
Jika dapat proyek untuk membangun gedung atau rumah Perumnas. Papa pasti akan terlebih dahulu melihat AMDAL lokasi bangunan.
Itu yang membuat perusahaan papa sering mendapatkan proyek besar. Aku bangga padanya, tetapi karena papa orangnya memang sangat disiplin dan perfeksionis. Aku, gagal menjadi orang nomor satu di perusahaan ini.
“Mba! Dengar aku atau tidak?” Aryo bertanya pelan dan terus mengikuti langkahku mengiringi papa dari belakang.
“Iya, denger!”
“Kirain aku dicuekin, mentang-mentang jalan sama bos.” Matanya dikedip-kedipin seperti boneka.
“Tadi lagi mikir.” Aku menjelaskan.
“Mikir apa? Mikirin yang tadi? Mba mau lagi?”
“Paan, sih? Ya, nggaklah!”
Dia nyengir. Aku gondok.
“Aduh!” Dia tiba-tiba menepuk jidat pelan.
“Ada apa lagi?” Aku ikut menghentikan langkah.
“Aku lupa pakai topi. Takutnya ada yang kenal.” Sepertinya di serius.
Namun, ga mungkinlah dia tenar sampai ke kantor ini. Dia kan mengisi kanal Youtube remaja. Bukan dewasa.
“Ga bakal ada yang kenal! Ayuk! Itu papa udah sampai di pintu depan. Aku ga mau orang bertanya tentang kamu kepadaku.”
“Yah! Jujur aja, Mba! Bilang, suamimu.”
“Ar .. Abeng! Bukannya tadi kita udah bicarakan? Aku ga mau nanti kamu malah ga ada teman di sini.”
Aku melebarkan mata, agar dia paham. Bahwa aku ingin dia belajar dari nol. Dan jadi besar pun dari nol. Bukan langsung mendapat jabatan.
Kerja di kantoran, ga seperti kerjaannya di media. Banyak sekali asam garamnya. Mulai dari yang julid, penjilat, sampai yang malas. Tetapi ada juga yang loyal. Dia harus bisa memahami karakter karyawan terlebih dahulu, baru bisa jadi pemimpin.
“Jadi, kalau ada yang nanya gimana?”
“Bilang aja sepupu jauh!”
“Lah, itu bohong namanya, Mba! Segala sesuatu yang dimulai dengan ketidak jujuran, hasilnya juga ga bakalan baik.”
Kambuh lagi kedewasaannya. Aku memijit pelipis, bingung memberi tahu Aryo.
“Kalau ada yang tanya, bilang aja kamu anak pungut!”
“Apa? Mba tega banget, ya? Masak suami sendiri dibilang anak pungut. Nggak, nggak!”
“Hust! Jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Makanya buruan, selagi ada papa!”
Aku menarik pergelangan tangannya. Saat ini, aku merasa dia bukan suami. Tetapi adik kecil yang harus kulindungi dari masalah.
“Senengnya!” Dia berucap sambil jalan.
“Seneng kenapa?”
“Dibimbing istri tersintah!”
“Beng! Gosah lebay, deh! Ini kantor, bukan kamar.”
“Tau! Kalau di kamar, Mba berani kek gini, udah aku telan dari semalam.”
“Aryo!” Suara papa menghentikan pertengkaran kami dengan suara dipelankan.
Aku menghembuskan napas lega. “Buruan!” Ucapku pelan.
“Iya, ini juga mau ke sana!”
Ruangan sekretariat kantor ini memang sengaja diletakan di depan pintu masuk. Saat kaki melangkah ke dalam, udara dingin langsung menyapa.
Begitu juga hiasan aneka warna yang berjejal di tepi dinding. Di sudut tempat CS berdiri, ada taman kecil yang dihiasi dengan air mancur ukuran setengah meter.
Di dekat taman, ada beberapa model maket bangunan yang dipajang. Dulu, aku paling suka berdiri di sana, sambil membayangkan bentuk rumah sendiri kelak, jika sudah bersuami. Dan sekarang? Apa mungkin terwujud?
“Mba!” Aryo memanggil dari dekat meja Cs.
Papa yang sedang berbincang dengan bawahannya, terlonjak.
“Sini!” Dia melambaikan tangan.
Aku segera memutar badan ke arahnya. “Ada apa? Kan ada Papa, Beng!”
“Aku deg-degan, Mba!”
