
“Be, Rara ke depan bentar iya,” kata Rara bergegas, agar Bastian keduluan datang.
“Hati-hati,” kata Emaknya
Tapi waktu ia mau keluar, satpam penjaga rumahnya datang melaporkan.
“Bu,ada tamu tiga mobil di depan.” Katanya menatap Rara menunggu perintah
“Haa tiga mobil?” tanya Rara jantungnya mulai berdetak lebih kencang “Siapa saja,” Ia keluar dan keluar
“Oh, iya ampun ada apa dengan mereka semua,”
Mata Rara terbelalak tidak bisa berkata-kata lagi.
Mey, lihat kerjaan kamu,” kata Rara, Huda, Hendra, Kenzo. Sudah berdiri di depan umah mereka ketiga lelaki itu, terlihat seperti Foto model punya gaya masing-masing tiga orang laki-laki tampan berdiri di depan rumah Rara.
Tapi Rara bernafas lengah karena Bastian tidak ikut datang, ia menunggu di pintu masuk, seperti permintaan Rara. Ia menunggu di depan pintu masuk komplek mewah itu.
Aisah ikut turun, ia terlihat kebingungan melihat ada Kenzo dan Huda disana, antara dua pilihan lelaki sekarang, apa mantan yang ia rindukan.
“Kenapa ia datang lagi sih? kan kakak sudah larang tadi,” kata Aisah melihat mantan tunangannya juga ada di
“Be, aku tidak suka sama dia, jangan menerima ia lagi, Mak juga jangan terpikat lagi karena dia seorang Dokter, baru dua bulan, saya suruh pecat dia,” kata Rara
“Haa, kamu pecat dia, Rasain loe, rasain…!!” Emaknya Rara terlihat emosi.
Rara pamit meninggalkan ketiga lelaki tampan itu, ia dan supirnya menuju pintu masuk komplek perumahan.
Dari jauh Rara sudah melihat mobil berwarna merah di samping pintu masuk.
“Aku turun di sana saja iya pak, bapak tunggu di sini.
Rara mendekati Bastian yang bersandar di didepan mobilnya menatap kearahnya, tidak ada senyuman raut wajahnya datar tanpa ekspresi.
Ada ada dengannya kata Rara dalam hatinya apa ia melihat mereka datang juga.
“Sudah lama?,” tanya Rara menatap Bastian
“Ayo,” kata Bastian
“Kemana?” Rara bertanya penuh penyelidikan
“Kita bicara, kita cari tempat,” kata Bastian
__ADS_1
Rara tidak ada perasaan yang lain-lain. Ia pikir Bastian akan membahas sesuatu yang pening dengannya.
Ia masuk ke mobil Bastian setelah sebelumnya ia sudah menyuruh supirnya pulang.
“Apa kabar sayang” sapa Bastian kearah perut Rara ia mencoba bicara dengan anaknya, tapi mengacuhkan Rara.
Buku kehamilan yang mana lagi di baca Bastian , Rara tau, itu pasti pelajarin dari buku yang ia baca.
“Ia baik-baik saja Tian, ada apa tadi kamu datang kesini?,” tanya Rara
Tiba-tiba Bastian mengarahkan wajahnya memegang pipi Rara dengan kedua tangannya menatap ke dalam langsung ke dalam manik-manik matanya.
“Ada apa?”
“Apa kamu mencintaiku ,Ra?” Ia bertanya raut wajahnya terlihat serius. Matanya tegas Rara tau kalau lelaki tampan itu benar-benar serius.
“Tentu Tian, ada apa ini?.” Rara mengejap-ngejapkan matanya.
“Seberapa besar?” Ia bertanya lagi.
“Sangat besar , Sayang, kamu kenapa?” Tanya Rara mulai merasa tidak tenang.
Tangan melepaskan pipi Rara dan mengelus perut Rara dengan lembut.
“Apa, ada orang yang lain yang kamu cintai?.”
“Apa kamu jujur?” Ia bertanya tapi sikapnya acuh
“Tentu sayang, kamu kenapa sih, kita seperti anak remaja yang kasmaran saja, kalau aku tidak mencintaimu, tidak mungkin ada dia didalam perutku,” kata Rara mengusap lembut perutnya.
“Baiklah, terus mereka datang untuk siapa Ra?”
Duk..
Bunyi jantungnya, tiba-tiba deg-dug-dag jantung itu berirama di dalam dada Rara.
Tiba-tiba ia merasa sangat panas suasana dalam mobil itu.
