
Terimakasih sudah menolongku-“
“Saya Mario pak,” jawabnya dengan cepat.
“Terimakasih, pak Mario, saya berhutang budi padamu, jika semuanya ini sudah selesai kita akan bicara lagi,” katanya memberi harapan dan semangat pada Mario.
Tentu lelaki berbadan tegap itu merasa senang, karena bos besar seperti Bardi Salim membuat janji padanya.
“Baik pak,” jawabnya dengan semangat
Rara menyembunyikan Ayah mertuanya sementara waktu, sebelum Ibu mertuanya membawanya dan menyembunyikannya, benar saja. Bardi salim selama ini hanya boneka pajangan yang menghandle semuanya adalah istrinya,
Pantas ia bersikap angkuh seperti itu, karena banyak cukong-cukong gelap yang mendukungnya.
Segala bukti sudah ditangan . Tapi tidak ingin melakukannya dengan buru-buru, Rara ingin membuat persiapan yang kuat dengan segala bukti yang komplit dan kuat.
Rara menempatkan Ayah mertuanya disalah satu Hotel . Ia tidak ingin ayah mertuanya terjadi masalah ia membayar tiga orang bodyguard untuk mertuanya.
“Ayah percaya pada Rara kan? Ibu tidak akan menyerah mencari, tapi ayah tetap akan mendapat perawatan di sini, saya akan membawa adik saya untuk memeriksa Ayah,” Kata Rara.
“Baiklah nak Ara aku percayakan semua padamu biar kamu yang mengurus segalanya. Ayah lelah ingin istirahat, aku serahkan semuanya padamu.” Kata Bardi Salim menyerahkan semua tanggung jawab kepada menantunya.
Rara terpaksa menelepon adiknya selarut itu, menjelaskan pada Aisah tujuan dan masalahnya, ia terpaksa melibatkan Adiknya, karena ia tidak akan mampu bekerja sendirian.
Aisah, tidak perlu pikir lama gadis cantik itu sudah datang bawa obat-obatan
“Maaf Sah, aku ikut melibatkan kamu,” Kata Rara menoleh adiknya.
“Tidak apa-apa, aku memang tugasnya merawat orang sakit,” gadis cantik mengeluarkan peralatan obat-obatnya dan mulai memeriksa Bardi salim yang sudah mulai tidak bertenaga lagi
“Tapi Emak dan babeh tidak taukan, Sah? Aku takut mereka khawatir,” kata Rara.
“Maaf ya nak Aisah, kamu harus ikut mengurus bapak,” kata Pak Bardi ia merasa bersalah.
“Tidak apa-apa Pak, keluarga kakak, berarti kelurga saya juga.”
“Tenang kak, emak ame babeh nggak tau sih, mereka bertiga sudah tidur tadi, hanya Risky yang masih menonton siaran bola dirumah , tapi saya sudah telepon emak, saya bilang mau kerumah teman, ada yang penting,” Kata Aisah selalu terlihat tersenyum dan ramah.
__ADS_1
Kalau Aisah banyak tersenyum dan ramah, tapi berbanding terbalik dengan Rara, kali ia bahkan tidak sedikitpun terlihat ketenangan di wajahnya, matanya tidak pernah lepas dari laptopnya dan ponselnya
Ia mendadak tidak bisa menghubungi Sukma itu yang membuatnya khawatir. Ia akan menyesal nanti jika teman-teman yang ia ajak ikut bekerja harus mendapat masalah
.
“Kamu pulang iya, Sah, biar aku antar,”
“Kakak tidak pulang? Bastian masih lama pulangnya?” hati-hati kak, jangan membahayakan diri,” kata Aisah. Ia memberikan botol kecil semprotan lada buat kakaknya sebagai alat menjaga diri,
Ia tidak ingin adiknya terlibat lebih jauh, malam itu juga ia mengantar balik adiknya, Mario dan ketiga lainya mengawasi keadaan dan bertugas menjaga Bardi salim. Ternyata Ia sudah jadi target buruan nomor satu baik dari istrinya dan kedua orang besar yang di ancam Rara.
Dalam perjalanan pulang mengantar Aisah kerumahnya, Rara hanya berdiam diri , ia sibuk dengan segala pikiran buruk, Aisah tau kalau mpoknya banyak pikiran ia juga diam.
“Sah, apa kamu baik-baik saja tanpa lelaki itu? Karena hubungan kalian sudah lumayan lama.” Tanya Rara memecah keheningan dalam mobil itu.
“Berat sih kak, tapi kembali lagi pada diri kita , mungkin Allah masih mempersiapkan jodoh yang lebih baik untuk Aisah,kak,”Katanya sangat tegar.
“Aku salut sama ketegaran hatimu, tidak seperti aku dulu kata Rara mendecis kesal mengingat masa lalunya.
“Kak, apa harus seperti itu?”
