Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Alvin bertemu dengan oma Bastian


__ADS_3

“Makasih ya, Pak Bastian”


“Makasih Om Tian,” kata Calvin mengikuti omongan emaknya.


Bastian hanya membalas dengan senyuman. Tapi balasan untuk Rara tentunya hanya;


“Hmmm  ….”


Seharian bermain membuatnya Alvin kelelahan dan mengantuk.  Bastian menggendongnya, mereka bertiga sekilas terlihat seperti keluarga kecil yang sedang liburan.


Karena ia memperlakukan Alvin seperti anak saat itu,  mereka tidak menyadari ada beberapa kamera yang menyorot ketiganya. Bastian terlihat seperti papa yang  muda ganteng mengendong seorang anak yang sudah tertidur di pundaknya, dan di sampingnya seorang wanita dewasa saling bercanda dan saling tertawa berjalan di koridor mall.


Kuntilanak sekalipun, tidak akan percaya dengan apa yang dilihat saat ini,  kalau mereka berdua pasangan pembantu dan majikan. Untung wajah anaknya ditutup jaket, jadi wajah tampan itu, tidak tertangkap camera para pemburu berita gosip para artis itu.


Dalam perjalan pulang neneknya menelpon kalau ingin ke apartemen Bastian.


“Haruskah kami menunggu di lantai bawah menunggu nenekmu pulang?” Rara merasa tidak enak hati kalau sampai ketahuan membawa anaknya untuk bekerja.


“Memang kenapa?”


“Aku tidak enak, sama nenekmu karena aku membawa anakku untuk kerja,”


“Tidak apa-apa .”


“Kamu yakin Tian. Dengar … semua orang memaki dan menghinaku memarahiku, tetapi aku tidak akan membiarkan siapapun menghina dan menyakiti hati putraku,” ujar Rara  dengan menarik napas panjang.


“Tidak Ra, oma sayang sama anak kecil, dia pasti suka sama Alvin”


“Tapi bagaimana kalau beliau bertanya kita dari mana?” Rara menatapnya dengan tatapan serius.


“Tenang saja biar aku yang jawab jangan khawatir, ayo kasihan dia sudah kelelahan ni” Bastian mengarahkan pandangan matanya pada bocah yang digendong.


“Baiklah, bismillah saja, mudah-mudahan anakku tidak  usik”


                             *


Benar saja, neneknya sudah di dalam apartemen, ia melihat-lihat tanaman milik Rara, dan ia sangat tertarik dan kagum melihat cara penataan Rara pada tanamannya.


“Omah!” Panggil Bastian


Wanita  berpenampilan modis  itu,  menoleh


 ‘Apa wanita ini, selalu tampil cantik setiap kali bertemu? apa tidur juga ia seperti tetap cantik?’ ujar Rara dalam benaknya.


Ia menatap  Bastian yang menggendong anak, matanya mengawasi

__ADS_1


“Siapa yang kamu gendong?’


“Oh dia anaknya Rara ,” sahut Bastian


Bastian ingin menidurkannya, tapi ia takut dan menangis bila tidak ada orang di sampingnya.


“Jangan ke kamar di sofa ini saja dulu,” kata Rara.


Mata neneknya masih saja terus menatap si tampan anaknya Rara, Ia mungkin tidak percaya kalau anak Rara setampan itu dengan kulitnya  keluarga Rara merawat Alvin dengan sangat baik dan penuh dan dari kecil ayahnya Rara sudah mendidiknya norma agama, hingga ia tumbuh menjadi anak yang santun.


“Ada apa Oma,  mau ngomong apa?” tanya  Bastian ia baru saja mengganti pakaiannya memakai pakaian yang lebih santai.


“Anaknya Rara tampan,”  kata omanya,  Bastian ikut menoleh lelaki kecil  yang sedang tertidur pulas itu, wajahnya merah karena kelelahan.


“Iya,  Aku juga pertama bertemu gak percaya, kalau dia punya anak setampan itu, pintar, sopan lagi Mah, ia anak yang soleha juga.” Bastian sangat memuji seolah-olah kalau ia sudah mengenal lama anak Rara.


“Bisa kamu bangunin dia”


“Oma, untuk apa bangunin anak lagi tidur”


“Hanya ingin mau lihat wajah tampannya” kata Omahnya yang masih mengawasi wajah Alvin yang sedang tidur.


