Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Kemarahan Ibu


__ADS_3

Bastian pulang ke rumah menemui ibunya, dengan wajah yang pucat dengan kemarahan nya yang memuncak. Ia bertanya apa yang sudah di lakukan ibunya pada Yolanda.


“Iya aku yang melakukanya, itu karena kamu tidak pantas dengan wanita kampung itu”


“Ibu  ternyata wanita yang jahat, aku kecewa sama ibu, aku bukan anakmu lagi,” ucap Bastian .


Keluarganya akhirnya  menceritakan semuanya pada Bastian, lelaki tampan itu sangat kecewa  pada keluarganya karena merasa di bohongi selama ini.


Ia meninggalkan rumah keluarganya dengan perasaan yang sangat kecewa, ia tahu kalau ibunya suka bertindak nekat. Tetapi ia tidak tahu kalau ibunya tega melakukan itu padanya. Memisahkan ia dengan yolanda dengan cara yang sangat jahat. Membuatnya membenci wanita itu sampai akhir hayatnya.


Bastian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ia berteriak keras di dalam mobil, melepaskan emosi yang  memuncak di dalam dada. Mendengar semua kejahatan Ibunya ia sampai tidak punya muka di hadapan Rara, walau ia rindu pada Rara dan anaknya . Namun ia menahan diri untuk tidak menelepon ia merasa bersalah.


                      *


Di sisi lain Rara mengalami hal yang  tidak terduga juga;


Hartati  memang wanita yang sangat jahat, tidak cukup membuat ayah Rara di pecat dari pekerjaan ternyata ia juga membuat Aisah kehilangan pekerjaan dan batal menikah.


Mendengar semua itu Ibu Rara sangat marah, apa lagi ia tahu ini karena ulah ibu mertua Rara. Saat Rara pulang  dari pemakaman emak Rara meluapkan semua emosinya.


Mendengar putrinya pulang,  Emak Rara langsung meninggalkan lapak jualannya,  bukan untuk menyambut Rara, seperti yang dilakukan Babenya dan adiknya,  tapi seperti biasanya menyumpahinya untuk  mati, memakinya,


“Lu masih berani datang lagi ke rumah ini, karena perbuatan mu yang tidak  benar di luar sana, lihat babemu dan adikmu.”


“Mak, apa yang terjadi?”


Emaknya menamparnya dengan sangat keras, "Aye bukan Mak elu, emak elu udah dikubur di sono ...noh" Awalnya Rara tidak menganggap emaknya hanya terbawa emosi. Tetapi karena emosi rahasia besar itu akhirnya terungkap.


Babe Rara shock melihat istrinya membongkar rahasia tentang Rara.


Babe dan Aisah mencoba menenangkan wanita yang sudah terlanjur kalap itu, emosinya sepertinya tidak terbendung lagi,


“Kenapa sih kamu harus   datang  lagi ke rumah ini!” Dengan suara yang mengkelekar bahkan bisa  membuat heboh satu Rt.


“Mak, maafkan Rara." Ia mendekat lagi ingin bersujud di kaki ibunya


Berharap ia dimaafkan sekali lagi, karena babehnya bilang  tidak ada orang tua yang membenci anak-anaknya,


Tapi tidak disangka ibunya  dengan sangat kejam  menendang wajah Rara, entah setan apa yang sudah merasukinya lagi kali ini. Ia memukul kepalanya dengan pas bunga dan  pecahannya disabetkan ke lengan Rara, kengerian  penganiayaan itu terjadi,


“Apa yang kamu lakukan, pada anakku?”  bentak Pak Agus dengan wajah panik ia  memeluk Rara  yang sudah berlumuran darah, dari hidung  kepala bahkan lengan terluka parah,

__ADS_1


Aisah histeris mencoba menahan ibunya yang  seperti kerasukan.


Tangannya gemetaran menelepon adik laki-lakinya Rizki,  anak remaja itu yang bisa menghentikan ibunya kalau sudah marah.


“Ibu jangan di pukul Nek,” dengan tangisan pilu dan pundak kecilnya Alvin yang malang, terguncang-guncang, ia memegang kaki neneknya, ia menahan wanita bringas itu, agar tidak menyakiti Rara lagi.


Rara harus menerima kemarahan ibunya lagi kali ini, karena ulah Hartati yang membatalkan pernikahan Aisah padahal sudah lamaran  bahkan sudah mempersiapkan semuanya.


Tetapi tiba-tiba dibatalkan sepihak dengan alasan yang tidak masuk akal, karena direktur pemilik rumah sakit tidak memberinya izin untuk menikah, usut punya usut direktur rumah sakit itu adik dari Hartati. Itulah yang menyebabkan Bu Soimah menggila.


Mendapat serangan mendadak  dari ibunya membuat Rara tidak sempat menghindar bahkan tidak menduga kalau emaknya sampai tega memukulnya sampai terluka parah seperti itu. Rara hanya terduduk lemas, babenya menahan luka kepalanya dengan kain seadanya.