“Kenapa?”
“Mungkin karena kamu berdirinya jauh, jadi aku kangen!”
__ADS_1
“Lebai!”
Jangan bilang cinta, jika kamu ga bisa menjaganya.
“Mba tau kenapa aku sayang banget sama, Mba? Karena Aku cinta mati sama kamu. Sedangkan cinta itu anugerah, sebab cinta juga manusia lahir ke dunia. Dan akan terus menerus mendapatkannya dari seorang ibu. Jadi, buat kamu yang sering bilang cinta. Sudah yakin, mau berkorban dan siap kecewa. Mana tahu, cintamu bertepuk sebelah tangan, ye kan?”
Tanpa pikir panjang, kucubit pinggangnya. Dasar ngeselin! Ada aja caranya membuat wajahku merah.
“Mir! Tolong panggilkan semua kepala direksi untuk berkumpul di ruang meeting, segera!”
Papa memerintahkan Mira, setelah selesai menanyakan sesuatu pada perempuan cantik, tapi genit tersebut.
Waktu masih di sini, aku pernah membentak dia karena tingkahnya pada Hasan, staf divisi marketing yang pendiam. Masak, si Mira merayu-rayu dia ngajak makan siang bareng. Padahal, Hasan sudah menunduk dan gemetar.
Jangan-jangan nanti Aryo yang digoda. Kok, aku jadi merasa takut gini.
“Beng! Kamu harus hati-hati sama si Mira,” bisikku ketika perempuan berambut sebahu itu melongok keluar dari persembunyiannya.
Maksudnya dari belakang meja yang tertutup sebagian. Jadi jika dia duduk, ga bakal kelihatan kepalanya dari luar.
“Mba cemburu?” bisiknya pelan.
“Ngga!”
“Kalau ga, Kok bilang gitu? Orang dia ramah, Kok.”
Duh! Aryo, tidak semua yang terlihat baik di luar itu, di dalamnya baik. Aku kenal siapa Mira, tapi nantilah setelah di rumah aku kasih tahu semuanya.
“Eh, ada Bu Aida! Pindah ke sini lagi, Bu?” Mira bertanya sopan dengan gayanya yang sok manja.
“Nggak, tadi diajak papa,” jawabku dan mencoba untuk memberinya senyum.
“Ogh gitu!”
Aku mengangguk, dia tersenyum, lalu menatap ke arah Aryo yang sedang mengitari ruangan dengan matanya. Matanya disipitkan, keningnya berkerut.
“Ini, Aryo Kamandaka bukan, sih? Kok wajahnya familiar banget.” Dia mematut-matut wajah suamiku dengan wajah semringah.
“Bukan! Namanya Aryo Muhammad.” Aku segera menjawab.
“Ga, mungkin, Bu! Barusan aku masih nonton konten bucin ala Aryo Kamandaka. Ibu coba liat ini!” Dia segera menunduk, lalu menyembul lagi seperti ikan lumba-lumba dalam air.
“Liat apa?”
“Chanel Youtubenya dia! Ga nyangka bakal sekantor dengan Aryo yang sudah terkenal. Followersnya aja sudah puluhan ribu.” Matanya melebar dan berputar-putar.
Ternyata apa yang ditakutkan Aryo kejadian juga. Aku lupa, kalau Mira memang suka sekali nonton Youtube. Apalagi konten seperti merayu dan quote-quote cinta begitu. Apalagi, Aryo lebih tampan dari Hasan. Aku, bisa kecolongan kalau begini, mah!
“Aryo! Aryo Kamandaka!” panggilnya setengah teriak.
“Aku minta foto bareng, boleh? Satu kali aja, untuk story.” Bibirnya tersenyum lebar.
Aku mulai merasa panas melihat keganjenan Mira. Apalagi Aryo menyetujui dengan mengagukkan kepala.
“Besok aja, Mir! Sebentar lagi mau ada meeting kata papa tadi, kan? Nanti Aryo dimarahi, kamu tahu sendiri bagaimana papa?” Aku terpaksa melembutkan nada bicara.
Wajah Mira berubah kecewa. Peduli demit, dia mau kecewa, kesal, marah. Aku ga bakal pikirin. Laki gua ini, Mir. Ntar lo pegang-pegang.