“Hati-hati kak, karena orang yang kakak lawan mertuamu sendiri, aku berharap bukan karena apa yang mereka lakukan padaku ,” kata Aisah akan merasa bersalah jika Rara terluka.
“Kemarahanku melawannya karena sikap semena-mena yang dilakukan pada kelurga kita ,Sah, terlebih kamu, Apa karena miskin harus mengalah dan selalu di tindas? Kan enggak, tenang saja kuncinya semua sudah ada di tanganku, aku ingin melihat wajah sombongnya , saat aku menendangnya nanti dari perusaan itu,” kata Rara dengan tatapan mata tajam.
Tapi saat mereka hampir tiba di daerah Cibubur rumah keluarga Rara yang baru.
Jantungnya, seolah ingin melompat dari dadanya, karena ada seseorang berdiri mengawasi di depan rumah babenya padahal sudah sangat larut malam . Mata besar itu semakin melotot tajam. Ia merasa lututnya terasa lemas karena berpikir ia membahayakan keluarganya.
“Ada apa kak?,” tanya Aisah ikut panik karena mobil berhenti mendadak
“Rumah kita juga di awasi, iya ampun, sepertinya aku sudah melakukan kesalahan,” kata rara terlihat lemas.
“Apa ia orang jahat?.”
“Tapi, tunggu itu seperti mobil kenzo.” Kata Ara memperjelas penglihatannya. “Ih gila, ngapain ia kesini dari mana ia tau rumah ini?.”
__ADS_1
Rara buru-buru turun dari mobil, melihat lelaki yang sudah mabuk berat, berdiri seperti orang gila di depan gerbang rumahnya.
“Loe, ngapain kesini?” Kata rara dengan suara berbisik menyeret lelaki itu menjauh dari depan rumahnya.
“Eh, Rara,” ia ingin menghampiri dengan langkah sempoyongan ingin memeluknya, satu bogem mentah melayang ke hidung lelaki itu.
Darah segar mengucur dari hidungnya, ia tersungkur di ke tanah.
“Kak apa yang terjadi siapa dia?” Aisah terlihat ketakutan
“Ia lelaki gila yang menyukai istri temanya, ia teman Bastian, tapi anehnya ia malah menyukaiku,” kata Rara melihatnya dengan tatapan kemarahan.
“Rara gue harus menang, gue tidak suka kalah, gue harus mendapatkan mobil itu dari Viona,” ia mengoceh dalam kemabukannya.
“Apa maksudnya kak?” tanya Aisah dengan raut wajah bingung,
“Beginilah kelakuan orang kaya, Sah, hidup dan nyawa orang lain tidak berharga di mata mereka, mungkin Viona menawarinya mobil yang penting bisa menghancurkan rumah tanggaku dengan Bastian, padahal ia sahabat Bastian .” Kata Rara melihat jijik pada lelaki yang sudah mabuk berat itu.
“Kakak harus beri tahu Bastian kakak, agar ia tau kelakuan temanya dan tidak curiga nanti sama kakak, dasar lelaki jahat,” kata Aisah memukul kepala Kenzo dengan tangannya, itu pertama kalinya Rara melihat Aisah marah seperti itu “ Memang hidup orang bisa di buat mainan apa?” kata Aisah
“Kita tidak boleh membiarkan lelaki gila ini disini Sah, yang ada nanti babeh curiga, tadi aku meneleponnya untuk mendapatkan Ayahnya, ia malah datang kesini.” Kata Rara menyeret Kenzo yang sudah tepar karena bogem mentah darinya bahkan ia membiarkan darah dari hidungnya mengotori wajahnya.
“Apa, rencana kakak? Ia melihat Rara yang sudah terlihat kelelahan karena berderet masalah ia hadapi dari sore hingga menjelang pagi itu.
“Kepalaku sakit, aku merasa pusing, kita harus menyingkirkan lelaki ini dari sini, sebelum emak bangun menyiapkan sahur. Tapi kamu tidak bisa bawa mobil, bagaimana dengan mobil Sukma dan mobil lelaki ini, Ah.. ini menjengkelkan,” kata Rara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Apa kakak tidak pernah merasa takut?” Aisah menatap mpoknya tidak ada raut wajah panik ataupun takut.
“Takut sih, tapi aku tidak menunjukkannya padamu jika aku menunjukkan rasa takutku di depanmu aku yakin kamu pasti tambah takut, kan?.”
“Tapi Aisah tau, kalau kakak marah, tidak akan mengenal rasa takut.”
Rara hanya diam menanggapi komentar adiknya, ia dan Aisah terpaksa harus menjalani malam yang panjang, ia membawa Kenzo kembali ke hotel.
Sepertinya lelaki itu belum menyadari kalau Rara memanfaatkan dirinya untuk mendapatkan ayahnya.
Ia tidak tau Rara telah mengancam Ayahnya.
__ADS_1
Bersambung ....