
“Pakaikan itu sekarang di tanganku,” pinta Aisah.
“Mi..Iya ampun!” Teriak Ken melihat kearah maminya dan neneknya. Kedua orang tua itu mengangguk tanda setuju dan maminya mengusap matanya, karena bahagia melihat kegembiraan Ken.
Akhirnya Aisah resmi jadi tunangannya Kenzo, sebelum ia berangkat menemani kakaknya Ke Jerman.
“Aku janji akan membantu babe dan emak, aku akan setia menunggumu,” ungkapnya gembira dan mengecup kening Aisah.
Aisah melihat ketulusan dari Ken dan perhatian yang tulus pada keluarganya. ia melihat banyak yang berubah dari lelaki itu.
Dengan banyak pertimbangan Aisah memutuskan memili Ken.
Leih baik memulai hubungan dengan orang yang benar-benar mencintaimu, bukan dengan orang yang kamu cintai.
Walau Huda mantan tunangan Aisah selalu ingin balikkan, tapi wanita cantik itu sudah menutup hatinya, pada lelaki yang berprofesi sebagai Dokter itu, mantan biarlah tetap jadi mantan.
Karena perasaan dan cinta bukanlah sesuatu yang di buat seperti mainan, jika kamu suka kamu datang dan jika tidak suka kamu pergi.
“Baiklah Mas, Aisah pamit assalamualaikum,” pamit Asiah menyalim tangan Ken.
Dapat perlakuan manis seperti itu mendadak dada Ken yang tadinya di penuhi awan gelap, kini tergantikan bagai di hamparan taman yang di penuhi bunga-bunga dan kupu-kupu masuk ke dalam dadanya menggelitik bagian hatinya. Matanya kini, bersinar bagai sinar bulan purnama.
Ia pamit pada semua keluarganya tentu juga memberi salam pada calon mertuanya.
“Aisah pamit tante, Bu,” katanya pada keluarga Ken, ia menyalim tangan kedua wanita itu dengan sopan.
“Terimakasih iya, Sah, karena kamu buat anak kami tersenyum bahagia hari ini, terimakasih sudah menerimanya, maaf atas perkataan kami waktu itu,” kata Neneknya dengan lembut.
“Iya, Nyonya,” jawab Aisah dengan wajah malu-malu.
“Jangan panggil Ibu, panggil nenek saja.”
Aisah tersenyum manis, di balik senyum manis itu ada harapan yang indah.
Setelah pamit pada kedua keluarga dan semua orang yang mengantar Rara sampai ke bandara, Sukma terlihat sangat bersedih, ia ingin sekali ikut mengantar sahabatnya. Tapi ia tidak bisa meninggalkan kantor , ia ingin tetap mengawasinya sampai Rara pulih nanti dan datang kembali.
Akhirnya burung besi itu terbang ke awan meninggalkan Indonesia.
__ADS_1
“ Cepatlah pulih sayang,” kata Ibu Soimah mengusap air matanya.
Kini ketiga anaknya ikut pergi, hanya mereka bertiga yang tinggal dengan Calvin. Bocah tampan itu sejak ibunya di rawat, ia tidak pernah di perbolehkan melihatnya.
Mereka hanya bilang kalau ibunya sakit dan harus di rawat di rumah sakit.
Calvin sangat merindukan ibunya, ia selalu menangis merengek ingin melihat, bukannya mereka tidak mau mengizinkan Calvin menemui ibunya, tapi melihat kondisi Rara membuat mereka khawatir kalau calvin sampai melihatnya.
Tapi sebelum Rara terbang, ia di perbolehkan untuk melihatnya sebentar, tapi benar saja Calvin jadi pendiam sejak melihat kondisi ibunya.
Bahkan saat pesawat itu sudah terbang membelah awan ia menangis pilu.
“Apa kita bisa bertemu ibu lagi,Nek?” ucapnya dengan sedih.
“Tentu sayang, jangan bersedih ibu orang yang kuat,” kata Bu soimah menenangkan Calvin.
Rara mendapat pengobatan di Negeri orang dan Bastian mendapat penanganan khusus di pusat rehabilitasi kejiwaan, ia harus beberapa kali melakukan terapi.
Ia masih mau melempar barang yang ada di depan matanya, ia masih suka marah-marah.