Aku segera menarik lengan Aryo menuju ruangan papa. Tempat di mana aku pernah dimarahi beliau dengan satu kata. Jika kerjaan kamu seperti ini, perusahaan bisa bangkrut, Aida. Lima puluh rupiah saja berbeda di laporan, papa bisa dianggap korupsi. Ah, kalimat yang setiap saat memaksaku untuk teliti ketika bekerja di tempat lain.
“Kalian tunggu di sini! Papa mau ke ruang meeting sebentar! Nanti, kalau semuanya sudah kumpul, papa telepon!”
Aku dan Aryo sama-sama mengangguk. Kemudian kami duduk di sofa tamu mewah di ruangan besar milik direktur, yaitu papaku sendiri.
Kekesalan pada Mira, ternyata merembes pada Aryo yang duduk di sampingku. Kami duduk tidak terlalu dekat, ada jarang sekitar satu meter.
“Kamu pasti senang, ada yang minta foto bareng!” Aku langsung menancapkan panah api ke jiwanya.
Dia menggeleng.
“Tidak, Mba! Karena aku takut membuat istriku cemburu jika melihat aku dekat dengan perempuan lain.”
“Buktinya tadi kamu mau?” Aku benar-benar merasa tidak terima, apalagi yang meminta untuk foto bareng adalah Mira.
“Sebelum berfoto, aku akan tanya sama Mba dulu rencananya.” Dia polos, atau pura-pura, sih?
Aku sudah tekankan, ga usah kek suami istri di kantor ini.
“Kamu harus hindari Mira, aku ga suka!”
“Mba cemburu?” Kembali Pertanyaan itu dia keluarkan.
“Nggak!”
“Buktinya Mba marah aku dekat dengan dia. Wajah Mba tegang lho, saat bicara tadi.”
“Beng! Dia itu gatel! Aku dulu pernah memarahinya, karena merayu staf aku! Jadi, aku ga mau kejadian itu ...!”
__ADS_1
Dia menghentikan ucapanku dengan segera mendekat. Lalu merangkul pundakku ke dadanya.
“Dengar, Ai! Aku tahu kamu sedang cemburu! Mira bukan type aku, percayalah.”
Jantungku kembali berdentum keras, darah berdesir hangat. Bayangan tadi pagi melintas menjadi keinginan yang terpendam. Entah kenapa, setiap kali Aryo mendekati, aku ingin dia cium.
Apa jangan-jangan bibirnya ada pemanis? Sehingga aku ketagihan.
“Tapi, Mira itu nekat, Beng! Aku ga yakin kamu bisa lepas dari jerat laba-laba itu!”
“Ai! Kamu harus percaya, tidak ada tulisan lain di hati ini, selain nama kamu. Kalo ga percaya, coba dengarkan!” Dia mengusap dadanya.
Aku terdiam, tanpa tahu harus berbuat apa. Rangkulan Aryo terlalu erat. Bahkan aku tidak tahu, kalau bibirnya sudah mencium ulang bibirku yang terkatup rapat.
Hingga akhirnya, aku mendengar deheman dari pintu. Astaga! Jangan-jangan bawahan papa. Mati aku!
“Papa!”
Aku segera memperbaiki posisi duduk. Aryo pun segera membuat jarak dengan kecepatan angin.
Dadaku berdegup lebih kencang, aku yakin Aryo pun sama. Buktinya dia mengucap Istighfar berulang kali.
“Katanya mau telepon, kok malah masuk tanpa ngetuk pintu?” Aku melanjutkan pertanyaan, untuk menghilangkan gugup.
Benar, kami sudah halal mau melakukan apa saja. Tetapi, ini kantor. Jangan-jangan adegan berciuman tadi terekam CCTV. Gawat!
“Papa hanya mau ngambil HP, tadi ketinggalan di meja!”
Aku tahu papa berusaha bersikap pura-pura tidak melihat. Padahal tadi, pasti melihat bibirku dan bibir Aryo dempet seperti kertas dan perangko.
“Komputer yang mengendalikan CCTV di mana, Pa?” Aku segera berdiri.
Papa pun terlihat mencari HP di meja. Di ruangan Hasan. Memangnya kenapa? Mau dimatiin ke ruangan ini?” Papa sih, berwajah datar saat bertanya.
Namun, aku tahu beliau ingin meledek kejadian tadi. Karena aku sudah mau dekat dengan Aryo.
“Nggak, nggak! Aida mau menghapus ....”
Duh!
Kan, kan! Jadi ga enak begini ngomongnya.
