aku tidak ingin berurusan dengan keluargamu, ibumu akan membunuhku jika ia tahu aku masih bersamamu”
“Aku akan bicara dengan ibu”
“Bastian, tolong jangan membuatku keadaanku semakin sulit, tolong mengertilah”
“Aku hanya ingin membantu Ra, apa salah?”
“Aku tahu Bastian, terimakasih sudah menyelamatkan nyawa Alvin, aku berhutang budi padamu dan berhutang biaya rumah sakit Alvin yang kamu bayar tadi, aku tidak ingin ada masalah lagi Bastian, jadi tolong jangan membantuku lagi, aku tahu para dokter itu sudah memberitahukan pada ibumu dan mungkin besok surat kabar sudah menulis tentang kita lagi, tolong menjauh dariku Bastian. Seperti yang ibumu inginkan, demi anakku dan keluargaku, kalau kamu mendekatiku, ibumu akan menuntut itulah perjanjian yang aku setujui dan kamu juga tahu itukan?”
Bastian terdiam , hatinya sangat sakit saat Rara meminta menjauh dengan tatapan memohon. Haruskah ia menjauh dan melupakan Rara demi kebaikan wanita yang dicintai?
__ADS_1
Bersambung.
Bantu like dan vote iya Kakak jangan lupa kasih hadiah juga agar viewersnya naik