Jadi, ia melihatnya, aduh mati aku, kata Rara mulai kerongkongannya terasa kering.
“Mereka datang untuk Aisah, Tian” Rara mencoba menetralkan suara agar tidak bergetar.
Ia diam, tatapan matanya memandang keluar dengan tatapan mata nanar seolah apa yang dikatakan Rara sia-sia dan belum bisa di terima Bastian.
__ADS_1
“Sayang, apa kamu belum memaafkan ku,” katanya kemudian. Rara tau, ia sudah di ujung kemarahannya. Ia juga mencoba menahan emosinya, mungkin karena karena Rara hamil saat itu, mungkin kalau Rara tidak hamil mungkin , ia sudah menyeretnya ke kamar .
“Tapi lelaki yang tadi kita temui di bandara tapi pagi ada di sana Ra, aku rasa Aisah tidak mengenalnya bukan? ia ada Ra, dia ada di sana, bisa kamu tolong jelaskan untuk siapa ketiga orang itu? biar aku gak gila Ra, mau bagaimana aku merasa tenang, dulu kamu tidak seperti ini, kamu bahkan cuek sama semua lelaki, tapi aku merasa kamu berubah saat kita bertengkar. kamu seolah ingin menghukumku,” kata Bastian, wajahnya tampan itu, benar-benar rapuh, ia membuang nafas yang sangat berat dari dadanya
“Itu, aku mau jujur saja, baiklah yang pertama yang pakai mobil putih itu Dokter Huda mantan tunangan Aisah, ia datang tepat saat Ken mau datang bertamu kerumah, walau Aisah menolaknya, ia tetap kekeh mau datang.
Hendra yang kita bertemu di bandara tadi itu rumahnya,” kata Rara menunjuk kapling perumahan di jalan di sampingnya.
“Terus mobil yang satunya yang warna hitam xenia?”
“Ga ada lagi itu saja tadi yang saya lihat kata,” kata Rara memastikan pandangan matanya tidaklah kabur, walau matanya sudah mulai minus tapi suasana di depan perumahannya terang benderang di sinari lampu jalan. Jadi bisa ia pastikan yang ia lihat hanya tiga orang.
“Tidak ada, aku yakin yang disana tadi mobilnya hanya tiga orang,” kata Rara. bersikukuh
Bastian yang juga ngotot di lihat tadi mobilnya ada empat mobil padahal Rara melihat ada tiga , Tiba-tiba ia merasa tidak ,
“Terus apa tujuan mereka datang kerumah ,Ra?” Bastian menatapnya
“Untuk melihat Aisah tentunya, Tian,”
Karena merasa terus di desak. Rara merasa dipojokkan, ia memutar otaknya, Orang hamil itu selalu yang benar apa yang dilakukan selalu benar. Ratu ,kata Rara dalam hatinya memegang perutnya meringis kesakitan tentu saja itu saja acting pada Bastian
“Au perut ku sakit Rara memegang perutnya, gara-gara kamu marah –marah terus sih, jadi sakitkan kan.”
Ia pura-pura sakit agar Bastian berhenti memarahinya, Ia terpaksa melakukan, agar Ia tidak didesak lagi
“Maaf sayang aku akan membawamu kerumah sakit,”
Mobilnya berwarna merah milik Bastian menyusuri jalanan, matanya melihat aplikasi mecari rumah sakit terdekat untuk membawa Rara.
Rara yang menyadari kalau Bastian benar-benar akan membawanya kerumah sakit, ia berpikir lagi, apa lebih baik menumpang tidur Rumah sakit apa di Hotel
Wajah Bastian terlihat panik , sesekali ia mengelus perut Rara.
“Tunggu Tian,” kata Rara mencoba membetulkan panggulnya dengan benar
“Kenapa Sayang?” Bastian menghentikan Mobilnya
“Perutnya uda mendingan ,jangan marah-marah lagi, ia bisa tau kamu marah-marah kata Rara mengusap perutnya
“Kamu yakin ia tidak apa- apa lagi? urat lehernya akhirnya mengendur.
Ia menempelkan wajahnya di perut Rara. mengelusnya dengan nyaman dan lembut
__ADS_1
“Aku akan selalu menjagamu jagoan ku kata Bastian “ Baiklah aku meminta Maaf ayo kita makan malam saja , kalau perutnya tidak sakit lagi kita akan Hotel,” kata Bastia dengan senyuman menggoda.
Bersambung....