Bastian hanya untuk sebatas emosi saja, ia tidak mau lagi ingin menyakiti diri sendiri, Waktu itu ia ingin menyakiti diri sendiri karena tidak bisa membalas orang yang menyakiti istrinya, karena pelakunya neneknya sendiri orang yang ia hormati. Mungkin kalau itu orang lain, Ia tidak akan terguncang seperti itu.
Ia juga tidak tau kalau Pak Bardi sudah membuat kesepakatan kalau Rara tidak ada lagi hubungannya dengan keluarga Salim mulai saat itu, baik sebagai menantu baik sebagai istri dari Bastian.
Kemarahan Pak Agus bukan tanpa alasan, ia marah karena keluarga itu sudah sangat banyak menyakiti Rara.
Mulai ibu mertuanya, Ibunya Bastian yang beberapa kali menyakiti Rara secara fisik dan saat ini orang yang tidak di duga melakukan hal yang lebih mengerikan. Saat Rara hamil dengan tega Omahnya Bastian menyuruh orang untuk menyingkirkannya
.
Sejahat apapun Rara, setidaknya jangan melakukannya saat ia lagi hamil, karena anak dalam kandungannya tidak tau apa-apa.
Hanya yang berhati iblislah yang tega melakukan hal seperti itu pada wanita yang hamil.
Dua hari setelah kepergian Rara dari Jakarta.
Bastian juga sudah sedikit merasa tenang, ia meminta izin keluar ingin menjenguk Rara di rumah sakit, tapi pihak rumah sakit tidak mengizinkan, dengan alasan karena kondisi kejiwaannya belum pulih. Ia terus memohon setidaknya berikan ia ponselnya tapi pihak rumah sakit itu tidak menghiraukannya.
__ADS_1
Ia ingin mengamuk, tapi jika ia berbuat seperti malah tambah di kurung dan diikat di tempat tidur nantinya, mau gak mau ia harus mencari cara lain.
Maka Bastian mencoba bersikap baik dan penurut agar ia bisa bebas itu yang di harapkan, tapi ini sudah satu minggu ia bersikap baik dan bersikap tenang tapi tidak ada tanda-tanda, ia akan di pulangkan .
Tidak ada ponsel tidak ada yang menjenguk tidak ada teman bicara. Hal itu bahkan lebih buruk dari penjara. Ia bukan tambah sembuh malah tambah gila jadinya.
Kini ia mulai mencari cara agar di keluarkan dari ruangan itu.
Aku tidak gila, kenapa Ayah mengurung di tempat terkutuk ini? ini tempat orang gila memang saya orang gila apa, kata Bastian mondar-mandir di ruangan itu. Otaknya berputar terus bagai baling-baling kipas, ia mencari cara agar ia bebas dari ruangan itu dengan cara apapun.
Baiklah, gumamnya ia menekan tombol panggil seorang perawat laki-laki datang membuka pintu.
Bastian meringis memegangi perutnya, ia berpura-pura sakit , saat perawat datang mendekat ia memiting tubuh perawat lelaki itu dengan cepat dan memelintir tangannya ke belakang, ia mengambil kunci kamar pintu.
Kemampuan berdirinya berguna juga.
“Maaf iya bro, gue harus melakukan ini, soalnya lama-lama gue bisa gila beneran di kalian kurung ditempat ini, gue bukan orang sakit jiwa,” kata Bastian.
“Ini atas permintaan keluarga bapak sendiri
kata perawat itu.
“Iya justru itu juga yang pengen gue tau, ada apa dengan keluarga gue, baiklah mari kita ganti kostum, buka baju perawat mu dan kamu pakai baju pasien ini,’ kata Bastian memberi perintah.
“Baik-baik pak, aku akan menurut.”
“Kalau kamu bantu aku keluar dari sini, aku akan beri kamu imbalan nanti, kamu taukan aku siapa?” Kata Bastian sedikit sombong.
Perawat tidak mau, karena dalam ruangan itu ada kamera pengawas kalau ia membantu ia akan mendapat masalah besar.
Bastian harus bekerja melumpuhkan perawat lelaki itu dan menukar pakaiannya dengan pakaian pasien.
Akhirnya Bastian bisa melarikan diri dari tempat rehabilitasi.
Bersambung....
Mohon bantu share dong kakak.
__ADS_1
Terima Kasih