Rara merasa lebih sakit,  saat  melihat Calvin berusaha menahan kaki emaknya, agar tidak menyakitinya,


“Maafkan ibu Nak, karena ibu kamu harus melihat semua ini, padahal kamu baru saja tertawa bahagia, karena ibu kamu kehilangan tawa bahagiamu dan berganti tangisan pilu dari mulut kecilmu,”  bisik Rara.


Rara kehilangan kesadaran karena  penderitaan yang ia terima sangat lengkap. Ia baru dipaksa meninggalkan Bastian lalu ia juga baru tahu kalau ayah Alvin adalah suaminya dan orang yang selama ini ia cari untuk membalaskan dendam sahabatnya. Sahabat yang sudah dianggap seperti saudara sendiri. Bukan hanya itu, bahkan ibunya mengaku kalau Rara bukan anak yang dilahirkannya. Ia juga mendapat kemarahan yang sangat mengerikan dari ibunya.


*


Rara dilarikan ke rumah sakit terdekat.


Sukma, Mario, rizki setia menunggunya sampai bangun


Babenya Rara  terpaksa mendapat perawatan, ia mengalami depresi berat dan ingatannya kembali ke masa lalu.


“Ra, lu udah bangun?" tanya Sukma memeluk Rara dengan tangisan ia tidak menduga sahabat baiknya harus mengalami hal berat seperti ini,  Sukma juga mengalami  hal yang  berat belakangan ini, karena suami yang ia cintai  memiliki wanita lain. Tetapi apa yang dialami Rara saat ini jauh lebih berat


Dianiaya ibu yang membesarkan, babehya Rara depresi .


“Padahal minggu kemarin aku berharap, ia mendapat kebahagian tapi kenapa ia malah mendapat kemalangan yang seperti ini , ini sangat menyesakkan dadaku,”  ucap Mario dalam.


Rizki adiknya hanya menatap dengan tatapan mata kosong, ia  bingung harus berkata apa ,ini musibah untuk kelurganya.


Pelaku pemukulan adalah ibunya yang korbannya adalah kakak dan babenya, ia harus berkata apa lagi, ibunya yang sampai saat ini histeris seperti kesetanan di rumahnya, dan babehnya terpaksa mendapat perawatan di bagian trauma dan kejiwaan.


Rara melihat sekelilingnya, mencoba mencari tahu, ia belum sadar sepenuhnya, karena pengaruh bius membuat matanya terlihat berat,


Kepalanya dibungkus dengan perban,


“Apa masih  merasa sakit Ra?”  Rara hanya geleng lemah.

__ADS_1


“Kita dirumah sakit  Ra,” Mario terpaksa menjelaskan  karena Rara terlihat masih bingung,


“Lo gak lupa ingatankan? Maksudku bukan kayak di sinetron yang  tiba-tiba lupa ingatan.” Sukma menatap serius.


Rara hanya menggeleng kecil.


 “Ah, syukurlah gue sempat berpikir kalau elu lupa ingatan.”  Sukma  mengelus dadanya.


“Oh lu  sama Risky pulang saja biar gue yang jaga Rara.” Sukma meminta  Mario dan Rizki a  pulang,


“Baiklah Ra besok pagi gue  mampir lagi” Rio bergegas tetapi tatapan matanya menggambarkan sesuatu, ia ingin memberikan kabar pada Bastian kalau Rara masuk rumah sakit. Karena biar bagaimanapun lelaki berwajah tampan itu masih suaminya karena belum ada ketukan palu memutuskan pernikahan mereka.


“Rio!” Rara menatap  lelaki tegap itu, seakan-akan ia tahu apa yang dipikirkan Rio.


“Apa Ra? Lu ingin berterimakasih … tak perlu."  Mario mendahului omongan Rara  seperti supir bajai.


“Tidak.” Rara mendengus kecil saat Mario bertingkah sok tahu.


“Jangan katakana pada siapapun kalau gue di sini, jika dia bertanya katakan kamu tidak tahu, jangan katakan apapun.’  Rara menatapnya,  dengan tatapan mata sendu  matanya  sangat berat.


“Baiklah gue mau  mengantar Rizki pulang , Mey lu  mau makan apa biar aku belikan nanti?”  Ia tahu yang di maksud Rara pastilah suami brondongnya,


“Tumben lo baik, biasanya pelit , karena loe lihat Rara sakit Iya?” tuduhnya pada Mario


“Bawel bangat lu, mau apa kagak ni mumpung gue masih baik”


“Iya dah,  gue mau nasi padang, gue nginep di sini nemanin Rara"


Kedua lelaki itu  meninggalkan kamar dimana rara dirawat.


Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolonng tekan like dan  jangan lupa berikan hadiah juga.


Baca  juga karyaku yang lain.


-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Bintang Kecil untuk Faila

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-The Cursed King(ongoing)


__ADS_2