Aku menggaruk hidung, lalu menarik napas berat berulang kali.
“Biar papa yang urus. Hasan bukan type karyawan ember. Dia bisa jaga rahasia.” Kedipan mata Papa membuktikan, dia melihat adegan hot kek kompor delapan belas sumbu tadi.
Aku jadi malu pada semua yang ada di ruangan ini.
“Gara-gara kamu, nih, Beng! Adegan tadi masuk CCTV. Kok, aku sampai lupa, ya. Setiap ruangan di kantor ini ada kamera tersembunyi.” Kuhempaskan pantat ke sofa, lalu mendesah berat.
Aryo tertegun.
Aku yakin dia juga merasakan apa yang kurasa barusan.
“Kalau seandainya terbongkar, ya, biarin aja, Mba! Aku tak apa di jauhi orang lain. Asalkan kamu tidak. Padahal tadi aku menikmati, lho, Mba!”
Mataku terbelalak. Dasar suami asem!
“Aryoo!”
“Apa? Mau nambah?”
“Ish! Kamu belajar beginian dari mana, sih? Atau jangan-jangan sering nonton filem biru, ya?” Tuduhan yang mematikan.
Tetapi sepertinya tidak untuk Aryo.
“Mba! Aku ini laki-laki sejati. Buat apa nonton begituan? Malah bikin dosa jariyah. Kalau aku lakukan itu, dan seandainya, nih, ya! Ini seandainya. Ayahku sudah meninggal, dia pasti dicambuk keras oleh mungkar dan mangkir gara-gara nafsu terselubung dan tidak ada tempat menyalurkannya.”
Dia berhenti sejenak, lalu menatap tajam mataku.
“Mba tau, kenapa banyak orang sekarang yang mungkin sulit mendapat keturunan? Aku pernah baca artikel, katanya orang yang sering nonton filem begituan, bakal ngeluarin cairan pembuat anak itu dengan cara apa saja. Nah, pas nikah kekeringan. Aku ga, mau, Mba! Aku masih ingin memiliki keturunan yang akan mendoakanku, jika aku mati kelak.”
Dia terlalu jenius menurutku, di usia yang baru memasuki sembilan belas tahun, dia tahu banyak tentang ilmu biologi dan lain-lain.
“Oke! Lalu kamu belajar dari mana lebay dan sok pujangga gitu? Satu lagi, emang kamu tahu apa tentang hubungan suami istri?”
“Ai, aku ini Youtuber, penulis juga! Aku dituntut untuk banyak membaca. Tetapi, tetap harus kupilah-pilah. Mana yang bermanfaat untuk diri sendiri dan tentunya untuk orang banyak. Ingin, sih, aku nulis yang begono ono. Karena sadang laku keras, tapi aku masih waras. Nanti ada yang bersensasi liar setelah membaca. Apalagi tentang perselingkuhan. Banyak banget, tapi kalau pembaca aku melakukan hal seperti yang aku tulis, gimana?” Dia mengusap sudut bibirnya dengan jemari.
“Trus tentang hubungan suami istri?”
“Aida sayang! Aku ini laki-laki normal yang sudah mengalami mimpi basah semenjak kelas dua SMP. Ya, taulah! Lagian aku sering baca buku ibu tentang hukum pernikahan dalam islam. Bagaimana membahagiakan istri, bagaimana memperlakukan istri. Jadi, kamu ga usah khawatir masalah itu. Saripatiku masih banyak dan ga pernah terbuang percuma.” Dia menahan tawa saat aku hendak melemparnya dengan bantal sofa.
Benar-benar berisi kepala suamiku. Buktinya dia bisa menguraikan dengan fasih semua yang belum kupahami selama ini.
Ternyata benar kata orang tua-tua. Dengan membaca, kita akan memiliki banyak ilmu. Karena membaca merupakan jalan membuka cakrawala dunia. Sedangkan dengan menulis, nama kita akan abadi.
Namun, menjadi Youtuber? Aku masih ga percaya dia terkenal.
__ADS_1
“Cinta itu mengerti, cinta itu memahami.Wajah atau usia bukan yang terpenting, tetapi bagaimana dia menjaga kehormatan dan akhlaknya. Satu saat, kecantikan akan luntur. Kekuatan akan lemah. Yang tersisa hanya cinta sejati. Yang mau menua bersama, hingga maut memisahkan.”