Rara baru keluar juga dari dapur, ia membawa nampan berisi minuman untuk mereka dan neneknya. Mendengar suara-suara, Alvin juga bangun,  baru saja Rara ini duduk anaknya sudah bangun.


“Ibu …!”


Ia berdiri dengan setengah mengantuk,  memberi salam dan menyalim tangannya Omahnya Bastian.


Matanya neneknya masih saja belum lepas dari Calvin. Ia menatap Alvin dan menatap Bastin,  lalu Rara, mata penuh penyelidikan.


“Calvin juga pintar pantun juga loh, Oma. Alvin mau berpantun lagi gak kayak yang tadi sama Om,  bujuk Bastian pada Alvin yang sudah  duduk tenang dan mulai sibuk dengan mainan barunya,


Ia menatap oma Bastian dengan tatapan sendu.


“Neneknya Om mau dengar?”


“Tentu donk, om saja saja tadi kagum,  apa lagi neneknya Om, pasti mau.” Bastian bersemangat.


“Katanye enkong, aku kalau sudah berumur atau sudah tua baiknya dibacain ayat-ayat alQuran Om bukan pantun”


Rara menutup mulutnya menahan tawa, karena sifat sok tua yang biasa ia tunjukkan kali ini kambuh lagi.


Bastian tertawa ngakak, mendengar, oke boleh kamu mau baca yang mana.


“Baca doa bismillah saja iya biar cepat, soalnya Alvin  lagi sibuk ingin memeriksa isi mainan baru yang kita beli tadi”

__ADS_1


“Tapi omahnya ingin mendengar pantun Nak,” Rara ikut menimpali.


“Baiklah, tapi satu saja iya, aku tidak punya banyak waktu” Ia membuat tawaran


Bastian semakin tertawa,  melihat tingkah mengemaskan bocah tampan itu. Ia juga selalu menggodanya.


Biar bagaimanapun, ia diledekin satu hal darinya ,ia tidak pernah menangis di depan orang


“Ok satu juga tidak apa-apa,” kata Bastian,


“Baiklah.” Ia  berpikir mencoba mengingat-ingat. “Baiklah dengar iya Nek”


’Jual jamu di hulu, ketemu dengan si Upin


Idih,  kamu gak tau malu, udah besar,  makan masih disuapin’


“Cakap.” Bastian mengacuhkan jempol keren.


“Uda iya satu saja kapan-kapan lagi ujarnya dan memegang mainan nya”


Bastian tertawa dan gemas melihat tingkah polos nya.


“Apa ayahnya orang bule Ra?” Neneknya Bastian bertanya penasaran. Seperti biasa tentang anaknya dan Ayah anaknya,  ia akan enggan menjawabnya,  ia hanya menggeleng dan mengalihkan pembicaraan.


Bastian juga tau, hal itu karena ia juga setiap kali menyinggung tentang Ayah dari anaknya,  ia tidak pernah menjawabnya. Bastian paham, mungkin Rara menjaga perasaan anaknya .


Rara juga baru tau kalau Oma Bastian,  ternyata menyukai anak-anak. Ia sudah lama ingin Bastian menikah dan mempunyai anak dan ia ingin merawatnya. “Rumah besar sepi, walau banyak orang penghuninya, tapi mereka sibuk masing-masing dan Bastian sendiri enggan tinggal di rumah besar kami” Wanita   itu menatap Alvin.


*


Waktu berlalu dengan cepat, terlalu banyak curhat sampai tidak terasa, sudah larut Omahnya Bastian akhirnya pulang, “Datanglah ke rumah kami Ra bersama Bastian, tolong rawat tanaman hias ku seperti punya kamu,” ujar wanita tua itu dengan senyuman ramah.


“Iya  Nyonya”


“Tapi aku berharap kamu datang setiap Sabtu”


“Kenapa seperti itu …?” tanya Rara penasaran.


“Ibunya Bastian ada acara setiap Sabtu”


Wajah Rara langsung berubah, ia melihat Bastian yang mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


“Oh … baiklah Oma,” ujar Rara tidak bersemangat.


‘Kalau seperti itu, aku pastikan selamanya aku tidak akan menginjakkan kaki di rumah besar itu’ ujar Rara dalam hatinya. Ia tahu ibunya Bastian tidak pernah menyukai nya menjadi pembantu Bastian.

__ADS_1


        Bersambung ...


Bantu like dan vote iya Kakak jangan lupa kasih hadiah juga.


__ADS_2